وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا

Dan Nuh berkata, “Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun dari orang-orang kafir tinggal di atas bumi.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًاwa-qaala nuuhun rabbi laa tadzar 'alaa l-ardhi mina l-kaafiriina dayyaarandan Nuh berkata, 'Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun dari orang-orang kafir tinggal di atas bumi'

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. وَقَالَwa-qaaladan berkata
  2. نُوحٌnuuhunNuh
  3. رَبِّrabbiTuhan
  4. لَاlaajanganlah
  5. تَذَرْtadzarEngkau biarkan
  6. عَلَى'alaaatas
  7. الْأَرْضِl-ardhibumi
  8. مِنَminadari
  9. الْكَافِرِينَl-kaafiriinaorang-orang yang kufur
  10. دَيَّارًاdayyaaranseorang pun

Inti bacaan

Doa yang menuntut keadilan menyeluruh: 'janganlah Engkau biarkan seorang pun dari orang-orang kafir tinggal di atas bumi', permohonan yang mencerminkan keputusasaan setelah usaha panjang tanpa hasil, momen ketika seorang pemimpin spiritual mengakui batas kesabarannya sendiri.

Penjelasan pilihan kata

Kutip ganda baru dibuka ('wa-qaala nuuhun', nama Nuh diulang eksplisit lagi, menandai doa ketiga dan terakhir).

Kata (دَيَّارًا, dayyaaran) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Sepasang dengannya, (تَذَرْ, tadzar) berdiri dalam wujud berharakat yang hanya ada di sini; surah berikutnya memakai bentuk yang ujungnya berbeda di 74:28. Bentuk itu serumpun dengan kata di 71:23 dan 71:27, dan ketiga bentuk dari akar yang sama muncul di tiga ayat berdekatan. Di 71:23 kaumnya saling melarang meninggalkan sesembahan; di sini Nuh memohon agar Allah tidak membiarkan siapa pun tersisa; di 71:27 ia menyebut akibatnya kalau dibiarkan.

Kata (دَيَّارًا, dayyaaran) berakar pada tempat tinggal, dan bentuknya menandai orang yang menempati. Jadi bunyinya bukan sekadar 'seorang pun', melainkan 'seorang penghuni pun'. Terjemahan 'seorang pun dari orang-orang kafir tinggal' berusaha menahan unsur menempati itu. Kata ini selalu dipakai dalam kalimat penyangkalan menyeluruh, dan pemakaiannya di sini adalah satu-satunya di seluruh Al-Qur'an.

Bentuk (نُوحٌ, nuuhun) muncul lagi, kali ini didahului huruf penyambung. Ini penyebutan kedua nama Nuh sebagai pelaku di surah ini, sesudah 71:21. Dua-duanya membuka doa. Pengulangan nama meski penuturnya sama adalah penanda baku Al-Qur'an untuk kutipan baru, dan penanda itu sudah dipakai sekali sebelumnya di surah ini.

Sapaan (رَبِّ, rabbi) di awal doa adalah yang ketiga di surah ini, sesudah 71:5 dan 71:21, dan akan muncul sekali lagi di 71:28. Empat kali sapaan yang sama, dan setiap kali ia menandai perpindahan dari berbicara kepada manusia menjadi berbicara kepada Allah. Bentuknya memakai akhiran kepemilikan yang huruf terakhirnya dibuang, susunan lazim untuk seruan dalam doa.

Permohonannya berupa larangan yang ditujukan kepada Allah, sama seperti di 71:24 dan 71:28. Tiga kali dalam empat ayat terakhir, doa Nuh berbentuk permintaan agar Allah tidak melakukan sesuatu, bukan agar melakukan sesuatu. Susunan itu lazim dalam bahasa Arab dan tidak mengandung kekurangajaran. Terjemahan menahannya apa adanya.

Sebutan (الْكَافِرِينَ, al-kaafiriina) di ayat ini memakai penanda tertentu, sehingga bunyinya 'orang-orang kafir itu'. Yang dimaksud adalah mereka yang sudah dibicarakan sepanjang surah, bukan siapa saja. Bentuk ini muncul sekali di surah ini, sedangkan sebutan yang dipakai di 71:24 dan 71:28 adalah kata lain yang berarti orang-orang zalim. Jadi dua sebutan berbeda dipakai untuk pihak yang sama, dan masing-masing menyorot sisi yang berlainan: yang satu menutup kebenaran, yang lain melampaui batas.

Tafsiran

Ayat ini membuka doa ketiga dan terakhir Nuh: permohonan agar tak ada orang kafir tersisa di bumi. Ayat ini membuka doa ketiga dan terakhir, dan isinya paling keras di seluruh surah. Nuh memohon agar tidak ada seorang pun dari mereka yang tersisa menempati bumi. Permohonan itu datang sesudah 71:25 melaporkan bahwa mereka sudah ditenggelamkan. Letak ayat narasi di antara dua doa itu bermakna: pembaca sudah mengetahui akhirnya sebelum mendengar permohonannya.

