وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا

Mereka pun melakukan tipu daya yang sangat besar.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًاwa-makaruu makran kubbaaran'mereka pun melakukan tipu daya yang sangat besar'

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَمَكَرُواwa-makaruudan mereka membuat tipu daya
  2. مَكْرًاmakrantipu daya
  3. كُبَّارًاkubbaaranyang sangat besar

Inti bacaan

Skala tipu daya yang luar biasa: 'mereka pun melakukan tipu daya yang sangat besar', pengakuan bahwa penolakan terorganisir terhadap kebenaran bisa melibatkan strategi yang canggih dan terencana, bukan sekadar penolakan spontan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini hanya tiga patah, terpendek di surah ini bersama 71:14. Kata (كُبَّارًا, kubbaaran) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Ia bentuk penguat dari akar yang berarti besar. Bahasa Arab punya beberapa tingkat untuk menyatakan kebesaran, dan bentuk yang dipakai di sini termasuk yang paling kuat. Terjemahan 'sangat besar' menahan tingkatnya, meski dalam bahasa Indonesia kita hanya bisa menambahkan kata penguat di depannya.

Bentuk (وَمَكَرُوا, wamakaruu) muncul di 3 ayat: 3:54, 27:50, dan 71:22. Sepasang dengannya, (مَكْرًا, makran) muncul di 3 ayat: 10:21, 27:50, dan 71:22. Dua daftar itu bertemu di 27:50 selain ayat ini. Di 27:50 kalimatnya berbunyi bahwa mereka membuat tipu daya dan Allah pun membuat tipu daya. Susunan yang sama muncul di 3:54. Jadi di dua tempat lain, kata ini selalu berpasangan dengan penyebutan bahwa Allah juga membalas dengan cara yang sama. Di sini pasangan itu tidak disebut.

Susunan (وَمَكَرُوا مَكْرًا, wamakaruu makran) memakai cara penekanan yang sudah dipakai di 71:7, 71:9, 71:17, dan 71:18. Ini yang kelima dalam satu surah. Bunyi harfiahnya kira-kira 'mereka melakukan tipu daya dengan tipu daya yang sangat besar'. Kelima pemakaiannya menandai sesuatu yang dilakukan sampai batasnya, dan yang di sini adalah satu-satunya yang objeknya perbuatan buruk yang direncanakan.

Dalam bahasa Arab, (مَكْرًا, makran) tidak selalu bermakna buruk. Ia menyangkut perencanaan yang tersembunyi, dan bisa dipakai untuk pihak mana pun. Itulah sebabnya ia bisa dinisbatkan kepada Allah di 3:54 dan 27:50 tanpa masalah. Yang menentukan baik buruknya adalah tujuan dan pihaknya, bukan katanya. Terjemahan 'tipu daya' membawa muatan buruk dalam bahasa Indonesia, dan itu keterbatasan yang perlu disadari pembaca.

Kependekan ayat ini bekerja sebagai penutup. Sesudah 71:21 yang tiga belas patah, ayat ini jatuh dalam tiga patah saja. Pola yang sama muncul di 71:14 dan 71:20. Tiga kali dalam satu surah, bagian yang panjang ditutup oleh ayat yang sangat pendek.

Perlu dicatat pula bahwa ayat ini berdiri di dalam kutipan doa yang dibuka di 71:21. Jadi yang melaporkan tipu daya itu bukan Allah secara langsung dalam narasi, melainkan Nuh dalam pengaduannya. Perbedaan itu menentukan nada. Laporan dari pihak yang mengalami terasa lain daripada laporan dari pihak yang mengamati, dan surah ini memilih yang pertama di sepanjang bagian ini.

Satu catatan tentang wujud perbuatannya. Ia berbentuk lampau dan berpelaku jamak, sehingga bunyinya 'mereka telah melakukan'. Yang dilaporkan sudah terjadi, bukan sedang berlangsung atau akan datang. Bandingkan dengan 71:23, yang mengutip ucapan mereka dalam bentuk yang menghadirkan kembali percakapan itu. Jadi dua ayat berurutan memakai dua kerangka waktu: yang satu melaporkan dari kejauhan, yang lain menghadirkan seolah baru terdengar.

Tafsiran

Ayat ini mencatat tipu daya besar para pemimpin kaum Nuh. Ayat ini menutup keterangan tentang mereka dengan tiga patah kata. Sesudah 71:21 yang panjang, kalimat ini jatuh singkat dan keras. Yang disebut bukan lagi penolakan mereka terhadap seruan, melainkan perencanaan yang mereka susun secara tersembunyi.

