وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ نَبَاتًا

Dan Allah menumbuhkan kalian dari bumi sebagai tumbuhan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ نَبَاتًاwa-llaahu anbatakum mina l-ardhi nabaatandan Allah menumbuhkan kalian dari bumi sebagai tumbuhan

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
  2. أَنْبَتَكُمْanbatakummenumbuhkan kalian
  3. مِنَminadari
  4. الْأَرْضِl-ardhibumi
  5. نَبَاتًاnabaatantumbuhan

Inti bacaan

Asal-usul dari bumi yang rendah hati: 'Allah menumbuhkan kalian dari bumi sebagai tumbuhan', metafora pertumbuhan organik yang menegaskan kesederhanaan asal-usul manusia, dasar bagi kerendahan hati terhadap eksistensi sendiri.

Penjelasan pilihan kata

Bentuk (أَنْبَتَكُمْ, anbatakum) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Akarnya adalah akar untuk tumbuh-tumbuhan, dan bentuk yang dipakai menandai perbuatan menumbuhkan yang dilakukan pihak lain. Jadi bunyinya 'Dia menumbuhkan kalian'. Kata kerja untuk menumbuhkan tanaman dipakai dengan objek manusia, dan keanehan itu memang disengaja. Terjemahan mempertahankannya apa adanya.

Kata (نَبَاتًا, nabaatan) muncul di 2 ayat: 3:37 dan 71:17. Di 3:37 ia dipakai dalam kalimat tentang Maryam yang ditumbuhkan Allah dengan pertumbuhan yang baik. Jadi dua ayat yang memuat kata ini sama-sama memakai kiasan tumbuhan untuk manusia. Di ayat ini kata tersebut berdiri sebagai penguat yang mengulang akar kata kerjanya. Bunyi harfiahnya kira-kira 'Dia menumbuhkan kalian dari bumi dengan penumbuhan'. Susunan itu cara penekanan yang sama seperti di 71:7 dan 71:9.

Nama Allah disebut terang-terangan di awal ayat, padahal rangkaian sebelumnya memakai kata ganti. Penyebutan nama di tengah rangkaian yang memakai penunjuk adalah cara penekanan. Nama itu muncul juga di 71:15 dan 71:19, dua ayat yang sama-sama memakai susunan pembuka yang serupa. Tiga penyebutan nama Allah di bagian ini semuanya berada di kalimat tentang perbuatan menciptakan.

Kata (مِنَ الْأَرْضِ, mina al-ardhi) menandai asal, jadi bunyinya 'dari bumi'. Yang perlu dicatat, ayat ini tidak berkata manusia diciptakan di bumi, melainkan ditumbuhkan dari bumi. Bumi bukan tempat kejadian melainkan bahan. Perbedaan itu penting untuk membaca ayat berikutnya, yang menyebutkan pengembalian ke dalamnya. Kalau bumi hanya tempat, pengembalian berarti pindah lokasi. Kalau bumi adalah bahan, pengembalian berarti kembali menjadi bahan.

Ayat ini juga berdiri di titik balik argumen. Sesudah 71:15 dan 71:16 mengangkat pandangan setinggi mungkin ke langit, di sini pandangan diturunkan kembali ke tanah. Perpindahan itu tidak diberi kata penghubung yang melembutkan, sama seperti lompatan di 71:15. Dua lompatan besar, satu ke atas dan satu ke bawah, terjadi dalam jarak tiga ayat. Pembaca dibawa dari tanah ke langit lalu kembali ke tanah tanpa diberi jeda untuk beristirahat di antaranya.

Satu catatan tentang penguat di ujung ayat. Ia mengulang unsur dasar yang sama dalam wujud nomina, dan kedudukannya menegaskan perbuatan itu sendiri. Susunan semacam itu tidak dimiliki bahasa Indonesia, sehingga terjemahan memakai kata 'sebagai tumbuhan' untuk menahan sebagian gambarannya. Yang hilang adalah pengulangan akar yang membuat kalimat Arabnya terasa seperti palu yang memukul dua kali di tempat yang sama.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan argumen dengan asal-usul manusia dari bumi. Ayat ini memakai kata kerja untuk menumbuhkan tanaman, dan objeknya manusia. Keanehan itu disengaja. Allah tidak berkata Dia menciptakan mereka dari bumi; Dia berkata menumbuhkan mereka dari bumi. Gambaran yang dipakai adalah gambaran tumbuhan yang muncul perlahan dari tanah, bukan benda yang dibentuk lalu diletakkan di atasnya.

