لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَمَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا
Agar Kami menguji mereka dengannya. Dan siapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya Dia memasukkannya ke azab yang berat.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِli-naftinahum fiihiagar Kami menguji mereka dengannya
- وَمَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًاwa-man yu'ridh 'an dzikri rabbihi yasluk-hu 'adzaaban sha'adandan siapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya Dia memasukkannya ke azab yang berat
Terjemahan per kata (10 kata)
- لِنَفْتِنَهُمْli-naftinahumagar Kami menguji mereka
- فِيهِfiihidi dalamnya
- وَمَنْwa-mandan orang yang
- يُعْرِضْyu'ridhberpaling
- عَنْ'andari
- ذِكْرِdzikriperingatan
- رَبِّهِrabbihiTuhannya
- يَسْلُكْهُyasluk-humemasukkannya
- عَذَابًا'adzaabanazab
- صَعَدًاsha'adanyang berat
Inti bacaan
Fungsi ganda dari ujian kelimpahan: 'agar Kami menguji mereka dengannya; dan siapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya Dia memasukkannya ke azab yang berat', pengakuan bahwa bahkan berkah bisa menjadi ujian, respons terhadap kelimpahan (bersyukur atau lalai) menentukan konsekuensi berikutnya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini memuat tiga kata yang masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (يُعْرِضْ, yu'ridh), (يَسْلُكْهُ, yaslukhu), dan (صَعَدًا, sha'adan). Yang paling penting di antaranya adalah yang kedua, sebab akar yang sama muncul lagi di 72:27 dalam bentuk tanpa akhiran. Dua pemakaian itu berlawanan arah. Di sini akar tersebut dipakai untuk memasukkan orang ke azab. Di sana ia dipakai untuk menempatkan penjaga di sekeliling rasul. Satu akar, dua tindakan: menjerumuskan dan melindungi.
Bentuk (لِنَفْتِنَهُمْ, linaftinahum) muncul di 2 ayat: 20:131 dan 72:17. Huruf pertamanya menandai tujuan, sehingga bunyinya 'agar Kami menguji mereka'. Ini menutup kemungkinan membaca ayat sebelumnya sebagai hadiah yang menyelesaikan perkara. Air yang melimpah itu diberikan dengan tujuan, dan tujuannya adalah ujian. Menarik bahwa di 20:131 kata yang sama juga muncul dalam kalimat tentang kenikmatan yang diberikan kepada sebagian orang. Dua ayat itu sama-sama menempatkan pemberian sebagai alat uji, bukan sebagai tanda perkenan.
Kata (صَعَدًا, sha'adan) berakar pada perbuatan mendaki, naik ke tempat tinggi dengan susah payah. Sebagai sifat bagi azab, ia menggambarkan siksaan yang memberatkan seperti tanjakan yang tidak berujung. Terjemahan 'azab yang berat' dipakai karena wajar dibaca, dengan catatan bahwa aslinya membawa gambaran pendakian, bukan sekadar bobot. Gambaran itu tepat karena mendaki menuntut tenaga terus-menerus tanpa jeda.
Bentuk (يُعْرِضْ, yu'ridh) berarti berpaling, memalingkan wajah ke arah lain. Ia bukan 'menolak' dan bukan 'mengingkari'. Perbedaannya penting. Menolak menuntut sikap yang jelas, sedangkan berpaling cukup dengan tidak menghadap. Yang diancam di sini bukan penentangan yang terang-terangan, melainkan pengabaian yang tenang. Terjemahan 'berpaling' menahan gambaran wajah yang dialihkan itu.
Sasarannya juga perlu dicatat: yang dipalingi bukan Allah secara langsung, melainkan peringatan Tuhannya. Susunan itu menempatkan perkaranya pada perlakuan terhadap pesan, bukan pada pengingkaran terhadap pengirimnya. Orang bisa mengakui Allah dan tetap memalingkan wajah dari peringatan-Nya, dan justru keadaan itulah yang dibicarakan ayat ini.
Satu catatan tentang perpindahan pelaku di ayat ini. Paruh pertama memakai penanda jamak yang menunjuk Allah, sehingga bunyinya 'agar Kami menguji'. Paruh keduanya berpindah ke bentuk tunggal pihak ketiga, sehingga bunyinya 'niscaya Dia memasukkannya'. Perpindahan dari 'Kami' ke 'Dia' dalam satu ayat adalah susunan yang lazim dalam Al-Qur'an dan tidak boleh diseragamkan dalam terjemahan. Bentuk jamak menandai keagungan dan keterlibatan penuh, sedangkan bentuk tunggal menandai ketegasan tindakan perorangan. Menyeragamkan keduanya akan menghapus perbedaan nada yang sengaja dipasang.
Tafsiran
Ayat ini menjelaskan berkah tersebut sebagai ujian, dengan ancaman bagi yang berpaling. Ayat ini adalah kunci yang membuka ayat sebelumnya. Tanpa ayat ini, janji air yang melimpah di 72:16 akan terbaca sebagai hadiah yang menutup perkara. Dengan ayat ini, pemberian itu berubah kedudukannya menjadi alat uji. Huruf pertama pada kata kerjanya menandai tujuan, dan tujuan itu disebut terang-terangan.
