قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا

Katakanlah, “Sesungguhnya aku tidak menguasai mudarat dan tidak kebaikan bagi kalian.”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًاqul innii laa amliku lakum dharran wa-laa rasyadankatakanlah, 'sesungguhnya aku tidak menguasai mudarat dan tidak kebaikan bagi kalian'

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. قُلْqulkatakanlah
  2. إِنِّيinniisesungguhnya aku
  3. لَاlaatidak
  4. أَمْلِكُamlikuaku memiliki
  5. لَكُمْlakumbagi kalian
  6. ضَرًّاdharranmudarat
  7. وَلَاwa-laadan tidak pula
  8. رَشَدًاrasyadankebenaran

Inti bacaan

Pengakuan keterbatasan kekuasaan personal: 'sesungguhnya aku tidak menguasai mudarat dan tidak (pula) kebaikan bagi kalian', kerendahan hati yang eksplisit tentang batas kemampuan penyampai pesan, bukan klaim kekuatan supernatural pribadi.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(pula)' tidak dipakai.

Bentuk (أَمْلِكُ, amliku) muncul di 5 ayat: 5:25, 7:188, 10:49, 60:4, dan 72:21. Perbandingan kelimanya menunjukkan sesuatu. Di 5:25, 7:188, dan 10:49 kalimatnya berbunyi 'aku tidak menguasai bagi diriku', jadi yang dibicarakan keterbatasan atas diri sendiri. Di 60:4 Ibrahim mengatakannya kepada satu orang, ayahnya. Hanya di ayat ini kata itu disusul sapaan jamak 'bagi kalian', sehingga keterbatasan tersebut diumumkan kepada orang banyak sekaligus. Perbedaan sasaran itu memindahkan seluruh arah kalimat.

Kata kerja (أَمْلِكُ, amliku) berakar pada kepemilikan dan penguasaan. Ia bukan 'tidak sanggup' dan bukan 'tidak mampu'. Yang disangkal bukan kekuatan, melainkan kewenangan. Terjemahan 'tidak menguasai' menahan perbedaan itu. Menerjemahkannya 'tidak kuasa' akan menggeser maknanya ke arah kemampuan, padahal yang dinyatakan adalah bahwa hal itu memang bukan miliknya untuk diberikan.

Pasangan yang disebut juga tidak biasa. Kata (ضَرًّا, dharran) muncul di 9 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan lawan yang lazim mendampinginya adalah kata yang berarti manfaat. Begitulah susunannya di 7:188 dan 10:49. Tetapi di sini pasangannya adalah kata yang berarti arah yang lurus, kata yang sama dengan penutup 72:10 dan 72:14. Jadi susunan yang biasa berbunyi 'mudarat dan manfaat' di sini berbunyi 'mudarat dan kebaikan yang menuntun'. Pergeseran itu menaikkan taruhannya dari untung rugi menjadi soal arah hidup.

Ayat ini juga salah satu dari empat ayat surah ini yang tidak memuat satu pun kata sekali pakai, bersama 72:2, 72:20, dan 72:25. Seluruh kosakatanya lazim dan berulang di banyak tempat. Sekali lagi terlihat pola yang sama: bagian yang menyatakan pendirian pokok memakai kata yang paling dikenal, sedangkan bagian yang melukiskan peristiwa memakai kata yang tidak dipakai di tempat lain.

Sapaan 'kalian' berbentuk jamak dan ditujukan kepada orang banyak yang sedang mendengar. Ini melanjutkan sapaan langsung yang sudah muncul di 72:7 dan 72:18. Tiga kali dalam surah ini pembaca ditunjuk secara langsung, dan yang ketiga inilah yang paling menghunjam, sebab isinya adalah pemberitahuan bahwa orang yang mereka kerumuni tidak memegang apa pun untuk mereka.

Perlu ditambahkan satu catatan tentang susunan penyangkalannya. Penyangkal berdiri satu kali di depan kata kerja, lalu diulang sekali lagi di depan bagian kedua. Bahasa Arab sebenarnya bisa memakai satu penyangkal saja untuk menutupi keduanya, seperti yang dilakukan di 72:3. Di sini penyangkal itu diulang, dan pengulangan tersebut memisahkan dua hal yang disebut supaya masing-masing berdiri sendiri. Terjemahan 'tidak menguasai mudarat dan tidak kebaikan' menahan pengulangan itu, sebab meleburnya menjadi satu penyangkalan akan menghapus penegasan yang sengaja dipasang pada bagian kedua.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan keterbatasan Nabi, bukan pemilik mudarat maupun manfaat. Ayat ini menyelesaikan apa yang dimulai di 72:19. Di sana digambarkan kerumunan yang berdesakan sampai nyaris menindih. Di 72:20 sang penyeru diperintahkan menegaskan kepada siapa ia menyeru. Di sini ia diperintahkan menegaskan sesuatu yang lebih keras: bahwa ia tidak memegang apa pun bagi mereka yang berkerumun itu. Urutan tiga ayat tersebut bergerak dari gambaran, ke penegasan arah, lalu ke pengakuan batas.

