لِتَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًا

Agar kalian menempuh jalan-jalan yang luas padanya.’”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. لِتَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًاli-taslukuu minhaa subulan fijaajanagar kalian menempuh jalan-jalan yang luas padanya

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. لِتَسْلُكُواli-taslukuuagar kalian menempuh
  2. مِنْهَاminhaadarinya
  3. سُبُلًاsubulanjalan-jalan
  4. فِجَاجًاfijaajanjalan-jalan luas

Inti bacaan

Tujuan praktis dari hamparan bumi: 'agar kalian menempuh jalan-jalan yang luas padanya', penjelasan fungsional tentang mengapa bumi dirancang datar dan dapat dilalui, memfasilitasi mobilitas dan eksplorasi manusia.

Penjelasan pilihan kata

Kutip tunggal bersarang (dibuka 71:10) dan kutip ganda pembungkusnya (dibuka 71:5) sama-sama ditutup di akhir ayat ini, dikonfirmasi morfologi: 'qaala nuuhun' muncul eksplisit di 71:21 sebagai penanda kutip baru (nama Nuh diulang), mengonfirmasi kutip lama benar-benar selesai di sini, bukan berlanjut.

Bentuk (لِتَسْلُكُوا, litaslukuu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Huruf pertamanya menandai tujuan, sehingga bunyinya 'agar kalian menempuh'. Kata kerjanya berarti menempuh atau memasuki jalan, dan akar yang sama dipakai di 72:17 dan 72:27 di surah sebelahnya untuk memasukkan ke azab dan menempatkan penjaga. Satu akar, tiga pemakaian yang jauh berbeda arahnya.

Kata (سُبُلًا, subulan) muncul di 4 ayat: 20:53, 21:31, 43:10, dan 71:20. Menariknya, di 20:53 dan 43:10 kata itu berdiri dalam kalimat yang juga menyebut bumi sebagai hamparan, persis susunan 71:19 dan 71:20. Jadi tiga tempat dalam Al-Qur'an memakai urutan yang sama: bumi dihamparkan, lalu jalan-jalan dibuat padanya. Yang berbeda hanya kata untuk hamparannya.

Kata (فِجَاجًا, fijaajan) muncul di 2 ayat: 21:31 dan 71:20. Ia berarti jalan yang lebar dan terbuka di antara dua ketinggian, seperti celah lebar di antara gunung. Di 21:31 kata itu juga muncul bersama kata untuk jalan-jalan, tetapi urutannya terbalik dari susunan di sini. Dua ayat memakai bahan yang sama dengan urutan yang bertukar, dan pertukaran itu menandai bahwa yang ditekankan berbeda: di sana bentuk jalannya, di sini keberadaan jalannya.

Kata (مِنْهَا, minhaa) memakai akhiran yang menunjuk bumi di ayat sebelumnya. Jadi ayat ini tidak bisa dibaca sendirian; ia menyambung langsung. Huruf yang mendahuluinya menandai asal atau tempat, sehingga bunyinya 'padanya' atau 'darinya'. Terjemahan memilih 'padanya' karena yang dimaksud adalah jalan yang berada di bumi, bukan jalan yang keluar dari bumi.

Ayat ini menutup dua lapis kutipan sekaligus. Kutipan yang bersarang, yaitu ucapan Nuh kepada kaumnya, dibuka di 71:10 dan ditutup di sini. Kutipan pembungkusnya, yaitu doa Nuh kepada Allah, dibuka di 71:5 dan juga ditutup di sini. Enam belas ayat berada di dalam kutipan pertama dan sebelas ayat di dalam kutipan kedua. Penutupan ganda itu dikonfirmasi oleh 71:21, yang membuka dengan penyebutan nama Nuh secara eksplisit sebagai penanda kutipan yang benar-benar baru.

Kependekan ayat ini juga patut dicatat. Hanya empat patah untuk menutup rangkaian argumen sepanjang tujuh ayat. Susunan seperti itu berulang di surah ini: 71:14 menutup satu bagian dengan tiga patah, dan 71:22 nanti menutup satu bagian lagi dengan tiga patah. Tiga kali dalam satu surah, bagian yang panjang ditutup oleh ayat yang sangat pendek. Pola itu memberi irama tersendiri, seperti tarikan napas yang diambil sebelum bagian berikutnya dimulai.

Satu catatan tentang penutupnya. Ia berdiri sebagai sifat bagi yang mendahuluinya, dan keduanya berbentuk tidak tentu. Jadi bunyinya 'jalan-jalan yang luas', bukan 'jalan-jalan yang luas itu'. Bentuk tidak tentu itu membuat cakupannya terbuka: bukan jalan tertentu yang sudah dikenal, melainkan jalan mana pun yang bisa ditempuh. Terjemahan mempertahankan keterbukaan tersebut, sebab menutupnya akan mempersempit sesuatu yang oleh teks memang dibiarkan luas.

Perlu dicatat pula bahwa perbuatan di ayat ini memakai akhiran yang menunjuk 'kalian'. Sepanjang bagian argumen sejak 71:13, akhiran itu berulang di hampir setiap ayat: kalian tidak mengharapkan, Dia menciptakan kalian, tidakkah kalian melihat, Dia menumbuhkan kalian, Dia mengembalikan kalian, Dia menjadikan bagi kalian, agar kalian menempuh. Delapan ayat berturut-turut menyapa langsung, dan tak sekali pun berpindah ke pihak ketiga.

