وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا

Dan menjadikan bulan padanya sebagai cahaya, dan menjadikan matahari sebagai pelita?

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًاwa-ja'ala l-qamara fiihinna nuuran wa-ja'ala sy-syamsa siraajandan menjadikan bulan padanya sebagai cahaya, dan menjadikan matahari sebagai pelita

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. وَجَعَلَwa-ja'aladan Dia menjadikan
  2. الْقَمَرَl-qamarabulan
  3. فِيهِنَّfiihinnapada mereka
  4. نُورًاnuurancahaya
  5. وَجَعَلَwa-ja'aladan Dia menjadikan
  6. الشَّمْسَsy-syamsamatahari
  7. سِرَاجًاsiraajanpelita

Inti bacaan

Fungsi spesifik benda langit: 'menjadikan bulan padanya sebagai cahaya, dan menjadikan matahari sebagai pelita', pembedaan peran (cahaya pantulan vs sumber cahaya langsung) yang menunjukkan detail dan presisi dalam desain kosmik.

Penjelasan pilihan kata

Kata (سِرَاجًا, siraajan) muncul di 3 ayat: 25:61, 71:16, dan 78:13. Ia berarti pelita, yaitu benda yang menyala sendiri dan menerangi sekitarnya. Di 25:61 kata itu juga dipakai untuk matahari, dan bulan di ayat yang sama disebut dengan kata yang berarti bercahaya. Jadi pembagian yang dipakai di sini bukan pembagian yang berdiri sendiri; ia berulang dengan susunan yang sama di surah lain.

Kata (نُورًا, nuuran) muncul di 9 ayat di seluruh Al-Qur'an. Perbedaannya dari pelita terletak pada sumbernya. Pelita menyala sendiri, sedangkan cahaya adalah yang terlihat, entah berasal dari dirinya sendiri atau dari benda lain. Al-Qur'an memakai kata yang berbeda untuk bulan dan matahari, dan pembedaan itu ditahan dalam terjemahan: bulan disebut cahaya, matahari disebut pelita.

Kata (الْقَمَرَ, al-qamara) muncul di 3 ayat: 6:77, 36:40, dan 71:16. Di 6:77 kata itu berada dalam kisah orang yang mengira bulan sebagai Tuhannya lalu menarik kembali sangkaannya ketika bulan terbenam. Di 36:40 ia berada dalam kalimat tentang matahari yang tidak mungkin mengejar bulan. Jadi tiga pemakaiannya menyusun tiga sudut: bulan yang dikira Tuhan, bulan yang tunduk pada garis edar, dan bulan yang dijadikan cahaya.

Kata (فِيهِنَّ, fiihinna) memakai akhiran jamak untuk yang berjenis perempuan, dan yang dirujuknya adalah tujuh langit yang disebut di ayat sebelumnya. Jadi bunyinya 'padanya', yaitu pada langit-langit itu. Akhiran itu mengikat 71:16 ke 71:15 dan menjadikan keduanya satu kalimat yang terpotong nomor. Terjemahan mempertahankan kata 'padanya' supaya sambungannya tetap terlihat.

Kata kerja (وَجَعَلَ, waja'ala) muncul dua kali berturutan di ayat ini, sekali untuk bulan dan sekali untuk matahari. Pengulangan itu tidak wajib dalam bahasa Arab. Susunan yang sama sudah dipakai di 71:12 untuk kebun dan sungai. Dua kali dalam satu surah, kata kerja diulang untuk memisahkan dua hal yang bisa saja digabung. Cara menyebut seperti itu membuat masing-masing berdiri sendiri sebagai pemberian tersendiri.

Perlu diperhatikan pula bahwa dua benda ini disebut sesudah tujuh langit, bukan sebelumnya. Urutan itu bergerak dari wadah menuju isinya. Langit disebut lebih dahulu sebagai bangunan berlapis, lalu bulan dan matahari disebut sebagai yang ditempatkan di dalamnya. Susunan seperti itu menempatkan keduanya sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar, bukan sebagai benda yang berdiri sendiri di ruang kosong. Bagi pendengar yang terbiasa memandang keduanya sebagai yang tertinggi, penempatan itu sendiri sudah merupakan koreksi.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan argumen kosmologis dengan bulan dan matahari. Ayat ini melanjutkan pandangan yang diangkat di 71:15, dan sekarang yang disebut adalah dua benda yang paling sering dipandang orang. Bulan dan matahari disebut berdampingan, tetapi dengan kata yang berbeda. Bulan disebut cahaya, matahari disebut pelita. Perbedaan itu bukan variasi gaya. Pelita menyala sendiri, sedangkan cahaya adalah yang terlihat, entah dari dirinya sendiri atau dari benda lain.

