وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ بِسَاطًا
Dan Allah menjadikan bumi bagi kalian sebagai hamparan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ بِسَاطًاwa-llaahu ja'ala lakumu l-ardha bisaathandan Allah menjadikan bumi bagi kalian sebagai hamparan
Terjemahan per kata (5 kata)
- وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
- جَعَلَja'alamenjadikan
- لَكُمُlakumubagi kalian
- الْأَرْضَl-ardhabumi
- بِسَاطًاbisaathanhamparan
Inti bacaan
Bumi sebagai fasilitas yang disediakan: 'Allah menjadikan bumi bagi kalian sebagai hamparan', pengakuan bahwa permukaan bumi yang luas dan dapat dilalui bukan kebetulan, melainkan desain yang disiapkan untuk kemudahan pergerakan manusia.
Penjelasan pilihan kata
Kata (بِسَاطًا, bisaathan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Ia berarti hamparan, sesuatu yang dibentangkan sampai rata, seperti tikar yang digelar. Al-Qur'an memakai kata lain untuk gagasan yang mirip di tempat lain. Di 20:53 dan 43:10 bumi disebut dengan kata yang berarti buaian atau tempat berbaring. Jadi tiga ayat memakai tiga kata berbeda untuk gambaran yang sejenis, dan masing-masing membawa nuansanya sendiri: yang satu tikar yang digelar, yang lain buaian yang menampung.
Nama Allah disebut terang-terangan di awal ayat, sama seperti di 71:17. Dua ayat itu memakai susunan pembuka yang sejajar: nama Allah, lalu kata kerja, lalu objek. Kesejajaran itu mengikat keduanya sebagai sepasang. Yang satu menyebut asal manusia dari bumi, yang lain menyebut bumi sebagai hamparan bagi manusia. Bumi muncul di dua kedudukan: sebagai bahan yang darinya manusia tumbuh, dan sebagai alas yang di atasnya manusia berjalan.
Susunan (لَكُمُ, lakumu) berdiri sebelum objeknya, dan pemajuan seperti itu dalam bahasa Arab menandai penekanan. Bunyi harfiahnya kira-kira 'Dia jadikan bagi kalianlah bumi itu sebagai hamparan'. Terjemahan Indonesia menempatkannya di tengah karena susunan itu yang wajar dibaca, dan penekanannya larut. Yang hilang adalah tekanan pada kata 'kalian': hamparan itu memang untuk mereka, bukan kebetulan ada.
Perlu dicatat bahwa (الْأَرْضَ, al-ardha) di sini memakai penanda tertentu, sedangkan sebutan hamparannya tidak. Jadi bunyinya 'bumi itu sebagai suatu hamparan'. Bumi sudah dikenal, sedangkan kedudukannya sebagai hamparan justru yang hendak diperkenalkan. Susunan itu menandai bahwa yang baru bukan bendanya, melainkan cara memandangnya.
Ayat ini juga menyiapkan yang berikutnya. Hamparan disebut di sini, dan tujuannya disebut di 71:20. Dua ayat itu satu kalimat yang terpotong nomor, dan huruf pembuka 71:20 menandai tujuan. Membacanya terpisah akan menyisakan hamparan tanpa keterangan untuk apa ia dihamparkan.
Satu hal lagi tentang kedudukan ayat ini. Ia dibuka dengan huruf penyambung yang mengikatnya ke 71:17, ayat yang juga dibuka nama Allah. Dua ayat itu berjarak satu ayat, dan di antaranya berdiri 71:18 yang berbicara tentang siklus hidup dan mati. Jadi susunannya berselang: bumi sebagai bahan, siklus hidup, bumi sebagai hamparan. Yang di tengah diapit oleh dua penyebutan bumi, dan penempatan itu membuat kematian terbaca bukan sebagai keluar dari bumi, melainkan sebagai bagian dari hubungan dengannya.
Perlu ditambahkan bahwa ayat ini salah satu dari tiga ayat di surah ini yang menyebut nama Allah terang-terangan, bersama 71:15 dan 71:17. Ketiganya berada di bagian argumen kosmologis, dan ketiganya berbicara tentang perbuatan menciptakan atau menyiapkan. Di luar tiga ayat itu, nama Allah muncul di 71:3, 71:4, 71:13, dan 71:25. Jadi tujuh penyebutan di seluruh surah, dan tiga di antaranya berkumpul di bagian yang menunjuk langit dan bumi.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bumi yang dihamparkan bagi manusia. Ayat ini menyebut bumi untuk kedua kalinya dalam tiga ayat, tetapi dengan kedudukan yang berbeda. Di 71:17 bumi adalah bahan yang darinya manusia ditumbuhkan. Di sini ia adalah alas yang di atasnya manusia berjalan. Dua kedudukan itu disebut berdekatan, dan keduanya dibuka dengan nama Allah yang disebut terang-terangan. Kesejajaran susunan mengikat kedua ayat sebagai sepasang.
