Ayat 71:21

قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًا

Nuh berkata, “Tuhanku, sesungguhnya mereka mendurhakaiku dan mengikuti orang yang harta dan anaknya tidak menambah baginya selain kerugian,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًاqaala nuuhun rabbi innahum 'ashawnii wa-ttaba'uu man lam yazidzu maaluhu wa-waladuhu illaa khasaaranNuh berkata, 'Tuhanku, sesungguhnya mereka mendurhakaiku dan mengikuti orang yang harta dan anaknya tidak menambah baginya selain kerugian'

Terjemahan per kata (13 kata)

  1. قَالَqaalaberkata
  2. نُوحٌnuuhunNuh
  3. رَبِّrabbiTuhan
  4. إِنَّهُمْinnahumsesungguhnya mereka
  5. عَصَوْنِي'ashawniimereka mendurhakaiku
  6. وَاتَّبَعُواwa-ttaba'uudan mereka mengikuti
  7. مَنْmanorang yang
  8. لَمْlamtidak
  9. يَزِدْهُyazidzumenambahnya
  10. مَالُهُmaaluhuhartanya
  11. وَوَلَدُهُwa-waladuhudan anaknya
  12. إِلَّاillaakecuali
  13. خَسَارًاkhasaarankerugian

Inti bacaan

Diagnosis pola pengikutan yang keliru: 'mereka mendurhakaiku dan mengikuti orang yang harta dan anaknya tidak menambah baginya selain kerugian', pengamatan tajam bahwa masyarakat sering mengikuti figur berpengaruh (kaya, berketurunan banyak) tanpa mempertimbangkan apakah kekayaan tersebut sesungguhnya membawa manfaat spiritual atau justru kerugian.

Penjelasan pilihan kata

Kutip ganda baru dibuka di sini ('qaala nuuhun', nama Nuh diulang eksplisit: penanda gaya Quran untuk kutip baru meski penutur sama dengan sebelumnya). Tunggal 'hartanya/anaknya' dikonfirmasi benar merujuk 'man' (tunggal), bukan pelanggaran disiplin jamak.

Tiga kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (عَصَوْنِي, 'ashawnii), (يَزِدْهُ, yazidhu), dan (وَوَلَدُهُ, wawaladuhu). Yang kedua serumpun dengan kata di 71:6, yang juga sekali pakai. Di 71:6 seruan tidak menambah mereka selain pelarian; di sini harta dan anak tidak menambah baginya selain kerugian. Dua ayat memakai bentuk kalimat yang sama untuk melaporkan hasil yang berlawanan arah dengan yang diharapkan.

Kata (مَالُهُ, maaluhu) muncul di 3 ayat: 71:21, 92:11, dan 111:2. Ketiganya berbicara tentang harta yang tidak menolong pemiliknya. Di 92:11 disebutkan bahwa hartanya tidak mencukupkannya ketika ia binasa; di 111:2 hartanya dan usahanya tidak mencukupkannya. Jadi tiga pemakaian kata ini di seluruh Al-Qur'an semuanya menutup dengan kesimpulan yang sama. Tidak ada satu pun yang menyebutkan harta sebagai penolong.

Kata (خَسَارًا, khasaaran) muncul di 3 ayat: 17:82, 35:39, dan 71:21. Ia berarti kerugian, dari akar yang menyangkut berkurangnya modal, bukan sekadar tidak untung. Di 17:82 kata itu dipakai untuk orang zalim yang tidak bertambah apa pun dari bacaan selain kerugian. Susunan di sana persis sama dengan susunan di sini: tidak menambah selain kerugian. Dua ayat memakai rumusan yang identik untuk dua sebab yang berbeda, yaitu bacaan dan harta.

Nama (نُوحٌ, nuuhun) dalam bentuk pelaku muncul di 6 ayat: 11:42, 11:45, 26:106, 37:75, 71:21, dan 71:26. Dua dari enam berada di surah ini, dan dua-duanya membuka doa. Bandingkan dengan 71:1, ketika namanya muncul dalam bentuk yang menerima perbuatan. Jadi sepanjang surah ini Nuh menjadi pelaku hanya dua kali, dan keduanya untuk berdoa, bukan untuk bertindak.

Pengulangan nama di awal ayat ini adalah penanda kutipan baru. Penutur sama dengan sebelumnya, tetapi Al-Qur'an tetap mengulang namanya untuk menandai bahwa kutipan yang lama sudah tertutup di 71:20. Tanpa penanda itu, pembaca bisa mengira doa yang ini masih bagian dari doa yang sebelumnya. Penanda yang sama dipakai lagi di 71:26 dengan tambahan huruf penyambung.

Susunan bagian kedua ayat ini juga perlu dicermati. Yang diikuti mereka disebut dengan kata yang berarti 'siapa', bentuk tunggal yang cakupannya bisa satu orang atau satu jenis orang. Teks tidak menyebut nama, tidak pula menyebut jumlah. Draf awal sempat mempersoalkan bentuk tunggal pada 'hartanya' dan 'anaknya', dan bentuk itu dikonfirmasi benar karena merujuk kata 'siapa' yang memang tunggal. Jadi bukan pelanggaran disiplin jamak, melainkan kesesuaian dengan kata yang dirujuknya.