Pembagian yang sama muncul di 25:61, ketika matahari juga disebut pelita dan bulan disebut dengan kata yang berarti bercahaya. Jadi susunan ini punya bentuk yang tetap dan berulang di surah lain. Yang menarik bukan keunikan pembagiannya, melainkan ketetapannya. Dua benda yang setiap malam dan setiap siang dipandang manusia diberi sebutan yang tidak pernah tertukar.

Ada hal lain yang mudah terlewat. Kata untuk bulan di ayat ini muncul juga di 6:77, dalam kisah orang yang mengira bulan sebagai Tuhannya lalu menarik sangkaannya ketika bulan terbenam. Di sini bulan disebut sebagai sesuatu yang dijadikan, bukan sesuatu yang menjadikan. Perbedaan kedudukan itu adalah inti seluruh argumen Nuh. Benda-benda yang paling mudah dipuja justru disebut dengan bentuk yang menempatkannya sebagai hasil pekerjaan, bukan sebagai pelaku. Dan kata kerja untuk menjadikan diulang dua kali di ayat ini, sama seperti di 71:12, sehingga bulan dan matahari berdiri sebagai dua pemberian yang terpisah, bukan satu paket yang disebut sekali.

Renungan dan Hikmah

  • Bulan disebut cahaya, matahari disebut pelita. Perbedaan itu bukan variasi gaya. Pelita menyala sendiri, sedangkan cahaya adalah yang terlihat, entah dari dirinya sendiri atau dari benda lain. Allah memakai kata yang berbeda untuk dua benda yang setiap hari dipandang manusia, dan sebutan itu tidak pernah tertukar. Ketelitian sebesar itu pada hal yang paling biasa adalah bagian dari argumen ayat ini. Allah tidak pernah longgar dalam memilih kata, bahkan untuk benda yang paling akrab di mata.
  • Kata untuk bulan di ayat ini muncul juga di 6:77, dalam kisah orang yang mengira bulan sebagai Tuhannya lalu menarik sangkaannya ketika bulan terbenam. Di sini bulan disebut sebagai sesuatu yang dijadikan Allah, bukan sesuatu yang menjadikan. Perbedaan kedudukan itu adalah inti seluruh argumen Nuh. Benda yang paling mudah dipuja justru disebut dengan bentuk yang menempatkannya sebagai hasil pekerjaan. Yang dipuja ternyata berada di kolom yang sama dengan yang memujanya: sama-sama ciptaan.
  • Kata untuk pelita di ayat ini muncul di 3 ayat: 25:61, 71:16, dan 78:13. Di 25:61 matahari juga disebut pelita dan bulan disebut dengan kata yang berarti bercahaya. Susunan ini punya bentuk yang tetap dan berulang. Yang menarik bukan keunikannya, melainkan ketetapannya. Cara Allah menyebut ciptaan-Nya tidak berubah dari satu surah ke surah lain, dan ketetapan itu sendiri sudah merupakan tanda. Ketetapan cara Allah menyebut sesuatu adalah bukti yang tenang dan tidak menuntut perdebatan.
  • Kata di tengah ayat ini memakai akhiran jamak untuk yang berjenis perempuan, dan yang dirujuknya adalah tujuh langit di ayat sebelumnya. Akhiran itu mengikat 71:16 ke 71:15 dan menjadikan keduanya satu kalimat yang terpotong nomor. Terjemahan mempertahankan kata padanya supaya sambungannya tetap terlihat. Membaca ayat ini sendirian akan menyisakan bulan dan matahari tanpa tempat. Ayat yang dipotong dari tetangganya kehilangan penunjuk yang menjelaskan letaknya.
  • Kata kerja untuk menjadikan muncul dua kali berturutan di ayat ini, sekali untuk bulan dan sekali untuk matahari. Pengulangan itu tidak wajib dalam bahasa Arab, dan susunan yang sama sudah dipakai di 71:12 untuk kebun dan sungai. Dua kali dalam satu surah, Allah mengulang kata kerja untuk memisahkan dua hal yang bisa saja digabung. Masing-masing disebut sebagai pemberian tersendiri, bukan satu paket. Menyebut nikmat satu per satu membuat penerimanya sadar berapa banyak yang ia terima.
  • Kata untuk bulan muncul di 3 ayat: 6:77, 36:40, dan 71:16. Tiga pemakaiannya menyusun tiga sudut: bulan yang dikira Tuhan, bulan yang tunduk pada garis edarnya, dan bulan yang dijadikan Allah sebagai cahaya. Membaca ketiganya bersama memberi gambaran yang tidak diberikan satu ayat sendirian. Berapa banyak hal di sekitar kita yang kita nilai hanya dari satu sudut, lalu kita kira sudah kita pahami? Satu sudut pandang selalu terasa cukup sampai sudut kedua diperlihatkan Allah.