إِلَّا بَلَاغًا مِنَ اللَّهِ وَرِسَالَاتِهِ ۚ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا
Kecuali penyampaian dari Allah dan risalah-risalah-Nya. Dan siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya baginya api Jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- إِلَّا بَلَاغًا مِنَ اللَّهِ وَرِسَالَاتِهِillaa balaaghan mina llaahi wa-risaalaatihi'kecuali penyampaian dari Allah dan risalah-risalah-Nya'
- وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًاwa-man ya'shi llaaha wa-rasuulahu fa-inna lahu naara jahannama khaalidiina fiihaa abadan'dan siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya baginya api Jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya'
Terjemahan per kata (16 kata)
- إِلَّاillaakecuali
- بَلَاغًاbalaaghanpenyampaian
- مِنَminadari
- اللَّهِllaahiAllah
- وَرِسَالَاتِهِwa-risaalaatihidan risalah-risalah-Nya
- وَمَنْwa-mandan orang yang
- يَعْصِya'shimendurhakai
- اللَّهَllaahaAllah
- وَرَسُولَهُwa-rasuulahudan Rasul-Nya
- فَإِنَّfa-innamaka sesungguhnya
- لَهُlahubaginya
- نَارَnaaraapi
- جَهَنَّمَjahannamaJahanam
- خَالِدِينَkhaalidiinakekal
- فِيهَاfiihaadi dalamnya
- أَبَدًاabadanselamanya
Inti bacaan
Batas peran yang jelas: 'kecuali penyampaian dari Allah dan risalah-risalah-Nya; dan siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya baginya neraka Jahanam', definisi tegas bahwa peran hanya sebatas penyampaian, konsekuensi bagi penolakan tetap berada di tangan Allah, bukan hukuman yang dijatuhkan penyampai pesan secara pribadi.
Penjelasan pilihan kata
'Naara jahannama' diterjemahkan 'neraka' (bukan 'neraka Jahanam' seperti draf), konsisten dengan Rangkaian 323: 'jahannam' tidak ditransliterasi berdiri sendiri.
Ayat ini yang terpanjang di surah ini dengan tujuh belas patah, dan ia menutup kalimat yang dibuka di 72:22. Dua kata di dalamnya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (بَلَاغًا, balaagan) dan (وَرِسَالَاتِهِ, warisaalaatihi). Yang pertama berarti penyampaian, bukan pesan itu sendiri. Perbedaan itu penting: yang dikecualikan bukan barangnya, melainkan pekerjaannya. Terjemahan 'penyampaian dari Allah' menahan sifat perbuatan tersebut.
Bentuk (وَرِسَالَاتِهِ, warisaalaatihi) berbentuk jamak dengan akhiran kepemilikan. Jamaknya bermakna. Yang disebut bukan satu risalah melainkan banyak, dan semuanya dinisbatkan kepada Allah. Bentuk jamak tanpa akhiran dari kata yang sama muncul lagi di 72:28, sehingga dua ayat terakhir surah ini sama-sama berbicara tentang risalah dalam bentuk banyak. Kesejajaran itu mengikat penutup surah menjadi satu kesatuan.
Rangkaian (وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ, waman ya'shi allaaha warasuulahu) muncul di 3 ayat: 4:14, 33:36, dan 72:23. Ketiganya memakai susunan yang sama persis. Di 4:14 lanjutannya adalah masuk ke neraka dan kekal di dalamnya, dan di sini lanjutannya hampir serupa. Kesamaan itu memperlihatkan bahwa kalimat ini punya bentuk baku yang berulang di beberapa surah, bukan susunan yang dibuat khusus untuk satu keadaan.
Rangkaian (نَارَ جَهَنَّمَ, naara jahannama) muncul di 3 ayat: 9:63, 9:68, dan 72:23. Terjemahan memilih 'api Jahanam' dan bukan menggabungkannya menjadi satu nama, sebab dalam bahasa Arab keduanya dua kata dengan hubungan kepemilikan. Sementara itu (خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا, khaalidiina fiihaa abadan) muncul di 11 ayat, di antaranya 4:57, 4:122, 9:22, dan 72:23. Susunan itu memuat dua penegas sekaligus: kata yang berarti kekal, lalu kata yang berarti selamanya. Pengulangan seperti itu bukan kelebihan kata, melainkan penegasan yang disengaja.
Satu hal tentang susunan jamak di penutupnya. Kalimat sebelumnya memakai susunan tunggal, yaitu 'siapa yang mendurhakai', lalu penutupnya berpindah ke jamak, yaitu 'mereka kekal'. Perpindahan dari tunggal ke jamak seperti ini lazim dalam bahasa Arab ketika kata 'siapa' dimaksudkan mencakup banyak orang. Terjemahan mempertahankan perpindahan tersebut apa adanya.
Pembuka ayat ini memakai partikel pengecualian yang berarti 'kecuali'. Kedudukannya menentukan cara membaca dua ayat ini bersama-sama. Yang dikecualikan bukan dari 'tempat berlindung', melainkan dari seluruh yang dinyatakan sebelumnya, sehingga bunyinya kira-kira: tidak ada yang kumiliki selain menyampaikan. Menempatkan pengecualian itu pada kata yang salah akan menghasilkan pembacaan yang aneh, seolah penyampaian adalah sejenis tempat berlindung. Terjemahan menjaganya sebagai pengecualian atas keseluruhan, bukan atas satu kata terakhir.
