وَأَمَّا الْقَاسِطُونَ فَكَانُوا لِجَهَنَّمَ حَطَبًا
Dan adapun orang-orang yang menyimpang, mereka menjadi bahan bakar Jahanam.”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَأَمَّا الْقَاسِطُونَ فَكَانُوا لِجَهَنَّمَ حَطَبًاwa-ammaa l-qaasithuuna fa-kaanuu li-jahannama hathaban'dan adapun orang-orang yang menyimpang, mereka menjadi bahan bakar Jahanam'
Terjemahan per kata (5 kata)
- وَأَمَّاwa-ammaadan adapun
- الْقَاسِطُونَl-qaasithuunaorang-orang yang menyimpang
- فَكَانُواfa-kaanuumaka mereka menjadi
- لِجَهَنَّمَli-jahannamauntuk Jahanam
- حَطَبًاhathabankayu bakar
Inti bacaan
Konsekuensi tegas bagi yang menyimpang: 'adapun orang-orang yang menyimpang, mereka menjadi bahan bakar Jahanam', kejelasan konsekuensi yang tidak disamarkan, penegasan bahwa pilihan menyimpang memiliki akibat nyata dan serius.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini yang terpendek di surah ini, hanya lima patah, dan sekaligus menutup kutipan panjang yang dibuka di ujung 72:1. Empat belas ayat berisi kesaksian berhenti di sini. Panjang lima patah itu bukan kebetulan. Sesudah rangkaian pengakuan yang berjalan panjang, penutupnya dibuat sangat pendek, dan kependekan itu membuatnya jatuh seperti ketukan terakhir.
Kata (الْقَاسِطُونَ, al-qaasithuuna) diulang dari ayat sebelumnya. Hanya dua ayat di seluruh Al-Qur'an yang memuatnya, dan keduanya berurutan. Pengulangan langsung seperti ini menandai bahwa ayat ini menjelaskan pihak yang baru saja disebut, bukan memperkenalkan pihak baru. Awalan (وَأَمَّا, wa-ammaa) memperkuat hal itu. Penanda tersebut muncul di 28 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan tugasnya memisahkan satu bagian dari bagian yang sudah disebut sebelumnya. Terjemahan 'dan adapun' menahan fungsi pemisah tersebut.
Bentuk (فَكَانُوا, fakaanuu) muncul di 5 ayat: 15:81, 23:48, 37:116, 54:31, dan 72:15. Menarik bahwa di empat ayat lainnya kata ini dipakai untuk menyatakan akibat yang sudah terjadi atas kaum yang mendustakan. Di sini ia dipakai untuk menyatakan akibat yang menanti. Bentuk lampau yang dipakai untuk hal yang belum terjadi adalah cara Al-Qur'an menyatakan kepastian. Yang belum terjadi disebut seolah sudah selesai, sebab kejadiannya tidak diragukan.
Kata (لِجَهَنَّمَ, lijahannama) muncul di 3 ayat: 7:179, 50:30, dan 72:15. Awalannya menandai peruntukan, jadi bunyinya 'untuk Jahanam'. Susunan itu penting. Kalimatnya tidak berkata mereka masuk ke Jahanam, melainkan mereka menjadi sesuatu yang diperuntukkan baginya. Kedudukannya berubah dari pelaku menjadi bahan.
Penutupnya, (حَطَبًا, hathaban), muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Ia berarti kayu bakar. Gambarannya keras dan sengaja dibuat demikian. Yang tadinya membelah diri menjadi jalan-jalan yang berbeda kini disatukan kembali dalam satu kedudukan, dan kedudukan itu bukan sebagai pihak yang memilih melainkan sebagai bahan yang dipakai. Terjemahan 'bahan bakar' dipakai karena paling wajar dibaca dalam bahasa Indonesia, sedangkan aslinya menyebut kayu secara khusus.
Ada satu hal tentang bunyi yang layak dicatat di sini. Seluruh 28 ayat surah ini berakhir dengan tanwin fathah, bunyi 'an' yang panjangnya sama. Tidak ada satu pun yang menyimpang dari pola itu, dan surah sepanjang ini dengan rima tunggal tanpa kecuali tidak banyak. Penutup ayat ini mengikuti pola yang sama. Jadi meski isinya keras dan memutus, bunyinya tetap menyatu dengan seluruh surah. Kekerasan isi tidak dibarengi kekacauan bunyi, dan justru keselarasan itu yang membuatnya terasa seperti kesimpulan, bukan ledakan.
Tafsiran
Ayat penutup rangkaian ini menjelaskan nasib golongan yang menyimpang sebagai bahan bakar Jahanam. Ayat penutup rangkaian ini bekerja dengan kependekannya. Sesudah empat belas ayat kesaksian yang berjalan panjang dan berliku, penutupnya hanya lima patah kata. Ia jatuh seperti ketukan terakhir yang tidak menunggu tanggapan. Tidak ada penjelasan tambahan, tidak ada tawaran, tidak ada seruan. Hanya keterangan tentang apa yang menanti.
