حَتَّىٰ إِذَا رَأَوْا مَا يُوعَدُونَ فَسَيَعْلَمُونَ مَنْ أَضْعَفُ نَاصِرًا وَأَقَلُّ عَدَدًا

Dengan demikian, apabila mereka melihat yang diancamkan kepada mereka, mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit jumlahnya.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. حَتَّىٰ إِذَا رَأَوْا مَا يُوعَدُونَ فَسَيَعْلَمُونَ مَنْ أَضْعَفُ نَاصِرًا وَأَقَلُّ عَدَدًاhattaa idzaa ra'aw maa yuu'aduuna fa-sa-ya'lamuuna man adh'afu naashiran wa-aqallu 'adadandengan demikian, apabila mereka melihat yang diancamkan kepada mereka, mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit jumlahnya

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. حَتَّىٰhattaasampai
  2. إِذَاidzaaapabila
  3. رَأَوْاra'awmereka melihat
  4. مَاmaaapa yang
  5. يُوعَدُونَyuu'aduunamereka dijanjikan
  6. فَسَيَعْلَمُونَfa-sa-ya'lamuunamaka kelak mereka mengetahui
  7. مَنْmanorang yang
  8. أَضْعَفُadh'afulebih lemah
  9. نَاصِرًاnaashiranpenolong
  10. وَأَقَلُّwa-aqalludan lebih sedikit
  11. عَدَدًا'adadanjumlah

Inti bacaan

Kepastian yang akan terungkap di masa depan: 'apabila melihat (azab) yang diancamkan kepadanya, mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit jumlahnya', jaminan bahwa waktu akan membuktikan siapa yang sesungguhnya berada dalam posisi lemah, membalikkan persepsi kekuatan yang mungkin keliru saat ini.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(azab)' tidak dipakai. Koreksi tunggal ke jamak: draf menulis 'kepadanya' (tunggal), padahal 'yuu'aduuna' berakhiran jamak (mereka), dikoreksi menjadi 'kepada mereka'.

Ayat ini punya kembaran yang sangat dekat. Rangkaian (حَتَّىٰ إِذَا رَأَوْا مَا يُوعَدُونَ, hattaa idzaa ra-aw maa yuu'aduuna) muncul di 2 ayat: 19:75 dan 72:24. Rangkaian (فَسَيَعْلَمُونَ مَنْ, fasaya'lamuuna man) juga muncul di 2 ayat: 19:75 dan 72:24. Jadi dua ayat itu berbagi dua rangkaian sekaligus, dan susunannya berjalan berdampingan sampai kata terakhir. Di 19:75 penutupnya berbunyi 'lebih buruk kedudukannya dan lebih lemah bala tentaranya', sedangkan di sini 'lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit jumlahnya'. Bahkan pola dua sifat berpasangan itu pun sama.

Tiga kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (أَضْعَفُ, adh'afu), (نَاصِرًا, naashiran), dan (وَأَقَلُّ, wa-aqallu). Dua di antaranya berbentuk pembanding, yaitu bentuk yang berarti 'lebih'. Bahasa Arab memakai satu bentuk untuk 'lebih' dan 'paling', dan yang menentukan adalah susunan kalimatnya. Di sini susunannya menuntut arti 'lebih', sebab kalimatnya membandingkan dua pihak. Terjemahan 'lebih lemah' dan 'lebih sedikit' menahan pembandingan itu, dan menerjemahkannya 'paling lemah' akan mengubah perbandingan menjadi penilaian tunggal.

Kata (عَدَدًا, 'adadan) muncul di 3 ayat: 18:11, 72:24, dan 72:28. Dua dari tiga pemakaiannya ada di surah ini, dan keduanya di bagian penutup. Di sini ia berarti jumlah pihak yang berhadapan; di 72:28 ia berarti hitungan Allah atas segala sesuatu. Perpindahan itu tajam. Yang di sini dihitung adalah kekuatan yang dibanggakan manusia, yang di sana yang menghitung adalah Allah atas seluruh yang ada.

Kata kerja (يُوعَدُونَ, yuu'aduuna) di tengah ayat berbentuk pasif, yaitu 'yang diancamkan kepada mereka'. Pelakunya tidak disebut. Susunan yang sama dipakai di 19:75, dan juga di 72:25 dengan sapaan yang berpindah ke 'kalian'. Perpindahan dari 'mereka' ke 'kalian' antara dua ayat berurutan itu perlu diperhatikan, sebab ia menandai bahwa yang diancamkan itu bukan urusan pihak lain saja.

Huruf pembuka ayat ini menandai batas waktu, sehingga bunyinya 'dengan demikian, apabila'. Ia menyambung ke ancaman di ayat sebelumnya dan menunda penyelesaiannya sampai satu saat yang belum tiba. Terjemahan menahan penundaan itu, sebab tanpa penanda tersebut ayat ini terbaca seolah kejadiannya sedang berlangsung.

Susunan dua sifat di penutupnya juga khas. Keduanya berbentuk pembanding dan masing-masing diikuti kata yang menerangkan dalam hal apa perbandingan itu berlaku: lemah dalam hal penolong, sedikit dalam hal jumlah. Susunan seperti ini dalam bahasa Arab menempatkan kata penerang di kedudukan yang menjawab pertanyaan 'dari sisi mana'. Terjemahan 'lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit jumlahnya' menahan hubungan itu. Pola yang sama dipakai di 19:75 dengan dua pasangan yang berbeda, sehingga dua ayat itu bukan hanya berbagi kata, melainkan juga berbagi cara merakit kalimat.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan penantian hingga terbukti siapa yang sebenarnya lemah. Ayat ini menjawab pertanyaan yang tidak pernah diucapkan dalam surah, yaitu pertanyaan tentang siapa yang sebenarnya kuat. Sepanjang surah, kekuatan berulang kali disebut secara tersirat. Ada penjagaan langit yang tidak bisa ditembus, ada kerumunan yang berdesakan, ada pengakuan tidak bisa lolos. Di sini semua itu diringkas menjadi satu perbandingan yang akan terbukti pada waktunya.