Tafsiran

Ayat ini menutup argumen kosmologis Nuh: bumi sebagai hamparan jalan bagi manusia. Ayat ini menutup seluruh argumen Nuh sekaligus menutup dua lapis kutipan. Argumennya berangkat dari tubuh manusia di 71:14, naik ke langit di 71:15, ke bulan dan matahari di 71:16, turun ke bumi sebagai bahan di 71:17, ke siklus hidup dan mati di 71:18, ke bumi sebagai hamparan di 71:19, dan berakhir di sini pada jalan-jalan yang ditempuh manusia di atasnya. Lingkaran itu tertutup rapi.

Yang menarik, penutupnya bukan ancaman dan bukan tuntutan. Ia berupa keterangan tentang tujuan: agar kalian menempuh jalan-jalan yang luas. Jadi seluruh rangkaian bukti itu berakhir pada satu kalimat tentang kemudahan berjalan. Susunan seperti ini muncul juga di 20:53 dan 43:10, yang sama-sama menyebut bumi sebagai hamparan lalu jalan-jalan padanya. Tiga tempat dalam Al-Qur'an memakai urutan yang sama, dan yang berbeda hanya kata untuk hamparannya.

Penutupan kutipan ganda di sini perlu diperhatikan. Ucapan Nuh kepada kaumnya dibuka di 71:10 dan ditutup di sini; doanya kepada Allah dibuka di 71:5 dan juga ditutup di sini. Sebelas ayat berada dalam lapisan dalam, enam belas ayat dalam lapisan luar. Penutupan ganda itu dikonfirmasi oleh 71:21, yang membuka dengan penyebutan nama Nuh secara eksplisit meski penuturnya sama. Al-Qur'an memakai pengulangan nama sebagai penanda kutipan baru, dan penanda itu yang memastikan kutipan lama benar-benar selesai, bukan berlanjut diam-diam.

Renungan dan Hikmah

  • Argumen Nuh berangkat dari tubuh manusia di 71:14, naik ke langit, ke bulan dan matahari, turun ke bumi sebagai bahan, ke siklus hidup dan mati, ke bumi sebagai hamparan, dan berakhir di sini pada jalan yang ditempuh manusia. Lingkaran itu tertutup rapi. Allah menyusun bukti dari yang terdekat ke yang terjauh lalu kembali. Susunan melingkar seperti itu tidak menyisakan sudut yang belum disentuh. Bukti yang berhenti di satu titik selalu menyisakan tempat untuk mengelak.
  • Penutup seluruh rangkaian bukti ini bukan ancaman dan bukan tuntutan. Ia berupa keterangan tentang tujuan: agar kalian menempuh jalan-jalan yang luas. Jadi daftar tanda kebesaran Allah berakhir pada satu kalimat tentang kemudahan berjalan. Yang ditutup dengan kemudahan terasa berbeda dari yang ditutup dengan ancaman, dan pilihan itu menentukan bagaimana seluruh argumen tinggal di ingatan pendengarnya. Ancaman membuat orang menutup diri, sedangkan kemudahan membuat orang menoleh untuk melihat siapa yang memberinya.
  • Kata untuk jalan di ayat ini muncul di 4 ayat: 20:53, 21:31, 43:10, dan 71:20. Di 20:53 dan 43:10 ia berdiri dalam kalimat yang juga menyebut bumi sebagai hamparan, persis susunan 71:19 dan 71:20. Tiga tempat dalam Al-Qur'an memakai urutan yang sama, dan yang berbeda hanya kata untuk hamparannya. Ketetapan urutan itu menandai bahwa susunannya memang disengaja. Urutan yang tetap di tiga tempat menandai susunan yang memang dikehendaki Allah.
  • Kata untuk jalan yang lebar di ayat ini muncul di 2 ayat: 21:31 dan 71:20. Di 21:31 ia juga muncul bersama kata untuk jalan-jalan, tetapi urutannya terbalik dari susunan di sini. Dua ayat memakai bahan yang sama dengan urutan yang bertukar, dan pertukaran itu menandai bahwa yang ditekankan berbeda: di sana bentuk jalannya, di sini keberadaan jalannya. Urutan dalam kalimat Allah ikut menentukan apa yang paling dulu tertangkap pembacanya, bukan hanya apa yang disebutkan.
  • Ucapan Nuh kepada kaumnya dibuka di 71:10 dan ditutup di sini; doanya kepada Allah dibuka di 71:5 dan juga ditutup di sini. Sebelas ayat berada dalam lapisan dalam, enam belas ayat dalam lapisan luar. Penutupan ganda itu dikonfirmasi oleh 71:21, yang membuka dengan penyebutan nama Nuh secara eksplisit. Al-Qur'an memakai pengulangan nama sebagai penanda kutipan yang benar-benar baru. Penanda kutipan menjaga agar suara Allah dan suara makhluk tidak tertukar tempat.
  • Kata kerja di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai juga di 72:17 dan 72:27 di surah sebelahnya, untuk memasukkan ke azab dan menempatkan penjaga. Satu akar, tiga pemakaian yang jauh berbeda arahnya: menempuh jalan, dimasukkan ke siksa, dan dikawal dari dua sisi. Kalau satu akar bisa membawa nasib sejauh itu bedanya, apa yang sebenarnya menentukan ke arah mana kita dibawa? Yang menentukan arah bukan akar katanya, melainkan kepada siapa seseorang menghadap.