قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًا

Nuh berkata, “Tuhanku, sesungguhnya mereka mendurhakaiku dan mengikuti orang yang harta dan anaknya tidak menambah baginya selain kerugian,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًاqaala nuuhun rabbi innahum 'ashawnii wa-ttaba'uu man lam yazidzu maaluhu wa-waladuhu illaa khasaaranNuh berkata, 'Tuhanku, sesungguhnya mereka mendurhakaiku dan mengikuti orang yang harta dan anaknya tidak menambah baginya selain kerugian'

Terjemahan per kata (13 kata)

  1. قَالَqaalaberkata
  2. نُوحٌnuuhunNuh
  3. رَبِّrabbiTuhan
  4. إِنَّهُمْinnahumsesungguhnya mereka
  5. عَصَوْنِي'ashawniimereka mendurhakaiku
  6. وَاتَّبَعُواwa-ttaba'uudan mereka mengikuti
  7. مَنْmanorang yang
  8. لَمْlamtidak
  9. يَزِدْهُyazidzumenambahnya
  10. مَالُهُmaaluhuhartanya
  11. وَوَلَدُهُwa-waladuhudan anaknya
  12. إِلَّاillaakecuali
  13. خَسَارًاkhasaarankerugian

Inti bacaan

Diagnosis pola pengikutan yang keliru: 'mereka mendurhakaiku dan mengikuti orang yang harta dan anaknya tidak menambah baginya selain kerugian', pengamatan tajam bahwa masyarakat sering mengikuti figur berpengaruh (kaya, berketurunan banyak) tanpa mempertimbangkan apakah kekayaan tersebut sesungguhnya membawa manfaat spiritual atau justru kerugian.

Penjelasan pilihan kata

Kutip ganda baru dibuka di sini ('qaala nuuhun', nama Nuh diulang eksplisit: penanda gaya Quran untuk kutip baru meski penutur sama dengan sebelumnya). Tunggal 'hartanya/anaknya' dikonfirmasi benar merujuk 'man' (tunggal), bukan pelanggaran disiplin jamak.

Tiga kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (عَصَوْنِي, 'ashawnii), (يَزِدْهُ, yazidhu), dan (وَوَلَدُهُ, wawaladuhu). Yang kedua serumpun dengan kata di 71:6, yang juga sekali pakai. Di 71:6 seruan tidak menambah mereka selain pelarian; di sini harta dan anak tidak menambah baginya selain kerugian. Dua ayat memakai bentuk kalimat yang sama untuk melaporkan hasil yang berlawanan arah dengan yang diharapkan.

Kata (مَالُهُ, maaluhu) muncul di 3 ayat: 71:21, 92:11, dan 111:2. Ketiganya berbicara tentang harta yang tidak menolong pemiliknya. Di 92:11 disebutkan bahwa hartanya tidak mencukupkannya ketika ia binasa; di 111:2 hartanya dan usahanya tidak mencukupkannya. Jadi tiga pemakaian kata ini di seluruh Al-Qur'an semuanya menutup dengan kesimpulan yang sama. Tidak ada satu pun yang menyebutkan harta sebagai penolong.

Kata (خَسَارًا, khasaaran) muncul di 3 ayat: 17:82, 35:39, dan 71:21. Ia berarti kerugian, dari akar yang menyangkut berkurangnya modal, bukan sekadar tidak untung. Di 17:82 kata itu dipakai untuk orang zalim yang tidak bertambah apa pun dari bacaan selain kerugian. Susunan di sana persis sama dengan susunan di sini: tidak menambah selain kerugian. Dua ayat memakai rumusan yang identik untuk dua sebab yang berbeda, yaitu bacaan dan harta.

Nama (نُوحٌ, nuuhun) dalam bentuk pelaku muncul di 6 ayat: 11:42, 11:45, 26:106, 37:75, 71:21, dan 71:26. Dua dari enam berada di surah ini, dan dua-duanya membuka doa. Bandingkan dengan 71:1, ketika namanya muncul dalam bentuk yang menerima perbuatan. Jadi sepanjang surah ini Nuh menjadi pelaku hanya dua kali, dan keduanya untuk berdoa, bukan untuk bertindak.

Pengulangan nama di awal ayat ini adalah penanda kutipan baru. Penutur sama dengan sebelumnya, tetapi Al-Qur'an tetap mengulang namanya untuk menandai bahwa kutipan yang lama sudah tertutup di 71:20. Tanpa penanda itu, pembaca bisa mengira doa yang ini masih bagian dari doa yang sebelumnya. Penanda yang sama dipakai lagi di 71:26 dengan tambahan huruf penyambung.

Susunan bagian kedua ayat ini juga perlu dicermati. Yang diikuti mereka disebut dengan kata yang berarti 'siapa', bentuk tunggal yang cakupannya bisa satu orang atau satu jenis orang. Teks tidak menyebut nama, tidak pula menyebut jumlah. Draf awal sempat mempersoalkan bentuk tunggal pada 'hartanya' dan 'anaknya', dan bentuk itu dikonfirmasi benar karena merujuk kata 'siapa' yang memang tunggal. Jadi bukan pelanggaran disiplin jamak, melainkan kesesuaian dengan kata yang dirujuknya.

