وَأَنَّهُ تَعَالَىٰ جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا

Dan sesungguhnya keagungan Tuhan kami sungguh tinggi; Dia tidak beristri dan tidak beranak.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَأَنَّهُ تَعَالَىٰ جَدُّ رَبِّنَاwa-annahu ta'aalaa jaddu rabbinaa'dan sesungguhnya keagungan Tuhan kami sungguh tinggi'
  2. مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًاmaa ttakhadza shaahibatan wa-laa waladan'Dia tidak beristri dan tidak beranak'

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. وَأَنَّهُwa-annahudan sesungguhnya Dia
  2. تَعَالَىٰta'aalaaTinggi jauh Dia
  3. جَدُّjaddukebesaran
  4. رَبِّنَاrabbinaaTuhan kami
  5. مَاmaatidaklah
  6. اتَّخَذَttakhadzamengambil
  7. صَاحِبَةًshaahibatanistri
  8. وَلَاwa-laadan tidak pula
  9. وَلَدًاwaladananak

Inti bacaan

Pengakuan teologis yang tegas dari jin: 'Mahatinggi keagungan Tuhan kami. Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak', penolakan eksplisit terhadap konsep antropomorfisme ilahi, kesaksian bahwa makhluk non-manusia pun mampu mencapai pemahaman teologis yang murni dan akurat.

Penjelasan pilihan kata

Kata (جَدُّ, jaddu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Kelangkaan itu membuat terjemahannya perlu hati-hati. Akarnya berkaitan dengan sesuatu yang besar, agung, dan sungguh-sungguh, bukan main-main. Ia bukan nama sifat yang lazim dipakai untuk Allah di tempat lain, dan justru karena itu ia tidak boleh diperhalus menjadi kata yang lebih umum. Terjemahan 'keagungan' menahan muatan besarnya tanpa menambahkan yang tidak ada. Menerjemahkannya 'kekuasaan' akan menggeser maknanya ke wilayah lain yang punya kata Arabnya sendiri.

Bentuk (تَعَالَىٰ, ta'aalaa) muncul di 2 ayat: 16:3 dan 72:3. Ia berarti tinggi sampai di luar jangkauan, bukan sekadar tinggi dalam ukuran. Dalam kalimat ini ia mendahului kata yang diterangkannya, susunan yang dalam bahasa Arab dipakai untuk menekankan. Terjemahan 'sungguh tinggi' menjaga tekanan itu. Yang dinyatakan tinggi bukan zat-Nya secara langsung, melainkan keagungan-Nya, dan perbedaan halus ini sengaja dipertahankan agar terjemahan tidak melangkahi apa yang ditulis.

Kata (صَاحِبَةً, shaahibatan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Ia bukan kata baku untuk 'istri', yang punya bentuk lain dan sering dipakai. Kata ini berakar pada 'menemani', sehingga arti dasarnya lebih dekat ke 'pendamping'. Pilihan kata itu bermakna. Yang disangkal bukan hanya lembaga pernikahan, melainkan keberadaan pihak yang menemani, yang berdampingan, yang menjadi pasangan bagi Allah dalam bentuk apa pun. Terjemahan 'beristri' dipakai karena paling wajar dalam bahasa Indonesia, dengan catatan bahwa cakupan aslinya sedikit lebih luas.

Dua kata lain dalam kalimat itu justru lazim: (اتَّخَذَ, ittakhadza) muncul di 15 ayat dan (وَلَدًا, waladan) di 13 ayat. Jadi penyangkalan tentang anak adalah tema yang berulang di banyak surah; yang khas di sini adalah kata pendamping yang berdiri di tengahnya. Kata kerjanya berarti 'mengambil untuk diri sendiri', bukan sekadar 'punya'. Ini menyangkal tindakan, bukan hanya keadaan. Yang ditolak adalah gambaran tentang Tuhan yang mengambil pendamping atau anak sebagai pelengkap diri-Nya. Susunan penyangkalannya juga rapi: satu penyangkal di depan menutupi keduanya, lalu penyambung di tengah memastikan yang kedua tidak lolos dari jangkauan penyangkalan itu.

Ayat ini memakai pembuka (وَأَنَّهُ, wa-annahu), yang muncul di 12 ayat di seluruh Al-Qur'an dan 4 di antaranya di surah ini: 72:3, 72:4, 72:6, dan 72:19. Pembuka itu menandai bahwa kalimatnya masih bagian dari isi wahyu yang sedang dilaporkan, bukan kalimat baru yang berdiri sendiri. Bersama saudaranya yang berbunyi 'wa-annaa', ia menjahit belasan ayat menjadi satu rangkaian kesaksian yang panjang tanpa terputus.

Tafsiran

Ayat ini mencatat kesaksian jin tentang keagungan Allah dan ketiadaan istri atau anak bagi-Nya. Ayat ini adalah butir pertama dari kesaksian mereka tentang Allah, dan yang mereka dahulukan bukan pujian, melainkan pembersihan. Sebelum menyebut apa yang Allah lakukan, mereka menyebut apa yang tidak pernah Dia ambil. Urutan ini sejalan dengan cara surah bekerja secara keseluruhan. Menyucikan pemahaman lebih dulu, baru menambahkan keterangan. Sebab keterangan yang benar bisa jadi salah paham kalau ditumpuk di atas gambaran yang keliru.

