إِنَّكَ إِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوا إِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا
Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka, niscaya mereka menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak melahirkan kecuali yang jahat lagi sangat kufur.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّكَ إِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوا إِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًاinnaka in tadzarhum yudhilluu 'ibaadaka wa-laa yaliduu illaa faajiran kaffaaran'sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka, niscaya mereka menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak melahirkan kecuali yang jahat lagi sangat kufur'
Terjemahan per kata (10 kata)
- إِنَّكَinnakasesungguhnya Engkau
- إِنْinjika
- تَذَرْهُمْtadzarhumEngkau membiarkan mereka
- يُضِلُّواyudhilluumereka menyesatkan
- عِبَادَكَ'ibaadakahamba-hamba-Mu
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- يَلِدُواyaliduumereka melahirkan
- إِلَّاillaakecuali
- فَاجِرًاfaajiranorang durhaka
- كَفَّارًاkaffaaranorang-orang kafir
Inti bacaan
Alasan di balik permohonan yang keras: 'jika Engkau biarkan mereka, niscaya mereka menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak melahirkan kecuali (anak) yang jahat lagi sangat kufur', justifikasi bahwa permohonan ekstrem didasarkan pada kekhawatiran nyata tentang penyebaran kerusakan lintas generasi, bukan kebencian personal semata.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(anak)' tidak dipakai.
Ayat ini memuat lima kata yang masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (تَذَرْهُمْ, tadzarhum), (يُضِلُّوا, yudhilluu), (يَلِدُوا, yaliduu), (فَاجِرًا, faajiran), dan (كَفَّارًا, kaffaaran). Dari sepuluh patah kata penyusunnya, separuh tidak berulang di mana pun. Ini menempatkannya di jajaran paling padat di surah ini bersama 71:23 dan 71:25.
Bentuk (عِبَادَكَ, 'ibaadaka) muncul di 3 ayat: 15:40, 38:83, dan 71:27. Dua yang pertama adalah ucapan Iblis yang mengecualikan hamba-hamba Allah yang terpilih dari sasarannya. Di sini Nuh justru mengkhawatirkan hamba-hamba Allah disesatkan. Jadi kata yang sama muncul di mulut yang hendak menyesatkan dan di mulut yang hendak melindungi, dan dua-duanya menyebutnya sebagai milik Allah. Kepemilikan itu tidak dipersoalkan oleh pihak mana pun.
Kata (كَفَّارًا, kaffaaran) adalah bentuk penguat dari akar yang berarti menutupi atau mengingkari. Bentuk penguat yang sama dipakai di 71:10 untuk sifat Allah sebagai yang mengampuni berkali-kali. Jadi satu pola bentukan yang sama dipakai untuk dua hal yang berlawanan: pengampunan yang berulang dan pengingkaran yang berulang. Dua pemakaian itu berjarak tujuh belas ayat di surah yang sama.
Bentuk (فَاجِرًا, faajiran) berakar pada membelah atau menyimpang keluar dari batas. Ia bukan sekadar 'jahat' dalam arti umum, melainkan menandai orang yang menembus batas yang seharusnya dijaga. Kedua kata sifat di penutup ayat berdiri berdampingan tanpa penyambung, susunan yang dalam bahasa Arab menandai keduanya melekat pada satu orang yang sama, bukan dua jenis yang berbeda.
Susunan kalimatnya bersyarat: kalau Engkau biarkan mereka, niscaya mereka menyesatkan. Jadi yang dikhawatirkan bukan yang sudah terjadi melainkan yang akan terjadi. Dan yang dikhawatirkan bukan bagi dirinya, melainkan bagi hamba-hamba Allah dan bagi keturunan yang belum lahir. Draf awal menambahkan '(anak)' di dalam kurung sesudah kata kerja melahirkan, dan tambahan itu tidak dipakai karena kata kerjanya sudah lengkap sendiri.
Perlu dicatat pula bahwa dua sifat di penutup ayat berbentuk tunggal, bukan jamak, padahal pelakunya jamak. Susunan itu lazim dalam bahasa Arab ketika yang disifati adalah objek yang tidak ditentukan. Bunyi harfiahnya kira-kira 'mereka tidak melahirkan kecuali seorang yang menembus batas lagi sangat mengingkari'. Terjemahan mempertahankan bentuk tunggal itu, sebab menjamakkannya akan mengubah gambaran dari satu jenis manusia menjadi sekumpulan orang.
Tafsiran
Ayat ini menjelaskan alasan permohonan itu: dikhawatirkan mereka menyesatkan generasi berikutnya. Ayat ini memberi alasan bagi permohonan di 71:26, dan alasannya bukan tentang dirinya sendiri. Nuh tidak berkata mereka menyakitiku atau mereka menolak seruanku. Ia berkata mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan kecuali yang menembus batas lagi sangat mengingkari. Dua kekhawatiran itu menyangkut orang lain: yang sudah ada, dan yang belum lahir.
