قُلْ إِنْ أَدْرِي أَقَرِيبٌ مَا تُوعَدُونَ أَمْ يَجْعَلُ لَهُ رَبِّي أَمَدًا

Katakanlah, “Aku tidak mengetahui apakah yang diancamkan kepada kalian itu dekat, ataukah Tuhanku menjadikan baginya suatu tempo.”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. قُلْ إِنْ أَدْرِي أَقَرِيبٌ مَا تُوعَدُونَ أَمْ يَجْعَلُ لَهُ رَبِّي أَمَدًاqul in adrii a-qariibun maa tuu'aduuna am yaj'alu lahu rabbii amadankatakanlah, 'aku tidak mengetahui apakah yang diancamkan kepada kalian itu dekat, ataukah Tuhanku menjadikan baginya suatu tempo'

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. قُلْqulkatakanlah
  2. إِنْinjika
  3. أَدْرِيadriiaku tahu
  4. أَقَرِيبٌa-qariibunapakah dekat
  5. مَاmaaapa yang
  6. تُوعَدُونَtuu'aduunadijanjikan kepada kalian
  7. أَمْamatau
  8. يَجْعَلُyaj'alumenjadikan
  9. لَهُlahubaginya
  10. رَبِّيrabbiiTuhanku
  11. أَمَدًاamadanmasa

Inti bacaan

Kejujuran tentang ketidaktahuan waktu: 'aku tidak mengetahui apakah yang diancamkan kepada kalian itu dekat, ataukah Tuhanku menjadikannya masa yang panjang', pengakuan batas pengetahuan yang jujur, model integritas yang tidak membuat klaim palsu tentang detail yang sesungguhnya tidak diketahui.

Penjelasan pilihan kata

Sebutan 'panjang' pada draf dihapus dari terjemahan 'amadan' (tempo): tidak eksplisit di teks Arab.

Rangkaian (إِنْ أَدْرِي أَقَرِيبٌ, in adrii aqariibun) muncul di 2 ayat: 21:109 dan 72:25. Dua ayat itu berbagi lebih dari satu rangkaian. Bentuk (أَدْرِي, adrii) muncul di 4 ayat: 21:109, 21:111, 46:9, dan 72:25. Bentuk (أَقَرِيبٌ, aqariibun) muncul di 2 ayat: 21:109 dan 72:25. Dan rangkaian (مَا تُوعَدُونَ, maa tuu'aduuna) muncul di 9 ayat, di antaranya 21:109, 51:5, 77:7, dan 72:25. Jadi 21:109 dan ayat ini berjalan berdampingan hampir sepanjang kalimat, dua-duanya berisi pengakuan yang diperintahkan untuk diucapkan.

Partikel pembuka kalimat ini bukan yang lazim dipakai untuk pengandaian. Ia partikel penyangkal yang berbunyi sama dengan partikel pengandaian, dan yang membedakan hanya susunan kalimatnya. Di sini ia menyangkal, sehingga terjemahannya 'aku tidak mengetahui'. Kekeliruan membaca partikel ini akan membalik kalimatnya menjadi pengandaian yang tidak ada dasarnya. Terjemahan menahan fungsi penyangkalan tersebut.

Bentuk (يَجْعَلُ, yaj'alu) muncul di 4 ayat: 6:124, 6:125, 72:25, dan 73:17. Menarik bahwa satu di antaranya berada di surah berikutnya, 73:17, yang juga berbicara tentang hari yang menakutkan. Dua surah bersebelahan memakai kata kerja yang sama dalam kalimat tentang apa yang Allah tetapkan atas waktu dan azab. Kata ini berarti menjadikan atau menetapkan, dan pelakunya di sini disebut terang: Tuhanku.

Kata (أَمَدًا, amadan) muncul di 3 ayat: 3:30, 18:12, dan 72:25. Ia berarti jangka waktu yang punya ujung, bukan waktu yang tak berbatas. Draf awal menerjemahkannya 'tempo yang panjang', dan kata 'panjang' itu dihapus karena tidak ada dalam teks Arab. Yang disebut hanya adanya jangka, bukan panjang pendeknya. Menambahkan sifat yang tidak tertulis akan memutuskan sesuatu yang justru sengaja dibiarkan tidak diketahui.

Ini kelima dan terakhir kalinya (قُلْ, qul) muncul di surah ini, sesudah 72:1, 72:20, 72:21, dan 72:22. Empat yang terakhir berderet di bagian penutup, dan tiap-tiapnya mempersempit kedudukan sang penyeru: hanya menyeru Tuhannya, tidak menguasai apa pun bagi orang lain, tidak terlindungi kecuali oleh Allah, dan di sini tidak mengetahui kapan janji itu tiba. Urutan itu bergerak dari arah seruan, ke kewenangan, ke perlindungan, lalu ke pengetahuan.

Susunan pertanyaannya sama seperti di 72:10, yaitu pertanyaan pilihan yang memakai huruf tanya di depan kemungkinan pertama dan kata penghubung di depan kemungkinan kedua. Dua ayat itu satu-satunya di surah ini yang memakai susunan tersebut, dan dua-duanya berisi pengakuan tidak tahu. Yang di 72:10 diucapkan jin tentang maksud perubahan di langit; yang di sini diucapkan sang penerima wahyu tentang waktu tibanya janji. Dua pengakuan dari dua pihak yang sangat berbeda kedudukannya, dirakit dengan susunan kalimat yang sama persis.

