وَأَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا الْقَاسِطُونَ ۖ فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُولَٰئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا
Dan sesungguhnya di antara kami ada yang berserah diri dan ada yang menyimpang dari kebenaran. Maka siapa yang berserah diri, mereka itulah yang telah menempuh jalan yang benar.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَأَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا الْقَاسِطُونَwa-annaa minnaa l-muslimuuna wa-minnaa l-qaasithuuna'dan sesungguhnya di antara kami ada yang berserah diri dan ada yang menyimpang dari kebenaran'
- فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُولَٰئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًاfa-man aslama fa-ulaa'ika taharraw rasyadan'maka siapa yang berserah diri, mereka itulah yang telah menempuh jalan yang benar'
Terjemahan per kata (10 kata)
- وَأَنَّاwa-annaadan bahwa kami
- مِنَّاminnaadari kami
- الْمُسْلِمُونَl-muslimuunaorang-orang yang berserah diri
- وَمِنَّاwa-minnaadan di antara kami
- الْقَاسِطُونَl-qaasithuunaorang-orang yang menyimpang
- فَمَنْfa-manmaka orang yang
- أَسْلَمَaslamaberserah diri
- فَأُولَٰئِكَfa-ulaa'ikamaka mereka itu
- تَحَرَّوْاtaharrawmereka mencari
- رَشَدًاrasyadankebenaran
Inti bacaan
Klasifikasi hasil dari pilihan berbeda: 'di antara kami ada yang berserah diri dan ada (pula) yang menyimpang dari kebenaran. Siapa yang (memeluk) keberserahan telah memilih jalan yang benar', penegasan bahwa hasil akhir ditentukan oleh pilihan aktif, bukan nasib yang ditetapkan tanpa kehendak bebas.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(memeluk)' dihapus, 'keberserahan' (nomina) pada draf dikoreksi menjadi 'berserah diri' (verba) sesuai bentuk asli 'aslama'. 'Ulaa'ika' dikonfirmasi morfologi, diterjemahkan 'mereka itulah'.
Kata (الْمُسْلِمُونَ, al-muslimuuna) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini, yaitu di ayat ini. Bentuk lain dari akar yang sama tersebar luas, tetapi susunan lengkap dengan awalan penanda ini hanya berdiri di sini. Terjemahan 'yang berserah diri' dipilih untuk menahan arti kata kerjanya, bukan sebagai sebutan golongan. Sebab yang berbicara adalah jin tentang kalangan mereka sendiri, dan menerjemahkannya sebagai nama golongan akan menempelkan sesuatu yang tidak dimaksud di sini.
Kata (الْقَاسِطُونَ, al-qaasithuuna) muncul di 2 ayat: 72:14 dan 72:15, keduanya di surah ini dan tidak ada di tempat lain. Akarnya menarik karena punya dua cabang yang berlawanan. Satu cabang berarti berlaku adil, cabang lain berarti menyimpang dari keadilan. Bentuk yang dipakai di sini adalah cabang yang kedua. Terjemahan 'yang menyimpang dari kebenaran' menahan arah itu. Kelangkaannya membuat kata ini terasa seperti sebutan yang dibuat khusus untuk surah ini.
Bentuk (تَحَرَّوْا, taharraw) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berkaitan dengan mencari dengan teliti, memilih dengan sengaja setelah menimbang. Ia bukan 'menemukan' dan bukan 'mendapat'. Terjemahan 'telah menempuh' dipakai karena wajar dibaca, dengan catatan bahwa aslinya membawa gambaran pencarian yang disengaja. Jadi yang dipuji bukan keberuntungan menemukan jalan, melainkan kesungguhan mencarinya.
Bentuk (أَسْلَمَ, aslama) muncul di 5 ayat: 2:112, 3:83, 4:125, 6:14, dan 72:14. Dalam ayat ini ia berdiri di kalimat bersyarat, sehingga bunyinya 'siapa yang berserah diri'. Sama seperti di ayat sebelumnya, kalimat ini melebar dari laporan tentang mereka menjadi kaidah yang berlaku umum. Draf awal menerjemahkannya sebagai kata benda, dan itu dikoreksi menjadi kata kerja sesuai bentuk aslinya.
Penutup ayat ini muncul di 5 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan tiga di antaranya berada di surah ini: 72:10, 72:14, dan 72:21. Kata itu berarti arah yang lurus, dan di 72:10 ia muncul sebagai kemungkinan yang dikehendaki Allah bagi penghuni bumi. Di sini ia muncul sebagai hasil yang dicapai oleh yang berserah diri. Jadi apa yang di ayat kesepuluh masih berupa kemungkinan yang tidak mereka ketahui, di ayat ini sudah menjadi hasil yang bisa dipastikan bagi siapa yang menempuhnya. Perpindahan dari kemungkinan ke kepastian itu terjadi dalam jarak empat ayat saja.