Tafsiran

Ayat ini membuka doa kedua Nuh: pengaduan tentang pengikut orang yang justru merugi karena harta dan anaknya. Ayat ini membuka doa kedua Nuh, dan yang diadukan bukan lagi penolakan melainkan sebabnya. Mereka mendurhakainya, dan mereka mengikuti orang yang harta dan anaknya justru merugikan dirinya sendiri. Jadi yang mereka ikuti bukan orang yang berhasil, melainkan orang yang sedang rugi tanpa menyadarinya.

Kata untuk harta di ayat ini muncul di 3 ayat, dan ketiganya berbicara tentang harta yang tidak menolong pemiliknya. Di 92:11 hartanya tidak mencukupkannya ketika ia binasa; di 111:2 hartanya dan usahanya tidak mencukupkannya. Tiga pemakaian kata ini di seluruh Al-Qur'an semuanya menutup dengan kesimpulan yang sama, dan tak satu pun menyebut harta sebagai penolong. Yang dijadikan ukuran keberhasilan oleh orang banyak ternyata tidak sekali pun muncul sebagai penyelamat.

Ada kesejajaran yang tajam dengan 71:12. Di ayat itu harta dan anak disebut sebagai janji Allah bagi yang memohon ampun. Di sini keduanya disebut sebagai sebab kerugian. Dalam satu surah, dua hal yang sama muncul sebagai pemberian dan sebagai jerat. Yang membedakan bukan bendanya, melainkan apakah ia datang sebagai buah permohonan ampun atau sebagai alasan untuk merasa tidak memerlukan ampunan. Dan kata kerja di sini serumpun dengan yang dipakai di 71:6: di sana seruan tidak menambah selain pelarian, di sini harta tidak menambah selain kerugian. Dua kali dalam satu surah, sesuatu yang seharusnya menambah kebaikan justru menambah yang sebaliknya.

Renungan dan Hikmah

  • Yang diadukan Nuh bukan sekadar penolakan, melainkan sebabnya: mereka mengikuti orang yang harta dan anaknya justru merugikan dirinya sendiri. Jadi yang mereka ikuti bukan orang yang berhasil, melainkan orang yang sedang rugi tanpa menyadarinya. Allah merekam pengaduan itu apa adanya. Kita cenderung mengikuti yang terlihat berhasil, dan jarang bertanya apakah yang kita lihat memang keberhasilan atau hanya penundaan kerugian. Allah mencatat siapa yang mereka ikuti, bukan hanya bahwa mereka menolak.
  • Kata untuk harta di ayat ini muncul di 3 ayat: 71:21, 92:11, dan 111:2. Ketiganya berbicara tentang harta yang tidak menolong pemiliknya. Di 92:11 hartanya tidak mencukupkannya ketika ia binasa; di 111:2 hartanya dan usahanya tidak mencukupkannya. Tak satu pun menyebut harta sebagai penolong. Yang dijadikan ukuran keberhasilan oleh orang banyak ternyata tidak sekali pun muncul dalam kalimat Allah sebagai penyelamat. Yang tidak pernah disebut Allah sebagai penolong sebaiknya tidak kita perlakukan sebagai jaminan.
  • Di 71:12 harta dan anak disebut sebagai janji Allah bagi yang memohon ampun. Di sini keduanya disebut sebagai sebab kerugian. Dalam satu surah, dua hal yang sama muncul sebagai pemberian dan sebagai jerat. Yang membedakan bukan bendanya, melainkan apakah ia datang sebagai buah permohonan ampun atau sebagai alasan untuk merasa tidak memerlukan ampunan. Nikmat yang membuat orang merasa cukup adalah nikmat yang paling berbahaya. Merasa cukup adalah pintu yang menutup diri sendiri dari ampunan Allah.
  • Kata untuk kerugian di ayat ini muncul di 3 ayat: 17:82, 35:39, dan 71:21. Akarnya menyangkut berkurangnya modal, bukan sekadar tidak untung. Di 17:82 susunannya persis sama: tidak menambah selain kerugian, tetapi sebabnya bacaan Al-Qur'an, bukan harta. Dua ayat memakai rumusan identik untuk dua sebab yang berbeda. Yang menentukan bukan apa yang diterima seseorang, melainkan apa yang ia lakukan dengannya. Modal yang berkurang tanpa disadari lebih berbahaya daripada kerugian yang terlihat.
  • Nama Nuh dalam bentuk pelaku muncul di 6 ayat, dan dua di antaranya di surah ini: 71:21 dan 71:26. Dua-duanya membuka doa. Bandingkan dengan 71:1, ketika namanya muncul dalam bentuk yang menerima perbuatan. Jadi sepanjang surah ini ia menjadi pelaku hanya dua kali, dan keduanya untuk berdoa kepada Allah, bukan untuk bertindak sendiri. Utusan yang paling banyak berusaha ternyata paling sedikit disebut sebagai pelaku. Di hadapan Allah, yang paling banyak berbuat justru paling sedikit menuntut pengakuan.
  • Pengulangan nama di awal ayat ini adalah penanda kutipan baru, meski penuturnya sama dengan sebelumnya. Tanpa penanda itu, pembaca bisa mengira doa ini masih bagian dari doa yang lama. Penanda yang sama dipakai lagi di 71:26. Al-Qur'an memakai cara yang tetap untuk menandai batas ucapan. Berapa banyak salah paham terhadap kitab suci lahir hanya karena batas siapa yang berbicara tidak diperhatikan? Batas ucapan menentukan siapa yang bertanggung jawab atas kalimat yang kita baca.

