وَأَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَنْ نُعْجِزَ اللَّهَ فِي الْأَرْضِ وَلَنْ نُعْجِزَهُ هَرَبًا
Dan bahwa kami yakin tidak akan dapat melepaskan diri dari Allah di bumi, dan tidak dapat lari melepaskan diri dari-Nya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَأَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَنْ نُعْجِزَ اللَّهَ فِي الْأَرْضِ وَلَنْ نُعْجِزَهُ هَرَبًاwa-annaa zhanannaa an lan nu'jiza llaaha fii l-ardhi wa-lan nu'jizahu haraban'dan bahwa kami yakin tidak akan dapat melepaskan diri dari Allah di bumi, dan tidak dapat lari melepaskan diri dari-Nya'
Terjemahan per kata (11 kata)
- وَأَنَّاwa-annaadan bahwa kami
- ظَنَنَّاzhanannaakami mengira
- أَنْanbahwa
- لَنْlantidak akan
- نُعْجِزَnu'jizakami melemahkan
- اللَّهَllaahaAllah
- فِيfiidi
- الْأَرْضِl-ardhibumi
- وَلَنْwa-landan tidak akan
- نُعْجِزَهُnu'jizahukami melemahkan-Nya
- هَرَبًاharabanmelarikan diri
Inti bacaan
Kesadaran akan ketidakberdayaan mutlak: 'kami yakin tidak akan dapat melepaskan diri dari Allah di bumi, dan tidak (pula) dapat lari melepaskan diri dari-Nya', pengakuan bahwa upaya melarikan diri dari akuntabilitas adalah sia-sia, kesadaran yang mendorong penerimaan realitas alih-alih penolakan yang tak berguna.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(pula)' tidak dipakai.
Ayat ini memuat tiga kata yang masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (نُعْجِزَ, nu'jiza), (نُعْجِزَهُ, nu'jizahu), dan (هَرَبًا, haraban). Dua yang pertama berasal dari akar yang sama dan hanya berbeda pada akhiran. Yang kedua membawa akhiran yang berarti 'Dia', sehingga bunyinya 'kami melepaskan diri dari-Nya'. Pengulangan akar yang sama dua kali dalam satu ayat pendek adalah cara menekan yang khas, dan terjemahan harus menahan pengulangan itu meski dalam bahasa Indonesia terdengar berulang.
Akar (نُعْجِزَ, nu'jiza) berarti membuat pihak lain tidak berdaya, atau lolos dari jangkauan sehingga yang mengejar menjadi tak sanggup. Terjemahan 'melepaskan diri' menahan gambaran itu. Menerjemahkannya 'mengalahkan' akan menggeser maknanya, sebab yang dimaksud bukan menang melawan Allah, melainkan meloloskan diri dari jangkauan-Nya. Perbedaan itu penting, sebab yang mereka akui bukan ketidakmampuan menang, melainkan ketidakmampuan kabur.
Bentuk (ظَنَنَّا, zhanannaa) muncul di 2 ayat: 72:5 dan 72:12, keduanya di surah ini. Di 72:5 kata itu membawa dugaan yang keliru. Di sini ia membawa keyakinan yang benar. Kata yang sama, dua hasil yang berlawanan. Ini menunjukkan bahwa yang dinilai bukan bentuk dugaannya, melainkan apakah isinya sesuai kenyataan. Terjemahan 'kami yakin' dipakai di sini karena isinya memang benar, sementara di 72:5 dipakai 'kami mengira' karena isinya ternyata keliru. Dua pilihan kata yang berbeda untuk satu kata Arab, dan perbedaan itu ditentukan oleh isi kalimatnya.
Penutup ayat, (هَرَبًا, haraban), berarti pelarian. Ia berdiri sebagai keterangan cara, bukan sebagai objek. Jadi bunyinya bukan 'kami tidak dapat melepaskan pelarian', melainkan 'kami tidak dapat melepaskan diri dari-Nya dengan cara lari'. Terjemahan 'tidak dapat lari melepaskan diri dari-Nya' menahan kedudukan itu. Kata ini menutup ayat dengan bunyi yang sama seperti seluruh ayat surah ini, yang semuanya berakhir dengan tanwin fathah tanpa satu pun kecuali.
Perhatikan pula pasangan tempatnya. Yang pertama menyebut 'di bumi', yang kedua tidak menyebut tempat sama sekali. Susunan itu bertingkat: tidak bisa lolos di bumi, dan tidak bisa lolos ke mana pun. Yang kedua mencakup yang pertama, sehingga kalimatnya bergerak dari batas yang sempit menuju batas yang tidak ada.
Perlu dicatat bahwa dua penyangkalan dalam ayat ini memakai partikel yang menunjuk masa depan, bukan masa kini. Bunyinya 'tidak akan', bukan 'tidak'. Susunan itu selaras dengan janji di 72:2, yang juga memakai partikel yang sama untuk menyatakan tidak akan menyekutukan. Dua ayat itu sama-sama mengikat masa depan, satu dalam bentuk janji dan satu dalam bentuk pengakuan atas batas.
