إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا
Kecuali kepada rasul yang Dia ridai. Maka sesungguhnya Dia menempatkan penjaga di depannya dan di belakangnya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًاillaa mani rtadhaa min rasuulin fa-innahu yasluku min bayni yadayhi wa-min khalfihi rashadankecuali kepada rasul yang Dia ridai. Maka sesungguhnya Dia menempatkan penjaga di depannya dan di belakangnya
Terjemahan per kata (13 kata)
- إِلَّاillaakecuali
- مَنِmanisiapa yang
- ارْتَضَىٰrtadhaaDia meridai
- مِنْmindari
- رَسُولٍrasuulinrasul
- فَإِنَّهُfa-innahumaka sesungguhnya dia
- يَسْلُكُyaslukumenempatkan
- مِنْmindari
- بَيْنِbayniantara
- يَدَيْهِyadayhikedua tangannya
- وَمِنْwa-mindan dari
- خَلْفِهِkhalfihibelakangnya
- رَصَدًاrashadanpenjaga
Inti bacaan
Pengecualian selektif dengan perlindungan tambahan: 'kecuali kepada rasul yang Dia ridai; maka sesungguhnya Dia menempatkan penjaga di depannya dan di belakangnya', penjelasan mekanisme khusus bagi rasul terpilih, disertai perlindungan tambahan yang menjaga integritas pesan yang disampaikan dari gangguan atau distorsi.
Penjelasan pilihan kata
Bentuk (ارْتَضَىٰ, irtadhaa) muncul di 3 ayat: 21:28, 24:55, dan 72:27. Tiga pemakaian itu semuanya menyangkut pilihan Allah atas pihak tertentu, dan tak satu pun dipakai untuk kerelaan manusia atas sesamanya. Akarnya berkaitan dengan rida dan penerimaan, dan pola tambahannya menandai pemilihan yang disertai kerelaan. Jadi yang dimaksud bukan sekadar 'yang dipilih', melainkan 'yang dipilih dan diridai'. Terjemahan 'yang Dia ridai' menahan unsur kerelaan itu.
Bentuk (يَسْلُكُ, yasluku) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya sama dengan kata di 72:17 yang dipakai untuk memasukkan orang ke azab. Dua pemakaian itu berlawanan arah: di sana menjerumuskan, di sini menempatkan penjaga untuk melindungi. Satu akar, dua tindakan yang saling berkebalikan, dan keduanya berada dalam satu surah yang sama.
Penutup ayat, (رَصَدًا, rashadan), muncul di 2 ayat: 72:9 dan 72:27, keduanya di surah ini dan tidak ada di tempat lain. Ini susunan paling rapi dalam surah. Di 72:9 kata itu berarti pengintai yang menghalangi pencuri dengar. Di sini ia berarti penjaga yang mengawal rasul dari depan dan belakang. Delapan belas ayat memisahkan keduanya, dan yang membedakan hanya di pihak mana seseorang berdiri ketika berhadapan dengan penjagaan itu.
Rangkaian (مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ, min bayni yadayhi wamin khalfihi) muncul di 3 ayat: 13:11, 46:21, dan 72:27. Secara harfiah ia berarti 'dari antara kedua tangannya dan dari belakangnya', sebuah ungkapan Arab untuk depan dan belakang. Terjemahan 'di depannya dan di belakangnya' memakai padanan yang wajar dalam bahasa Indonesia. Yang perlu dijaga adalah kelengkapannya: dua arah disebut, bukan satu, sehingga gambarannya adalah pengawalan dari dua sisi sekaligus.
Kata (رَسُولٍ, rasuulin) berbentuk tidak tentu, sehingga bunyinya 'seorang rasul', bukan 'rasul itu'. Bentuk tidak tentu itu membuat pengecualiannya berlaku umum bagi siapa pun yang memenuhi syaratnya, bukan tertuju pada satu orang tertentu. Terjemahan mempertahankan kekaburan tersebut, sebab menutupnya akan mempersempit sesuatu yang oleh teks dibiarkan terbuka.
Pembuka ayat ini memakai partikel pengecualian yang sama dengan yang membuka 72:23. Dua-duanya menyambung kalimat yang belum selesai dari ayat sebelumnya, dan dua-duanya memperkenalkan satu hal yang dikecualikan dari penyangkalan yang mendahuluinya. Susunan berpasangan seperti itu muncul dua kali di bagian penutup surah ini, dan keduanya bekerja dengan cara yang sama: menutup rapat lebih dulu, lalu menyisakan satu celah yang sempit dan bersyarat.
Satu hal lagi tentang penunjuk pihak di ayat ini. Akhiran pada (خَلْفِهِ, khalfihi) dan pasangannya menunjuk pihak ketiga tunggal, dan yang dirujuknya adalah sang rasul yang baru disebut. Sementara pelaku yang menempatkan penjaga adalah Allah. Jadi dalam satu kalimat berdiri dua pihak dengan kedudukan yang sangat berbeda: Yang menempatkan dan yang dijaga. Terjemahan 'Dia menempatkan penjaga di depannya dan di belakangnya' menahan pembagian itu, dan menghilangkan salah satu penunjuknya akan mengaburkan siapa yang berbuat dan siapa yang menerima.