Ayat 71:22

وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا

Mereka pun melakukan tipu daya yang sangat besar.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًاwa-makaruu makran kubbaaran'mereka pun melakukan tipu daya yang sangat besar'

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَمَكَرُواwa-makaruudan mereka membuat tipu daya
  2. مَكْرًاmakrantipu daya
  3. كُبَّارًاkubbaaranyang sangat besar

Inti bacaan

Skala tipu daya yang luar biasa: 'mereka pun melakukan tipu daya yang sangat besar', pengakuan bahwa penolakan terorganisir terhadap kebenaran bisa melibatkan strategi yang canggih dan terencana, bukan sekadar penolakan spontan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini hanya tiga patah, terpendek di surah ini bersama 71:14. Kata (كُبَّارًا, kubbaaran) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Ia bentuk penguat dari akar yang berarti besar. Bahasa Arab punya beberapa tingkat untuk menyatakan kebesaran, dan bentuk yang dipakai di sini termasuk yang paling kuat. Terjemahan 'sangat besar' menahan tingkatnya, meski dalam bahasa Indonesia kita hanya bisa menambahkan kata penguat di depannya.

Bentuk (وَمَكَرُوا, wamakaruu) muncul di 3 ayat: 3:54, 27:50, dan 71:22. Sepasang dengannya, (مَكْرًا, makran) muncul di 3 ayat: 10:21, 27:50, dan 71:22. Dua daftar itu bertemu di 27:50 selain ayat ini. Di 27:50 kalimatnya berbunyi bahwa mereka membuat tipu daya dan Allah pun membuat tipu daya. Susunan yang sama muncul di 3:54. Jadi di dua tempat lain, kata ini selalu berpasangan dengan penyebutan bahwa Allah juga membalas dengan cara yang sama. Di sini pasangan itu tidak disebut.

Susunan (وَمَكَرُوا مَكْرًا, wamakaruu makran) memakai cara penekanan yang sudah dipakai di 71:7, 71:9, 71:17, dan 71:18. Ini yang kelima dalam satu surah. Bunyi harfiahnya kira-kira 'mereka melakukan tipu daya dengan tipu daya yang sangat besar'. Kelima pemakaiannya menandai sesuatu yang dilakukan sampai batasnya, dan yang di sini adalah satu-satunya yang objeknya perbuatan buruk yang direncanakan.

Dalam bahasa Arab, (مَكْرًا, makran) tidak selalu bermakna buruk. Ia menyangkut perencanaan yang tersembunyi, dan bisa dipakai untuk pihak mana pun. Itulah sebabnya ia bisa dinisbatkan kepada Allah di 3:54 dan 27:50 tanpa masalah. Yang menentukan baik buruknya adalah tujuan dan pihaknya, bukan katanya. Terjemahan 'tipu daya' membawa muatan buruk dalam bahasa Indonesia, dan itu keterbatasan yang perlu disadari pembaca.

Kependekan ayat ini bekerja sebagai penutup. Sesudah 71:21 yang tiga belas patah, ayat ini jatuh dalam tiga patah saja. Pola yang sama muncul di 71:14 dan 71:20. Tiga kali dalam satu surah, bagian yang panjang ditutup oleh ayat yang sangat pendek.

Perlu dicatat pula bahwa ayat ini berdiri di dalam kutipan doa yang dibuka di 71:21. Jadi yang melaporkan tipu daya itu bukan Allah secara langsung dalam narasi, melainkan Nuh dalam pengaduannya. Perbedaan itu menentukan nada. Laporan dari pihak yang mengalami terasa lain daripada laporan dari pihak yang mengamati, dan surah ini memilih yang pertama di sepanjang bagian ini.

Satu catatan tentang wujud perbuatannya. Ia berbentuk lampau dan berpelaku jamak, sehingga bunyinya 'mereka telah melakukan'. Yang dilaporkan sudah terjadi, bukan sedang berlangsung atau akan datang. Bandingkan dengan 71:23, yang mengutip ucapan mereka dalam bentuk yang menghadirkan kembali percakapan itu. Jadi dua ayat berurutan memakai dua kerangka waktu: yang satu melaporkan dari kejauhan, yang lain menghadirkan seolah baru terdengar.

Tafsiran

Ayat ini mencatat tipu daya besar para pemimpin kaum Nuh. Ayat ini menutup keterangan tentang mereka dengan tiga patah kata. Sesudah 71:21 yang panjang, kalimat ini jatuh singkat dan keras. Yang disebut bukan lagi penolakan mereka terhadap seruan, melainkan perencanaan yang mereka susun secara tersembunyi.