Kata untuk hamba di ayat ini muncul di 3 ayat, dan dua yang pertama adalah ucapan Iblis yang mengecualikan hamba-hamba Allah yang terpilih dari sasarannya. Di sini Nuh justru mengkhawatirkan mereka disesatkan. Kata yang sama muncul di mulut yang hendak menyesatkan dan di mulut yang hendak melindungi. Yang menarik, dua-duanya menyebutnya sebagai milik Allah. Kepemilikan itu tidak dipersoalkan oleh pihak mana pun, bahkan oleh pihak yang hendak merusaknya.
Ada satu hubungan yang tajam dengan awal surah. Kata terakhir ayat ini adalah bentuk penguat dari akar yang berarti mengingkari, dan pola bentukan yang sama dipakai di 71:10 untuk sifat Allah sebagai yang mengampuni berkali-kali. Jadi satu pola yang sama menampung pengampunan yang berulang dan pengingkaran yang berulang, berjarak tujuh belas ayat di surah yang sama. Yang ditawarkan di ayat kesepuluh adalah ampunan tanpa henti; yang dikhawatirkan di ayat ini adalah pengingkaran tanpa henti. Dua bentuk yang serupa bunyinya berdiri di dua ujung surah sebagai dua kemungkinan yang saling berhadapan.
Renungan dan Hikmah
- Nuh tidak berkata mereka menyakitiku atau menolak seruanku. Ia berkata mereka akan menyesatkan hamba-hamba Allah, dan tidak akan melahirkan kecuali yang menembus batas lagi sangat mengingkari. Dua kekhawatiran itu menyangkut orang lain: yang sudah ada, dan yang belum lahir. Doa yang paling keras di surah ini ternyata tidak berisi keluhan tentang diri sendiri sama sekali. Menghilangkan diri sendiri dari daftar keluhan adalah latihan yang tidak pernah selesai.
- Kata untuk hamba di ayat ini muncul di 3 ayat: 15:40, 38:83, dan 71:27. Dua yang pertama adalah ucapan Iblis yang mengecualikan hamba-hamba Allah yang terpilih dari sasarannya. Di sini Nuh justru mengkhawatirkan mereka disesatkan. Kata yang sama muncul di mulut yang hendak menyesatkan dan di mulut yang hendak melindungi. Dua-duanya menyebutnya sebagai milik Allah, dan kepemilikan itu tidak dipersoalkan pihak mana pun. Kepemilikan Allah atas hamba-Nya diakui bahkan oleh pihak yang hendak merusaknya.
- Kata terakhir ayat ini adalah bentuk penguat dari akar yang berarti mengingkari, dan pola bentukan yang sama dipakai di 71:10 untuk sifat Allah sebagai yang mengampuni berkali-kali. Satu pola menampung pengampunan yang berulang dan pengingkaran yang berulang, berjarak tujuh belas ayat. Yang ditawarkan di ayat kesepuluh adalah ampunan tanpa henti; yang dikhawatirkan di sini pengingkaran tanpa henti. Dua kemungkinan itu berhadapan di dua ujung surah. Dua kemungkinan itu terbuka bagi siapa pun sepanjang pintu tobat belum tertutup.
- Salah satu kata sifat di penutup ayat berakar pada membelah atau menyimpang keluar dari batas. Ia bukan sekadar jahat dalam arti umum, melainkan menandai orang yang menembus batas yang seharusnya dijaga. Kedua sifat di penutup berdiri berdampingan tanpa penyambung, susunan yang menandai keduanya melekat pada satu orang yang sama. Allah memilih kata yang menggambarkan arah perbuatan, bukan sekadar menilainya. Menilai arah perbuatan lebih tepat daripada menempelkan sebutan pada pelakunya.
- Susunan kalimat di ayat ini bersyarat: kalau Engkau biarkan mereka, niscaya mereka menyesatkan. Yang dikhawatirkan bukan yang sudah terjadi melainkan yang akan terjadi. Nuh mengadukan kepada Allah sesuatu yang belum ada, yaitu keturunan yang belum lahir. Kekhawatiran yang melampaui zamannya sendiri adalah bentuk tanggung jawab yang jarang, dan surah ini merekamnya tanpa berkomentar. Allah mencatat kekhawatiran yang melampaui umur orang yang mengucapkannya.
- Lima dari sepuluh patah kata penyusun ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ini menempatkannya di jajaran paling padat di surah ini bersama 71:23 dan 71:25. Ketiga ayat itu sama-sama menyangkut puncak persoalan: kesepakatan mempertahankan berhala, akibat yang menimpa, dan kekhawatiran tentang keturunan. Kalau bagian yang paling menentukan diberi bahasa yang tak dipakai di tempat lain, apa yang kita lewatkan dengan membacanya sepintas? Ayat yang padat menuntut waktu, dan waktu itulah yang paling jarang kita berikan.