Kata untuk penghuni di ayat ini berakar pada tempat tinggal, dan bentuknya menandai orang yang menempati. Jadi bunyinya bukan sekadar seorang pun, melainkan seorang penghuni pun. Yang diminta bukan agar mereka mati, melainkan agar tidak ada yang tersisa menempati. Perbedaan itu halus tetapi ada. Dan kata itu muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sehingga tidak ada pemakaian lain yang bisa dijadikan pembanding.

Bentuk permohonannya adalah larangan yang ditujukan kepada Allah, sama seperti di 71:24 dan 71:28. Tiga kali dalam empat ayat terakhir, doa Nuh berbentuk permintaan agar Allah tidak melakukan sesuatu. Susunan seperti itu lazim dalam bahasa Arab dan tidak mengandung kekurangajaran. Yang menarik, seorang yang menyeru selama itu dengan begitu banyak cara akhirnya berdoa dengan bentuk larangan, bukan permintaan. Alasannya menyusul di 71:27, dan alasan itu bukan tentang dirinya melainkan tentang generasi yang belum lahir.

Renungan dan Hikmah

  • Permohonan di ayat ini datang sesudah 71:25 melaporkan bahwa mereka sudah ditenggelamkan. Letak ayat narasi di antara dua doa itu bermakna. Pembaca sudah mengetahui akhirnya sebelum mendengar permohonannya. Susunan seperti itu mengubah cara doa ini terbaca. Ia bukan permintaan yang menunggu jawaban, melainkan permintaan yang jawabannya sudah diletakkan Allah di ayat sebelumnya. Doa yang jawabannya sudah diketahui pembaca terdengar lain daripada doa yang menggantung.
  • Kata untuk penghuni di ayat ini berakar pada tempat tinggal, dan bentuknya menandai orang yang menempati. Bunyinya bukan sekadar seorang pun, melainkan seorang penghuni pun. Yang diminta bukan agar mereka mati, melainkan agar tidak ada yang tersisa menempati bumi. Perbedaan itu halus tetapi ada, dan kata tersebut muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an sehingga tidak ada pembanding untuk memastikannya. Kata yang tak berulang memaksa pembaca berhenti dan menimbang, bukan melintas begitu saja.
  • Kata kerja di ayat ini serumpun dengan kata di 71:23 dan 71:27, dan ketiga bentuknya tidak berulang dalam wujud berharakat masing-masing. Di 71:23 kaumnya saling melarang meninggalkan sesembahan; di sini Nuh memohon agar Allah tidak membiarkan siapa pun tersisa; di 71:27 ia menyebut akibatnya kalau dibiarkan. Satu akar dipakai tiga kali dalam lima ayat, dan ketiganya menyangkut apa yang ditinggalkan atau dibiarkan. Satu akar yang berulang di ayat berdekatan mengikat ketiganya menjadi satu untaian.
  • Bentuk permohonan di ayat ini adalah larangan yang ditujukan kepada Allah, sama seperti di 71:24 dan 71:28. Tiga kali dalam empat ayat terakhir, doa Nuh berbentuk permintaan agar Allah tidak melakukan sesuatu, bukan agar melakukan sesuatu. Seorang yang menyeru selama itu akhirnya berdoa dengan bentuk larangan. Nada doa yang berubah di ujung menandakan sesuatu tentang apa yang sudah habis dan apa yang masih tersisa. Yang tersisa pada akhirnya menentukan bentuk doa yang sanggup diucapkan seseorang.
  • Sapaan kepada Allah di awal doa ini adalah yang ketiga di surah ini, sesudah 71:5 dan 71:21, dan akan muncul sekali lagi di 71:28. Empat kali sapaan yang sama, dan setiap kali ia menandai perpindahan dari berbicara kepada manusia menjadi berbicara kepada Allah. Bentuknya memakai akhiran kepemilikan, sehingga hubungan selalu disebut, tidak pernah hanya keberadaan. Menyebut Allah selalu dengan penunjuk kepemilikan menjaga doa tetap berupa percakapan.
  • Nama Nuh muncul lagi sebagai pelaku, kali ini didahului huruf penyambung. Ini penyebutan kedua di surah ini sesudah 71:21, dan dua-duanya membuka doa. Pengulangan nama meski penuturnya sama adalah penanda baku Al-Qur'an untuk kutipan baru. Kalau batas ucapan ditandai secermat ini oleh Allah, seberapa hati-hati kita seharusnya mengutip kalimat orang lain? Kecermatan Allah menandai batas ucapan seharusnya menjadi ukuran bagi kita ketika mengutip.