بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ

Wahai orang yang berselimut,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُyaa ayyuhaa l-muzzammiluwahai orang yang berselimut

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. يَاyaawahai
  2. أَيُّهَاayyuhaasekalian
  3. الْمُزَّمِّلُl-muzzammiluorang yang berselimut

Inti bacaan

Sapaan personal yang intim: 'wahai orang yang berselimut', pembukaan Al-Muzzammil dengan panggilan yang menggambarkan kondisi fisik nyata (berselimut, mungkin sedang beristirahat atau gelisah), transisi mendadak dari kondisi santai menuju panggilan tugas besar.

Penjelasan pilihan kata

Sebutan (الْمُزَّمِّلُ, al-muzzammil) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan tempatnya ayat ini. Artinya orang yang membungkus diri rapat dengan kain. Tidak ada ayat lain yang memakainya.

Perhatikan bahwa surah sesudahnya dibuka dengan sapaan sejenis. Di 74:1 orang yang disapa disebut berselimut jubah, dan sebutan itu pun cuma sekali dipakai di seluruh mushaf. Dua sapaan sekali pakai berdiri di dua surah yang bersebelahan.

Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan kedua sapaan itu. Yang tertulis cuma bahwa keduanya menyebut orang yang sedang berselimut, dan keduanya membuka surahnya masing-masing tanpa pengantar apa pun.

Kata (أَيُّهَا, ayyuhaa) muncul di 150 ayat, di antaranya 2:21, 2:104, dan 2:153. Di hampir semua tempat itu ia diikuti nama golongan, misalnya orang-orang yang beriman atau manusia secara umum.

Perhatikan bahwa di sini yang mengikutinya bukan nama golongan. Yang mengikutinya keadaan badan satu orang pada satu malam. Sapaannya menunjuk posisi tubuh, bukan keanggotaan kelompok, dan bukan pula pangkat.

Perbedaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa panggilan terbesar dalam hidup seseorang datang lewat gambaran tubuhnya yang sedang membungkus diri, bukan lewat gelar.

Perhatikan bahwa ayat ini cuma tiga patah. Seluruh surah ini 200 patah, jadi ayat pembukanya memuat kurang dari dua persen dari isinya, dan tidak ada satu pun keterangan tambahan di dalamnya.

Panjang tiga patah itu tidak dijelaskan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa pembukanya sangat pendek, sedangkan penutupnya di 73:20 memuat 78 patah sendirian.

Perhatikan bahwa selimut biasanya dipakai orang yang sedang beristirahat. Perintah di ayat berikutnya justru menyuruh bangun dan berdiri pada malam hari, jadi dua baris berurutan memuat dua keadaan yang berlawanan.

Susunan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa panggilan datang persis ketika orangnya sedang berbaring, bukan ketika ia sudah siap menerimanya.

Perhatikan bahwa sapaan ini tidak memakai nama diri. Nabi tidak dipanggil dengan namanya di ayat ini, melainkan dengan keadaan yang sedang melekat padanya saat itu juga.

Pemilihan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang disebut adalah keadaan sesaat, dan keadaan sesaat itu yang kemudian menamai seluruh surah.

Perhatikan bahwa nama surah ini karena itu bukan nama pokok bahasannya. Isi surahnya berbicara tentang salat malam, kesabaran, hari kiamat, dan kisah Fir'aun, tetapi namanya diambil dari selimut.

Ketidaksesuaian itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa penamaannya mengambil kata pertama yang khas, bukan pokok yang paling banyak dibicarakan.

Perhatikan bahwa sapaan tanpa nama diri itu berlaku juga di surah tetangganya. Di 74:1 pun yang disebut keadaan tubuh, bukan nama orangnya.

Kesamaan cara menyapa itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah berturut-turut memulai dengan cara yang sama, lalu bergerak ke arah yang berbeda.

Tafsiran

Ayat ini membuka surah dengan sapaan khusus kepada Nabi yang tengah berselimut, mengantarkan perintah bangun malam. Ayat ini membuka surah dengan menyapa Nabi lewat keadaan tubuhnya, bukan lewat namanya. Sebutan yang dipakai muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan tempatnya di sini. Tidak ada ayat lain yang memakai kata itu.

Surah berikutnya membuka dengan sapaan yang sejenis. Di 74:1 orang yang disapa disebut berselimut jubah, dan sebutan itu juga cuma sekali dipakai. Dua sapaan sekali pakai berdiri di dua surah yang bersebelahan, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan keduanya.

