وَأَنَّهُمْ ظَنُّوا كَمَا ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَبْعَثَ اللَّهُ أَحَدًا
Dan bahwa mereka mengira sebagaimana kalian mengira, bahwa Allah tidak akan membangkitkan seorang pun,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَأَنَّهُمْ ظَنُّوا كَمَا ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَبْعَثَ اللَّهُ أَحَدًاwa-annahum zhannuu ka-maa zhanantum an lan yab'atsa llaahu ahadan'dan bahwa mereka mengira sebagaimana kalian mengira, bahwa Allah tidak akan membangkitkan seorang pun'
Terjemahan per kata (9 kata)
- وَأَنَّهُمْwa-annahumdan bahwa mereka
- ظَنُّواzhannuumereka mengira
- كَمَاka-maasebagaimana
- ظَنَنْتُمْzhanantumkalian mengira
- أَنْanbahwa
- لَنْlantidak akan
- يَبْعَثَyab'atsamembangkitkan
- اللَّهُllaahuAllah
- أَحَدًاahadanseorang pun
Inti bacaan
Kesalahan asumsi yang dibagikan lintas jenis makhluk: 'mereka mengira sebagaimana kalian mengira, bahwa Allah tidak akan membangkitkan seorang pun', pengakuan bahwa keraguan terhadap kebangkitan bukan eksklusif manusia, kesalahpahaman serupa bisa muncul di berbagai jenis makhluk berakal.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَأَنَّهُمْ, wa-annahum), yang muncul di 5 ayat: 2:46, 5:82, 16:62, 26:226, dan 72:7. Penanda ini berbeda dari dua saudaranya yang mendominasi surah, sebab ia menunjuk pihak ketiga jamak, bukan 'kami'. Perpindahan itu bermakna. Sampai ayat sebelumnya mereka bercerita tentang diri sendiri; di sini mereka beralih menceritakan pihak lain. Terjemahan 'dan bahwa mereka' menjaga perpindahan sudut pandang tersebut.
Bentuk (ظَنُّوا, zhannuu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Ia sekeluarga dengan kata yang dipakai di 72:5 dan 72:12, tetapi bentuknya berbeda karena pelakunya berbeda. Yang di sini berarti 'mereka mengira'. Menariknya, dalam satu ayat pendek ini akar yang sama muncul dua kali dengan dua pelaku: mereka, lalu kalian. Pasangan kedua, (ظَنَنْتُمْ, zhanantum), muncul di 5 ayat: 41:22, 41:23, 48:12, 59:2, dan 72:7.
Penghubung (كَمَا, kamaa) yang berdiri di antara keduanya bukan hiasan. Ia menyamakan dua dugaan yang dianut dua jenis makhluk yang berbeda. Susunan seperti ini jarang. Biasanya perbandingan dipakai untuk membedakan; di sini ia dipakai untuk menyatakan bahwa kekeliruannya persis sama. Terjemahan 'sebagaimana kalian mengira' menahan kesejajaran itu, dan tidak boleh diperhalus menjadi 'seperti sebagian orang mengira', sebab teks berbicara langsung kepada 'kalian'.
Perpindahan sapaan di tengah kalimat perlu dicatat. Ayat ini dimulai dengan menyebut pihak ketiga, lalu tiba-tiba menyapa 'kalian'. Yang disapa adalah manusia yang mendengar surah ini dibacakan. Jadi di dalam kutipan panjang kesaksian jin, tersisip sapaan langsung kepada pembaca. Lapisan suaranya bertambah satu, dan penerjemah harus menahannya apa adanya agar pembaca merasakan bahwa dirinya sedang ditunjuk.
Bentuk (يَبْعَثَ, yab'atsa) muncul di 4 ayat: 6:65, 28:59, 40:34, dan 72:7. Akarnya berarti mengirim atau membangkitkan. Dalam ayat ini ia berdiri sesudah partikel penyangkal untuk masa depan, sehingga terjemahannya 'tidak akan membangkitkan'. Penutupnya kembali memakai kata yang berarti 'seorang pun', yang di surah ini menutup 5 ayat: 72:2, 72:7, 72:18, 72:20, dan 72:26.
Satu hal lagi tentang susunan kalimatnya. Yang disangkal bukan kemampuan Allah, melainkan kehendak-Nya untuk melakukannya. Bunyinya bukan 'Allah tidak sanggup membangkitkan', melainkan 'Allah tidak akan membangkitkan'. Dua hal itu jauh berbeda, dan terjemahan harus menjaga jaraknya. Menyangkal kemampuan adalah pengingkaran yang terang-terangan, sedangkan menyangkal kejadiannya terdengar lebih halus dan justru karena itu lebih mudah dianut orang yang masih mengaku percaya kepada Allah.