Tafsiran
Ayat ini menutup kutip dengan ancaman bagi yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya. Ayat ini mengubah nada seluruh kalimat yang dibuka di ayat sebelumnya. Di 72:22 dinyatakan bahwa tidak ada pelindung dan tidak ada tempat berlindung selain Allah. Kalimat itu terdengar seperti kebuntuan total. Lalu ayat ini datang dengan pengecualian, dan pengecualiannya bukan berupa perlindungan melainkan berupa pekerjaan: menyampaikan. Jadi yang tersisa bagi sang penyeru bukan tempat berlindung, melainkan tugas.
Kata yang dikecualikan berarti penyampaian, bukan pesan. Yang disebut adalah pekerjaannya, bukan barangnya. Ini mengunci kedudukan sang utusan sebagai penyampai, sejalan dengan seluruh arah surah sejak 72:1 ketika rombongan pendengar memuji bacaannya dan bukan pembacanya. Empat ayat berturutan sejak 72:20 mempersempit kedudukan itu satu per satu, dan di sini yang tersisa hanya satu hal: menyampaikan.
Bagian kedua ayat ini berpindah dari pengakuan pribadi menjadi aturan umum, memakai susunan yang juga dipakai di 4:14 dan 33:36. Kesamaan bentuk itu menunjukkan bahwa ancamannya bukan dibuat khusus untuk keadaan di surah ini. Ia rumusan baku yang berlaku di mana-mana. Dan penutupnya memakai susunan yang muncul di 11 ayat, dengan dua penegas berturutan: kekal, lalu selamanya. Susunan itu sengaja diulang. Yang hendak ditutup adalah pembacaan yang menganggap kekekalan masih punya batas. Menariknya, kata untuk risalah di ayat ini berbentuk jamak, dan bentuk jamak dari kata yang sama muncul lagi di 72:28. Dua ayat terakhir surah ini sama-sama berbicara tentang risalah dalam bentuk banyak, dan kesejajaran itu mengikat penutup surah menjadi satu kesatuan yang rapat.
Renungan dan Hikmah
- Di 72:22 dinyatakan tidak ada pelindung dan tidak ada tempat berlindung selain Allah. Kalimat itu terdengar seperti kebuntuan total. Ayat ini datang dengan pengecualian, dan pengecualiannya bukan berupa perlindungan melainkan berupa pekerjaan. Yang tersisa bagi sang penyeru bukan tempat berlindung, melainkan tugas menyampaikan. Ketika semua sandaran ditutup Allah, yang biasanya diberikan sebagai gantinya bukan rasa aman, melainkan pekerjaan yang jelas. Tugas yang terang justru menenangkan lebih dalam daripada perlindungan yang samar.
- Kata yang dikecualikan di ayat ini berarti penyampaian, bukan pesan itu sendiri. Yang disebut adalah pekerjaannya, bukan barangnya. Ini mengunci kedudukan sang utusan sebagai penyampai, sejalan dengan arah surah sejak 72:1 ketika rombongan pendengar memuji bacaannya dan bukan pembacanya. Empat ayat berturutan sejak 72:20 mempersempit kedudukan itu satu per satu. Di sini yang tersisa hanya satu hal, dan hal itu berupa kerja, bukan kehormatan. Kedudukan yang dikecilkan Allah tidak pernah berakhir kosong; ia diisi dengan tugas.
- Rangkaian tentang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya muncul di 3 ayat: 4:14, 33:36, dan 72:23, dengan susunan yang sama persis. Kesamaan itu menunjukkan ancamannya bukan dibuat khusus untuk keadaan di surah ini. Ia rumusan baku yang berlaku di mana-mana. Aturan Allah tidak berubah mengikuti siapa yang sedang dihadapi. Yang berlaku bagi orang di satu tempat berlaku sama bagi orang di tempat lain, dengan kalimat yang sama pula.
- Penutup ayat ini memuat kata yang berarti kekal, lalu kata yang berarti selamanya. Susunan itu muncul di 11 ayat di seluruh Al-Qur'an, di antaranya 4:57, 4:122, dan 9:22. Pengulangan seperti itu bukan kelebihan kata, melainkan penegasan yang disengaja. Yang hendak ditutup adalah pembacaan yang menganggap kekekalan masih punya batas. Mengapa satu penegas dirasa belum cukup, kalau bukan karena manusia memang cenderung menawar setiap kalimat yang memberatkan?
- Kata untuk risalah di ayat ini berbentuk jamak dengan akhiran kepemilikan, dan bentuk jamak dari kata yang sama muncul lagi di 72:28. Dua ayat terakhir surah ini sama-sama berbicara tentang risalah dalam bentuk banyak. Kesejajaran itu mengikat penutup surah menjadi satu kesatuan yang rapat. Allah tidak menyebut satu pesan, melainkan banyak, dan bentuk jamak itu mengingatkan bahwa tugas menyampaikan bukan peristiwa tunggal melainkan rangkaian yang panjang.
- Ayat ini yang terpanjang di surah ini dengan tujuh belas patah, sementara yang terpendek adalah 72:15 dengan lima. Menariknya, keduanya sama-sama berisi keterangan tentang akibat bagi yang menolak. Yang satu diucapkan sangat pendek sebagai penutup kesaksian, yang lain sangat panjang sebagai penutup kutipan. Allah memakai panjang dan pendek sebagai alat, bukan kebetulan. Bentuk kalimat ikut menyampaikan sesuatu yang tidak tertulis dalam kata-katanya.