مِمَّا خَطِيئَاتِهِمْ أُغْرِقُوا فَأُدْخِلُوا نَارًا فَلَمْ يَجِدُوا لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْصَارًا
Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan, lalu dimasukkan ke neraka. Maka mereka tidak mendapati penolong selain Allah.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- مِمَّا خَطِيئَاتِهِمْ أُغْرِقُوا فَأُدْخِلُوا نَارًاmimmaa khathii'aatihim ughriquu fa-udkhiluu naarandisebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan, lalu dimasukkan ke neraka
- فَلَمْ يَجِدُوا لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْصَارًاfa-lam yajiduu lahum min duuni llaahi anshaaranmaka mereka tidak mendapati penolong selain Allah
Terjemahan per kata (12 kata)
- مِمَّاmimmaakarena
- خَطِيئَاتِهِمْkhathii'aatihimkesalahan mereka
- أُغْرِقُواughriquumereka ditenggelamkan
- فَأُدْخِلُواfa-udkhiluumaka mereka dimasukkan
- نَارًاnaaranapi
- فَلَمْfa-lammaka tidak
- يَجِدُواyajiduumereka mendapati
- لَهُمْlahumbagi mereka
- مِنْmindari
- دُونِduuniselain
- اللَّهِllaahiAllah
- أَنْصَارًاanshaaranpenolong
Inti bacaan
Konsekuensi berlapis yang jelas: 'karena kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan, lalu dimasukkan ke neraka; maka mereka tidak mendapati penolong selain Allah', dua tingkat konsekuensi (dunia dan akhirat) yang keduanya terkait langsung dengan kesalahan yang dilakukan, penegasan bahwa tidak ada perlindungan alternatif di luar otoritas yang sama yang mereka tolak.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini murni narasi orang ketiga tanpa kutip sama sekali: mengonfirmasi kutip ganda di 71:21-24 benar-benar tertutup, bukan berlanjut.
Empat kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (خَطِيئَاتِهِمْ, khathii-aatihim), (أُغْرِقُوا, ugriquu), (فَأُدْخِلُوا, fa-udkhiluu), dan (أَنْصَارًا, anshaaran). Dari dua belas patah kata penyusunnya, sepertiga tidak berulang di mana pun. Kepadatan itu menempatkan ayat ini di jajaran paling padat di surah ini bersama 71:23 dan 71:27.
Dua perbuatan di tengah ayat berbentuk pasif: 'ditenggelamkan' dan 'dimasukkan'. Pelakunya tidak disebut. Susunan itu dipakai Al-Qur'an ketika pelakunya sudah terlalu jelas untuk perlu disebutkan. Yang perlu dicatat, seluruh surah ini menceritakan usaha Nuh dan penolakan kaumnya, tetapi peristiwa yang menutup semuanya justru dilaporkan tanpa menyebut siapa yang melakukannya. Terjemahan mempertahankan bentuk pasif itu.
Kata (فَأُدْخِلُوا, fa-udkhiluu) didahului huruf yang menandai akibat yang langsung menyusul. Jadi bunyinya 'lalu dimasukkan', bukan 'kemudian dimasukkan'. Perbedaan itu bermakna. Tidak ada jeda yang disebutkan antara ditenggelamkan dan dimasukkan ke neraka. Dua kejadian yang dalam bayangan orang terpisah jauh disambungkan oleh satu huruf.
Bentuk (يَجِدُوا, yajiduu) muncul di 5 ayat: 4:65, 9:92, 18:53, 18:58, dan 71:25. Di 18:53 kata itu dipakai untuk orang berdosa yang melihat api lalu tidak menemukan tempat berpaling. Susunan di sana sejajar dengan susunan di sini: tidak menemukan apa-apa ketika keadaan sudah terjadi. Terjemahan 'tidak mendapati' menahan bentuk pencarian yang gagal itu.
Ayat ini murni narasi orang ketiga tanpa kutipan sama sekali. Sesudah 71:21 sampai 71:24 yang seluruhnya berada di dalam doa Nuh, di sini suara berpindah ke pencerita. Perpindahan itu sekaligus mengonfirmasi bahwa kutipan sebelumnya benar-benar sudah tertutup. Dan sesudah ayat ini, di 71:26, kutipan baru dibuka lagi dengan penyebutan nama Nuh secara eksplisit.
Pembuka ayat ini juga perlu dijelaskan. Ia memakai susunan yang menandai sebab, dan bunyi harfiahnya kira-kira 'disebabkan kesalahan-kesalahan mereka'. Yang disebut sebagai sebab bukan penolakan mereka terhadap Nuh, melainkan kesalahan mereka. Perbedaan itu penting. Hukuman yang jatuh dinisbatkan kepada perbuatan mereka sendiri, bukan kepada kemarahan sang penyeru. Terjemahan menahan hubungan sebab tersebut, dan bentuk jamak pada kata kesalahan juga dipertahankan sebab teks memang menuliskannya jamak.
Susunan penutupnya juga perlu dicatat. Frasa yang berarti 'selain Allah' berdiri sebelum kata yang diterangkannya, dan pemajuan seperti itu menandai penekanan. Bunyi harfiahnya kira-kira 'mereka tidak mendapati bagi diri mereka, selain Allah, penolong-penolong'. Yang ditekankan adalah 'selain Allah': bukan bahwa mereka tidak punya penolong sama sekali, melainkan bahwa di luar Allah tidak ada. Terjemahan Indonesia menempatkannya di belakang karena susunan itu yang wajar dibaca.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan akibat fatal: ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, tanpa penolong selain Allah. Ayat ini menutup seluruh kisah dalam dua belas patah kata. Sesudah dua puluh empat ayat berisi usaha, penolakan, bujukan, teguran, dan doa, akhirnya dilaporkan dalam satu kalimat. Dan kalimat itu memakai bentuk pasif: mereka ditenggelamkan, lalu dimasukkan. Pelakunya tidak disebut sama sekali.
