وَأَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَنْ تَقُولَ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا

Dan bahwa kami mengira manusia dan jin tidak akan mengucapkan kebohongan terhadap Allah,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَأَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَنْ تَقُولَ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى اللَّهِ كَذِبًاwa-annaa zhanannaa an lan taquula l-insu wa-l-jinnu 'alaa llaahi kadziban'dan bahwa kami mengira manusia dan jin tidak akan mengucapkan kebohongan terhadap Allah'

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. وَأَنَّاwa-annaadan bahwa kami
  2. ظَنَنَّاzhanannaakami mengira
  3. أَنْanbahwa
  4. لَنْlantidak akan
  5. تَقُولَtaquulaengkau berkata
  6. الْإِنْسُl-insumanusia
  7. وَالْجِنُّwa-l-jinnudan jin
  8. عَلَى'alaaatas
  9. اللَّهِllaahiAllah
  10. كَذِبًاkadzibankebohongan

Inti bacaan

Kepercayaan awal yang keliru: 'kami mengira manusia dan jin tidak akan mengucapkan kebohongan terhadap Allah', pengakuan bahwa asumsi baik tentang integritas makhluk lain ternyata tidak selalu terbukti benar, pelajaran tentang bahaya kepercayaan buta tanpa verifikasi.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَأَنَّا, wa-annaa), penanda yang muncul di 8 ayat di seluruh Al-Qur'an dan kedelapannya di surah ini: 72:5, 72:8, 72:9, 72:10, 72:11, 72:12, 72:13, dan 72:14. Tidak ada satu pun pemakaiannya di luar surah ini. Penanda itu berarti 'dan bahwa kami', dan fungsinya menjahit delapan ayat menjadi satu untaian kesaksian. Pembaca yang mengikuti bunyinya akan merasakan irama pengakuan yang berderet, seperti daftar butir yang dibacakan satu per satu tanpa jeda panjang.

Bentuk (ظَنَنَّا, zhanannaa) muncul di 2 ayat: 72:5 dan 72:12, keduanya di surah ini. Kata ini menandai dugaan, bukan pengetahuan pasti. Menariknya, dua pemakaiannya berlawanan isi. Di sini ia membawa dugaan yang keliru, yaitu sangkaan bahwa tidak akan ada yang berbohong tentang Allah. Di 72:12 ia membawa keyakinan yang benar, yaitu bahwa mereka tidak akan bisa lolos dari Allah. Kata yang sama menampung dugaan yang salah dan dugaan yang tepat, dan yang membedakan bukan kekuatan dugaannya melainkan apakah ia diuji atau tidak.

Kata (الْإِنْسُ, al-insu) muncul di 2 ayat: 17:88 dan 72:5. Pasangannya di ayat ini, (وَالْجِنُّ, wal-jinnu), juga muncul di 2 ayat: 17:88 dan 72:5. Jadi dua ayat itu berbagi dua kata langka sekaligus, dalam susunan yang sama pula. Di 17:88 keduanya disebut untuk menyatakan bahwa manusia dan jin bersama-sama tidak akan sanggup mendatangkan yang serupa Al-Qur'an. Di sini keduanya disebut sebagai pihak yang dahulu dikira tidak akan berani berbohong tentang Allah. Pasangan yang sama muncul dalam dua konteks yang saling melengkapi: tidak sanggup menandingi, dan ternyata berani mengarang.

Bentuk (تَقُولَ, taquula) muncul di 6 ayat: 20:94, 20:97, 39:56, 39:57, 39:58, dan 72:5. Ia berdiri sesudah partikel yang menyangkal untuk masa depan, sehingga terjemahannya 'tidak akan mengucapkan'. Yang perlu dicatat, penyangkalan itu bukan milik si pembicara sekarang, melainkan bagian dari isi dugaan lama mereka. Susunan ini mudah tertukar. Yang dinyatakan bukan bahwa manusia dan jin memang tidak berbohong, melainkan bahwa dahulu mereka menyangka demikian.

Rangkaian (عَلَى اللَّهِ كَذِبًا, 'alaa allaahi kadziban) muncul di 14 ayat di seluruh Al-Qur'an, di antaranya 6:21, 6:93, 7:37, dan 72:5. Hampir semuanya dipakai untuk mencela orang yang mengarang atas nama Allah. Frasa itu punya bentuk yang tetap, dan kehadirannya di sini menempatkan ayat ini dalam satu barisan panjang peringatan yang tersebar di banyak surah. Yang membedakan pemakaiannya di sini adalah kedudukannya dalam kalimat. Di ayat-ayat lain frasa itu berdiri sebagai tuduhan langsung kepada pelakunya. Di sini ia berada di dalam dugaan lama yang sedang dikoreksi, sehingga nadanya bukan menuduh melainkan menyesali.

Tafsiran

Ayat ini mencatat kepercayaan awal jin akan kejujuran manusia dan jin lain. Ayat ini menjelaskan bagaimana kekeliruan bisa bertahan lama tanpa dicurigai. Alasannya bukan karena buktinya kuat, melainkan karena tidak terpikir bahwa ada orang yang berani mengarang tentang Allah. Kepercayaan mereka bertumpu pada anggapan tentang batas keberanian orang lain, bukan pada pemeriksaan atas isi ucapannya. Ini kelemahan yang halus. Orang jujur cenderung mengira orang lain juga jujur, dan justru kejujuran itulah yang membuatnya mudah ditipu.

