وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا

Dan bahwa kami tidak mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki bagi siapa yang di bumi, ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًاwa-annaa laa nadrii a-syarrun uriida bi-man fii l-ardhi am araada bihim rabbuhum rasyadan'dan bahwa kami tidak mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki bagi siapa yang di bumi, ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka'

Terjemahan per kata (13 kata)

  1. وَأَنَّاwa-annaadan bahwa kami
  2. لَاlaatidak
  3. نَدْرِيnadriikami tahu
  4. أَشَرٌّa-syarrunapakah lebih buruk
  5. أُرِيدَuriidadikehendaki
  6. بِمَنْbi-manterhadap siapa
  7. فِيfiidi
  8. الْأَرْضِl-ardhibumi
  9. أَمْamatau
  10. أَرَادَaraadamaksudkan
  11. بِهِمْbihimpada mereka
  12. رَبُّهُمْrabbuhumTuhan mereka
  13. رَشَدًاrasyadankebenaran

Inti bacaan

Kejujuran tentang ketidaktahuan: 'kami tidak mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki bagi siapa yang di bumi, ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka', pengakuan rendah hati tentang keterbatasan pengetahuan bahkan bagi makhluk yang memiliki akses lebih luas dari manusia, model kejujuran epistemik yang tidak berpura-pura mengetahui lebih dari yang sesungguhnya diketahui.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini memuat dua kata yang masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (أَشَرٌّ, asyarrun) dan (أُرِيدَ, uriida). Yang pertama adalah kata untuk keburukan yang didahului huruf tanya, sehingga bunyinya 'apakah keburukan'. Yang kedua adalah kata kerja pasif yang berarti 'dikehendaki'. Keduanya berdiri di paruh pertama ayat, dan bentuk pasif itulah yang paling menentukan cara membacanya.

Bentuk (أُرِيدَ, uriida) tidak menyebut siapa yang berkehendak. Bandingkan dengan paruh kedua ayat yang memakai bentuk aktif dan menyebut pelakunya secara terang: Tuhan mereka. Jadi dalam satu ayat berdiri dua susunan yang berbeda. Untuk keburukan, pelakunya tidak disebut. Untuk kebaikan, pelakunya disebut dengan nama yang menandai hubungan. Susunan ini terlalu rapi untuk kebetulan, dan terjemahan harus menahannya: 'yang dikehendaki' untuk yang pertama, 'Tuhan mereka menghendaki' untuk yang kedua.

Bentuk (نَدْرِي, nadrii) muncul di 2 ayat: 45:32 dan 72:10. Ia berarti mengetahui melalui penyelidikan atau tanda, bukan mengetahui dengan pasti. Karena itu pengakuan mereka di sini bukan sekadar 'kami tidak tahu', melainkan lebih dekat ke 'kami tidak berhasil menyimpulkan'. Menariknya, di 45:32 kata yang sama dipakai oleh orang yang meragukan Hari Kiamat. Dua ayat, dua sikap: yang satu memakai ketidaktahuan sebagai alasan menolak, yang lain memakainya sebagai pengakuan jujur.

Penutup ayat, (رَشَدًا, rasyadan), muncul di 5 ayat: 18:10, 18:24, 72:10, 72:14, dan 72:21. Tiga dari lima pemakaiannya berada di surah ini. Kata ini sekeluarga dengan kata yang dipakai di 72:2 untuk menyebut arah yang dituntun oleh bacaan. Kehadirannya di sini menyusun jembatan: yang di 72:2 mereka temukan lewat mendengar, di sini mereka sebut sebagai kemungkinan yang dikehendaki Allah bagi penghuni bumi.

Kata (بِمَنْ, biman) muncul di 8 ayat: 16:125, 17:55, 17:84, 28:37, 29:32, 53:30, 68:7, dan 72:10. Dalam ayat ini ia menyambung ke 'siapa yang di bumi', sebuah sebutan yang mencakup semua penghuninya tanpa memilah. Mereka tidak berkata 'bagi manusia' atau 'bagi kami'. Cakupannya sengaja dibiarkan luas, sejalan dengan pengakuan bahwa mereka memang tidak tahu untuk siapa dan untuk apa perubahan itu berlaku.

Susunan pertanyaannya juga perlu diperhatikan. Bahasa Arab memakai dua penanda: satu huruf tanya di depan kemungkinan pertama, dan satu kata penghubung di depan kemungkinan kedua. Pasangan itu membentuk pertanyaan pilihan, yang menuntut jawaban salah satu dari dua, bukan jawaban ya atau tidak. Terjemahan 'apakah keburukan ... ataukah' menahan susunan itu. Yang penting dicatat, pertanyaan ini tidak dijawab di ayat mana pun sesudahnya. Ia dibiarkan terbuka, dan keterbukaan itu memang bagian dari isi pengakuan mereka.

Tafsiran

Ayat ini mencatat ketidaktahuan jin tentang maksud di balik perubahan penjagaan langit. Ayat ini adalah pengakuan ketidaktahuan, dan letaknya tepat sesudah dua ayat yang melaporkan perubahan besar di langit. Mereka menyaksikan perubahannya, tetapi tidak tahu maksudnya. Urutan itu jujur dan jarang. Yang lazim adalah menyaksikan sesuatu lalu segera menyusun tafsiran atasnya. Mereka berhenti sebelum tafsiran, dan berhenti pada tempat yang tepat.