Kata yang dipakai untuk hamparan muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti sesuatu yang dibentangkan sampai rata, seperti tikar yang digelar. Al-Qur'an memakai kata lain di tempat lain: di 20:53 dan 43:10 bumi disebut dengan kata yang berarti buaian. Jadi tiga ayat memakai tiga kata berbeda untuk gambaran yang sejenis, masing-masing dengan nuansanya sendiri. Yang satu tikar yang digelar untuk ditempati, yang lain buaian yang menampung dan menggoyang.
Susunan kalimatnya menyimpan penekanan yang larut dalam terjemahan. Kata yang berarti 'bagi kalian' berdiri sebelum objeknya, dan pemajuan seperti itu menandai tekanan. Bunyi harfiahnya kira-kira 'Dia jadikan bagi kalianlah bumi itu sebagai hamparan'. Yang ditekankan adalah kata 'kalian': hamparan itu memang untuk mereka, bukan kebetulan ada. Dan bumi memakai penanda tertentu sedangkan hamparan tidak, sehingga yang baru diperkenalkan bukan bendanya melainkan cara memandangnya. Mereka sudah tahu bumi; yang belum mereka lihat adalah bahwa ia dihamparkan untuk mereka.
Renungan dan Hikmah
- Di 71:17 bumi adalah bahan yang darinya manusia ditumbuhkan Allah. Di sini ia adalah alas yang di atasnya manusia berjalan. Dua kedudukan itu disebut berdekatan, dan keduanya dibuka dengan nama Allah yang disebut terang-terangan. Kesejajaran susunan mengikat kedua ayat sebagai sepasang. Satu benda yang sama bisa berdiri dalam dua hubungan sekaligus, dan menyebut keduanya lebih lengkap daripada memilih salah satu. Allah menyebut keduanya berdekatan supaya tak ada yang membaca bumi hanya dari satu sisi.
- Kata untuk hamparan di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Di 20:53 dan 43:10 bumi disebut dengan kata yang berarti buaian. Tiga ayat memakai tiga kata berbeda untuk gambaran yang sejenis, masing-masing dengan nuansanya sendiri. Yang satu tikar yang digelar untuk ditempati, yang lain buaian yang menampung. Allah tidak memakai satu kata baku untuk satu gagasan, dan keragaman itu menambah, bukan mengaburkan. Keragaman kata dari Allah menambah gambaran, bukan mengaburkan maksudnya.
- Kata yang berarti bagi kalian berdiri sebelum objeknya, dan pemajuan seperti itu dalam bahasa Arab menandai penekanan. Bunyi harfiahnya kira-kira Dia jadikan bagi kalianlah bumi itu sebagai hamparan. Terjemahan Indonesia menempatkannya di tengah karena susunan itu yang wajar dibaca, dan tekanannya larut. Yang hilang adalah penegasan bahwa hamparan itu memang untuk mereka, bukan kebetulan ada. Tekanan yang larut dalam terjemahan adalah utang yang perlu disebut, bukan disembunyikan.
- Kata untuk bumi di ayat ini memakai penanda tertentu, sedangkan kata untuk hamparan tidak. Bumi sudah dikenal, sedangkan kedudukannya sebagai hamparan justru yang hendak diperkenalkan. Susunan itu menandai bahwa yang baru bukan bendanya, melainkan cara memandangnya. Allah tidak menunjukkan sesuatu yang belum pernah mereka lihat; Dia menunjukkan sudut yang belum pernah mereka pakai untuk melihatnya. Allah menunjukkan sudut baru untuk benda yang sudah kita lihat seumur hidup.
- Hamparan disebut di ayat ini, dan tujuannya disebut di 71:20. Dua ayat itu satu kalimat yang terpotong nomor, dan huruf pembuka ayat berikutnya menandai tujuan. Membacanya terpisah akan menyisakan hamparan tanpa keterangan untuk apa ia dihamparkan. Allah menyebut pemberian dan maksudnya dalam satu tarikan, dan memisahkan keduanya menghilangkan separuh maknanya. Memisahkan pemberian dari maksudnya merugikan siapa pun yang membacanya.
- Nama Allah disebut terang-terangan di awal ayat, sama seperti di 71:17 dan 71:15. Tiga penyebutan di bagian ini semuanya berada di kalimat tentang perbuatan menciptakan atau menyiapkan. Ketika perbuatan yang disebut menyangkut penciptaan, pelakunya tidak pernah disamarkan. Kalau nama itu disebut sejelas ini di depan mereka, apa lagi yang mereka tunggu sebelum mengakuinya? Kejelasan nama tidak pernah menjadi jaminan bahwa yang mendengar akan bergerak.