وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا
Dan bahwa ketika hamba Allah berdiri menyeru-Nya, mereka hampir-hampir berdesakan mengerumuninya.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًاwa-annahu lammaa qaama 'abdu llaahi yad'uuhu kaaduu yakuunuuna 'alayhi libadandan bahwa ketika hamba Allah berdiri menyeru-Nya, mereka hampir-hampir berdesakan mengerumuninya
Terjemahan per kata (10 kata)
- وَأَنَّهُwa-annahudan sesungguhnya Dia
- لَمَّاlammaaketika
- قَامَqaamaberdiri
- عَبْدُ'abduhamba
- اللَّهِllaahiAllah
- يَدْعُوهُyad'uuhumenyerunya
- كَادُواkaaduumereka hampir
- يَكُونُونَyakuunuunamereka menjadi
- عَلَيْهِ'alayhiatasnya
- لِبَدًاlibadanberkerumun
Inti bacaan
Reaksi berlebihan terhadap ibadah murni: 'ketika hamba Allah berdiri menyeru-Nya, mereka hampir-hampir berdesakan mengerumuninya', gambaran ketertarikan intens (baik positif maupun mengganggu) terhadap tindakan ibadah yang tulus, pengakuan bahwa komitmen spiritual yang jelas bisa menarik perhatian besar dari sekitarnya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini memuat empat kata yang masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (قَامَ, qaama), (يَدْعُوهُ, yad'uuhu), (يَكُونُونَ, yakuunuuna), dan (لِبَدًا, libadan). Empat dari sepuluh patah kata, sebuah kepadatan yang menempatkan ayat ini di jajaran paling padat di surah ini bersama 72:8 dan 72:9.
Susunan (عَبْدُ اللَّهِ, 'abdu allaahi) perlu perhatian khusus. Bentuk (عَبْدُ, 'abdu) muncul di 2 ayat: 19:30 dan 72:19. Di 19:30 susunan yang sama diucapkan oleh Isa tentang dirinya sendiri, 'sesungguhnya aku hamba Allah'. Jadi dua ayat yang memuat bentuk ini sama-sama menempatkan utusan sebagai hamba, bukan sebagai sesuatu yang lebih. Kesejajaran itu tepat mengenai pokok yang dijaga surah ini sejak awal. Yang diperintahkan berdiri menyeru di sini disebut dengan sebutan yang paling merendah, bukan dengan gelar yang meninggikan.
Kata (لِبَدًا, libadan) berakar pada sesuatu yang menempel dan menumpuk sampai menjadi satu gumpalan padat. Gambarannya bukan sekadar 'banyak', melainkan berdesakan sampai menyatu. Terjemahan 'berdesakan mengerumuninya' berusaha menahan dua unsur itu sekaligus: kepadatan dan pengerumunan. Kata ini menutup ayat dengan bunyi yang sama seperti seluruh ayat surah ini.
Bentuk (كَادُوا, kaaduu) muncul di 4 ayat: 2:71, 17:73, 17:76, dan 72:19. Ia menandai sesuatu yang hampir terjadi tetapi tidak jadi terjadi. Terjemahan 'hampir-hampir' menahan sifat nyaris itu. Perlu dicatat, kata ini selalu menyisakan kemungkinan yang tidak terlaksana, sehingga ayat ini tidak menyatakan bahwa kerumunan itu benar-benar menindih, melainkan bahwa keadaannya nyaris sampai ke sana.
Ayat ini juga menyimpan kekaburan yang disengaja tentang siapa 'mereka' itu. Teks tidak menyebutkan. Sebagian pembaca memahaminya sebagai jin yang datang mendengar, sebagian lain sebagai manusia yang menyaksikan. Terjemahan tidak memutuskan, sebab teks memang tidak memutuskan. Menambahkan keterangan di dalam kurung untuk menutup kekaburan itu berarti memilihkan satu bacaan yang sengaja dibiarkan terbuka.
Susunan waktunya juga perlu dijaga. Ayat ini dibuka penanda yang berarti 'ketika', yang menandai satu peristiwa yang sudah terjadi pada satu saat tertentu, bukan kebiasaan yang berulang. Penanda yang sama muncul lagi di 72:13 dalam kalimat tentang saat mereka mendengar petunjuk. Dua ayat itu sama-sama menunjuk satu titik waktu yang menentukan. Terjemahan 'ketika' menahan sifat sesaat tersebut, dan menerjemahkannya 'setiap kali' akan mengubah adegan tunggal menjadi kejadian yang berulang.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan kerumunan saat Nabi beribadah. Ayat ini melukiskan satu pemandangan pendek yang keras kontrasnya. Di satu sisi ada seorang yang berdiri menyeru Tuhannya, disebut dengan sebutan paling merendah, yaitu hamba Allah. Di sisi lain ada kerumunan yang berdesakan sampai nyaris menindih. Yang satu menghadap ke atas, yang banyak berhimpit di sekelilingnya.
