وَأَنَّهُ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى اللَّهِ شَطَطًا
Dan bahwa orang yang bodoh di antara kami dahulu mengucapkan yang melampaui batas terhadap Allah,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَأَنَّهُ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى اللَّهِ شَطَطًاwa-annahu kaana yaquulu safiihunaa 'alaa llaahi syathathan'dan bahwa orang yang bodoh di antara kami dahulu mengucapkan yang melampaui batas terhadap Allah'
Terjemahan per kata (7 kata)
- وَأَنَّهُwa-annahudan sesungguhnya Dia
- كَانَkaanaselalu
- يَقُولُyaquuluberkata
- سَفِيهُنَاsafiihunaaorang bodoh kami
- عَلَى'alaaatas
- اللَّهِllaahiAllah
- شَطَطًاsyathathanyang jauh dari kebenaran
Inti bacaan
Pengakuan jujur atas kesalahan masa lalu kelompok sendiri: 'orang yang bodoh di antara kami dahulu mengucapkan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah', kejujuran mengakui bahwa ada elemen bermasalah dalam komunitas sendiri, bukan mengklaim kesempurnaan kolektif.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(perkataan)' tidak dipakai.
Kata (سَفِيهُنَا, safiihunaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Ia terdiri atas dua bagian: sebutan untuk orang yang bodoh atau kurang akal, ditambah akhiran yang berarti 'kami'. Jadi bunyinya 'orang bodoh milik kami', atau lebih wajar dalam bahasa Indonesia, 'orang yang bodoh di antara kami'. Akhiran itu tidak boleh dihilangkan. Ia yang membuat pengakuan ini terasa berat, sebab yang dituding bukan pihak luar melainkan bagian dari kalangan mereka sendiri.
Susunan tunggalnya juga perlu dijaga. Teks tidak berkata 'orang-orang bodoh di antara kami', melainkan menyebutnya dalam hitungan satu. Sebagian pembaca memahaminya sebagai sebutan jenis, yang mencakup siapa saja yang berperilaku demikian. Terjemahan mempertahankan bentuk tunggal karena itu yang tertulis, dan membiarkan pembaca menimbang sendiri cakupannya. Menjamakkannya berarti memutuskan sesuatu yang oleh teks sengaja dibiarkan terbuka.
Kata (شَطَطًا, syathathan) muncul di 2 ayat: 18:14 dan 72:4. Akarnya berkaitan dengan jarak yang jauh dan menyimpang dari garis. Ia bukan 'kebohongan' biasa, sebab kata untuk itu sudah dipakai di 72:5 dengan bunyi yang berbeda. Yang ditandai di sini adalah ucapan yang melewati batas, yang meleset jauh dari kepatutan. Terjemahan 'yang melampaui batas' menjaga gambaran jarak itu. Menariknya, di 18:14 kata yang sama dipakai oleh sekelompok pemuda yang menolak menyeru tuhan selain Allah, dan mereka menyebut perbuatan itu sebagai ucapan yang melampaui batas. Dua ayat itu menolak hal yang sama dengan kata yang sama.
Bentuk (يَقُولُ, yaquulu) muncul di 35 ayat di seluruh Al-Qur'an. Dalam ayat ini ia didahului kata kerja bantu yang menandai kebiasaan di masa lalu. Gabungan itu tidak berarti 'ia pernah berkata sekali', melainkan 'ia dahulu terbiasa mengucapkan'. Terjemahan 'dahulu mengucapkan' menahan sifat berulang tersebut. Perbedaannya nyata: satu ucapan bisa jadi tergelincir, sedangkan kebiasaan mengucapkan menunjukkan pendirian.
Perlu dicatat pula ke mana ucapan itu diarahkan. Teks memakai (عَلَى, 'alaa), yang berarti 'terhadap' atau 'atas', bukan 'tentang'. Bedanya terasa dalam bahasa Indonesia. Berbicara tentang Allah bisa netral, sedangkan berbicara terhadap Allah menyiratkan sesuatu yang dilemparkan ke arah-Nya. Susunan yang sama dipakai lagi di ayat berikutnya, 72:5, ketika mereka menyebut kebohongan yang diucapkan terhadap Allah. Dua ayat berturutan memakai kata depan yang sama untuk perkara yang sama, dan pengulangan itu mengunci bahwa keduanya memang satu rangkaian pengakuan, bukan dua keluhan yang terpisah.
Tafsiran
Ayat ini mencatat pengakuan jin tentang kebodohan sebagian dari kalangan mereka sendiri. Ayat ini adalah pengakuan, dan pengakuan yang paling sulit: mengakui kesalahan yang datang dari kalangan sendiri. Akhiran 'kami' pada kata yang dipakai membuat pengakuan itu tidak bisa dialihkan ke pihak luar. Mereka tidak berkata ada yang bodoh di luar sana. Mereka berkata orang bodoh itu ada di antara kami. Ini kebalikan dari cara yang biasa ditempuh ketika sebuah kelompok tersudut, yaitu menyingkirkan yang bermasalah dari keanggotaan agar nama kelompok tetap bersih.