Yang paling menghentak adalah huruf penyambung di tengah. Ia menandai akibat yang langsung menyusul, sehingga bunyinya 'lalu dimasukkan', bukan 'kemudian dimasukkan'. Tidak ada jeda yang disebutkan antara ditenggelamkan dan dimasukkan ke neraka. Dua kejadian yang dalam bayangan orang terpisah oleh rentang yang sangat panjang disambungkan oleh satu huruf. Al-Qur'an memampatkan jarak itu tanpa menjelaskannya.
Penutupnya menyebut ketiadaan penolong. Bentuk kata kerjanya menandai pencarian yang gagal, bukan sekadar ketiadaan. Jadi mereka mencari dan tidak menemukan. Susunan yang sama muncul di 18:53, ketika orang berdosa melihat api lalu tidak menemukan tempat berpaling. Dan yang disebut tidak ditemukan adalah penolong selain Allah. Ini mengunci seluruh surah: sejak 71:3 mereka diseru menyembah Allah, di 71:23 mereka bersepakat mempertahankan lima nama, dan di sini tidak satu pun dari lima nama itu hadir sebagai penolong. Nama-nama yang dijaga dengan larangan paling keras tidak muncul lagi setelah ayat yang menceritakan bagaimana mereka dijaga.
Renungan dan Hikmah
- Sesudah dua puluh empat ayat berisi usaha, penolakan, bujukan, teguran, dan doa, akhirnya dilaporkan dalam satu kalimat. Allah tidak memberi ruang yang sebanding antara proses dan akhirnya. Yang panjang justru bagian usahanya, sedangkan akibatnya diringkas. Susunan itu memperlihatkan apa yang dianggap layak diceritakan panjang lebar: bukan hukumannya, melainkan kesempatan yang diberikan sebelum hukuman itu tiba. Kesempatan diberi ruang lebih luas daripada hukuman, dan urutan itu sendiri sudah menjelaskan sesuatu tentang Allah.
- Dua kata kerja di tengah ayat berbentuk pasif: ditenggelamkan dan dimasukkan. Pelakunya tidak disebut. Susunan itu dipakai Al-Qur'an ketika pelakunya sudah terlalu jelas untuk perlu disebutkan. Seluruh surah menceritakan usaha Nuh dan penolakan kaumnya, tetapi peristiwa yang menutup semuanya justru dilaporkan tanpa menyebut siapa yang melakukannya. Menahan diri dari menyebut nama Allah di kalimat hukuman adalah pilihan yang disengaja. Yang terlalu jelas untuk disebut kadang justru lebih terasa kehadirannya.
- Huruf penyambung di tengah ayat menandai akibat yang langsung menyusul, sehingga bunyinya lalu dimasukkan, bukan kemudian dimasukkan. Tidak ada jeda yang disebutkan antara ditenggelamkan dan dimasukkan ke neraka. Dua kejadian yang dalam bayangan orang terpisah oleh rentang yang sangat panjang disambungkan oleh satu huruf. Allah memampatkan jarak itu tanpa menjelaskannya, dan pemampatan itu sendiri yang menjadi peringatan. Jarak yang terasa panjang bagi kita bisa tidak berjarak sama sekali di sisi Allah.
- Bentuk kata kerja di penutup ayat menandai pencarian yang gagal, bukan sekadar ketiadaan. Mereka mencari dan tidak menemukan. Susunan yang sama muncul di 18:53, ketika orang berdosa melihat api lalu tidak menemukan tempat berpaling. Kata itu muncul di 5 ayat di seluruh Al-Qur'an. Yang digambarkan bukan keadaan sepi, melainkan usaha terakhir yang berakhir tanpa hasil, dan itu lebih pahit daripada sekadar sunyi. Mencari pada saat yang salah lebih pahit daripada tidak pernah mencari sama sekali.
- Yang disebut tidak ditemukan adalah penolong selain Allah. Ini mengunci seluruh surah: sejak 71:3 mereka diseru menyembah Allah, di 71:23 mereka bersepakat mempertahankan lima nama, dan di sini tidak satu pun dari lima nama itu hadir sebagai penolong. Nama-nama yang dijaga dengan larangan paling keras tidak muncul lagi setelah ayat yang menceritakan bagaimana mereka dijaga. Apa yang kita jaga mati-matian hari ini, akan hadir atau menghilang saat kita paling membutuhkannya? Allah menutup bagian ini dengan ketiadaan, bukan dengan rincian siksa.
- Ayat ini murni narasi orang ketiga tanpa kutipan sama sekali. Sesudah 71:21 sampai 71:24 yang seluruhnya berada di dalam doa Nuh, di sini suara berpindah ke pencerita. Perpindahan itu sekaligus mengonfirmasi bahwa kutipan sebelumnya benar-benar sudah tertutup. Dan sesudah ayat ini, di 71:26, kutipan baru dibuka lagi. Allah menyelipkan satu ayat narasi di antara dua doa, dan letaknya itu yang membuat doa terakhir terbaca berbeda. Bacaan berubah oleh urutan, bukan hanya oleh isi.