Sebutan yang dipakai untuk sang penyeru sangat menentukan. Bentuk itu hanya muncul di dua ayat dalam seluruh Al-Qur'an, dan yang satu lagi ada di 19:30, diucapkan Isa tentang dirinya sendiri. Dua ayat itu sama-sama menempatkan utusan sebagai hamba. Ini bukan kebetulan dalam surah yang berulang kali menarik perhatian dari perantara kepada Yang mengutus. Di tengah pemandangan yang paling mungkin melahirkan pemujaan terhadap seseorang, teks justru memilih sebutan yang paling merendahkannya.
Kekaburan tentang siapa yang berdesakan itu juga bermakna. Teks tidak menyebutkan, dan terjemahan tidak boleh memutuskan. Yang jelas hanyalah gambarannya: satu orang berdiri menyeru, banyak pihak berhimpit di sekitarnya. Kata kerja penutupnya menandai sesuatu yang hampir terjadi tetapi tidak jadi, sehingga yang dilukiskan adalah keadaan nyaris, bukan kejadian yang selesai. Dan ayat berikutnya menjawab pemandangan ini dengan perintah kepada sang penyeru untuk menegaskan bahwa ia hanya menyeru Tuhannya. Jadi jawaban atas kerumunan bukan penolakan terhadap orang banyak, melainkan penegasan ulang tentang kepada siapa seruan itu sebenarnya ditujukan.
Renungan dan Hikmah
- Yang berdiri menyeru disebut dengan sebutan paling merendah, yaitu hamba Allah. Bentuk itu muncul di 2 ayat saja, dan yang satu lagi ada di 19:30, diucapkan Isa tentang dirinya sendiri. Dua ayat sama-sama menempatkan utusan sebagai hamba. Di tengah pemandangan yang paling mungkin melahirkan pemujaan terhadap seseorang, teks justru memilih sebutan yang menempatkannya paling rendah. Penghormatan yang tidak diimbangi kejelasan kedudukan adalah pintu masuk yang paling halus bagi kekeliruan.
- Ayat ini melukiskan kontras yang tajam dalam satu pemandangan pendek. Satu orang berdiri menyeru Tuhannya, dan di sekelilingnya kerumunan berdesakan sampai nyaris menindih. Yang satu menghadap ke atas, yang banyak berhimpit ke samping. Allah merekam kedua arah itu dalam satu kalimat. Kerumunan di sekitar orang yang beribadah bukan tanda keberhasilan ibadahnya, dan surah ini justru menjawab kerumunan itu dengan penegasan ulang tentang kepada siapa seruan ditujukan.
- Teks tidak menyebutkan siapa yang berdesakan itu. Sebagian pembaca memahaminya sebagai jin, sebagian lain sebagai manusia. Terjemahan tidak memutuskan, sebab teks memang tidak memutuskan. Menambahkan keterangan dalam kurung untuk menutup kekaburan itu berarti memilihkan satu bacaan yang sengaja dibiarkan terbuka oleh Allah. Kejujuran dalam menerjemahkan kadang berarti menyerahkan kembali kebingungan kepada pembaca, bukan meredamnya dengan keterangan yang tidak ada dasarnya.
- Kata kerja di ayat ini menandai sesuatu yang nyaris terjadi tetapi tidak jadi. Yang dilukiskan adalah keadaan hampir, bukan kejadian yang selesai. Perbedaan itu perlu dijaga, sebab ayat ini tidak menyatakan kerumunan itu benar-benar menindih. Allah melukiskan ketegangan tanpa menyelesaikannya. Adegan yang dibiarkan menggantung di titik nyaris justru lebih terasa daripada adegan yang diselesaikan, sebab pembaca ikut menahan napas di tempat yang sama.
- Ayat ini memuat empat kata yang masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dari sepuluh patah penyusunnya. Kepadatan itu menempatkannya di jajaran paling padat di surah ini bersama 72:8 dan 72:9. Ketiga ayat itu sama-sama melukiskan adegan, bukan menyampaikan aturan. Allah memberi adegan perbendaharaan kata yang khusus. Bagian yang bercerita memakai bahasa yang tidak dipakai di tempat lain, sedangkan bagian yang mengatur memakai kata yang lebih umum dan berulang.
- Kata penutup ayat ini berakar pada sesuatu yang menempel dan menumpuk sampai menjadi gumpalan padat. Gambarannya bukan sekadar banyak, melainkan berdesakan sampai menyatu. Allah memilih kata yang membuat kerumunan itu terasa sesak, bukan sekadar ramai. Gambaran seperti ini menyimpan peringatan yang halus. Kerumunan yang mengelilingi seseorang bisa berubah dari penghormatan menjadi tekanan, dan batasnya sering tidak terlihat oleh yang berada di tengahnya. Pernahkah kita bertanya apakah kehadiran kita di sekitar seseorang sedang menolongnya atau justru menghimpitnya?