Yang diancam di paruh kedua bukan penentangan, melainkan pengabaian. Kata kerjanya berarti berpaling, memalingkan wajah, bukan menolak atau mengingkari. Perbedaan itu menentukan siapa yang sebenarnya sedang dibicarakan. Menolak menuntut sikap yang jelas dan biasanya disertai alasan. Berpaling tidak menuntut apa pun; cukup dengan tidak menghadap. Dan yang dipalingi bukan Allah secara langsung, melainkan peringatan dari Tuhannya. Orang bisa mengakui Allah sepenuhnya dan tetap memalingkan wajah dari peringatan-Nya.
Ada satu susunan halus yang menghubungkan ayat ini dengan penutup surah. Kata kerja yang dipakai untuk memasukkan ke azab berakar sama dengan kata di 72:27 yang dipakai untuk menempatkan penjaga di depan dan belakang rasul. Satu akar untuk dua tindakan yang berlawanan: menjerumuskan dan mengawal. Susunan seperti ini sudah muncul sebelumnya di surah ini, ketika kata untuk pengintai di 72:9 muncul lagi di 72:27 dengan tugas melindungi. Jadi dua kali dalam surah pendek ini, satu kata yang sama membawa dua nasib yang berlawanan, dan yang menentukan bukan kata itu melainkan ke arah mana wajah seseorang menghadap.
Renungan dan Hikmah
- Tanpa ayat ini, janji air melimpah di 72:16 akan terbaca sebagai hadiah yang menutup perkara. Huruf pertama pada kata kerjanya menandai tujuan, dan tujuan itu disebut terang-terangan: ujian. Allah menerangkan maksud pemberian-Nya, bukan membiarkan penerimanya menebak. Kelapangan yang datang tanpa keterangan mudah dibaca sebagai tanda perkenan yang final. Ayat ini menutup pembacaan itu, dan menutupnya persis di ayat berikutnya sehingga tidak ada jarak untuk salah paham.
- Kata kerja di paruh kedua ayat ini berarti memalingkan wajah, bukan menolak atau mengingkari. Perbedaannya menentukan siapa yang sedang dibicarakan. Menolak menuntut sikap yang jelas dan biasanya disertai alasan. Berpaling tidak menuntut apa pun; cukup dengan tidak menghadap. Yang diancam Allah di sini adalah pengabaian yang tenang, bukan penentangan yang keras. Berapa banyak peringatan yang tidak pernah kita bantah, hanya kita lewati tanpa pernah benar-benar kita hadapi?
- Sasaran kata kerja di ayat ini bukan Allah secara langsung, melainkan peringatan Tuhannya. Susunan itu menempatkan perkaranya pada perlakuan terhadap pesan, bukan pada pengingkaran terhadap pengirimnya. Orang bisa mengakui Allah sepenuhnya dan tetap memalingkan wajah dari peringatan-Nya. Keadaan itulah yang dibicarakan di sini. Pengakuan yang tidak disertai kesediaan mendengar adalah bentuk penolakan yang paling nyaman, sebab ia tidak menuntut siapa pun mengubah apa yang diucapkannya.
- Kata kerja untuk memasukkan ke azab di ayat ini berakar sama dengan kata di 72:27 yang menempatkan penjaga di depan dan belakang rasul. Satu akar, dua tindakan berlawanan. Pola serupa sudah muncul di 72:9 dan 72:27 dengan kata untuk pengintai. Dua kali dalam surah pendek ini, kata yang sama membawa dua nasib yang berbeda. Yang menentukan bukan kata itu, melainkan ke arah mana wajah seseorang sedang menghadap ketika Allah bertindak.
- Kata penutup ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dan berakar pada perbuatan mendaki dengan susah payah. Sebagai sifat bagi azab, ia menggambarkan siksaan yang memberatkan seperti tanjakan tanpa ujung. Gambaran itu tepat, sebab mendaki menuntut tenaga terus-menerus tanpa jeda. Allah memilih gambaran yang bisa dirasakan tubuh, bukan angka atau ukuran. Yang paling melelahkan bukan beratnya satu langkah, melainkan tidak adanya titik di mana kita boleh berhenti. Azab yang digambarkan begini menyerang ketahanan, bukan sekadar tubuh.
- Kata untuk menguji di ayat ini muncul di 2 ayat saja, dan yang satu lagi ada di 20:131, juga dalam kalimat tentang kenikmatan yang diberikan kepada sebagian orang. Dua ayat itu sama-sama menempatkan pemberian sebagai alat uji, bukan sebagai tanda perkenan. Kesamaan itu bukan kebetulan. Allah berulang kali memperingatkan bahwa kelapangan bisa menjadi bentuk ujian yang paling sulit dikenali, sebab ia tidak terasa seperti ujian sama sekali.