Yang disangkal bukan kemampuan, melainkan kewenangan. Kata kerjanya berakar pada kepemilikan. Jadi bunyinya bukan 'aku tidak sanggup menolong kalian', melainkan 'hal itu memang bukan milikku untuk diberikan'. Perbedaan ini penting sebab yang pertama masih menyisakan gagasan tentang usaha yang kurang, sedangkan yang kedua menutup pintu itu sama sekali. Tidak ada usaha lebih keras yang bisa mengubah keadaan, sebab persoalannya bukan pada tenaga melainkan pada kepemilikan.

Pasangan yang disebut mengejutkan kalau dibandingkan dengan ayat sejenis. Di 7:188 dan 10:49 lawan dari mudarat adalah manfaat, susunan yang lazim dan mudah ditebak. Di sini lawannya adalah kata yang berarti arah yang lurus, kata yang sama dengan penutup 72:10 dan 72:14. Pergeseran itu menaikkan taruhannya. Yang dinyatakan bukan hanya bahwa sang penyeru tidak bisa mendatangkan untung atau menolak rugi, melainkan bahwa ia bahkan tidak memegang arah hidup orang lain. Petunjuk pun bukan miliknya untuk dibagikan. Ini menutup satu jalan penghormatan yang paling halus, yaitu anggapan bahwa kedekatan dengan seseorang yang saleh dengan sendirinya menjamin lurusnya arah kita.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja di ayat ini berakar pada kepemilikan, bukan kemampuan. Bunyinya bukan aku tidak sanggup menolong kalian, melainkan hal itu memang bukan milikku untuk diberikan. Perbedaan ini menutup pintu yang masih terbuka pada kalimat pertama. Usaha yang lebih keras tidak mengubah apa pun ketika persoalannya bukan pada tenaga. Allah menempatkan batas itu pada kewenangan, dan batas semacam itu tidak bisa ditembus oleh kesungguhan siapa pun. Menuntut lebih dari seseorang yang memang tidak memegang wewenangnya hanya melahirkan kekecewaan yang salah alamat.
  • Kata kerja ini juga dipakai di 7:188 dan 10:49, tetapi di sana kalimatnya berbunyi bagi diriku. Di sini berbunyi bagi kalian. Perbedaan sasaran itu memindahkan seluruh arah kalimat, dari keterbatasan atas diri sendiri menjadi keterbatasan atas orang lain. Dari lima ayat yang memuat kata kerja ini, hanya di sini sasarannya berbentuk jamak. Allah menyusun kalimat ini khusus untuk keadaan ketika orang banyak menaruh harapan pada seseorang yang tidak pernah menjanjikan apa-apa. Harapan yang tidak pernah dijanjikan tetap terasa seperti janji bagi yang menaruhnya.
  • Lawan yang biasa mendampingi kata mudarat adalah manfaat, dan begitulah susunannya di 7:188 dan 10:49. Di sini pasangannya adalah kata yang berarti arah yang lurus, kata yang sama dengan penutup 72:10 dan 72:14. Pergeseran itu menaikkan taruhannya dari untung rugi menjadi soal arah hidup. Yang dinyatakan bukan hanya bahwa sang penyeru tidak bisa mendatangkan keuntungan, melainkan bahwa petunjuk pun bukan miliknya untuk dibagikan kepada siapa pun.
  • Ada anggapan yang sulit dikenali karena terlihat saleh, yaitu bahwa kedekatan dengan orang yang saleh dengan sendirinya menjamin lurusnya arah kita. Ayat ini menutupnya. Bahkan yang menerima wahyu diperintahkan menyatakan bahwa arah lurus itu bukan miliknya untuk diberikan. Apakah kita pernah diam-diam merasa aman karena berada dekat dengan orang yang kita anggap saleh, seolah kelurusan bisa menular lewat kedekatan?
  • Sapaan kalian di ayat ini berbentuk jamak dan ditujukan kepada orang banyak yang sedang mendengar. Ini melanjutkan sapaan langsung yang sudah muncul di 72:7 dan 72:18. Tiga kali dalam surah ini pembaca ditunjuk secara langsung, dan yang ketiga paling menghunjam. Isinya adalah pemberitahuan bahwa orang yang mereka kerumuni tidak memegang apa pun bagi mereka. Allah tidak menyampaikan hal itu lewat pihak ketiga, melainkan lewat mulut orang yang dikerumuni itu sendiri.
  • Ayat ini salah satu dari empat ayat surah ini yang tidak memuat satu pun kata sekali pakai, bersama 72:2, 72:20, dan 72:25. Seluruh kosakatanya lazim. Pola yang sama terlihat berulang di surah ini: bagian yang menyatakan pendirian pokok memakai kata yang paling dikenal, sedangkan bagian yang melukiskan peristiwa memakai kata yang tidak dipakai di tempat lain. Yang paling menentukan justru disampaikan dengan bahasa yang paling sederhana.