وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا ۖ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا ضَلَالًا
Dan sungguh mereka telah menyesatkan banyak orang. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang zalim itu selain kesesatan.”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا ۖ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا ضَلَالًاwa-qad adhalluu katsiiran wa-laa tazidi zh-zhaalimiina illaa dhalaalan'dan sungguh mereka telah menyesatkan banyak orang. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang zalim itu selain kesesatan'
Terjemahan per kata (8 kata)
- وَقَدْwa-qadpadahal sungguh
- أَضَلُّواadhalluumereka menyesatkan
- كَثِيرًاkatsiiranbanyak
- وَلَاwa-laadan janganlah
- تَزِدِtazidiEngkau menambah
- الظَّالِمِينَzh-zhaalimiinayang zalim
- إِلَّاillaakecuali
- ضَلَالًاdhalaalankesesatan
Inti bacaan
Dampak sosial dari kesesatan yang menyebar: 'mereka telah menyesatkan banyak orang', pengakuan bahwa penolakan individual bisa berdampak luas, mempengaruhi banyak orang lain untuk mengikuti jalan yang sama, tanggung jawab kolektif atas pengaruh yang disebarkan.
Penjelasan pilihan kata
Kutip ganda (dibuka 71:21) ditutup di ayat ini: dikonfirmasi morfologi via pergeseran total ke narasi orang ketiga tanpa penanda ucap di 71:25.
Bentuk (أَضَلُّوا, adhalluu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Ia bentuk yang menandai membuat pihak lain sesat, bukan sesat sendiri. Jadi yang dilaporkan bukan kesesatan mereka melainkan akibatnya pada orang lain. Terjemahan 'telah menyesatkan banyak orang' menahan arah itu, dan objeknya dibiarkan tanpa penanda tertentu sesuai teks.
Bentuk (تَزِدِ, tazidi) muncul di 2 ayat: 71:24 dan 71:28, keduanya di surah ini dan tidak ada di tempat lain. Dua ayat itu sama-sama menutup sebuah doa, dan dua-duanya berbunyi 'janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang zalim'. Yang berbeda hanya kata terakhirnya: di sini kesesatan, di sana kehancuran. Jadi doa kedua dan doa ketiga Nuh berakhir dengan rumusan yang hampir kembar.
Kata (ضَلَالًا, dhalaalan) muncul di 6 ayat: 4:60, 4:116, 4:136, 4:167, 33:36, dan 71:24. Di lima ayat lainnya kata itu hampir selalu didahului kata yang berarti jauh, membentuk ungkapan tentang kesesatan yang jauh. Di sini ia berdiri sendiri tanpa sifat itu. Perbedaan tersebut bermakna: yang diminta bukan agar kesesatan mereka menjadi lebih jauh, melainkan agar tidak bertambah sama sekali.
Susunan permohonannya perlu dicermati. Nuh tidak meminta agar mereka dibinasakan, dan tidak pula meminta agar mereka diberi petunjuk. Ia meminta agar kesesatan mereka tidak ditambah. Bentuk kalimatnya larangan yang ditujukan kepada Allah, susunan yang dalam bahasa Arab lazim dipakai dalam doa dan tidak mengandung kekurangajaran. Terjemahan 'janganlah Engkau tambahkan' menahan bentuk itu apa adanya.
Ayat ini menutup doa kedua yang dibuka di 71:21. Empat ayat berada di dalamnya. Penutupan itu dikonfirmasi oleh 71:25, yang berpindah total ke narasi orang ketiga tanpa penanda ucap sama sekali. Perpindahan tersebut adalah cara Al-Qur'an menandai bahwa kutipan sudah selesai, dan penanda semacam itu sudah dipakai dua kali sebelumnya di surah ini.
Sebutan (الظَّالِمِينَ, azh-zhaalimiina) di ayat ini memakai penanda tertentu, jadi bunyinya 'orang-orang zalim itu', bukan 'orang-orang zalim' pada umumnya. Yang dimaksud adalah mereka yang baru saja disebut, bukan siapa saja yang berbuat zalim. Sebutan yang sama dipakai lagi di 71:28 dengan bentuk yang persis sama. Dua penutup doa memakai sebutan yang identik untuk pihak yang sama.
Bagian pertama ayat ini juga perlu dicatat kedudukannya. Ia dibuka dengan penanda yang berarti 'dan sungguh', bentuk yang menegaskan sekaligus menyambung. Yang dinyatakan bukan dugaan Nuh melainkan kenyataan yang sudah terjadi. Bentuk kata kerjanya lampau, sehingga bunyinya 'mereka telah menyesatkan'. Jadi laporan tentang akibat mendahului permohonan, dan permohonan itu berdiri di atas laporan tersebut, bukan di atas perkiraan tentang apa yang mungkin terjadi.
Tafsiran
Ayat ini menutup doa kedua Nuh: permohonan agar kesesatan mereka tidak bertambah. Ayat ini menutup doa kedua Nuh dengan permohonan yang mengejutkan. Ia tidak meminta agar mereka dibinasakan, dan tidak pula meminta agar mereka diberi petunjuk. Ia meminta agar kesesatan mereka tidak ditambah. Permohonan itu berdiri di antara dua ujung yang biasa dibayangkan orang, dan justru karena itu ia terasa jujur.