Yang menarik, perbandingannya tidak diselesaikan sekarang. Huruf pembuka ayat menandai batas waktu, dan kata kerja utamanya menunjuk ke masa depan. Jadi ayat ini tidak menyatakan siapa yang lebih lemah; ia menyatakan bahwa hal itu akan diketahui. Penundaan tersebut disengaja. Selama belum tiba saatnya, jumlah dan penolong masih bisa terlihat meyakinkan, dan justru itulah yang membuat perbandingannya perlu ditunda sampai buktinya hadir.

Kesejajaran dengan 19:75 memperkuat semuanya. Dua ayat itu berbagi dua rangkaian sekaligus dan berjalan berdampingan sampai kata terakhir, bahkan pola dua sifat berpasangan di penutupnya pun sama. Yang dibandingkan di kedua ayat adalah hal yang biasa dijadikan ukuran kekuatan di mata manusia: kedudukan, bala tentara, penolong, dan jumlah. Semuanya hal yang bisa dihitung dan dilihat. Dan kata untuk jumlah di penutup ayat ini muncul lagi di 72:28 dengan pemakaian yang berbeda tajam, ketika yang menghitung bukan lagi manusia melainkan Allah atas segala sesuatu. Surah ini seolah berkata bahwa yang selama ini dihitung manusia sebagai kekuatan, pada akhirnya berhadapan dengan hitungan yang tidak melewatkan apa pun.

Renungan dan Hikmah

  • Huruf pembuka ayat ini menandai batas waktu, dan kata kerja utamanya menunjuk ke masa depan. Ayat ini tidak menyatakan siapa yang lebih lemah; ia menyatakan bahwa hal itu akan diketahui. Penundaan tersebut disengaja. Selama belum tiba saatnya, jumlah dan penolong masih terlihat meyakinkan. Allah tidak menyanggah perhitungan manusia dengan bantahan, melainkan dengan menunggu sampai kenyataannya sendiri yang berbicara. Berapa banyak keyakinan kita tentang kekuatan sendiri yang belum pernah diuji oleh apa pun?
  • Ayat ini berbagi dua rangkaian sekaligus dengan 19:75, dan susunannya berjalan berdampingan sampai kata terakhir. Bahkan pola dua sifat berpasangan di penutupnya pun sama. Di sana penutupnya berbunyi lebih buruk kedudukannya dan lebih lemah bala tentaranya; di sini lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit jumlahnya. Kesejajaran sedekat itu menandai bahwa keduanya menjawab persoalan yang sama, yaitu ukuran kekuatan yang dipakai manusia. Dua surah yang jauh letaknya ternyata menjawab satu kegelisahan yang sama.
  • Dua sifat di penutup ayat menyebut penolong dan jumlah. Keduanya hal yang bisa dilihat dan dihitung. Di 19:75 yang disebut adalah kedudukan dan bala tentara, juga hal yang terukur. Allah memilih membandingkan justru pada ukuran yang dipakai manusia sendiri, bukan pada ukuran yang tak terjangkau. Perbandingan itu akan dimenangkan dengan alat ukur yang mereka pilih sendiri, dan justru itu yang membuatnya tidak bisa dibantah. Kekalahan yang paling telak adalah kekalahan menurut ukuran yang kita tetapkan sendiri.
  • Dua kata sekali pakai di ayat ini berbentuk pembanding. Bahasa Arab memakai satu bentuk untuk lebih dan paling, dan susunan kalimatlah yang menentukan. Di sini susunannya menuntut arti lebih, sebab kalimatnya membandingkan dua pihak. Menerjemahkannya paling akan mengubah perbandingan menjadi penilaian tunggal. Ketelitian sekecil ini menjaga agar ayat tetap berbicara tentang dua pihak yang berhadapan, bukan tentang satu pihak yang dinilai sendirian. Allah menyusun perbandingan, dan perbandingan selalu menuntut dua sisi.
  • Kata untuk jumlah di penutup ayat ini muncul di 3 ayat, dua di antaranya di surah ini: 72:24 dan 72:28. Di sini yang dihitung adalah kekuatan yang dibanggakan; di sana yang menghitung adalah Allah atas segala sesuatu. Perpindahan itu tajam. Yang selama ini dihitung manusia sebagai kekuatan pada akhirnya berhadapan dengan hitungan yang tidak melewatkan apa pun. Kata yang sama menutup dua ayat, tetapi tangan yang memegang alat hitungnya berbeda.
  • Kata kerja di tengah ayat berbentuk pasif, yaitu yang diancamkan kepada mereka, dan pelakunya tidak disebut. Susunan yang sama dipakai di 19:75, dan juga di 72:25 dengan sapaan yang berpindah ke kalian. Perpindahan dari mereka ke kalian antara dua ayat berurutan itu menandai bahwa yang diancamkan bukan urusan pihak lain saja. Pembaca yang merasa aman karena kalimatnya memakai kata mereka akan menemukan dirinya disapa langsung di ayat berikutnya.