Tafsiran
Ayat ini mencatat dugaan keliru sebagian jin tentang ketiadaan kebangkitan. Ayat ini melakukan sesuatu yang tidak biasa dalam sebuah kutipan. Di tengah kesaksian jin tentang diri mereka sendiri, tiba-tiba pembaca ikut ditunjuk. Kalimatnya berpindah dari 'mereka' ke 'kalian' tanpa jeda. Pembaca yang semula merasa sedang menyimak cerita tentang makhluk lain mendadak menemukan dirinya berada di dalam cerita itu.
Yang disamakan adalah isi dugaannya, yaitu anggapan bahwa tidak akan ada kebangkitan. Dua jenis makhluk yang sangat berbeda ternyata bisa keliru dengan cara yang sama. Ini menutup satu jalan pembelaan diri yang halus. Orang cenderung mengira kekeliruan orang lain lahir dari keadaan khusus yang tidak berlaku bagi dirinya. Ayat ini menyatakan sebaliknya: dugaan yang sama bisa singgah pada siapa saja, dan singgahnya tidak bergantung pada jenis makhluknya.
Menarik pula bahwa yang dibantah di sini bukan pengingkaran terhadap Allah, melainkan pengingkaran terhadap kebangkitan. Dua hal itu sering dianggap terpisah, padahal surah ini merangkainya. Di 72:12 mereka akan mengakui bahwa tidak mungkin lolos dari Allah, dan di 72:24 disebutkan bahwa kelak akan terlihat siapa yang sebenarnya lemah. Rangkaian itu memperlihatkan bahwa mengingkari kebangkitan pada akhirnya berarti menganggap perbuatan tidak berujung pada perhitungan. Yang runtuh bukan cuma satu pasal keyakinan, melainkan seluruh alasan untuk berhati-hati.
Renungan dan Hikmah
- Kalimat ini berpindah dari menyebut mereka menjadi menyapa kalian tanpa jeda. Pembaca yang semula merasa sedang menyimak cerita tentang makhluk lain mendadak menemukan dirinya berada di dalam cerita itu. Perpindahan sapaan seperti ini adalah cara Allah menutup jarak yang biasa dipasang pembaca antara dirinya dan kisah yang dibacanya. Sanggupkah kita membaca kisah kekeliruan orang lain tanpa diam-diam merasa aman karena mengira kekeliruan itu bukan jenis kita?
- Kata penghubung di tengah ayat menyamakan dugaan jin dengan dugaan manusia. Biasanya perbandingan dipakai untuk membedakan, tetapi di sini ia dipakai untuk menyatakan kesamaan yang telak. Ini menutup pembelaan diri yang halus, yaitu anggapan bahwa kekeliruan orang lain lahir dari keadaan khusus yang tidak berlaku bagi kita. Allah menyatakan dugaan yang sama bisa singgah pada siapa saja. Perbedaan jenis, kedudukan, dan pengetahuan tidak menjadikan seseorang kebal terhadap kekeliruan yang paling umum.
- Kata untuk mengira hadir dua kali di ayat pendek ini dengan dua pelaku yang berbeda: mereka, lalu kalian. Bentuk pertama tercatat 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan bentuk kedua tercatat di 5 ayat. Pengulangan akar yang sama dalam satu napas membuat kesejajarannya tidak bisa diabaikan. Allah tidak berkata dugaan mereka mirip dugaan kalian; Dia memakai kata yang sama persis untuk keduanya. Bahasa di sini bekerja seperti cermin yang diletakkan tepat di depan pembaca.
- Yang dibantah di ayat ini bukan pengingkaran terhadap Allah, melainkan pengingkaran terhadap kebangkitan. Dua hal itu sering dianggap terpisah, padahal surah ini merangkainya. Di 72:24 disebutkan bahwa kelak akan terlihat siapa yang sebenarnya lemah. Kalau tidak ada kebangkitan, tidak ada perhitungan, dan kalau tidak ada perhitungan, hilang seluruh alasan untuk berhati-hati. Menolak satu pasal ini menjatuhkan bangunan yang lain, meski pengakuan tentang keberadaan Allah masih diucapkan di bibir.
- Penanda pembuka ayat ini menunjuk pihak ketiga jamak, berbeda dari penanda yang mendominasi ayat-ayat sekitarnya. Sampai ayat sebelumnya mereka bercerita tentang diri sendiri; di sini mereka beralih menceritakan pihak lain. Perpindahan itu menandai bahwa kesaksian mereka tidak hanya berisi pengakuan pribadi, tetapi juga laporan tentang keadaan di sekitar. Allah merekam keduanya. Pengakuan yang jujur memang biasanya mencakup dua hal: apa yang kita perbuat, dan apa yang kita saksikan orang lain perbuat.
- Kata kerja tentang membangkitkan di ayat ini berdiri sesudah partikel yang menyangkal untuk waktu yang belum datang. Bunyinya bukan Allah tidak membangkitkan, melainkan Allah tidak akan membangkitkan. Dugaan itu mengunci masa depan, bukan sekadar menilai masa kini. Di situlah bahayanya. Anggapan yang menutup kemungkinan ke depan membuat orang berhenti bersiap. Dan penutup ayat kembali memakai kata sapuan yang di surah ini menutup lima ayat sekaligus.