Kata yang dipakai untuk perencanaan itu tidak selalu bermakna buruk dalam bahasa Arab. Ia menyangkut rencana yang disembunyikan, dan bisa dinisbatkan kepada pihak mana pun. Di 3:54 dan 27:50 kata yang sama dipakai untuk Allah, dan di kedua ayat itu ia berdiri sebagai balasan atas rencana manusia. Yang menentukan baik buruknya adalah tujuan dan pihaknya, bukan kata itu sendiri. Terjemahan Indonesia membawa muatan buruk, dan itu keterbatasan yang perlu disadari.

Yang menarik, di sini pasangan yang biasa menyertainya tidak disebut. Di dua ayat lain, kalimat tentang rencana manusia selalu langsung disusul kalimat tentang rencana Allah yang membalasnya. Di ayat ini balasan itu tidak muncul. Yang menyusul justru 71:23, yang mengutip apa yang mereka katakan satu sama lain. Jadi penundaan balasan itu disengaja: pembaca dibiarkan mendengar dulu isi rencana mereka sebelum akibatnya disebutkan di 71:25. Dan bentuk penekanan yang dipakai di sini adalah yang kelima dalam surah ini, sesudah 71:7, 71:9, 71:17, dan 71:18. Kelima pemakaiannya menandai sesuatu yang dilakukan sampai batasnya, dan hanya yang di sini objeknya berupa rencana buruk yang disusun dengan sengaja.

Renungan dan Hikmah

  • Sesudah 71:21 yang tiga belas patah, ayat ini jatuh dalam tiga patah saja. Pola yang sama muncul di 71:14 dan 71:20. Tiga kali dalam satu surah, bagian yang panjang ditutup oleh ayat yang sangat pendek. Allah memakai panjang dan pendek sebagai alat, bukan kebetulan. Kalimat yang pendek sesudah kalimat yang panjang selalu terdengar lebih keras, dan bentuknya sendiri ikut menyampaikan apa yang dimaksud. Allah memakai bentuk kalimat sebagai bagian dari pesannya, bukan sekadar wadahnya.
  • Kata untuk perencanaan di ayat ini tidak selalu bermakna buruk dalam bahasa Arab. Ia menyangkut rencana yang disembunyikan, dan bisa dinisbatkan kepada pihak mana pun. Di 3:54 dan 27:50 kata yang sama dipakai untuk Allah. Yang menentukan baik buruknya adalah tujuan dan pihaknya, bukan kata itu sendiri. Terjemahan Indonesia membawa muatan buruk, dan keterbatasan itu perlu disadari agar pembaca tidak salah paham. Pembaca yang tahu batas itu akan menimbang kata Arabnya, bukan padanan Indonesianya.
  • Di 3:54 dan 27:50, kalimat tentang rencana manusia selalu langsung disusul kalimat tentang rencana Allah yang membalasnya. Di ayat ini balasan itu tidak muncul. Yang menyusul justru 71:23, yang mengutip apa yang mereka katakan satu sama lain. Penundaan itu disengaja. Pembaca dibiarkan mendengar dulu isi rencana mereka sebelum akibatnya disebutkan di 71:25, sehingga akibat itu terasa lebih berat ketika akhirnya tiba. Yang ditunda oleh Allah tidak berarti dibatalkan, hanya ditempatkan pada urutan yang tepat.
  • Susunan kata kerja diikuti bentukan benda dari akar yang sama sudah dipakai di 71:7, 71:9, 71:17, dan 71:18. Ini yang kelima dalam satu surah. Kelima pemakaiannya menandai sesuatu yang dilakukan sampai batasnya, dan hanya yang di sini objeknya berupa rencana buruk yang disusun dengan sengaja. Bentuk yang sama menampung penyombongan, kerahasiaan, penumbuhan oleh Allah, pengeluaran, dan sekarang tipu daya. Satu bentuk penekanan menampung perbuatan Allah dan perbuatan manusia tanpa dibedakan wadahnya.
  • Kata terakhir ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dan merupakan bentuk penguat dari akar yang berarti besar. Bahasa Arab punya beberapa tingkat untuk menyatakan kebesaran, dan yang dipakai di sini termasuk yang paling kuat. Terjemahan hanya bisa menambahkan kata penguat di depannya. Yang dilaporkan Allah bukan rencana biasa, melainkan yang paling besar yang bisa disebut dengan kata itu. Allah tidak melebih-lebihkan, dan justru karena itu kata penguat-Nya perlu diperhatikan.
  • Yang disebut di ayat ini bukan lagi penolakan terbuka terhadap seruan, melainkan perencanaan yang disusun secara tersembunyi. Perpindahan dari menolak menjadi merencanakan menandai naiknya tingkat perlawanan. Menolak masih berupa sikap; merencanakan sudah berupa tindakan. Adakah penolakan dalam diri kita yang diam-diam sudah berubah menjadi rencana, tanpa pernah kita akui sebagai rencana? Rencana yang tidak pernah diakui sebagai rencana adalah yang paling sulit ditinggalkan.

Ayat 71:23

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

Mereka berkata, ‘Jangan sekali-kali kalian meninggalkan tuhan-tuhan kalian, dan jangan pula sekali-kali kalian meninggalkan Wadd, Suwa', Yaguts, Ya'uq, dan Nasr.’