Susunan bahasanya menyimpan hal yang halus. Ketika menyebut kemungkinan keburukan, mereka memakai bentuk yang tidak menyebut pelakunya. Ketika menyebut kemungkinan kebaikan, mereka menyebut pelakunya dengan terang: Tuhan mereka. Adab seperti ini muncul berulang di Al-Qur'an dan bukan kelalaian bahasa. Menahan diri dari menisbatkan keburukan secara langsung, sambil menisbatkan kebaikan dengan jelas, adalah cara berbicara yang menjaga kehormatan Yang dibicarakan.

Penutup ayat ini menghubungkan kembali ke awal surah. Kata untuk kebaikan yang dipakai di sini sekeluarga dengan kata di 72:2, yang menyebut arah yang dituntun oleh bacaan. Jadi apa yang mereka temukan sendiri di ayat kedua, di ayat ini mereka sebut sebagai kemungkinan yang Allah kehendaki bagi seluruh penghuni bumi. Dan kata yang sama akan muncul lagi di 72:14 dan 72:21. Tiga dari lima pemakaiannya di seluruh Al-Qur'an berkumpul di surah ini, seolah menjadi kata kunci yang terus dikembalikan: yang dicari bukan sekadar kebenaran yang diketahui, melainkan arah yang ditempuh.

Renungan dan Hikmah

  • Mereka menyaksikan perubahan besar di langit, lalu mengakui tidak tahu maksudnya. Urutan itu jarang. Yang lazim adalah menyaksikan sesuatu lalu segera menyusun keterangan atasnya, sebab ketidaktahuan terasa tidak nyaman. Allah merekam pengakuan mereka sebagai bagian dari kesaksian yang benar. Mengakui batas pengetahuan bukan kelemahan iman. Justru menyusun tafsiran tanpa dasar atas peristiwa yang kita saksikan adalah pintu masuk bagi kekeliruan yang paling sulit dibongkar kemudian.
  • Ketika menyebut kemungkinan keburukan, ayat ini memakai bentuk pasif yang tidak menyebut pelakunya. Ketika menyebut kemungkinan kebaikan, ia memakai bentuk aktif dan menyebut Tuhan mereka dengan terang. Susunan itu terlalu rapi untuk kebetulan. Menahan diri dari menisbatkan keburukan secara langsung, sambil menisbatkan kebaikan dengan jelas, adalah adab berbicara tentang Allah. Cara kita menyusun kalimat tentang Tuhan ikut membentuk cara kita memandang-Nya, bahkan ketika isinya sama-sama benar.
  • Kata kerja di ayat ini muncul di 2 ayat saja, dan yang satu lagi ada di 45:32, dipakai oleh orang yang meragukan Hari Kiamat. Dua ayat, dua sikap yang berbeda terhadap ketidaktahuan. Yang satu memakainya sebagai alasan untuk menolak, yang lain sebagai pengakuan jujur sambil tetap percaya. Ketidaktahuan sendiri netral. Yang menentukan adalah apa yang kita bangun di atasnya: penolakan, atau kesabaran menunggu keterangan dari Allah.
  • Mereka tidak berkata bagi manusia atau bagi kami, melainkan bagi siapa yang di bumi. Sebutan itu mencakup semua penghuninya tanpa memilah. Keluasan itu sejalan dengan isi pengakuan mereka, sebab orang yang tidak tahu maksud suatu kejadian juga tidak tahu untuk siapa kejadian itu berlaku. Menyempitkan cakupan berarti mengaku tahu lebih banyak daripada yang sebenarnya. Kejujuran tentang batas pengetahuan ternyata ikut menentukan pilihan kata, bukan hanya isi pernyataan.
  • Kata penutup ayat ini muncul di 5 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan tiga di antaranya berada di surah ini: 72:10, 72:14, dan 72:21. Ia sekeluarga dengan kata di 72:2 yang menyebut arah tuntunan bacaan. Pengulangan sepadat itu menjadikannya kata kunci surah. Yang dicari bukan sekadar kebenaran yang diketahui, melainkan arah yang ditempuh. Allah tidak menutup surah ini dengan daftar keterangan, melainkan dengan pertanyaan tentang ke mana langkah seseorang sedang mengarah.
  • Ayat ini menyandingkan dua kemungkinan tanpa memilih salah satunya. Bisa keburukan, bisa kebaikan, dan mereka menyatakan tidak tahu yang mana. Bentuk kalimatnya adalah pertanyaan yang tidak dijawab. Allah membiarkan pertanyaan itu berdiri terbuka di tengah surah. Hidup sering menyodorkan peristiwa yang belum jelas arahnya, dan tuntutan untuk segera menamainya sebagai musibah atau nikmat justru sering keliru. Kadang yang paling jujur memang menunggu sampai maksudnya terlihat. Beranikah kita membiarkan satu peristiwa dalam hidup kita tetap tanpa nama sampai Allah sendiri yang memperlihatkan ke mana ia bermuara?