Tafsiran

Ayat ini membuka doa kedua Nuh: pengaduan tentang pengikut orang yang justru merugi karena harta dan anaknya. Ayat ini membuka doa kedua Nuh, dan yang diadukan bukan lagi penolakan melainkan sebabnya. Mereka mendurhakainya, dan mereka mengikuti orang yang harta dan anaknya justru merugikan dirinya sendiri. Jadi yang mereka ikuti bukan orang yang berhasil, melainkan orang yang sedang rugi tanpa menyadarinya.

Kata untuk harta di ayat ini muncul di 3 ayat, dan ketiganya berbicara tentang harta yang tidak menolong pemiliknya. Di 92:11 hartanya tidak mencukupkannya ketika ia binasa; di 111:2 hartanya dan usahanya tidak mencukupkannya. Tiga pemakaian kata ini di seluruh Al-Qur'an semuanya menutup dengan kesimpulan yang sama, dan tak satu pun menyebut harta sebagai penolong. Yang dijadikan ukuran keberhasilan oleh orang banyak ternyata tidak sekali pun muncul sebagai penyelamat.

Ada kesejajaran yang tajam dengan 71:12. Di ayat itu harta dan anak disebut sebagai janji Allah bagi yang memohon ampun. Di sini keduanya disebut sebagai sebab kerugian. Dalam satu surah, dua hal yang sama muncul sebagai pemberian dan sebagai jerat. Yang membedakan bukan bendanya, melainkan apakah ia datang sebagai buah permohonan ampun atau sebagai alasan untuk merasa tidak memerlukan ampunan. Dan kata kerja di sini serumpun dengan yang dipakai di 71:6: di sana seruan tidak menambah selain pelarian, di sini harta tidak menambah selain kerugian. Dua kali dalam satu surah, sesuatu yang seharusnya menambah kebaikan justru menambah yang sebaliknya.

Renungan dan Hikmah

  • Yang diadukan Nuh bukan sekadar penolakan, melainkan sebabnya: mereka mengikuti orang yang harta dan anaknya justru merugikan dirinya sendiri. Jadi yang mereka ikuti bukan orang yang berhasil, melainkan orang yang sedang rugi tanpa menyadarinya. Allah merekam pengaduan itu apa adanya. Kita cenderung mengikuti yang terlihat berhasil, dan jarang bertanya apakah yang kita lihat memang keberhasilan atau hanya penundaan kerugian. Allah mencatat siapa yang mereka ikuti, bukan hanya bahwa mereka menolak.
  • Kata untuk harta di ayat ini muncul di 3 ayat: 71:21, 92:11, dan 111:2. Ketiganya berbicara tentang harta yang tidak menolong pemiliknya. Di 92:11 hartanya tidak mencukupkannya ketika ia binasa; di 111:2 hartanya dan usahanya tidak mencukupkannya. Tak satu pun menyebut harta sebagai penolong. Yang dijadikan ukuran keberhasilan oleh orang banyak ternyata tidak sekali pun muncul dalam kalimat Allah sebagai penyelamat. Yang tidak pernah disebut Allah sebagai penolong sebaiknya tidak kita perlakukan sebagai jaminan.
  • Di 71:12 harta dan anak disebut sebagai janji Allah bagi yang memohon ampun. Di sini keduanya disebut sebagai sebab kerugian. Dalam satu surah, dua hal yang sama muncul sebagai pemberian dan sebagai jerat. Yang membedakan bukan bendanya, melainkan apakah ia datang sebagai buah permohonan ampun atau sebagai alasan untuk merasa tidak memerlukan ampunan. Nikmat yang membuat orang merasa cukup adalah nikmat yang paling berbahaya. Merasa cukup adalah pintu yang menutup diri sendiri dari ampunan Allah.
  • Kata untuk kerugian di ayat ini muncul di 3 ayat: 17:82, 35:39, dan 71:21. Akarnya menyangkut berkurangnya modal, bukan sekadar tidak untung. Di 17:82 susunannya persis sama: tidak menambah selain kerugian, tetapi sebabnya bacaan Al-Qur'an, bukan harta. Dua ayat memakai rumusan identik untuk dua sebab yang berbeda. Yang menentukan bukan apa yang diterima seseorang, melainkan apa yang ia lakukan dengannya. Modal yang berkurang tanpa disadari lebih berbahaya daripada kerugian yang terlihat.
  • Nama Nuh dalam bentuk pelaku muncul di 6 ayat, dan dua di antaranya di surah ini: 71:21 dan 71:26. Dua-duanya membuka doa. Bandingkan dengan 71:1, ketika namanya muncul dalam bentuk yang menerima perbuatan. Jadi sepanjang surah ini ia menjadi pelaku hanya dua kali, dan keduanya untuk berdoa kepada Allah, bukan untuk bertindak sendiri. Utusan yang paling banyak berusaha ternyata paling sedikit disebut sebagai pelaku. Di hadapan Allah, yang paling banyak berbuat justru paling sedikit menuntut pengakuan.
  • Pengulangan nama di awal ayat ini adalah penanda kutipan baru, meski penuturnya sama dengan sebelumnya. Tanpa penanda itu, pembaca bisa mengira doa ini masih bagian dari doa yang lama. Penanda yang sama dipakai lagi di 71:26. Al-Qur'an memakai cara yang tetap untuk menandai batas ucapan. Berapa banyak salah paham terhadap kitab suci lahir hanya karena batas siapa yang berbicara tidak diperhatikan? Batas ucapan menentukan siapa yang bertanggung jawab atas kalimat yang kita baca.