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًاwa-qaaluu laa tadzarunna aalihatakum wa-laa tadzarunna waddan wa-laa suwaa'an wa-laa yaghuutsa wa-ya'uuqa wa-nasranmereka berkata, 'jangan sekali-kali kalian meninggalkan tuhan-tuhan kalian, dan jangan pula sekali-kali kalian meninggalkan Wadd, Suwa', Yaguts, Ya'uq, dan Nasr'

Terjemahan per kata (13 kata)

  1. وَقَالُواwa-qaaluudan mereka berkata
  2. لَاlaatidak
  3. تَذَرُنَّtadzarunnakalian meninggalkan
  4. آلِهَتَكُمْaalihatakumtuhan-tuhan kalian
  5. وَلَاwa-laadan tidak pula
  6. تَذَرُنَّtadzarunnakalian meninggalkan
  7. وَدًّاwaddankasih sayang
  8. وَلَاwa-laadan tidak pula
  9. سُوَاعًاsuwaa'anSuwa
  10. وَلَاwa-laadan tidak pula
  11. يَغُوثَyaghuutsaYaghuts
  12. وَيَعُوقَwa-ya'uuqadan Yauq
  13. وَنَسْرًاwa-nasrandan Nasr

Inti bacaan

Daftar spesifik berhala yang dipertahankan: 'jangan sekali-kali kalian meninggalkan tuhan-tuhan kalian dan jangan pula sekali-kali kalian meninggalkan Wadd, Suwa', Yaguts, Ya'uq, dan Nasr', penyebutan nama-nama konkret menunjukkan bahwa penolakan bukan abstrak melainkan terikat pada objek pemujaan spesifik yang mengakar dalam tradisi mereka.

Penjelasan pilihan kata

Kutip tunggal bersarang baru dibuka dan ditutup dalam satu ayat ini: perkataan kaum Nuh satu sama lain tentang berhala. Nama-nama berhala (Wadd, Suwa', Yaguts, Ya'uq, Nasr) eksplisit di teks Arab (nama diri), dipertahankan apa adanya.

Ayat ini yang paling padat kata sekali pakai di surah ini: tujuh dari tiga belas patah kata penyusunnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Lima di antaranya nama: (وَدًّا, waddan), (سُوَاعًا, suwaa'an), (يَغُوثَ, yaguutsa), (وَيَعُوقَ, waya'uuqa), dan (وَنَسْرًا, wanasran). Dua lagi adalah (تَذَرُنَّ, tadzarunna) yang muncul dua kali di ayat ini. Karena kelimanya nama diri, terjemahan mempertahankannya apa adanya tanpa menerjemahkan artinya.

Bentuk (تَذَرُنَّ, tadzarunna) memuat akhiran penegas yang dalam bahasa Arab menandai sumpah atau larangan yang keras. Bunyinya kira-kira 'jangan sekali-kali kalian meninggalkan'. Kata ini muncul dua kali dalam satu ayat, sekali untuk sebutan umum dan sekali untuk daftar nama. Pengulangan larangan yang sama dengan objek yang berbeda adalah cara mempertegas: yang umum disebut dulu, lalu yang khusus dirinci satu per satu.

Kata (آلِهَتَكُمْ, aalihatakum) muncul di 3 ayat: 21:36, 21:68, dan 71:23. Di dua ayat lainnya kata itu diucapkan orang yang marah karena sesembahan mereka dicela. Di sini ia diucapkan dalam nada mengajak bertahan, bukan membela diri dari celaan. Perbedaan nada itu bermakna: yang di sini bukan reaksi melainkan pengorganisasian.

Yang paling perlu dicatat adalah siapa yang berbicara. Kutipan di ayat ini bukan ucapan mereka kepada Nuh, melainkan ucapan mereka satu sama lain. Kutipan bersarang itu dibuka dan ditutup dalam satu ayat. Jadi pembaca mendengar apa yang mereka katakan di antara mereka sendiri, bukan apa yang mereka sampaikan kepada penyerunya. Ini melengkapi 71:22: rencana yang disebut di sana, isinya disebut di sini.

Perlu dicatat pula bahwa daftar lima nama itu tidak diberi keterangan apa pun. Al-Qur'an tidak menjelaskan siapa atau apa mereka. Ketiadaan keterangan itu sendiri bermakna. Yang penting bukan riwayat masing-masing nama, melainkan bahwa ada lima nama yang dipertahankan orang dengan larangan yang keras, dan tak satu pun dari mereka muncul lagi di ayat mana pun sesudah ini.

Susunan daftarnya juga rapi. Dua nama pertama masing-masing didahului penyangkal yang diulang, sedangkan tiga nama terakhir dirangkai dengan huruf penyambung tanpa penyangkal baru. Jadi penekanan paling keras jatuh di awal daftar lalu mengendur. Terjemahan mempertahankan urutannya apa adanya, tanpa menyeragamkan penyangkalannya, sebab perbedaan itu bagian dari cara kalimat tersebut dirakit.