Perbedaan itu menentukan cara membaca ayat berikutnya. Kalau bumi hanya tempat kejadian, pengembalian ke dalamnya berarti pindah lokasi. Kalau bumi adalah bahan, pengembalian berarti kembali menjadi bahan. Ayat ini memilih yang kedua dengan tegas lewat pilihan kata kerjanya, dan 71:18 menyusul dengan pengembalian dan pengeluaran. Jadi tiga tahap disebut berurutan: ditumbuhkan, dikembalikan, dikeluarkan. Seluruhnya memakai gambaran yang sama, yaitu gambaran tanaman.

Kata penguat di ujung ayat mengulang akar kata kerjanya, susunan yang sudah dipakai di 71:7 dan 71:9. Tiga kali dalam satu surah cara penekanan itu muncul, dan ketiganya menandai sesuatu yang dilakukan sampai batasnya. Dan kata yang sama muncul juga di 3:37, dalam kalimat tentang Maryam yang ditumbuhkan Allah dengan pertumbuhan yang baik. Dua ayat yang memuatnya sama-sama memakai kiasan tumbuhan untuk manusia, satu untuk seorang perempuan yang dipelihara secara khusus, satu untuk seluruh manusia. Kiasan yang sama menampung yang paling perorangan dan yang paling menyeluruh.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja di ayat ini adalah kata kerja untuk menumbuhkan tanaman, dan objeknya manusia. Keanehan itu disengaja. Allah tidak berkata Dia menciptakan mereka dari bumi; Dia berkata menumbuhkan mereka dari bumi. Gambaran yang dipakai adalah tumbuhan yang muncul perlahan dari tanah, bukan benda yang dibentuk lalu diletakkan di atasnya. Yang tumbuh tidak pernah menyadari dirinya sedang ditumbuhkan. Allah memakai gambaran yang paling tenang untuk menerangkan asal-usul yang paling mendasar.
  • Ayat ini tidak berkata manusia diciptakan di bumi, melainkan ditumbuhkan dari bumi. Bumi bukan tempat kejadian melainkan bahan. Perbedaan itu menentukan cara membaca ayat berikutnya. Kalau bumi hanya tempat, pengembalian berarti pindah lokasi. Kalau bumi adalah bahan, pengembalian berarti kembali menjadi bahan. Allah memilih yang kedua dengan tegas lewat satu kata kerja saja. Kembali menjadi bahan terdengar lebih menakutkan daripada sekadar berpindah tempat.
  • Nama Allah disebut terang-terangan di awal ayat, padahal rangkaian sebelumnya memakai penunjuk. Penyebutan nama di tengah rangkaian semacam itu adalah cara penekanan. Nama itu muncul juga di 71:15 dan 71:19. Tiga penyebutan di bagian ini semuanya berada di kalimat tentang perbuatan menciptakan. Ketika perbuatan yang disebut adalah menciptakan, pelakunya tidak disamarkan menjadi kata pengganti. Nama Allah muncul justru ketika yang dibicarakan adalah pekerjaan yang tak bisa ditiru siapa pun.
  • Kata penguat di ujung ayat ini muncul di 2 ayat: 3:37 dan 71:17. Di 3:37 ia dipakai dalam kalimat tentang Maryam yang ditumbuhkan Allah dengan pertumbuhan yang baik. Dua ayat sama-sama memakai kiasan tumbuhan untuk manusia, satu untuk seorang perempuan yang dipelihara secara khusus, satu untuk seluruh manusia. Kiasan yang sama menampung yang paling perorangan dan yang paling menyeluruh. Satu kiasan dari Allah bisa memuat seorang perempuan dan seluruh umat sekaligus.
  • Kata penguat di ujung ayat mengulang akar kata kerjanya, susunan yang sudah dipakai di 71:7 dan 71:9. Tiga kali dalam satu surah cara penekanan itu muncul, dan ketiganya menandai sesuatu yang dilakukan sampai batasnya. Di 71:7 yang ditekankan penyombongan, di 71:9 kerahasiaan, di sini penumbuhan oleh Allah. Bentuk yang sama dipakai untuk perbuatan manusia dan perbuatan Allah tanpa dibedakan. Allah tidak memisahkan cara bicara-Nya tentang perbuatan manusia dan perbuatan-Nya sendiri.
  • Sesudah 71:15 dan 71:16 mengangkat pandangan setinggi mungkin ke langit, di sini pandangan diturunkan kembali ke tanah. Perpindahan itu tanpa kata penghubung yang melembutkan, sama seperti lompatan sebelumnya. Dua lompatan besar, satu ke atas dan satu ke bawah, terjadi dalam jarak tiga ayat. Kalau langit dan tanah sama-sama menyimpan tanda dari Allah, di mana lagi tempat berdiri yang bebas dari keduanya? Tidak ada arah pandang yang tidak membawa pulang tanda dari Allah.