Perhatikan juga bahwa yang mereka soroti adalah ucapan, bukan perbuatan. Yang salah di sini bicara, dan bicaranya tentang Allah. Kata yang dipakai menandai ucapan yang meleset jauh dari kepatutan. Ini menempatkan kesalahan berbicara tentang Allah dalam kelas yang berat. Dua ayat kemudian, di 72:5, mereka melanjutkan dengan mengakui bahwa dahulu mereka mengira tidak ada yang berani berbohong tentang Allah. Jadi urutannya jelas: ada yang bicara melampaui batas, dan ada yang percaya begitu saja karena tidak menyangka orang berani berbuat demikian.
Bentuk kata kerja yang dipakai menandai kebiasaan, bukan kejadian sekali. Ini menambah beratnya. Yang dipersoalkan bukan satu ucapan yang tergelincir di satu kesempatan, melainkan pola bicara yang berlangsung lama. Kesalahan yang berulang tanpa dikoreksi lama-lama berubah menjadi ajaran, dan ajaran yang salah menular lebih jauh daripada satu ucapan yang keliru. Pengakuan ini seolah menjelaskan dari mana keyakinan yang menyimpang itu semula datang, dan mengapa mereka dahulu tidak curiga.
Renungan dan Hikmah
- Akhiran pada kata yang dipakai berarti kami, sehingga yang dituding tidak bisa dialihkan ke pihak luar. Mereka mengakui bahwa yang bicara melampaui batas tentang Allah berasal dari kalangan mereka sendiri. Ini kebalikan dari kebiasaan umum ketika sebuah lingkaran tersudut. Yang lazim adalah menyingkirkan anggota yang bercela dari daftar supaya nama bersamanya tetap bersih. Sanggupkah kita menyebut kekeliruan yang datang dari lingkaran terdekat kita dengan sejujur mereka menyebutnya di ayat ini?
- Yang dipersoalkan di sini bukan perbuatan, melainkan ucapan. Dan bukan sembarang ucapan, melainkan yang ditujukan tentang Allah. Kata yang dipakai menandai ucapan yang meleset jauh dari kepatutan, bukan sekadar keliru. Ini menempatkan bicara tentang Allah tanpa dasar dalam kelas yang berat. Orang sering berhati-hati dalam perbuatan tetapi longgar dalam ucapan, seolah kata-kata tidak meninggalkan bekas. Padahal keyakinan yang salah biasanya lahir dari kalimat, bukan dari tindakan, dan kalimat menular jauh lebih cepat.
- Kata kerja di ayat ini didahului bentuk yang menandai kebiasaan yang sudah lewat, sehingga artinya sudah terbiasa melontarkannya. Perbedaannya besar. Satu ucapan yang keliru bisa dianggap tergelincir, tetapi kebiasaan menunjukkan pendirian yang sudah mengendap. Allah memperhatikan pola, bukan hanya peristiwa. Kesalahan yang dibiarkan berulang lama-lama berubah menjadi ajaran, dan ajaran menyebar ke orang yang tidak pernah bertemu si pengucap. Yang mula-mula hanya kebiasaan lidah bisa berakhir sebagai keyakinan orang banyak.
- Kata yang dipakai di ayat ini muncul di 2 ayat saja: 18:14 dan 72:4. Akarnya berkaitan dengan jarak yang jauh dan menyimpang dari garis, bukan dengan kebohongan. Al-Qur'an punya kata sendiri untuk berbohong, dan kata itu dipakai di ayat berikutnya. Perbedaan ini menunjukkan bahwa ucapan bisa salah bukan hanya karena tidak benar, melainkan karena melewati batas kepatutan. Berbicara tentang Allah melebihi yang kita ketahui adalah kesalahan tersendiri, meski niatnya memuji.
- Di 18:14 kata yang sama diucapkan sekelompok pemuda yang menolak menyeru tuhan selain Allah, dan mereka menyebut perbuatan itu ucapan yang melampaui batas. Di sini jin memakainya untuk menilai kalangan mereka sendiri. Dua pihak yang sangat berbeda memakai kata yang sama untuk menolak hal yang sama. Kesamaan itu memperlihatkan bahwa penilaian tentang batas dalam berbicara tentang Allah tidak bergantung pada siapa yang menilai. Ia berlaku sama bagi manusia maupun bagi mereka.
- Teks menyebutnya dalam bentuk satu, bukan banyak, dan terjemahan mempertahankannya. Godaan menjamakkan selalu ada, sebab pembaca ingin tahu seberapa luas cakupannya. Tetapi menjamakkan berarti memutuskan hal yang sengaja dibiarkan terbuka oleh Allah dalam pilihan kata-Nya. Menerjemahkan dengan jujur kadang berarti menahan diri dari menjelaskan. Pembaca yang diberi teks apa adanya bisa menimbang sendiri, sedangkan pembaca yang diberi tafsiran terselubung hanya menerima keputusan orang lain tanpa tahu itu bukan bunyi aslinya.