وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

Mereka berkata, ‘Jangan sekali-kali kalian meninggalkan tuhan-tuhan kalian, dan jangan pula sekali-kali kalian meninggalkan Wadd, Suwa', Yaguts, Ya'uq, dan Nasr.’

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًاwa-qaaluu laa tadzarunna aalihatakum wa-laa tadzarunna waddan wa-laa suwaa'an wa-laa yaghuutsa wa-ya'uuqa wa-nasranmereka berkata, 'jangan sekali-kali kalian meninggalkan tuhan-tuhan kalian, dan jangan pula sekali-kali kalian meninggalkan Wadd, Suwa', Yaguts, Ya'uq, dan Nasr'

Terjemahan per kata (13 kata)

  1. وَقَالُواwa-qaaluudan mereka berkata
  2. لَاlaatidak
  3. تَذَرُنَّtadzarunnakalian meninggalkan
  4. آلِهَتَكُمْaalihatakumtuhan-tuhan kalian
  5. وَلَاwa-laadan tidak pula
  6. تَذَرُنَّtadzarunnakalian meninggalkan
  7. وَدًّاwaddankasih sayang
  8. وَلَاwa-laadan tidak pula
  9. سُوَاعًاsuwaa'anSuwa
  10. وَلَاwa-laadan tidak pula
  11. يَغُوثَyaghuutsaYaghuts
  12. وَيَعُوقَwa-ya'uuqadan Yauq
  13. وَنَسْرًاwa-nasrandan Nasr

Inti bacaan

Daftar spesifik berhala yang dipertahankan: 'jangan sekali-kali kalian meninggalkan tuhan-tuhan kalian dan jangan pula sekali-kali kalian meninggalkan Wadd, Suwa', Yaguts, Ya'uq, dan Nasr', penyebutan nama-nama konkret menunjukkan bahwa penolakan bukan abstrak melainkan terikat pada objek pemujaan spesifik yang mengakar dalam tradisi mereka.

Penjelasan pilihan kata

Kutip tunggal bersarang baru dibuka dan ditutup dalam satu ayat ini: perkataan kaum Nuh satu sama lain tentang berhala. Nama-nama berhala (Wadd, Suwa', Yaguts, Ya'uq, Nasr) eksplisit di teks Arab (nama diri), dipertahankan apa adanya.

Ayat ini yang paling padat kata sekali pakai di surah ini: tujuh dari tiga belas patah kata penyusunnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Lima di antaranya nama: (وَدًّا, waddan), (سُوَاعًا, suwaa'an), (يَغُوثَ, yaguutsa), (وَيَعُوقَ, waya'uuqa), dan (وَنَسْرًا, wanasran). Dua lagi adalah (تَذَرُنَّ, tadzarunna) yang muncul dua kali di ayat ini. Karena kelimanya nama diri, terjemahan mempertahankannya apa adanya tanpa menerjemahkan artinya.

Bentuk (تَذَرُنَّ, tadzarunna) memuat akhiran penegas yang dalam bahasa Arab menandai sumpah atau larangan yang keras. Bunyinya kira-kira 'jangan sekali-kali kalian meninggalkan'. Kata ini muncul dua kali dalam satu ayat, sekali untuk sebutan umum dan sekali untuk daftar nama. Pengulangan larangan yang sama dengan objek yang berbeda adalah cara mempertegas: yang umum disebut dulu, lalu yang khusus dirinci satu per satu.

Kata (آلِهَتَكُمْ, aalihatakum) muncul di 3 ayat: 21:36, 21:68, dan 71:23. Di dua ayat lainnya kata itu diucapkan orang yang marah karena sesembahan mereka dicela. Di sini ia diucapkan dalam nada mengajak bertahan, bukan membela diri dari celaan. Perbedaan nada itu bermakna: yang di sini bukan reaksi melainkan pengorganisasian.

Yang paling perlu dicatat adalah siapa yang berbicara. Kutipan di ayat ini bukan ucapan mereka kepada Nuh, melainkan ucapan mereka satu sama lain. Kutipan bersarang itu dibuka dan ditutup dalam satu ayat. Jadi pembaca mendengar apa yang mereka katakan di antara mereka sendiri, bukan apa yang mereka sampaikan kepada penyerunya. Ini melengkapi 71:22: rencana yang disebut di sana, isinya disebut di sini.

Perlu dicatat pula bahwa daftar lima nama itu tidak diberi keterangan apa pun. Al-Qur'an tidak menjelaskan siapa atau apa mereka. Ketiadaan keterangan itu sendiri bermakna. Yang penting bukan riwayat masing-masing nama, melainkan bahwa ada lima nama yang dipertahankan orang dengan larangan yang keras, dan tak satu pun dari mereka muncul lagi di ayat mana pun sesudah ini.

Susunan daftarnya juga rapi. Dua nama pertama masing-masing didahului penyangkal yang diulang, sedangkan tiga nama terakhir dirangkai dengan huruf penyambung tanpa penyangkal baru. Jadi penekanan paling keras jatuh di awal daftar lalu mengendur. Terjemahan mempertahankan urutannya apa adanya, tanpa menyeragamkan penyangkalannya, sebab perbedaan itu bagian dari cara kalimat tersebut dirakit.

