قُلْ إِنِّي لَنْ يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا
Katakanlah, “Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dapat melindungiku dari Allah, dan aku tidak akan mendapati tempat berlindung selain-Nya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- قُلْ إِنِّي لَنْ يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًاqul innii lan yujiiranii mina llaahi ahadun wa-lan ajida min duunihi multahadankatakanlah, 'sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dapat melindungiku dari Allah, dan aku tidak akan mendapati tempat berlindung selain-Nya'
Terjemahan per kata (12 kata)
- قُلْqulkatakanlah
- إِنِّيinniisesungguhnya aku
- لَنْlantidak akan
- يُجِيرَنِيyujiiraniimelindungiku
- مِنَminadari
- اللَّهِllaahiAllah
- أَحَدٌahadunseorang pun
- وَلَنْwa-landan tidak akan
- أَجِدَajidaaku mendapati
- مِنْmindari
- دُونِهِduunihiselain-Nya
- مُلْتَحَدًاmultahadantempat berlindung
Inti bacaan
Ketergantungan total pada satu sumber perlindungan: 'tidak ada seorang pun yang dapat melindungiku dari Allah, dan aku tidak akan mendapati tempat berlindung selain-Nya', pengakuan bahwa bahkan penyampai wahyu sekalipun sepenuhnya bergantung pada perlindungan yang sama seperti yang lain, tidak ada pengecualian status istimewa dari akuntabilitas.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا, min duunihi multahadan) muncul di 2 ayat: 18:27 dan 72:22. Kedua ayat itu nyaris kembar. Di 18:27 bunyinya 'engkau tidak akan menemukan tempat berlindung selain Dia', sedangkan di sini 'aku tidak akan mendapati tempat berlindung selain-Nya'. Perbedaannya hanya pada satu huruf awal kata kerjanya, yang mengubah pelakunya dari 'engkau' menjadi 'aku'. Di ayat itu Nabi diberi tahu; di ayat ini Nabi sendiri yang mengucapkannya. Apa yang diterima sebagai keterangan kini dinyatakan sebagai pengakuan.
Bentuk (أَجِدَ, ajida) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Sepasang dengannya, (يُجِيرَنِي, yujiiranii) juga muncul 1 kali. Yang kedua memuat akhiran yang berarti 'aku' sebagai penerima, sehingga bunyinya 'melindungiku'. Akarnya berkaitan dengan memberi perlindungan kepada orang yang terdesak, semacam suaka bagi yang dikejar. Kata itu sekeluarga dengan kata di 72:6 tentang manusia yang berlindung kepada jin, meski bentuknya berbeda. Jadi surah ini menyebut perbuatan berlindung dua kali: sekali sebagai kekeliruan orang lain, sekali sebagai pengakuan bahwa tidak ada pemberi suaka selain Allah.
Kata (مُلْتَحَدًا, multahadan) berakar pada perbuatan menyimpang ke samping untuk berlindung, seperti orang yang membelok mencari tempat teduh. Gambarannya bukan benteng yang kokoh, melainkan tempat berkelit. Terjemahan 'tempat berlindung' dipakai karena wajar dibaca, dengan catatan bahwa aslinya membawa gambaran belokan, bukan pertahanan.
Partikel (وَلَنْ, walan) yang membuka bagian kedua muncul di 22 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan tiga di antaranya berada di surah ini: 72:2, 72:12, dan 72:22. Ketiganya menyangkal untuk masa depan, dan ketiganya diucapkan sebagai pengakuan atau janji. Di 72:2 jin berjanji tidak akan menyekutukan. Di 72:12 mereka mengakui tidak akan bisa lolos. Di sini sang penerima wahyu mengakui tidak akan mendapati tempat berlindung selain Allah. Tiga pengakuan dari dua pihak yang berbeda, memakai partikel yang sama.
Ayat ini juga membuka kutipan yang baru ditutup di ujung 72:23. Dua ayat itu satu kalimat, dan tanda kutipnya tidak boleh dipasang di akhir ayat ini. Memisahkannya akan memutus hubungan antara pengakuan tentang ketiadaan perlindungan dan pengecualian yang menyusul sesudahnya.
Susunan (مِنْ دُونِهِ, min duunihi) juga perlu dijelaskan. Ia terdiri atas kata depan yang berarti 'dari' dan kata yang berarti 'selain' atau 'di bawah', ditambah akhiran kepemilikan. Gabungan itu tidak sekadar berarti 'selain Dia', melainkan membawa gambaran tentang yang berada di bawah kedudukan-Nya. Bentuk (دُونِهِ, duunihi) muncul di 37 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan hampir semuanya dalam kalimat yang menolak menjadikan sesuatu sebagai sandaran. Kehadirannya di sini menempatkan pengakuan Nabi dalam barisan panjang penolakan yang sama.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan Nabi sendiri tak berdaya melindungi diri kecuali dengan izin Allah. Ayat ini adalah puncak dari rangkaian pengecilan kedudukan yang berjalan sejak 72:20. Mula-mula ia diperintahkan menegaskan bahwa ia hanya menyeru Tuhannya. Lalu bahwa ia tidak memegang apa pun bagi orang lain. Di sini ia menyatakan bahwa dirinya sendiri pun tidak punya pelindung selain Allah. Jadi bukan hanya tidak bisa melindungi orang lain; ia sendiri tidak terlindungi kecuali oleh Allah.