Yang disangkal di sini adalah kebutuhan. Pendamping diambil oleh yang merasa sendirian. Anak diambil oleh yang ingin dirinya berlanjut. Keduanya adalah tanda kekurangan, dan kekurangan itulah yang ditolak dari Allah. Kata kerjanya menegaskan hal ini, sebab ia berarti mengambil untuk diri sendiri, bukan sekadar memiliki. Jadi yang dibantah bukan pertanyaan tentang siapa keluarga Allah, melainkan anggapan bahwa Dia butuh siapa pun untuk melengkapi diri-Nya.

Menarik bahwa penyangkalan seperti ini datang dari mulut jin. Mereka pihak yang selama ini justru sering diletakkan orang sebagai penghubung dengan alam yang tak terlihat. Di sini mereka sendiri yang menyatakan Allah tidak punya pendamping. Kesaksian itu memotong dari arah yang tak terduga. Di 72:6 nanti akan disebut bahwa ada manusia yang berlindung kepada jin, dan hubungan itu hanya menambah kesesatan. Jadi surah ini menyusun dua hal berturutan: jin menyatakan Allah tidak berpasangan, lalu menceritakan bagaimana manusia keliru menjadikan mereka sandaran. Yang dijadikan perantara justru menolak kedudukan itu.

Renungan dan Hikmah

  • Butir pertama kesaksian mereka bukan pujian, melainkan penolakan terhadap gambaran yang keliru. Urutan ini mengajarkan sesuatu tentang cara mengenal Allah. Menambahkan keterangan di atas anggapan yang salah hanya memperkuat kesalahan itu. Karena itu wahyu sering mendahulukan pembersihan. Dalam belajar apa pun, ruang harus dikosongkan sebelum diisi. Orang yang datang membawa gambaran keliru tentang Tuhan akan menyerap setiap keterangan baru ke dalam gambaran lamanya, sehingga yang bertambah bukan pemahaman melainkan kekeliruan yang makin rapi.
  • Pendamping dicari oleh yang merasa sendirian, dan keturunan diinginkan oleh yang ingin dirinya berlanjut. Dua-duanya lahir dari kekurangan. Kata kerja di ayat ini berarti mengambil untuk diri sendiri, sehingga yang ditolak adalah tindakan melengkapi diri. Allah tidak digambarkan sebagai pihak yang kesepian atau yang khawatir namanya terputus. Ketika kita berdoa, gambaran ini menentukan nadanya. Kita tidak sedang membujuk pihak yang butuh ditemani, melainkan meminta kepada Yang sama sekali tidak berkurang oleh permintaan siapa pun. Kalau begitu, mengapa doa kita justru sering terasa seperti membebani?
  • Dua kata dalam ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kelangkaan itu membebani penerjemah, sebab tidak ada pemakaian lain yang bisa dijadikan pembanding. Godaannya adalah menggantinya dengan kata yang lebih akrab dan lebih halus. Tetapi mengganti kata langka dengan kata umum berarti menghapus jejak pilihan yang sengaja dibuat. Allah memilih kata itu, bukan kata yang lain. Menjaga keanehannya dalam terjemahan lebih jujur daripada meratakannya sampai pembaca merasa nyaman tetapi kehilangan yang khas.
  • Yang menyatakan Allah tidak berpasangan di sini adalah jin, pihak yang justru sering diletakkan orang sebagai penghubung ke alam tak terlihat. Mereka sendiri yang menutup pintu itu. Tiga ayat kemudian, di 72:6, disebutkan bahwa manusia yang berlindung kepada mereka hanya bertambah sesat. Kesaksian yang paling telak sering datang dari pihak yang justru diuntungkan oleh kekeliruan itu. Ketika yang dipuja sendiri berkata jangan memujaku, tidak banyak lagi yang tersisa untuk dibantah.
  • Kata yang dipakai di sini hanya muncul di dua ayat dalam seluruh Al-Qur'an, dan maknanya bukan tinggi yang bisa diukur, melainkan tinggi yang tak terjangkau. Perbedaannya penting. Yang tinggi dalam ukuran masih bisa didekati dengan usaha lebih keras. Yang tak terjangkau tidak berada di ujung tangga yang sama. Ini bukan berarti Allah jauh, sebab surah yang sama menyebut Dia mendengar dan menuntun. Yang tak terjangkau adalah keagungan-Nya, bukan perhatian-Nya kepada yang menyeru.
  • Pembuka ayat ini muncul di 12 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan 4 di antaranya berkumpul di surah ini: 72:3, 72:4, 72:6, dan 72:19. Fungsinya menandai bahwa kalimatnya masih bagian dari laporan yang sedang berjalan. Tanpa penanda itu, tiap ayat akan terbaca berdiri sendiri dan hubungan antarbagiannya hilang. Membaca Al-Qur'an sepotong-sepotong menghasilkan kesalahan serupa. Ayat yang dicabut dari rangkaiannya masih benar kalimatnya, tetapi bisa kehilangan siapa yang sedang berbicara dan kepada siapa Allah sedang mengarahkan kalimat itu.