مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا

Mengapa kalian tidak mengharapkan kebesaran bagi Allah,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًاmaa lakum laa tarjuuna li-llaahi waqaaranmengapa kalian tidak mengharapkan kebesaran bagi Allah

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. مَاmaamengapa
  2. لَكُمْlakumbagi kalian
  3. لَاlaatidak
  4. تَرْجُونَtarjuunakalian harapkan
  5. لِلَّهِli-llaahibagi Allah
  6. وَقَارًاwaqaarankebesaran

Inti bacaan

Pertanyaan tentang kekurangan penghormatan: 'mengapa kalian tidak mengharapkan kebesaran bagi Allah', kritik terhadap ketiadaan rasa hormat yang semestinya, pertanyaan yang mengundang refleksi tentang mengapa keagungan yang jelas tidak direspons dengan penghormatan yang sepadan.

Penjelasan pilihan kata

Kutip bersarang masih berlanjut, belum ditutup di rangkaian ini: akan ditutup di rangkaian berikutnya (71:15-28).

Dua kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (تَرْجُونَ, tarjuuna) dan (وَقَارًا, waqaaran). Yang pertama berarti mengharapkan, dan akarnya menyangkut harapan yang disertai penantian, bukan sekadar keinginan. Yang kedua berarti kebesaran yang menuntut penghormatan, dari akar yang berkaitan dengan berat dan mantap. Jadi bukan kebesaran yang megah dipandang, melainkan kebesaran yang membuat orang menahan diri di hadapannya.

Susunan (مَا لَكُمْ, maa lakum) di awal ayat adalah bentuk pertanyaan yang menyatakan keheranan, bukan pertanyaan yang menunggu jawaban. Bunyi harfiahnya 'apa yang terjadi pada kalian'. Terjemahan 'mengapa kalian' menahan nada teguran itu. Susunan seperti ini dipakai ketika si penanya sudah tahu jawabannya tidak ada, dan pertanyaannya berfungsi menyodorkan cermin.

Bentuk (تَرْجُونَ, tarjuuna) berdiri sesudah penyangkal, sehingga bunyinya 'tidak mengharapkan'. Ini yang membuat ayat sulit diterjemahkan. Mengharapkan kebesaran bagi Allah terasa janggal dalam bahasa Indonesia, sebab kita mengharapkan sesuatu untuk diri sendiri, bukan untuk pihak lain. Dalam bahasa Arab, akar kata ini juga bisa berarti memperhitungkan atau menaruh perhatian pada sesuatu yang akan datang. Jadi maksudnya lebih dekat ke 'tidak memperhitungkan kebesaran Allah', dan terjemahan mempertahankan bentuk harfiahnya sambil membiarkan pembaca menimbang.

Kata (لِلَّهِ, lillaahi) memakai huruf yang menandai peruntukan, jadi bunyinya 'bagi Allah'. Kebesaran itu bukan milik mereka untuk diberikan, melainkan sesuatu yang seharusnya mereka akui ada pada-Nya. Susunan itu penting. Yang dituntut bukan menambahkan sesuatu kepada Allah, melainkan berhenti mengurangi apa yang memang sudah ada pada-Nya.

Ayat ini menyela daftar janji yang berjalan sejak 71:10. Sesudah lima pemberian disebut berturut-turut, tiba-tiba muncul teguran. Perubahan nada yang mendadak itu bermakna: bujukan berhenti, dan yang menggantikannya adalah pertanyaan tentang mengapa bujukan sebesar itu pun tidak berhasil. Jawaban atas pertanyaan tersebut menyusul di ayat berikutnya, dan jawaban itu berupa pengingat tentang asal-usul mereka sendiri.

Satu hal lagi tentang kedudukan ayat ini dalam kutipan. Ia masih berada di dalam dua lapis kutipan yang dibuka di 71:5 dan 71:10. Jadi teguran ini bukan diucapkan Allah kepada mereka secara langsung, melainkan diucapkan Nuh kepada kaumnya, lalu dikutip ulang oleh Nuh sendiri di dalam doanya. Tiga lapis suara bertumpuk pada satu kalimat. Menandai batasnya dengan cermat menentukan apakah pembaca mendengar teguran itu sebagai firman langsung atau sebagai kenangan seorang utusan atas usahanya yang gagal.

Tafsiran

Ayat ini menyisipkan teguran retoris tentang kebesaran Allah dalam seruan Nuh. Ayat ini memutus daftar janji dengan sebuah teguran. Sesudah lima pemberian disebut berturut-turut sejak 71:10, tiba-tiba nada berubah menjadi pertanyaan. Susunan pertanyaannya adalah bentuk yang menyatakan keheranan, bukan yang menunggu jawaban. Bunyi harfiahnya 'apa yang terjadi pada kalian', dan ia dipakai ketika si penanya sudah tahu tidak ada jawaban yang masuk akal.