Bagian pertamanya melaporkan akibat. Kata kerjanya menandai membuat pihak lain sesat, bukan sesat sendiri. Jadi yang dilaporkan bukan kesesatan para pemimpin itu, melainkan berapa banyak orang yang ikut tersesat karena mereka. Perbedaan itu penting. Kesalahan yang berhenti pada diri sendiri berbeda beratnya dari kesalahan yang menular, dan Nuh menyebut yang kedua.
Kata untuk kesesatan di ayat ini muncul di 6 ayat, dan di lima ayat lainnya ia hampir selalu didahului kata yang berarti jauh. Di sini ia berdiri sendiri tanpa sifat itu. Yang diminta bukan agar kesesatan mereka menjadi lebih jauh, melainkan agar tidak bertambah sama sekali. Dan bentuk kata kerja permohonannya hanya muncul di dua ayat dalam seluruh Al-Qur'an, keduanya di surah ini: di sini dan di 71:28. Dua ayat itu sama-sama menutup sebuah doa dengan rumusan yang hampir kembar, dan yang berbeda hanya kata terakhirnya. Di sini kesesatan, di sana kehancuran. Jadi dua doa terakhir Nuh berakhir dengan bentuk yang sama, dan jarak antara keduanya diisi oleh 71:25 yang menceritakan apa yang sudah terjadi pada mereka.
Renungan dan Hikmah
- Nuh tidak meminta agar mereka dibinasakan, dan tidak pula meminta agar mereka diberi petunjuk. Ia meminta agar kesesatan mereka tidak ditambah. Permohonan itu berdiri di antara dua ujung yang biasa dibayangkan orang. Allah merekam doa yang tidak rapi menurut ukuran kita. Doa yang jujur memang jarang berbentuk permintaan yang bulat; ia sering berhenti di tengah, tepat di titik yang paling terasa oleh yang berdoa. Allah menerima doa yang belum selesai bentuknya, asal jujur isinya.
- Kata kerja pertama di ayat ini menandai membuat pihak lain sesat, bukan sesat sendiri. Yang dilaporkan bukan kesesatan para pemimpin itu, melainkan berapa banyak orang yang ikut tersesat karena mereka. Perbedaan itu penting. Kesalahan yang berhenti pada diri sendiri berbeda beratnya dari kesalahan yang menular, dan Nuh menyebut yang kedua. Yang diadukan kepada Allah adalah kerusakan yang meluas, bukan kekeliruan perorangan. Kerusakan yang meluas dihitung Allah berbeda dari kekeliruan yang berhenti pada diri sendiri.
- Kata untuk kesesatan di ayat ini muncul di 6 ayat: 4:60, 4:116, 4:136, 4:167, 33:36, dan 71:24. Di lima ayat lainnya ia hampir selalu didahului kata yang berarti jauh. Di sini ia berdiri sendiri tanpa sifat itu. Yang diminta bukan agar kesesatan mereka menjadi lebih jauh, melainkan agar tidak bertambah sama sekali. Ketiadaan satu kata sifat mengubah seluruh kadar permohonannya. Apa yang tidak disebut kadang menentukan sebanyak apa yang disebut.
- Bentuk kata kerja permohonan di ayat ini muncul di 2 ayat, keduanya di surah ini: 71:24 dan 71:28. Dua ayat itu sama-sama menutup sebuah doa dengan rumusan yang hampir kembar, dan yang berbeda hanya kata terakhirnya. Di sini kesesatan, di sana kehancuran. Dua doa terakhir Nuh berakhir dengan bentuk yang sama. Pengulangan rumusan penutup itu mengikat dua bagian akhir surah menjadi satu kesatuan. Dua permohonan terakhir Nuh berdiri sebagai sepasang, bukan sebagai dua permintaan lepas.
- Bentuk kalimat permohonan di ayat ini adalah larangan yang ditujukan kepada Allah. Susunan itu lazim dipakai dalam doa dalam bahasa Arab dan tidak mengandung kekurangajaran. Terjemahan menahan bentuk itu apa adanya. Bahasa doa dalam Al-Qur'an ternyata lebih berani daripada yang kita kira, dan keberanian itu justru menandai kedekatan, bukan kelancangan. Orang yang sungkan berbicara terus terang biasanya belum merasa cukup dekat.
- Ayat ini menutup doa kedua yang dibuka di 71:21, dan empat ayat berada di dalamnya. Penutupan itu dikonfirmasi oleh 71:25, yang berpindah total ke narasi orang ketiga tanpa penanda ucap sama sekali. Perpindahan tersebut adalah cara Al-Qur'an menandai bahwa kutipan sudah selesai. Kalau batas ucapan saja ditandai secermat ini, apa yang kita lewatkan ketika membaca terjemahan tanpa memperhatikan tanda kutipnya? Tanda kutip dalam terjemahan menyimpan keputusan yang menentukan siapa yang sedang berbicara.