Bentuk kata kerja yang dipakai menandai dugaan, bukan pengetahuan. Mereka mengakuinya sebagai dugaan, bukan sebagai keyakinan yang pernah mereka periksa. Di 72:12 kata yang sama muncul lagi, kali ini membawa isi yang benar. Perbandingan dua ayat itu memberi pelajaran yang jarang disadari. Dugaan tidak otomatis salah dan tidak otomatis benar. Yang menentukan adalah apakah ia diuji terhadap kenyataan atau dibiarkan berdiri di atas perasaan bahwa hal buruk tidak mungkin terjadi.

Ada satu hal lagi. Ayat ini menyebut manusia dan jin berdampingan, dan pasangan kata yang persis sama juga muncul di 17:88, ayat tentang ketidaksanggupan keduanya menandingi Al-Qur'an. Dua ayat itu memperlihatkan dua sisi dari kedudukan yang sama. Manusia dan jin sama-sama tidak sanggup membuat yang setara dengan wahyu, tetapi sama-sama sanggup mengarang atas nama Allah. Yang tidak mampu menciptakan ternyata mampu memalsukan. Dan pemalsuan itu bisa bertahan justru karena orang tidak menyangka ada yang setega itu.

Renungan dan Hikmah

  • Pembuka ayat ini muncul di 8 ayat dalam seluruh Al-Qur'an, dan kedelapannya berada di surah ini. Tidak ada satu pun pemakaiannya di luar sini. Penanda itu mengikat 72:5 sampai 72:14 menjadi satu untaian pengakuan yang panjang. Membacanya terpisah-pisah akan menghilangkan iramanya. Allah menyusun kesaksian ini sebagai daftar yang mengalir, bukan sebagai kalimat lepas. Bentuk seperti ini mengingatkan bahwa pengakuan yang jujur biasanya panjang, sebab yang perlu diluruskan jarang cuma satu perkara.
  • Mereka tertipu bukan karena bukti yang meyakinkan, melainkan karena tidak menyangka ada yang berani mengarang tentang Allah. Orang jujur cenderung mengira orang lain juga jujur. Kebaikan sifat itu justru menjadi celah. Allah merekam pengakuan ini apa adanya, tanpa membela mereka dan tanpa menyalahkan kejujuran mereka. Pelajarannya bukan agar kita berhenti berbaik sangka, melainkan agar berbaik sangka tidak dijadikan pengganti pemeriksaan. Menerima kabar tentang agama karena penyampainya tampak baik adalah kelemahan yang sama. Sudahkah kita memeriksa isi ajaran yang kita pegang, atau cukup percaya karena yang menyampaikannya kelihatan saleh?
  • Kata kerja di ayat ini hanya muncul di dua tempat, yaitu 72:5 dan 72:12, dan isinya berlawanan. Di sini dugaan mereka keliru, di sana dugaan mereka tepat. Kata yang sama bisa membawa keduanya. Yang menentukan bukan seberapa kuat suatu dugaan terasa, melainkan apakah ia pernah diuji. Perasaan yakin bukan bukti kebenaran. Banyak keyakinan bertahan puluhan tahun bukan karena teruji, melainkan karena tidak pernah ada yang memeriksanya, termasuk oleh yang meyakininya.
  • Pasangan kata manusia dan jin di ayat ini juga muncul di 17:88, ayat tentang ketidaksanggupan keduanya membuat yang setara dengan Al-Qur'an. Dua ayat itu menyusun gambaran yang lengkap. Keduanya tidak mampu menciptakan yang sepadan, tetapi keduanya mampu mengarang atas nama Allah. Menciptakan butuh kemampuan, memalsukan cukup butuh keberanian. Karena itu pemalsuan selalu lebih banyak daripada karya asli, dan justru itu yang membuat pemeriksaan menjadi pekerjaan yang tidak boleh berhenti.
  • Susunan ayat ini mudah tertukar. Yang dinyatakan bukan bahwa manusia dan jin tidak berbohong, melainkan bahwa mereka dahulu menyangka demikian. Penyangkalannya berada di dalam dugaan, bukan di dalam pernyataan. Membaca cepat bisa membalik maknanya seratus delapan puluh derajat. Ketelitian membaca bukan kemewahan bagi orang yang ingin memahami wahyu. Satu lapis kalimat yang terlewat sudah cukup mengubah pengakuan atas kekeliruan menjadi pembenaran atas kekeliruan yang sama.
  • Rangkaian tentang berbohong atas nama Allah muncul di 14 ayat di seluruh Al-Qur'an, di antaranya 6:21, 6:93, dan 7:37. Bentuknya hampir selalu sama. Pengulangan sebanyak itu menunjukkan betapa seriusnya perkara ini di mata Allah. Yang diulang bukan karena kurang jelas, melainkan karena mudah dilanggar. Menisbatkan sesuatu kepada Allah tanpa dasar terasa ringan bagi yang melakukannya, sebab tidak ada yang segera membantah, dan justru keheningan itu yang membuatnya berbahaya.