Tafsiran

Ayat ini mencatat seruan kaum Nuh saling mempertahankan penyembahan berhala. Ayat ini yang paling padat kata sekali pakai di surah ini. Tujuh dari tiga belas patah kata penyusunnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan lima di antaranya nama. Kepadatan itu sendiri sudah bercerita: yang dibicarakan di sini adalah sesuatu yang tidak dibicarakan di tempat lain mana pun.

Yang paling menentukan adalah siapa yang berbicara. Kutipan di ayat ini bukan ucapan mereka kepada Nuh, melainkan ucapan mereka satu sama lain. Jadi pembaca mendengar apa yang mereka katakan di antara mereka sendiri. Ini melengkapi 71:22: rencana yang disebutkan di sana, isinya disebutkan di sini. Dan isinya bukan rencana menyerang, melainkan rencana bertahan. Yang mereka susun adalah larangan bagi diri mereka sendiri untuk tidak meninggalkan apa yang selama ini mereka pegang.

Bentuk larangannya memakai akhiran penegas yang menandai sumpah atau larangan keras. Bunyinya kira-kira 'jangan sekali-kali kalian meninggalkan'. Kata itu muncul dua kali dalam satu ayat, sekali untuk sebutan umum dan sekali untuk daftar nama. Yang umum disebut dulu, lalu yang khusus dirinci satu per satu. Dan lima nama itu tidak diberi keterangan apa pun. Al-Qur'an tidak menjelaskan siapa mereka, dan ketiadaan keterangan itu sendiri bermakna. Yang penting bukan riwayat masing-masing nama, melainkan bahwa ada lima nama yang dipertahankan dengan larangan sekeras itu, dan tak satu pun dari mereka muncul lagi di ayat mana pun sesudah ini. Nama-nama yang dijaga mati-matian ternyata hanya tercatat sekali, di ayat yang menceritakan bagaimana mereka dijaga.

Renungan dan Hikmah

  • Isi rencana yang disebut di 71:22 ternyata bukan rencana menyerang, melainkan rencana bertahan. Yang mereka susun adalah larangan bagi diri mereka sendiri untuk tidak meninggalkan apa yang selama ini mereka pegang. Perlawanan terhadap kebenaran sering berbentuk begitu: bukan serangan, melainkan penguatan pagar. Allah merekam bentuk perlawanan yang paling umum, yaitu yang tidak terlihat sebagai perlawanan sama sekali. Allah merekam perlawanan dalam bentuknya yang paling tenang dan paling sulit dikenali.
  • Kutipan di ayat ini bukan ucapan mereka kepada Nuh, melainkan ucapan mereka satu sama lain. Kutipan bersarang itu dibuka dan ditutup dalam satu ayat. Pembaca mendengar apa yang mereka katakan di antara mereka sendiri, bukan apa yang mereka sampaikan kepada penyerunya. Allah membuka percakapan yang tidak dimaksudkan untuk didengar siapa pun, dan justru di situlah niat sebenarnya terlihat. Yang tersembunyi dari manusia tidak pernah tersembunyi dari Allah.
  • Lima nama di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Nama-nama yang dijaga dengan larangan sekeras itu ternyata hanya tercatat sekali, di ayat yang menceritakan bagaimana mereka dijaga. Tak satu pun muncul lagi sesudah ini. Yang dipertahankan mati-matian oleh manusia tidak dengan sendirinya menjadi penting di sisi Allah, dan jarak antara dua penilaian itu bisa sejauh ini. Yang kekal bukan nama yang dipuja, melainkan catatan tentang siapa yang memujanya.
  • Kata kerja di ayat ini memuat akhiran penegas yang dalam bahasa Arab menandai sumpah atau larangan yang keras. Bunyinya kira-kira jangan sekali-kali kalian meninggalkan. Kata itu muncul dua kali dalam satu ayat, sekali untuk sebutan umum dan sekali untuk daftar nama. Yang umum disebut dulu, lalu yang khusus dirinci. Kekerasan larangan itu justru menunjukkan bahwa mereka merasa terancam kehilangan. Kekerasan sebuah larangan sering mengukur besarnya rasa takut kehilangan, bukan kebenarannya.
  • Daftar lima nama di ayat ini tidak diberi keterangan apa pun. Al-Qur'an tidak menjelaskan siapa atau apa mereka. Ketiadaan keterangan itu sendiri bermakna. Yang penting bukan riwayat masing-masing nama, melainkan bahwa ada lima nama yang dipertahankan orang dengan larangan yang keras. Allah tidak memberi mereka ruang lebih dari yang diperlukan, dan pengabaian itu adalah bentuk penilaian tersendiri. Diam pun bisa menjadi keputusan, dan diam yang di sini jelas disengaja.
  • Kata untuk sesembahan di ayat ini muncul di 3 ayat: 21:36, 21:68, dan 71:23. Di dua ayat lainnya ia diucapkan orang yang marah karena sesembahan mereka dicela. Di sini ia diucapkan dalam nada mengajak bertahan, bukan membela diri dari celaan. Yang di sini bukan reaksi melainkan pengorganisasian. Apakah yang kita pertahankan hari ini kita pegang karena benar, atau karena kita sudah telanjur mengajak orang lain memegangnya? Sesuatu yang kita ajak orang lain memegangnya jadi lebih berat untuk kita lepaskan.