Yang paling keras dari ayat ini adalah perubahan kedudukan. Sepanjang rangkaian, mereka digambarkan sebagai pihak yang mendengar, menduga, mencoba, memilih, dan menempuh jalan. Semuanya perbuatan pihak yang berkehendak. Di ayat ini kedudukan itu hilang. Mereka disebut sebagai bahan, bukan sebagai pelaku. Kata Arabnya berarti kayu bakar, dan gambaran itu sengaja dibuat keras. Yang tadinya memilih jalan kini tidak lagi memilih apa pun.
Ada satu kesejajaran yang halus dengan 72:11. Di sana mereka digambarkan terbelah menjadi jalan-jalan yang terpisah, dan kata yang dipakai membawa gambaran kulit yang dibelah menjadi jalur. Di sini yang terbelah itu disatukan kembali, tetapi bukan sebagai kesatuan yang mereka pilih. Mereka disatukan sebagai tumpukan. Kebebasan memilih jalan berakhir pada satu kedudukan yang sama bagi semua yang menyimpang. Dan bentuk kata kerjanya memakai waktu lampau untuk hal yang belum terjadi, cara Al-Qur'an menyatakan bahwa kejadiannya tidak lagi diragukan. Susunan yang sama dipakai di 15:81, 23:48, 37:116, dan 54:31, semuanya tentang akibat yang sudah menimpa mereka yang mendustakan.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini hanya lima patah kata, yang terpendek di surah ini, dan ia menutup empat belas ayat kesaksian. Kependekan itu bekerja. Ia jatuh seperti ketukan terakhir yang tidak menunggu tanggapan. Tidak ada penjelasan tambahan, tidak ada tawaran, tidak ada seruan. Allah menutup bagian ini dengan keterangan yang tidak menyisakan ruang tawar-menawar. Dalam berbicara, yang paling menentukan sering bukan kalimat yang paling panjang, melainkan yang paling pendek dan diletakkan paling akhir.
- Sepanjang rangkaian, mereka digambarkan mendengar, menduga, mencoba, memilih, dan menempuh jalan. Semuanya perbuatan pihak yang berkehendak. Di ayat ini kedudukan itu hilang dan mereka disebut sebagai bahan. Kata Arabnya berarti kayu bakar, dan gambarannya sengaja dibuat keras. Perubahan kedudukan inilah hukuman yang sebenarnya. Yang paling ditakuti bukan panasnya, melainkan hilangnya kemampuan memilih yang selama ini Allah berikan dan selama ini dipakai justru untuk menolak. Kehendak yang tidak dipakai untuk tunduk akhirnya dicabut seluruhnya.
- Di 72:11 mereka digambarkan terbelah menjadi jalan-jalan yang terpisah, dengan kata yang membawa gambaran kulit dibelah menjadi jalur. Di sini yang terbelah itu disatukan kembali, tetapi bukan sebagai kesatuan yang mereka pilih. Mereka disatukan sebagai tumpukan. Kebebasan memilih jalan berakhir pada satu kedudukan yang sama bagi semua yang menyimpang. Keragaman yang dibanggakan di dunia tidak selalu bertahan sampai ujung; sebagian bermuara pada tempat yang sama persis.
- Kata kerja di ayat ini memakai bentuk lampau, padahal yang dibicarakan belum terjadi. Susunan yang sama dipakai di 15:81, 23:48, 37:116, dan 54:31, semuanya tentang akibat yang sudah menimpa mereka yang mendustakan. Ini cara Al-Qur'an menyatakan kepastian. Yang belum terjadi disebut seolah sudah selesai, sebab kejadiannya tidak diragukan. Bagi Allah, jarak antara yang dijanjikan dan yang terlaksana bukan jarak yang perlu diberi tanda dalam tata bahasa.
- Awalan pada kata untuk Jahanam di ayat ini menandai peruntukan, sehingga bunyinya untuk Jahanam. Kalimatnya tidak berkata mereka masuk ke sana, melainkan mereka menjadi sesuatu yang diperuntukkan baginya. Perbedaan tata bahasa itu mengubah gambarannya. Masuk masih menyisakan gagasan tentang tempat yang dimasuki. Diperuntukkan menghapus jarak itu sama sekali. Apakah kita pernah berhenti memikirkan untuk apa sebenarnya hidup kita sedang disiapkan?
- Ayat ini menutup kutipan panjang yang dibuka di ujung 72:1. Empat belas ayat kesaksian berhenti di sini, dan berhentinya tanpa kalimat pengantar apa pun. Tidak ada penutup yang melembutkan. Sesudah ini suara berganti, dan yang berbicara bukan lagi mereka. Cara Allah menyudahi sebuah bagian kadang setajam ini. Ketiadaan penutup yang lembut membuat kalimat terakhir menggantung lebih lama di ingatan. Hiasan penutup sering justru meredam apa yang seharusnya tinggal mengganggu.