وَأَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدَىٰ آمَنَّا بِهِ ۖ فَمَنْ يُؤْمِنْ بِرَبِّهِ فَلَا يَخَافُ بَخْسًا وَلَا رَهَقًا

Dan sesungguhnya ketika mendengar petunjuk, kami pun beriman kepadanya. Maka siapa yang beriman kepada Tuhannya tidak takut akan pengurangan dan tidak akan kesulitan.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَأَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدَىٰ آمَنَّا بِهِwa-annaa lammaa sami'naa l-hudaa aamannaa bihi'dan sesungguhnya ketika mendengar petunjuk, kami pun beriman kepadanya'
  2. فَمَنْ يُؤْمِنْ بِرَبِّهِ فَلَا يَخَافُ بَخْسًا وَلَا رَهَقًاfa-man yu'min bi-rabbihi fa-laa yakhaafu bakhsan wa-laa rahaqan'maka siapa yang beriman kepada Tuhannya tidak takut akan pengurangan dan tidak akan kesulitan'

Terjemahan per kata (14 kata)

  1. وَأَنَّاwa-annaadan bahwa kami
  2. لَمَّاlammaaketika
  3. سَمِعْنَاsami'naakami mendengar
  4. الْهُدَىٰl-hudaapetunjuk
  5. آمَنَّاaamannaakami beriman
  6. بِهِbihipadanya
  7. فَمَنْfa-manmaka orang yang
  8. يُؤْمِنْyu'minberiman
  9. بِرَبِّهِbi-rabbihikepada Tuhannya
  10. فَلَاfa-laamaka tidak
  11. يَخَافُyakhaafutakut
  12. بَخْسًاbakhsanpengurangan
  13. وَلَاwa-laadan tidak pula
  14. رَهَقًاrahaqankesulitan

Inti bacaan

Respons cepat terhadap petunjuk yang jelas: 'ketika mendengar petunjuk, kami pun beriman kepadanya. Maka, siapa yang beriman kepada Tuhannya tidak (perlu) takut akan pengurangan dan tidak (takut pula) akan kesulitan', model penerimaan yang tulus disertai jaminan bahwa keimanan yang tulus tidak akan dirugikan, baik dari sisi pahala maupun dari beban tambahan.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(Al-Qur'an)', '(perlu)', '(pahala amalnya)', '(takut pula)', dan '(akibat penambahan dosa)' seluruhnya tidak dipakai.

Ayat ini adalah yang terpanjang kedua di surah ini dengan lima belas patah, hanya kalah dari 72:23 yang tujuh belas. Ia juga menutup rangkaian ayat yang dibuka penanda 'wa-annaa', penanda yang muncul di 8 ayat di seluruh Al-Qur'an dan kedelapannya di surah ini. Sesudah ayat ini, penanda itu muncul sekali lagi di 72:14, lalu berhenti untuk selamanya.

Dua kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (بِرَبِّهِ, birabbihi) dan (بَخْسًا, bakhsan). Yang pertama adalah kata untuk Tuhan dengan awalan dan akhiran tertentu, dan bentuk lengkap itu memang hanya ada di sini. Yang kedua berarti pengurangan, khususnya pengurangan hak yang seharusnya diterima. Kata itu berakar pada perbuatan mengurangi takaran, jadi gambarannya sangat sehari-hari: menerima kurang dari yang semestinya.

Penutup ayat ini juga menutup 72:6, dan hanya dua ayat itu yang memuatnya di seluruh Al-Qur'an. Di 72:6 kata itu bertambah karena manusia berlindung kepada yang bukan tempatnya. Di sini ia disebut sebagai hal yang tidak perlu ditakuti oleh yang beriman kepada Tuhannya. Dua ayat itu menyusun sepasang: penyakit disebut di ayat keenam, penawarnya disebut di ayat ketiga belas.

Bentuk (يُؤْمِنْ, yu'min) muncul di 6 ayat: 20:127, 48:13, 64:9, 64:11, 65:11, dan 72:13. Ia berdiri dalam susunan kalimat bersyarat, sehingga terjemahannya 'siapa yang beriman'. Yang perlu dijaga, kalimat ini tidak lagi berbicara khusus tentang jin. Ia memakai bentuk umum yang berlaku bagi siapa saja. Jadi di tengah kesaksian mereka tentang diri sendiri, tiba-tiba muncul kaidah yang cakupannya menyeluruh.

Bentuk (يَخَافُ, yakhaafu) muncul di 5 ayat: 20:112, 27:10, 50:45, 72:13, dan 91:15. Dalam ayat ini ia didahului penyangkal, dan susunannya menarik karena memakai bentuk yang menyatakan keadaan, bukan larangan. Bunyinya bukan 'janganlah ia takut', melainkan 'ia tidak takut'. Perbedaan itu bermakna. Yang pertama adalah perintah, yang kedua adalah keterangan tentang apa yang memang terjadi pada orang beriman. Terjemahan 'tidak takut' menahan bentuk keterangan itu.

Pembuka kalimat keduanya juga perlu diperhatikan. Ia memakai (فَمَنْ, faman), gabungan huruf penyambung dengan kata yang berarti 'siapa'. Gabungan itu menandai akibat sekaligus membuka kalimat bersyarat yang berlaku umum. Pola yang sama dipakai lagi di 72:14 dan di 72:23, tiga kali dalam satu surah pendek. Setiap kali ia muncul, kalimatnya berpindah dari cerita tentang pihak tertentu menjadi aturan yang berlaku bagi siapa saja. Penanda kecil itu adalah engsel yang memutar arah pembicaraan.