Tafsiran
Ayat ini membagi dua golongan jin: yang berserah diri dan yang menyimpang. Ayat ini mengulang pembagian yang sudah dilakukan di 72:11, tetapi dengan ukuran yang berbeda. Di ayat kesebelas pembagiannya menurut perilaku: yang saleh dan yang selain itu. Di sini pembagiannya menurut kedudukan di hadapan Allah: yang berserah diri dan yang menyimpang. Kalangan yang sama dipetakan dua kali dengan dua ukuran, dan yang kedua lebih tegas daripada yang pertama.
Perhatikan bahwa nada menahan diri yang ada di 72:11 sudah hilang di sini. Di sana golongan kedua hanya disebut 'yang selain itu' tanpa nama. Di sini ia disebut dengan sebutan yang terang. Perubahan nada itu bukan kelalaian. Surah ini bergerak dari pembagian yang berhati-hati menuju keterangan yang tegas, dan ayat berikutnya, 72:15, menyebutkan akibat yang menanti golongan kedua. Urutan tiga ayat itu mengajarkan sesuatu tentang kapan sebuah penilaian layak diucapkan: sesudah pembagiannya jelas, bukan sebelumnya.
Yang paling perlu dicatat adalah kata kerja terakhirnya. Bentuk itu muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dan berarti mencari dengan teliti setelah menimbang. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa mereka kebetulan berada di jalan yang benar, melainkan bahwa mereka mencarinya dengan sengaja. Ini menyambung ke 72:10, ketika kata untuk arah lurus itu masih berupa kemungkinan yang tidak mereka ketahui. Empat ayat kemudian kemungkinan itu sudah menjadi hasil yang dicapai. Dan yang mengubahnya dari kemungkinan menjadi kenyataan bukan keberuntungan, melainkan penyerahan diri yang diikuti pencarian yang sungguh-sungguh.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini mengulang pembagian yang sudah dilakukan di 72:11, tetapi memakai ukuran lain. Di sana menurut perilaku, di sini menurut kedudukan di hadapan Allah. Kalangan yang sama dipetakan dua kali. Ini mengingatkan bahwa satu kelompok bisa terlihat berbeda tergantung ukuran yang dipakai. Orang yang tampak baik menurut ukuran perbuatan belum tentu berada di sisi yang sama menurut ukuran penyerahan diri, dan surah ini sengaja menyodorkan kedua peta itu berdampingan. Allah tidak memaksa kita memilih salah satunya; Dia memperlihatkan keduanya supaya penilaian kita tidak berhenti di lapisan yang paling mudah dilihat.
- Di 72:11 golongan kedua hanya disebut yang selain itu, tanpa nama. Di sini ia disebut dengan sebutan yang terang, dan di 72:15 disebutkan akibatnya. Perubahan nada itu bukan kelalaian, melainkan urutan yang disusun. Surah bergerak dari pembagian yang berhati-hati menuju keterangan yang tegas. Allah tidak memulai dengan vonis. Penilaian yang keras diletakkan sesudah pembagiannya jelas, dan urutan itu sendiri sudah merupakan pelajaran tentang cara menilai.
- Kata kerja terakhir ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dan berarti mencari dengan teliti setelah menimbang. Yang dinyatakan bukan bahwa mereka kebetulan berada di jalan yang benar, melainkan bahwa mereka mencarinya dengan sengaja. Allah memuji usaha, bukan keberuntungan. Berada di jalan yang benar tanpa pernah memilihnya adalah keadaan yang rapuh. Yang tidak pernah dipilih dengan sadar biasanya juga tidak dipertahankan ketika keadaan mulai memberatkan.
- Kata untuk golongan kedua di ayat ini muncul di 2 ayat saja, keduanya di surah ini. Akarnya punya dua cabang yang berlawanan: satu berarti berlaku adil, satu lagi berarti menyimpang dari keadilan. Bentuk yang dipakai di sini adalah cabang kedua. Kelangkaan dan kegandaan itu membuat kata ini terasa seperti sebutan yang dibuat khusus. Dalam bahasa, satu akar bisa melahirkan dua arah yang bertolak belakang, dan yang menentukan hanya bentuknya. Hal serupa berlaku pada manusia: bekal yang sama bisa membawa seseorang kepada Allah atau menjauhkannya, tergantung ke arah mana ia dipakai.
- Kata penutup ayat ini muncul di 5 ayat di seluruh Al-Qur'an, tiga di antaranya di surah ini. Di 72:10 ia masih berupa kemungkinan yang tidak mereka ketahui. Di sini ia sudah menjadi hasil yang dicapai. Empat ayat memisahkan keduanya. Yang mengubah kemungkinan menjadi kenyataan bukan keberuntungan, melainkan penyerahan diri yang diikuti pencarian sungguh-sungguh. Allah membuka kemungkinan bagi semua, dan menutupnya menjadi kepastian bagi yang bergerak.
- Bentuk untuk yang berserah diri di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan terjemahannya sengaja memakai kata kerja, bukan nama golongan. Sebab yang berbicara adalah jin tentang kalangan mereka sendiri. Menerjemahkannya sebagai nama golongan akan menempelkan sesuatu yang tidak dimaksud. Perbedaan antara sebutan dan perbuatan sering kabur dalam pemakaian sehari-hari. Apakah kita menilai diri dari nama yang kita sandang, atau dari perbuatan yang nama itu seharusnya wakili?