Tafsiran
Ayat ini menjelaskan pengecualian bagi rasul pilihan, dijaga penuh dari gangguan. Ayat ini membuka pintu yang baru saja ditutup rapat di ayat sebelumnya. Pengecualiannya sempit dan bersyarat: hanya bagi rasul yang Allah ridai. Dua syarat berlapis, yaitu kedudukan sebagai utusan dan adanya kerelaan dari Allah. Kata kerjanya tidak sekadar berarti memilih, melainkan memilih dengan rida, sehingga yang menentukan bukan kelayakan yang diusahakan melainkan penerimaan yang diberikan.
Yang paling menarik adalah bentuk penjagaannya. Penjaga ditempatkan di depan dan di belakang, dua arah sekaligus. Dan kata yang dipakai untuk penjaga itu sama persis dengan kata di 72:9, ketika penjagaan justru menghalangi pihak yang hendak mencuri dengar. Satu kata, dua tugas yang berlawanan. Penjagaan yang di ayat kesembilan menutup akses, di ayat ini justru mengamankan jalur. Yang berubah bukan penjaganya, melainkan siapa yang berhadapan dengannya.
Pola serupa muncul pada kata kerja utamanya. Akarnya sama dengan kata di 72:17 yang dipakai untuk memasukkan orang ke azab. Jadi dua kali dalam surah ini, satu akar kata membawa dua nasib yang berkebalikan. Susunan seperti itu bukan permainan bahasa. Ia menyampaikan sesuatu yang sulit dinyatakan secara langsung, yaitu bahwa tindakan Allah tidak berubah wataknya, tetapi akibatnya berbeda bagi yang berpaling dan bagi yang diutus. Dan tujuan seluruh penjagaan ini baru disebut di ayat terakhir, 72:28, sehingga dua ayat penutup surah ini harus dibaca sebagai satu kalimat yang belum selesai.
Renungan dan Hikmah
- Pintu yang ditutup rapat di ayat sebelumnya dibuka di sini, tetapi sangat sempit. Syaratnya berlapis: kedudukan sebagai utusan, dan adanya kerelaan dari Allah. Kata kerjanya tidak sekadar berarti memilih, melainkan memilih dengan rida. Jadi yang menentukan bukan kelayakan yang diusahakan, melainkan penerimaan yang diberikan. Pengecualian dalam aturan Allah tidak pernah menjadi celah yang bisa diklaim; ia tetap berupa pemberian. Yang diberi tidak bisa menuntut, dan yang menuntut menandakan ia belum memahami dari mana pemberian itu datang.
- Penjaga ditempatkan di depan dan di belakang, dua arah sekaligus. Rangkaian itu muncul di 3 ayat: 13:11, 46:21, dan 72:27. Secara harfiah ia berarti dari antara kedua tangannya dan dari belakangnya, ungkapan Arab untuk depan dan belakang. Kelengkapan dua arah itu perlu dijaga dalam terjemahan. Yang dijanjikan Allah bukan pengawalan sebagian, melainkan penjagaan yang tidak menyisakan sisi terbuka bagi gangguan. Penjagaan yang setengah bukan penjagaan, sebab satu sisi yang terbuka sudah cukup meruntuhkan seluruhnya.
- Kata penutup ayat ini muncul di 2 ayat saja, yaitu 72:9 dan 72:27. Di sana ia menghalangi pencuri dengar, di sini ia mengawal rasul. Delapan belas ayat memisahkan keduanya. Yang berubah bukan penjaganya, melainkan siapa yang berhadapan dengannya. Kalau penjagaan yang sama bisa menghalangi dan melindungi, apa yang menentukan wajah mana yang kita hadapi selain kedudukan kita sendiri di hadapan Allah?
- Kata kerja utama ayat ini berakar sama dengan kata di 72:17 yang dipakai untuk memasukkan orang ke azab. Dua kali dalam surah ini, satu akar membawa dua nasib yang berkebalikan. Susunan seperti itu bukan permainan bahasa. Ia menyampaikan bahwa tindakan Allah tidak berubah wataknya, tetapi akibatnya berbeda bagi yang berpaling dan bagi yang diutus. Yang sama bisa terasa sebagai hukuman atau sebagai penjagaan. Yang berubah bukan perbuatan Allah, melainkan kedudukan orang yang menerimanya.
- Kata untuk rasul di ayat ini berbentuk tidak tentu, sehingga bunyinya seorang rasul, bukan rasul itu. Bentuk itu membuat pengecualiannya berlaku bagi siapa pun yang memenuhi syaratnya, bukan tertuju pada satu orang. Terjemahan mempertahankan kekaburan tersebut. Menutupnya akan mempersempit sesuatu yang oleh Allah dibiarkan terbuka, dan mempersempit atas nama kejelasan adalah kesalahan yang paling mudah dimaafkan sekaligus paling sering terjadi.
- Tujuan seluruh penjagaan ini baru disebut di 72:28, sehingga dua ayat penutup surah ini harus dibaca sebagai satu kalimat. Ayat ini menyatakan apa yang dilakukan, dan ayat berikutnya menyatakan untuk apa. Membacanya terpisah akan menyisakan tindakan tanpa maksud. Allah menempatkan maksudnya di ayat terakhir, sehingga surah ini baru bisa dipahami utuh oleh yang membacanya sampai kata penghabisan. Menyudahi bacaan sebelum ujungnya berarti berhenti tepat sebelum jawabannya diberikan.