Tafsiran

Ayat ini mencatat respons iman jin terhadap petunjuk yang mereka dengar. Ayat ini menutup rangkaian kesaksian dengan cara yang tidak terduga. Sesudah belasan ayat bercerita tentang diri mereka sendiri, kalimatnya tiba-tiba melebar menjadi kaidah umum yang berlaku bagi siapa saja. Bunyinya bukan lagi 'kami begini', melainkan 'siapa yang beriman kepada Tuhannya'. Perpindahan dari laporan pribadi ke aturan yang menyeluruh terjadi dalam satu ayat, dan justru di ayat penutup rangkaian.

Yang ditawarkan di sini adalah rasa aman dari dua hal. Yang pertama adalah pengurangan, yaitu menerima kurang dari yang semestinya. Yang kedua adalah tindihan, kata yang di 72:6 justru bertambah karena berlindung pada tempat yang salah. Dua ketakutan itu sangat manusiawi. Orang khawatir amalnya dihitung kurang, dan orang khawatir bebannya bertambah tanpa sebab. Ayat ini menyebut keduanya sekaligus dan menyatakan keduanya tidak berlaku bagi yang beriman kepada Tuhannya.

Susunan pasangannya dengan 72:6 patut dicatat. Kata penutup yang sama muncul di dua ayat itu saja dalam seluruh Al-Qur'an. Di ayat keenam ia bertambah, di ayat ketiga belas ia hilang. Yang membedakan hanya satu hal: kepada siapa perlindungan dicari. Surah ini menempatkan penyakit dan penawarnya dalam satu bacaan, terpisah tujuh ayat. Dan bentuk kalimat penutupnya bukan larangan melainkan keterangan, sehingga yang dinyatakan bukan 'janganlah takut' melainkan 'ia memang tidak takut'. Ketenangan itu digambarkan sebagai akibat yang lahir sendiri dari iman, bukan sebagai tugas yang masih harus diusahakan.

Renungan dan Hikmah

  • Sesudah belasan ayat bercerita tentang diri sendiri, kalimatnya tiba-tiba melebar menjadi aturan yang berlaku bagi siapa saja. Bunyinya bukan lagi kami begini, melainkan siapa yang beriman kepada Tuhannya. Perpindahan itu terjadi tepat di ayat penutup rangkaian. Allah mengubah kesaksian perorangan menjadi janji yang terbuka bagi semua pembacanya. Pengalaman satu pihak dinaikkan menjadi kaidah, dan sejak titik itu ayat ini tidak lagi bercerita tentang mereka melainkan tentang kita.
  • Yang dijanjikan hilang di ayat ini ada dua: pengurangan hak dan tindihan beban. Keduanya ketakutan yang sangat wajar. Orang khawatir amalnya dihitung kurang, dan orang khawatir bebannya bertambah tanpa sebab. Allah menyebut keduanya sekaligus, bukan hanya salah satunya. Ini menunjukkan bahwa janji ketenangan dalam Al-Qur'an tidak diberikan secara umum dan kabur, melainkan menyebut persis apa yang paling ditakuti oleh hati manusia ketika memikirkan perhitungan.
  • Kata penutup ayat ini muncul di 2 ayat saja di seluruh Al-Qur'an, yaitu 72:6 dan 72:13. Di ayat keenam ia bertambah karena perlindungan dicari pada tempat yang salah. Di sini ia hilang karena iman ditujukan kepada Tuhan yang benar. Yang membedakan hanya satu hal: kepada siapa perlindungan dialamatkan. Allah menempatkan penyakit dan penawarnya dalam satu bacaan, terpisah tujuh ayat, sehingga pembaca menemukan jalan keluarnya tanpa perlu mencari ke surah lain.
  • Bentuk kalimat penutup ayat ini menyatakan keadaan, bukan larangan. Bunyinya bukan janganlah ia takut, melainkan ia tidak takut. Perbedaan itu mengubah seluruh nadanya. Yang pertama menambah tugas, yang kedua menyampaikan kabar. Ketenangan digambarkan sebagai akibat yang lahir sendiri dari iman kepada Allah, bukan sebagai beban baru yang masih harus diusahakan. Iman yang benar tidak menambah daftar kewajiban rasa; ia justru mengurangi apa yang perlu ditakuti.
  • Salah satu kata sekali pakai di ayat ini berakar pada perbuatan mengurangi takaran. Gambarannya sangat sehari-hari, yaitu menerima kurang dari yang semestinya. Allah memakai bahasa pasar untuk menjelaskan kekhawatiran tentang perhitungan amal. Pilihan itu membuat janji-Nya bisa dirasakan, bukan sekadar dipahami. Siapa yang pernah merasa haknya dikurangi tahu persis rasa itu, dan justru rasa itulah yang dinyatakan tidak akan dialami oleh yang beriman kepada Tuhannya.
  • Ayat ini menutup rangkaian yang dibuka penanda khas surah ini, penanda yang muncul di 8 ayat di seluruh Al-Qur'an dan kedelapannya di sini. Sesudah 72:14 ia berhenti untuk selamanya. Deretan sepanjang itu lalu berhenti sekaligus, dan berhentinya sama bermaknanya dengan hadirnya. Pengakuan yang panjang akhirnya selesai, dan yang tersisa adalah kesimpulan. Adakah pengakuan dalam hidup kita yang terus kita perpanjang justru karena kita belum siap sampai pada kesimpulannya?