Tafsiran

Ayat ini mencatat pengakuan keterbatasan pengetahuan Nabi tentang waktu pasti. Ayat ini menutup rangkaian empat perintah dengan pengakuan yang paling sering dihindari orang, yaitu mengaku tidak tahu. Yang diperintahkan mengaku bukan orang biasa, melainkan orang yang kepadanya wahyu diturunkan. Dan yang diakui tidak diketahui bukan perkara kecil, melainkan waktu terjadinya hal yang diancamkan.

Perhatikan bahwa yang disangkal hanya pengetahuan tentang waktunya, bukan tentang kejadiannya. Kalimatnya tidak berkata 'aku tidak tahu apakah hal itu terjadi', melainkan 'aku tidak tahu apakah dekat atau ditangguhkan'. Kepastian tentang kejadian tetap utuh; yang tidak diketahui hanya jadwalnya. Perbedaan itu penting sebab keduanya sering dicampur. Orang yang tidak tahu kapan sering menyimpulkan bahwa hal itu mungkin tidak akan terjadi, dan kesimpulan itulah yang ditutup oleh susunan kalimat ini.

Kesejajarannya dengan 21:109 sangat rapat. Dua ayat itu berbagi beberapa rangkaian sekaligus dan sama-sama berisi pengakuan yang diperintahkan untuk diucapkan. Bedanya, di 21:109 pasangan pertanyaannya adalah dekat atau jauh, sedangkan di sini dekat atau ditangguhkan oleh Tuhanku. Yang kedua menyebut pelakunya. Jadi ketidaktahuan itu tidak dibiarkan menggantung sebagai kekosongan; ia dikembalikan kepada Allah sebagai pihak yang menetapkan. Pengakuan tidak tahu di sini bukan tanda kekosongan pengetahuan, melainkan pengakuan bahwa pengetahuan itu ada pada pihak lain. Dan itulah yang disambung langsung oleh ayat berikutnya, yang menyebut Allah sebagai Yang mengetahui yang gaib.

Renungan dan Hikmah

  • Pengakuan tidak tahu adalah hal yang paling sering dihindari orang, apalagi oleh yang dianggap tahu banyak. Di sini justru orang yang menerima wahyu yang diperintahkan mengucapkannya. Dan yang diakui tidak diketahui bukan perkara kecil, melainkan waktu terjadinya hal yang diancamkan. Allah menempatkan pengakuan itu sebagai perintah, bukan sebagai kelemahan yang perlu ditutupi. Yang diperintahkan diucapkan tidak mungkin memalukan bagi yang mengucapkannya. Adakah yang kita sembunyikan hanya karena mengaku tidak tahu terasa menurunkan kedudukan kita di mata orang?
  • Yang disangkal di ayat ini hanya pengetahuan tentang waktunya, bukan tentang kejadiannya. Kalimatnya tidak berkata aku ragu hal itu terjadi, melainkan aku tidak tahu dekat atau ditangguhkan. Kepastian tentang kejadian tetap utuh. Dua hal itu kerap dicampur orang. Yang tidak tahu kapan sering menyimpulkan bahwa hal itu mungkin tidak akan terjadi, dan susunan kalimat ini menutup kesimpulan tersebut sebelum sempat terbentuk.
  • Di 21:109 pasangan pertanyaannya adalah dekat atau jauh. Di sini dekat atau ditangguhkan oleh Tuhan sang utusan. Yang kedua menyebut pelakunya. Jadi ketidaktahuan itu tidak dibiarkan menggantung sebagai kekosongan; ia dikembalikan kepada Allah sebagai pihak yang menetapkan. Mengaku tidak tahu di sini bukan tanda kekosongan pengetahuan, melainkan pengakuan bahwa pengetahuan itu ada pada pihak lain yang berhak memegangnya. Ada perbedaan besar antara tidak tahu dan tahu bahwa yang tahu adalah Allah.
  • Kata untuk tempo di ayat ini muncul di 3 ayat: 3:30, 18:12, dan 72:25. Ia berarti jangka waktu yang punya ujung, bukan waktu tanpa batas. Draf awal menambahkan sebuah sifat, dan sifat itu dihapus karena tidak ada dalam teks. Yang disebut hanya adanya jangka, bukan ukurannya. Menambahkan sifat yang tidak tertulis berarti memutuskan sesuatu yang justru sengaja dibiarkan tidak diketahui. Penerjemah yang menambah keterangan demi kenyamanan pembaca sedang mengambil keputusan yang bukan haknya.
  • Ini kelima dan terakhir kalinya kata perintah katakanlah muncul di surah ini. Empat yang terakhir berderet di bagian penutup, dan tiap-tiapnya mempersempit kedudukan sang penyeru: hanya menyeru Tuhannya, tidak menguasai apa pun bagi orang lain, tidak terlindungi kecuali oleh Allah, dan di sini tidak mengetahui kapan janji itu tiba. Urutan itu bergerak dari arah seruan, ke kewenangan, ke perlindungan, lalu ke pengetahuan. Setiap langkah mengambil satu hal lagi dari tangan sang penyeru dan mengembalikannya kepada Allah.
  • Partikel pembuka kalimat ini berbunyi sama dengan partikel pengandaian, dan yang membedakan hanya susunan kalimatnya. Di sini ia menyangkal, sehingga terjemahannya aku tidak mengetahui. Kekeliruan membacanya akan membalik kalimat menjadi pengandaian yang tidak berdasar. Bahasa Arab menuntut pembaca memperhatikan seluruh susunan, bukan satu kata terpisah. Membaca kata demi kata tanpa melihat rangkaiannya bisa menghasilkan makna yang berkebalikan dari yang dimaksud Allah.