Kesejajarannya dengan 18:27 sangat rapi. Di sana kalimat yang hampir sama disampaikan kepada Nabi sebagai keterangan. Di sini ia diucapkan olehnya sebagai pengakuan. Perbedaannya hanya satu huruf pada kata kerjanya. Perpindahan dari 'engkau tidak akan menemukan' menjadi 'aku tidak akan mendapati' adalah perpindahan dari menerima pelajaran menjadi mengakuinya di depan umum. Yang diketahui berubah menjadi yang dinyatakan.
Ada hubungan yang halus dengan 72:6. Di ayat itu disebutkan manusia yang berlindung kepada jin dan justru bertambah bebannya. Kata kerja untuk melindungi di ayat ini sekeluarga dengan kata di sana. Jadi surah yang sama menyebut dua sisi dari satu perkara: ada yang mencari suaka kepada pihak yang tidak berwenang memberikannya, dan ada yang mengakui bahwa suaka itu hanya ada pada Allah. Yang pertama menambah beban, yang kedua melegakan. Dan ayat ini tidak berhenti di sini, sebab kalimatnya berlanjut ke 72:23 dengan sebuah pengecualian yang mengubah nada seluruhnya.
Renungan dan Hikmah
- Rangkaian pengecilan kedudukan yang berjalan sejak 72:20 mencapai puncaknya di sini. Mula-mula ia hanya menyeru Tuhannya, lalu tidak memegang apa pun bagi orang lain, dan di sini ia sendiri pun tidak punya pelindung selain Allah. Bukan hanya tidak bisa melindungi orang lain; ia sendiri tidak terlindungi kecuali oleh Allah. Pengakuan sejauh itu diperintahkan justru kepada orang yang paling dihormati di antara yang mendengar.
- Rangkaian di ayat ini juga muncul di 18:27, tetapi di sana bunyinya engkau tidak akan menemukan, disampaikan kepada Nabi sebagai keterangan. Di sini bunyinya aku tidak akan mendapati, diucapkan olehnya sendiri. Perbedaannya hanya satu huruf pada kata kerjanya. Perpindahan dari menerima pelajaran menjadi mengakuinya di depan umum adalah jarak yang jauh lebih besar daripada satu huruf. Yang kita ketahui dan yang berani kita nyatakan sering terpisah lebih lebar daripada yang kita akui. Beranikah kita mengucapkan di depan orang banyak apa yang sudah lama kita yakini sendirian?
- Kata kerja melindungi di ayat ini sekeluarga dengan kata di 72:6, tentang manusia yang berlindung kepada jin dan justru bertambah bebannya. Surah yang sama menyebut dua sisi dari satu perkara. Ada yang mencari suaka kepada pihak yang tidak berwenang memberikannya, dan ada yang mengakui suaka itu hanya ada pada Allah. Yang pertama menambah beban, yang kedua melegakan. Naluri berlindung sama; yang menentukan hanyalah kepada siapa ia dialamatkan. Allah tidak mencela kebutuhan untuk bersandar, melainkan meluruskan ke mana sandaran itu ditujukan.
- Kata untuk tempat berlindung di ayat ini berakar pada perbuatan menyimpang ke samping, layaknya orang yang membelok mencari tempat teduh. Gambarannya bukan benteng yang kokoh, melainkan tempat berkelit sesaat. Terjemahan yang wajar memakai kata tempat berlindung, tetapi aslinya membawa gambaran belokan. Yang dinyatakan tidak ada bahkan bukan pertahanan yang kuat, melainkan sekadar tempat mengelak. Bahkan yang sekecil itu pun tidak ada selain pada Allah. Ketika bahkan tempat mengelak dinyatakan tidak ada, yang tersisa hanyalah menghadap.
- Partikel penyangkal masa depan di ayat ini muncul di 22 ayat di seluruh Al-Qur'an, tiga di antaranya di surah ini: 72:2, 72:12, dan 72:22. Di 72:2 jin berjanji tidak akan menyekutukan. Di 72:12 mereka mengakui tidak akan bisa lolos. Di sini sang utusan mengakui tidak akan mendapati tempat berlindung selain Allah. Tiga pengakuan dari dua pihak berbeda, memakai penanda yang sama, semuanya mengikat masa depan.
- Ayat ini membuka kutipan yang baru ditutup di ujung 72:23. Dua ayat itu satu kalimat, dan tanda kutipnya tidak boleh dipasang di akhir ayat ini. Memisahkannya akan memutus hubungan antara pengakuan tentang ketiadaan tempat bersandar dan hal yang dikecualikan sesudahnya. Membaca ayat sebagai satuan yang berdiri sendiri kadang merusak, sebab nomor ayat menandai batas bacaan, bukan selalu batas kalimat. Kalimat Allah kadang melewati batas nomor, dan yang membaca per nomor bisa kehilangan separuh maknanya.