Tafsiran
Ayat ini mencatat keyakinan jin bahwa mereka tidak dapat lari dari kekuasaan Allah. Ayat ini adalah pengakuan tentang batas, dan yang mengakuinya adalah pihak yang justru sering dianggap punya kemampuan melampaui batas manusia. Mereka menyatakan tidak sanggup lolos dari Allah, baik di bumi maupun dengan cara lari ke mana pun. Pengakuan dari pihak yang dianggap punya keleluasaan lebih besar terasa lebih berat daripada pengakuan dari yang memang terbatas.
Kata kerja yang dipakai bukan berarti mengalahkan, melainkan meloloskan diri sehingga yang mengejar tak sanggup menjangkau. Perbedaan itu halus tetapi menentukan. Mereka tidak sedang berkata bahwa Allah tidak bisa dikalahkan, sebab hal itu terlalu jelas untuk perlu disebut. Yang mereka akui adalah bahwa tidak ada tempat yang berada di luar jangkauan-Nya. Bukan soal kalah atau menang, melainkan soal ada atau tidaknya tempat sembunyi.
Bandingkan dengan 72:5. Kata untuk menduga yang dipakai di kedua ayat itu sama persis, tetapi di sana isinya keliru dan di sini isinya benar. Dua ayat itu berdiri seperti sepasang cermin dalam satu surah. Yang pertama menunjukkan dugaan bisa menyesatkan ketika berdiri di atas anggapan tentang batas keberanian orang lain. Yang kedua menunjukkan dugaan bisa tepat ketika berdiri di atas pengukuran yang jujur atas diri sendiri. Dan susunan tempatnya bergerak bertingkat: tidak lolos di bumi, lalu tidak lolos ke mana pun. Kalimatnya menutup semua pintu satu per satu, persis seperti kata 'seorang pun' yang berulang di 72:2, 72:7, 72:18, 72:20, dan 72:26 menutup semua kemungkinan sekutu.
Renungan dan Hikmah
- Yang menyatakan tidak sanggup lolos dari Allah di sini adalah pihak yang justru sering dianggap punya keleluasaan melampaui manusia. Pengakuan dari yang dianggap lebih kuat terasa lebih berat daripada pengakuan dari yang memang terbatas. Allah merekam kesaksian ini di tengah surah, bukan di akhir. Orang yang merasa punya banyak jalan keluar biasanya paling lambat mengakui bahwa ada satu tempat yang tidak bisa dihindarinya, dan pengakuan itu justru datang lebih dahulu dari mereka.
- Kata kerja di ayat ini tidak berarti mengalahkan, melainkan meloloskan diri sehingga yang mengejar tak sanggup menjangkau. Mereka tidak sedang berkata Allah tidak bisa dikalahkan, sebab hal itu terlalu jelas untuk perlu disebut. Yang mereka akui adalah tidak ada tempat di luar jangkauan-Nya. Perbedaan ini mengubah bentuk kesadaran. Yang ditakuti bukan kekalahan dalam perlawanan, melainkan kenyataan bahwa tidak ada sudut mana pun yang luput dari pengetahuan Allah. Orang bisa menerima bahwa dirinya lemah dan tetap merasa aman selama masih ada tempat yang tak terlihat.
- Dua dari tiga kata sekali pakai di ayat ini berasal dari akar yang sama dan hanya berbeda pada akhiran. Pengulangan akar dalam satu ayat pendek adalah cara menekan yang khas dalam bahasa Arab. Terjemahan yang setia akan terdengar berulang dalam bahasa Indonesia, dan pengulangan itu memang harus dipertahankan. Allah menekankan satu hal dua kali dalam satu napas. Menghaluskannya menjadi satu kalimat yang rapi akan menghapus penekanan yang justru menjadi inti ayat ini. Kerapian terjemahan tidak boleh dibayar dengan hilangnya cara asli kalimat itu bekerja pada pembacanya.
- Kata untuk menduga di ayat ini sama persis dengan yang dipakai di 72:5, dan hanya dua ayat itu yang memuatnya di seluruh Al-Qur'an. Di sana isinya keliru, di sini isinya benar. Dua ayat berdiri seperti sepasang cermin. Yang satu menunjukkan dugaan bisa menyesatkan ketika bertumpu pada anggapan tentang orang lain. Yang lain menunjukkan dugaan bisa tepat ketika bertumpu pada pengukuran jujur atas diri sendiri. Arah pandang menentukan hasilnya.
- Bagian pertama ayat menyebut di bumi, bagian keduanya tidak menyebut tempat sama sekali. Susunan itu bertingkat: tidak bisa lolos di bumi, lalu tidak bisa lolos ke mana pun. Yang kedua mencakup yang pertama. Cara menyusun seperti ini sejalan dengan kata yang berarti seorang pun, yang berulang menutup lima ayat di surah ini. Allah tidak sekadar menyatakan kesimpulan; Dia menutup kemungkinan satu per satu sampai tidak tersisa celah untuk ditawar.
- Kata penutup ayat ini berdiri sebagai keterangan cara, bukan sebagai objek. Bunyinya bukan tidak dapat melepaskan pelarian, melainkan tidak dapat melepaskan diri dengan cara lari. Kedudukan tata bahasa yang tepat mengubah gambarannya. Yang dibahas bukan pelarian sebagai benda, melainkan lari sebagai upaya yang sia-sia. Berapa banyak tenaga yang kita habiskan untuk menghindar dari perhitungan, padahal yang kita hindari justru meliputi tempat kita bersembunyi?