Ayat 71:24

وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا ۖ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا ضَلَالًا

Dan sungguh mereka telah menyesatkan banyak orang. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang zalim itu selain kesesatan.”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا ۖ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا ضَلَالًاwa-qad adhalluu katsiiran wa-laa tazidi zh-zhaalimiina illaa dhalaalan'dan sungguh mereka telah menyesatkan banyak orang. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang zalim itu selain kesesatan'

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. وَقَدْwa-qadpadahal sungguh
  2. أَضَلُّواadhalluumereka menyesatkan
  3. كَثِيرًاkatsiiranbanyak
  4. وَلَاwa-laadan janganlah
  5. تَزِدِtazidiEngkau menambah
  6. الظَّالِمِينَzh-zhaalimiinayang zalim
  7. إِلَّاillaakecuali
  8. ضَلَالًاdhalaalankesesatan

Inti bacaan

Dampak sosial dari kesesatan yang menyebar: 'mereka telah menyesatkan banyak orang', pengakuan bahwa penolakan individual bisa berdampak luas, mempengaruhi banyak orang lain untuk mengikuti jalan yang sama, tanggung jawab kolektif atas pengaruh yang disebarkan.

Penjelasan pilihan kata

Kutip ganda (dibuka 71:21) ditutup di ayat ini: dikonfirmasi morfologi via pergeseran total ke narasi orang ketiga tanpa penanda ucap di 71:25.

Bentuk (أَضَلُّوا, adhalluu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Ia bentuk yang menandai membuat pihak lain sesat, bukan sesat sendiri. Jadi yang dilaporkan bukan kesesatan mereka melainkan akibatnya pada orang lain. Terjemahan 'telah menyesatkan banyak orang' menahan arah itu, dan objeknya dibiarkan tanpa penanda tertentu sesuai teks.

Bentuk (تَزِدِ, tazidi) muncul di 2 ayat: 71:24 dan 71:28, keduanya di surah ini dan tidak ada di tempat lain. Dua ayat itu sama-sama menutup sebuah doa, dan dua-duanya berbunyi 'janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang zalim'. Yang berbeda hanya kata terakhirnya: di sini kesesatan, di sana kehancuran. Jadi doa kedua dan doa ketiga Nuh berakhir dengan rumusan yang hampir kembar.

Kata (ضَلَالًا, dhalaalan) muncul di 6 ayat: 4:60, 4:116, 4:136, 4:167, 33:36, dan 71:24. Di lima ayat lainnya kata itu hampir selalu didahului kata yang berarti jauh, membentuk ungkapan tentang kesesatan yang jauh. Di sini ia berdiri sendiri tanpa sifat itu. Perbedaan tersebut bermakna: yang diminta bukan agar kesesatan mereka menjadi lebih jauh, melainkan agar tidak bertambah sama sekali.

Susunan permohonannya perlu dicermati. Nuh tidak meminta agar mereka dibinasakan, dan tidak pula meminta agar mereka diberi petunjuk. Ia meminta agar kesesatan mereka tidak ditambah. Bentuk kalimatnya larangan yang ditujukan kepada Allah, susunan yang dalam bahasa Arab lazim dipakai dalam doa dan tidak mengandung kekurangajaran. Terjemahan 'janganlah Engkau tambahkan' menahan bentuk itu apa adanya.

Ayat ini menutup doa kedua yang dibuka di 71:21. Empat ayat berada di dalamnya. Penutupan itu dikonfirmasi oleh 71:25, yang berpindah total ke narasi orang ketiga tanpa penanda ucap sama sekali. Perpindahan tersebut adalah cara Al-Qur'an menandai bahwa kutipan sudah selesai, dan penanda semacam itu sudah dipakai dua kali sebelumnya di surah ini.

Sebutan (الظَّالِمِينَ, azh-zhaalimiina) di ayat ini memakai penanda tertentu, jadi bunyinya 'orang-orang zalim itu', bukan 'orang-orang zalim' pada umumnya. Yang dimaksud adalah mereka yang baru saja disebut, bukan siapa saja yang berbuat zalim. Sebutan yang sama dipakai lagi di 71:28 dengan bentuk yang persis sama. Dua penutup doa memakai sebutan yang identik untuk pihak yang sama.

Bagian pertama ayat ini juga perlu dicatat kedudukannya. Ia dibuka dengan penanda yang berarti 'dan sungguh', bentuk yang menegaskan sekaligus menyambung. Yang dinyatakan bukan dugaan Nuh melainkan kenyataan yang sudah terjadi. Bentuk kata kerjanya lampau, sehingga bunyinya 'mereka telah menyesatkan'. Jadi laporan tentang akibat mendahului permohonan, dan permohonan itu berdiri di atas laporan tersebut, bukan di atas perkiraan tentang apa yang mungkin terjadi.