Yang dipersoalkan bukan penolakan mereka terhadap janji, melainkan sesuatu yang lebih mendasar: mereka tidak memperhitungkan kebesaran Allah. Kata yang dipakai untuk kebesaran berakar pada berat dan mantap, bukan pada megah dan mencolok. Jadi yang dimaksud adalah kebesaran yang membuat orang menahan diri di hadapannya, bukan yang membuat orang terpesona. Dan itulah yang hilang dari mereka. Bukan pengetahuan tentang adanya Allah, melainkan sikap menahan diri yang seharusnya lahir dari pengetahuan itu.

Kata kerjanya menyimpan kesulitan yang jujur diakui. Mengharapkan kebesaran bagi Allah terasa janggal dalam bahasa Indonesia, sebab kita mengharapkan sesuatu untuk diri sendiri. Dalam bahasa Arab, akar ini juga bisa berarti memperhitungkan sesuatu yang akan datang. Jadi maksudnya lebih dekat ke tidak memperhitungkan. Dua kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sehingga tidak ada pemakaian lain yang bisa dipinjam untuk memastikan nuansanya. Terjemahan mempertahankan bentuk harfiahnya dan membiarkan pembaca menimbang sendiri, sebab memilihkan satu bacaan berarti menutup yang lain tanpa dasar yang cukup.

Renungan dan Hikmah

  • Sesudah lima pemberian disebut berturut-turut sejak 71:10, nada mendadak berubah menjadi teguran. Perubahan itu bermakna. Bujukan berhenti, dan yang menggantikannya adalah pertanyaan tentang mengapa bujukan sebesar itu pun tidak berhasil. Allah tidak membiarkan seruan berhenti pada tawaran. Ada titik ketika daftar pemberian harus disela oleh pertanyaan tentang mengapa daftar itu tidak menggerakkan siapa pun yang mendengarnya. Allah menyela sendiri daftar pemberian-Nya dengan pertanyaan yang lebih mendasar.
  • Kata untuk kebesaran di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dan berakar pada berat serta mantap, bukan pada megah dan mencolok. Yang dimaksud adalah kebesaran yang membuat orang menahan diri di hadapannya, bukan yang membuat orang terpesona. Itulah yang hilang dari mereka. Bukan pengetahuan tentang adanya Allah, melainkan sikap menahan diri yang seharusnya lahir sendiri dari pengetahuan tersebut. Menahan diri di hadapan Allah adalah buah pengetahuan, bukan penggantinya.
  • Susunan pertanyaan di awal ayat adalah bentuk yang menyatakan keheranan, bukan yang menunggu jawaban. Bunyi harfiahnya apa yang terjadi pada kalian. Ia dipakai ketika si penanya sudah tahu tidak ada jawaban yang masuk akal. Pertanyaan seperti itu berfungsi menyodorkan cermin, bukan meminta keterangan. Allah memakai bentuk bertanya untuk hal yang sebenarnya sudah Dia ketahui, dan yang dituju adalah kesadaran yang ditanya. Pertanyaan Allah selalu ditujukan untuk membangunkan, bukan untuk mengumpulkan keterangan.
  • Mengharapkan kebesaran bagi Allah terasa janggal dalam bahasa Indonesia, sebab kita mengharapkan sesuatu untuk diri sendiri. Dalam bahasa Arab, akar kata ini juga bisa berarti memperhitungkan sesuatu yang akan datang. Terjemahan mempertahankan bentuk harfiahnya dan membiarkan pembaca menimbang. Memilihkan satu bacaan berarti menutup yang lain tanpa dasar yang cukup, dan itu keputusan yang bukan hak penerjemah. Membiarkan kekaburan berdiri lebih menghormati kalam Allah daripada memastikannya secara sepihak.
  • Kata untuk Allah di ayat ini memakai huruf yang menandai peruntukan, sehingga bunyinya bagi Allah. Kebesaran itu bukan milik mereka untuk diberikan, melainkan sesuatu yang seharusnya mereka akui ada pada-Nya. Yang dituntut bukan menambahkan sesuatu kepada Allah, melainkan berhenti mengurangi apa yang memang sudah ada. Pengakuan tidak menambah apa pun bagi Yang diakui; ia hanya meluruskan yang mengakui. Yang bertambah dari sebuah pengakuan adalah kejernihan pada diri kita, bukan kebesaran pada Allah.
  • Dua kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sehingga tidak ada pemakaian lain yang bisa dipinjam untuk memastikan nuansanya. Ayat yang berdiri sendirian seperti ini menuntut kehati-hatian ganda. Godaannya adalah mengisi kekosongan dengan tafsiran yang terdengar meyakinkan. Menyebutkan bahwa pembandingnya memang tidak ada lebih jujur daripada memberi kepastian yang tidak dimiliki siapa pun. Adakah bagian dari kalam Allah yang kita jelaskan lebih tegas daripada yang Dia sendiri nyatakan?