Tafsiran

Ayat ini mencatat seruan kaum Nuh saling mempertahankan penyembahan berhala. Ayat ini yang paling padat kata sekali pakai di surah ini. Tujuh dari tiga belas patah kata penyusunnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan lima di antaranya nama. Kepadatan itu sendiri sudah bercerita: yang dibicarakan di sini adalah sesuatu yang tidak dibicarakan di tempat lain mana pun.

Yang paling menentukan adalah siapa yang berbicara. Kutipan di ayat ini bukan ucapan mereka kepada Nuh, melainkan ucapan mereka satu sama lain. Jadi pembaca mendengar apa yang mereka katakan di antara mereka sendiri. Ini melengkapi 71:22: rencana yang disebutkan di sana, isinya disebutkan di sini. Dan isinya bukan rencana menyerang, melainkan rencana bertahan. Yang mereka susun adalah larangan bagi diri mereka sendiri untuk tidak meninggalkan apa yang selama ini mereka pegang.

Bentuk larangannya memakai akhiran penegas yang menandai sumpah atau larangan keras. Bunyinya kira-kira 'jangan sekali-kali kalian meninggalkan'. Kata itu muncul dua kali dalam satu ayat, sekali untuk sebutan umum dan sekali untuk daftar nama. Yang umum disebut dulu, lalu yang khusus dirinci satu per satu. Dan lima nama itu tidak diberi keterangan apa pun. Al-Qur'an tidak menjelaskan siapa mereka, dan ketiadaan keterangan itu sendiri bermakna. Yang penting bukan riwayat masing-masing nama, melainkan bahwa ada lima nama yang dipertahankan dengan larangan sekeras itu, dan tak satu pun dari mereka muncul lagi di ayat mana pun sesudah ini. Nama-nama yang dijaga mati-matian ternyata hanya tercatat sekali, di ayat yang menceritakan bagaimana mereka dijaga.

Renungan dan Hikmah

  • Isi rencana yang disebut di 71:22 ternyata bukan rencana menyerang, melainkan rencana bertahan. Yang mereka susun adalah larangan bagi diri mereka sendiri untuk tidak meninggalkan apa yang selama ini mereka pegang. Perlawanan terhadap kebenaran sering berbentuk begitu: bukan serangan, melainkan penguatan pagar. Allah merekam bentuk perlawanan yang paling umum, yaitu yang tidak terlihat sebagai perlawanan sama sekali. Allah merekam perlawanan dalam bentuknya yang paling tenang dan paling sulit dikenali.
  • Kutipan di ayat ini bukan ucapan mereka kepada Nuh, melainkan ucapan mereka satu sama lain. Kutipan bersarang itu dibuka dan ditutup dalam satu ayat. Pembaca mendengar apa yang mereka katakan di antara mereka sendiri, bukan apa yang mereka sampaikan kepada penyerunya. Allah membuka percakapan yang tidak dimaksudkan untuk didengar siapa pun, dan justru di situlah niat sebenarnya terlihat. Yang tersembunyi dari manusia tidak pernah tersembunyi dari Allah.
  • Lima nama di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Nama-nama yang dijaga dengan larangan sekeras itu ternyata hanya tercatat sekali, di ayat yang menceritakan bagaimana mereka dijaga. Tak satu pun muncul lagi sesudah ini. Yang dipertahankan mati-matian oleh manusia tidak dengan sendirinya menjadi penting di sisi Allah, dan jarak antara dua penilaian itu bisa sejauh ini. Yang kekal bukan nama yang dipuja, melainkan catatan tentang siapa yang memujanya.
  • Kata kerja di ayat ini memuat akhiran penegas yang dalam bahasa Arab menandai sumpah atau larangan yang keras. Bunyinya kira-kira jangan sekali-kali kalian meninggalkan. Kata itu muncul dua kali dalam satu ayat, sekali untuk sebutan umum dan sekali untuk daftar nama. Yang umum disebut dulu, lalu yang khusus dirinci. Kekerasan larangan itu justru menunjukkan bahwa mereka merasa terancam kehilangan. Kekerasan sebuah larangan sering mengukur besarnya rasa takut kehilangan, bukan kebenarannya.
  • Daftar lima nama di ayat ini tidak diberi keterangan apa pun. Al-Qur'an tidak menjelaskan siapa atau apa mereka. Ketiadaan keterangan itu sendiri bermakna. Yang penting bukan riwayat masing-masing nama, melainkan bahwa ada lima nama yang dipertahankan orang dengan larangan yang keras. Allah tidak memberi mereka ruang lebih dari yang diperlukan, dan pengabaian itu adalah bentuk penilaian tersendiri. Diam pun bisa menjadi keputusan, dan diam yang di sini jelas disengaja.
  • Kata untuk sesembahan di ayat ini muncul di 3 ayat: 21:36, 21:68, dan 71:23. Di dua ayat lainnya ia diucapkan orang yang marah karena sesembahan mereka dicela. Di sini ia diucapkan dalam nada mengajak bertahan, bukan membela diri dari celaan. Yang di sini bukan reaksi melainkan pengorganisasian. Apakah yang kita pertahankan hari ini kita pegang karena benar, atau karena kita sudah telanjur mengajak orang lain memegangnya? Sesuatu yang kita ajak orang lain memegangnya jadi lebih berat untuk kita lepaskan.