Tafsiran

Ayat ini menutup doa kedua Nuh: permohonan agar kesesatan mereka tidak bertambah. Ayat ini menutup doa kedua Nuh dengan permohonan yang mengejutkan. Ia tidak meminta agar mereka dibinasakan, dan tidak pula meminta agar mereka diberi petunjuk. Ia meminta agar kesesatan mereka tidak ditambah. Permohonan itu berdiri di antara dua ujung yang biasa dibayangkan orang, dan justru karena itu ia terasa jujur.

Bagian pertamanya melaporkan akibat. Kata kerjanya menandai membuat pihak lain sesat, bukan sesat sendiri. Jadi yang dilaporkan bukan kesesatan para pemimpin itu, melainkan berapa banyak orang yang ikut tersesat karena mereka. Perbedaan itu penting. Kesalahan yang berhenti pada diri sendiri berbeda beratnya dari kesalahan yang menular, dan Nuh menyebut yang kedua.

Kata untuk kesesatan di ayat ini muncul di 6 ayat, dan di lima ayat lainnya ia hampir selalu didahului kata yang berarti jauh. Di sini ia berdiri sendiri tanpa sifat itu. Yang diminta bukan agar kesesatan mereka menjadi lebih jauh, melainkan agar tidak bertambah sama sekali. Dan bentuk kata kerja permohonannya hanya muncul di dua ayat dalam seluruh Al-Qur'an, keduanya di surah ini: di sini dan di 71:28. Dua ayat itu sama-sama menutup sebuah doa dengan rumusan yang hampir kembar, dan yang berbeda hanya kata terakhirnya. Di sini kesesatan, di sana kehancuran. Jadi dua doa terakhir Nuh berakhir dengan bentuk yang sama, dan jarak antara keduanya diisi oleh 71:25 yang menceritakan apa yang sudah terjadi pada mereka.

Renungan dan Hikmah

  • Nuh tidak meminta agar mereka dibinasakan, dan tidak pula meminta agar mereka diberi petunjuk. Ia meminta agar kesesatan mereka tidak ditambah. Permohonan itu berdiri di antara dua ujung yang biasa dibayangkan orang. Allah merekam doa yang tidak rapi menurut ukuran kita. Doa yang jujur memang jarang berbentuk permintaan yang bulat; ia sering berhenti di tengah, tepat di titik yang paling terasa oleh yang berdoa. Allah menerima doa yang belum selesai bentuknya, asal jujur isinya.
  • Kata kerja pertama di ayat ini menandai membuat pihak lain sesat, bukan sesat sendiri. Yang dilaporkan bukan kesesatan para pemimpin itu, melainkan berapa banyak orang yang ikut tersesat karena mereka. Perbedaan itu penting. Kesalahan yang berhenti pada diri sendiri berbeda beratnya dari kesalahan yang menular, dan Nuh menyebut yang kedua. Yang diadukan kepada Allah adalah kerusakan yang meluas, bukan kekeliruan perorangan. Kerusakan yang meluas dihitung Allah berbeda dari kekeliruan yang berhenti pada diri sendiri.
  • Kata untuk kesesatan di ayat ini muncul di 6 ayat: 4:60, 4:116, 4:136, 4:167, 33:36, dan 71:24. Di lima ayat lainnya ia hampir selalu didahului kata yang berarti jauh. Di sini ia berdiri sendiri tanpa sifat itu. Yang diminta bukan agar kesesatan mereka menjadi lebih jauh, melainkan agar tidak bertambah sama sekali. Ketiadaan satu kata sifat mengubah seluruh kadar permohonannya. Apa yang tidak disebut kadang menentukan sebanyak apa yang disebut.
  • Bentuk kata kerja permohonan di ayat ini muncul di 2 ayat, keduanya di surah ini: 71:24 dan 71:28. Dua ayat itu sama-sama menutup sebuah doa dengan rumusan yang hampir kembar, dan yang berbeda hanya kata terakhirnya. Di sini kesesatan, di sana kehancuran. Dua doa terakhir Nuh berakhir dengan bentuk yang sama. Pengulangan rumusan penutup itu mengikat dua bagian akhir surah menjadi satu kesatuan. Dua permohonan terakhir Nuh berdiri sebagai sepasang, bukan sebagai dua permintaan lepas.
  • Bentuk kalimat permohonan di ayat ini adalah larangan yang ditujukan kepada Allah. Susunan itu lazim dipakai dalam doa dalam bahasa Arab dan tidak mengandung kekurangajaran. Terjemahan menahan bentuk itu apa adanya. Bahasa doa dalam Al-Qur'an ternyata lebih berani daripada yang kita kira, dan keberanian itu justru menandai kedekatan, bukan kelancangan. Orang yang sungkan berbicara terus terang biasanya belum merasa cukup dekat.
  • Ayat ini menutup doa kedua yang dibuka di 71:21, dan empat ayat berada di dalamnya. Penutupan itu dikonfirmasi oleh 71:25, yang berpindah total ke narasi orang ketiga tanpa penanda ucap sama sekali. Perpindahan tersebut adalah cara Al-Qur'an menandai bahwa kutipan sudah selesai. Kalau batas ucapan saja ditandai secermat ini, apa yang kita lewatkan ketika membaca terjemahan tanpa memperhatikan tanda kutipnya? Tanda kutip dalam terjemahan menyimpan keputusan yang menentukan siapa yang sedang berbicara.