Sapaan pembuka di Al-Qur'an biasanya diikuti nama golongan, seperti di 2:21, 2:104, dan 2:153. Kata sapaan itu tercatat di 150 ayat, dan di sebagian besar tempat yang mengikutinya nama kelompok. Di ayat ini yang mengikutinya bukan golongan, melainkan keadaan badan satu orang pada satu malam.

Ayat ini cuma tiga patah, sedangkan seluruh surahnya 200 patah. Pembukanya termasuk yang paling pendek, sementara penutupnya di 73:20 memuat 78 patah sendirian, sehingga surah ini dibuka sangat ringkas dan ditutup sangat panjang.

Selimut adalah tanda istirahat, dan perintah di 73:2 justru menyuruh bangun. Al-Qur'an tidak menjelaskan susunan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa panggilannya datang saat orangnya sedang berbaring.

Nama surah ini juga diambil dari keadaan sesaat itu, bukan dari pokok bahasannya. Isinya berbicara tentang salat malam, kesabaran, hari kiamat, dan kisah Fir'aun, tetapi yang menamainya tetap kata pertama yang khas tadi.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyapa Nabi di ayat ini lewat keadaan tubuhnya, bukan lewat namanya. Sebutan yang dipakai muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan tempatnya ayat ini. Panggilan sebesar itu datang bukan kepada seseorang yang sedang siap berdiri, melainkan kepada seseorang yang sedang membungkus diri dengan kain di tengah malam. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu, dan yang tertulis cuma keadaan yang sedang melekat pada orangnya. Tugas itu tiba lebih dulu daripada kesiapan menerimanya.
  • Dua surah yang bersebelahan sama-sama dibuka Allah dengan sapaan kepada orang yang berselimut. Sebutan di 73:1 dan sebutan di 74:1 masing-masing muncul 1 kali di seluruh mushaf, jadi keduanya tidak dipakai di tempat lain mana pun. Keduanya juga sama-sama tidak memakai nama diri, melainkan menyebut keadaan tubuh orang yang dipanggil. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan antara keduanya, dan yang bisa dibaca cuma bahwa dua pembuka itu berdiri berdampingan. Apa yang membuat satu keadaan tubuh pantas menamai dua surah berturut-turut?
  • Sapaan pembuka di Al-Qur'an hampir selalu tertuju kepada golongan, seperti di 2:21, 2:104, dan 2:153. Kata sapaan itu tercatat di 150 ayat, dan di sebagian besar tempat yang mengikutinya nama kelompok, misalnya orang-orang yang beriman atau manusia secara umum. Di ayat ini yang mengikutinya justru keadaan badan satu orang pada satu malam. Allah tidak menjelaskan perbedaan itu, dan yang tertulis cuma bahwa sapaannya menunjuk posisi tubuh, bukan pangkat dan bukan keanggotaan.
  • Ayat pembuka surah ini cuma tiga patah, sedangkan seluruh surahnya 200 patah. Artinya pembukanya memuat kurang dari dua persen isi surahnya, dan di dalamnya tidak ada satu pun keterangan tambahan. Penutupnya di 73:20 berjalan ke arah yang berlawanan, sebab ayat itu sendirian memuat 78 patah, atau hampir empat persepuluh isi surahnya. Allah menaruh yang terpendek di awal dan yang terpanjang di akhir, dan Al-Qur'an tidak menerangkan susunan itu di dalam teksnya.
  • Selimut menandai orang yang sedang beristirahat, dan perintah di 73:2 justru menyuruh bangun pada malam hari. Dua baris berurutan memuat dua keadaan yang saling bertolak belakang, yaitu berbaring dan berdiri. Jarak antara keduanya di surah ini cuma satu baris, tanpa satu pun kalimat penyambung yang menerangkan perpindahannya. Al-Qur'an tidak menerangkan susunan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa perintahnya datang sebelum orangnya bangkit dari tempat berbaringnya.
  • Nama surah ini diambil dari keadaan sesaat, bukan dari pokok pembicaraannya. Sebutan yang dipakai Allah di ayat pertama muncul cuma sekali di seluruh Al-Qur'an, lalu keadaan sesaat itu menamai dua puluh ayat sesudahnya. Isi surahnya sendiri berbicara tentang salat malam, kesabaran, hari yang menjadikan anak-anak beruban, dan kisah Fir'aun yang mendurhakai utusan. Al-Qur'an tidak menerangkan pemilihan nama itu, dan yang tertulis cuma sapaan pembukanya yang berdiri tiga patah.