Kata yang dipakai untuk perencanaan itu tidak selalu bermakna buruk dalam bahasa Arab. Ia menyangkut rencana yang disembunyikan, dan bisa dinisbatkan kepada pihak mana pun. Di 3:54 dan 27:50 kata yang sama dipakai untuk Allah, dan di kedua ayat itu ia berdiri sebagai balasan atas rencana manusia. Yang menentukan baik buruknya adalah tujuan dan pihaknya, bukan kata itu sendiri. Terjemahan Indonesia membawa muatan buruk, dan itu keterbatasan yang perlu disadari.

Yang menarik, di sini pasangan yang biasa menyertainya tidak disebut. Di dua ayat lain, kalimat tentang rencana manusia selalu langsung disusul kalimat tentang rencana Allah yang membalasnya. Di ayat ini balasan itu tidak muncul. Yang menyusul justru 71:23, yang mengutip apa yang mereka katakan satu sama lain. Jadi penundaan balasan itu disengaja: pembaca dibiarkan mendengar dulu isi rencana mereka sebelum akibatnya disebutkan di 71:25. Dan bentuk penekanan yang dipakai di sini adalah yang kelima dalam surah ini, sesudah 71:7, 71:9, 71:17, dan 71:18. Kelima pemakaiannya menandai sesuatu yang dilakukan sampai batasnya, dan hanya yang di sini objeknya berupa rencana buruk yang disusun dengan sengaja.

Renungan dan Hikmah

  • Sesudah 71:21 yang tiga belas patah, ayat ini jatuh dalam tiga patah saja. Pola yang sama muncul di 71:14 dan 71:20. Tiga kali dalam satu surah, bagian yang panjang ditutup oleh ayat yang sangat pendek. Allah memakai panjang dan pendek sebagai alat, bukan kebetulan. Kalimat yang pendek sesudah kalimat yang panjang selalu terdengar lebih keras, dan bentuknya sendiri ikut menyampaikan apa yang dimaksud. Allah memakai bentuk kalimat sebagai bagian dari pesannya, bukan sekadar wadahnya.
  • Kata untuk perencanaan di ayat ini tidak selalu bermakna buruk dalam bahasa Arab. Ia menyangkut rencana yang disembunyikan, dan bisa dinisbatkan kepada pihak mana pun. Di 3:54 dan 27:50 kata yang sama dipakai untuk Allah. Yang menentukan baik buruknya adalah tujuan dan pihaknya, bukan kata itu sendiri. Terjemahan Indonesia membawa muatan buruk, dan keterbatasan itu perlu disadari agar pembaca tidak salah paham. Pembaca yang tahu batas itu akan menimbang kata Arabnya, bukan padanan Indonesianya.
  • Di 3:54 dan 27:50, kalimat tentang rencana manusia selalu langsung disusul kalimat tentang rencana Allah yang membalasnya. Di ayat ini balasan itu tidak muncul. Yang menyusul justru 71:23, yang mengutip apa yang mereka katakan satu sama lain. Penundaan itu disengaja. Pembaca dibiarkan mendengar dulu isi rencana mereka sebelum akibatnya disebutkan di 71:25, sehingga akibat itu terasa lebih berat ketika akhirnya tiba. Yang ditunda oleh Allah tidak berarti dibatalkan, hanya ditempatkan pada urutan yang tepat.
  • Susunan kata kerja diikuti bentukan benda dari akar yang sama sudah dipakai di 71:7, 71:9, 71:17, dan 71:18. Ini yang kelima dalam satu surah. Kelima pemakaiannya menandai sesuatu yang dilakukan sampai batasnya, dan hanya yang di sini objeknya berupa rencana buruk yang disusun dengan sengaja. Bentuk yang sama menampung penyombongan, kerahasiaan, penumbuhan oleh Allah, pengeluaran, dan sekarang tipu daya. Satu bentuk penekanan menampung perbuatan Allah dan perbuatan manusia tanpa dibedakan wadahnya.
  • Kata terakhir ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dan merupakan bentuk penguat dari akar yang berarti besar. Bahasa Arab punya beberapa tingkat untuk menyatakan kebesaran, dan yang dipakai di sini termasuk yang paling kuat. Terjemahan hanya bisa menambahkan kata penguat di depannya. Yang dilaporkan Allah bukan rencana biasa, melainkan yang paling besar yang bisa disebut dengan kata itu. Allah tidak melebih-lebihkan, dan justru karena itu kata penguat-Nya perlu diperhatikan.
  • Yang disebut di ayat ini bukan lagi penolakan terbuka terhadap seruan, melainkan perencanaan yang disusun secara tersembunyi. Perpindahan dari menolak menjadi merencanakan menandai naiknya tingkat perlawanan. Menolak masih berupa sikap; merencanakan sudah berupa tindakan. Adakah penolakan dalam diri kita yang diam-diam sudah berubah menjadi rencana, tanpa pernah kita akui sebagai rencana? Rencana yang tidak pernah diakui sebagai rencana adalah yang paling sulit ditinggalkan.