قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا
Bangunlah pada malam hari, kecuali sedikit,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًاqumi l-layla illaa qaliilanbangunlah pada malam hari, kecuali sedikit
Terjemahan per kata (4 kata)
- قُمِqumibangunlah
- اللَّيْلَl-laylamalam
- إِلَّاillaakecuali
- قَلِيلًاqaliilansedikit
Inti bacaan
Instruksi bangun malam dengan fleksibilitas: 'bangunlah pada malam hari, kecuali sedikit', perintah yang tidak menuntut keseluruhan malam, pengakuan sejak awal bahwa ada ruang penyesuaian dalam praktik ibadah malam.
Penjelasan pilihan kata
Perintah (قُمِ, qumi) berarti berdirilah, dan bentuk berharakat seperti itu cuma berdiri di ayat ini. Surah berikutnya memakai bentuk yang ujungnya berbeda di 74:2, jadi dua ayat itu memakai kata yang sama dengan ujung yang tidak sama.
Perhatikan bahwa sebutan malam di ayat ini tercatat di 25 ayat, di antaranya 3:27, 6:96, dan 7:54. Di surah ini ia dipakai di 73:2 dan 73:20, yaitu di ayat kedua dan di ayat terakhir.
Al-Qur'an tidak menandai pengulangan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa malam disebut di awal perintah dan disebut lagi di penutup surahnya, dengan delapan belas ayat di antaranya.
Kata (قَلِيلًا, qaliilan) tercatat di 55 ayat di seluruh Al-Qur'an. Di surah ini ia menutup tiga ayat, yaitu 73:2, 73:3, dan 73:11.
Perhatikan bahwa tiga penutup itu tidak berbicara tentang hal yang sama. Dua yang pertama mengurangi porsi malam, sedangkan yang di 73:11 mengurangi waktu tenggang bagi para pendusta.
Perbedaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu bunyi penutup dipakai untuk mengukur ibadah dan untuk mengukur penangguhan hukuman.
Perhatikan bahwa perintahnya tidak menyebut jumlah jam. Yang disebut cuma malam secara utuh, lalu dikurangi dengan satu kata yang tidak diangkakan.
Ukuran itu tidak dirinci di ayat ini. Rinciannya baru muncul di ayat berikutnya berupa seperdua, lalu diperlonggar lagi di 73:20 menjadi apa yang mudah.
Perhatikan bahwa ayat ini empat patah. Ia satu patah lebih panjang daripada 73:1 dan satu patah lebih pendek daripada 73:3, sehingga tiga ayat pertama naik selangkah demi selangkah.
Al-Qur'an tidak menandai kenaikan panjang itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa panjang kalimat dan kerincian perintahnya bergerak searah di awal surah ini.
Perhatikan bahwa pengecualian datang di ujung kalimat, bukan di depannya. Perintahnya utuh dulu, baru dikurangi sesudah itu.
Susunan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang didengar lebih dulu adalah keseluruhan malam, dan keringanan menyusul di belakang.
Perhatikan bahwa yang diperintah berdiri di sini satu orang. Bentuk (قُمِ, qumi) di ayat ini tunggal, sedangkan di 73:20 yang disebut sudah termasuk segolongan orang yang bersama Nabi.
Perluasan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa perintah yang bermula pada satu orang di ayat kedua tampak sudah diikuti banyak orang di ayat terakhir.
Perhatikan bahwa malam dipilih sebagai waktunya, bukan siang. Alasannya baru diberikan di 73:6 dan 73:7, yaitu bahwa malam lebih kuat pengaruhnya dan siang penuh kesibukan.
Urutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa perintahnya turun lebih dulu, dan sebabnya menyusul empat sampai lima ayat kemudian.
Tafsiran
Ayat ini memerintahkan bangun malam sebagai ibadah utama. Ayat ini memerintahkan Nabi bangun pada malam hari, kecuali sedikit darinya. Bentuk perintah yang dipakai cuma berdiri di ayat ini, sedangkan 74:2 memakai kata yang sama dengan ujung yang berbeda.
Sebutan malam tercatat di 25 ayat, di antaranya 3:27, 6:96, dan 7:54. Di surah ini malam disebut di 73:2 dan di 73:20, yaitu di ayat kedua dan di ayat penutup, dengan delapan belas ayat di antaranya yang berbicara tentang bacaan, kesabaran, azab, dan kisah Fir'aun.
Kata penutupnya tercatat di 55 ayat di seluruh mushaf, dan di surah ini ia menutup 73:2, 73:3, serta 73:11. Dua yang pertama mengurangi porsi malam, sedangkan yang ketiga mengurangi tenggang bagi para pendusta, jadi satu bunyi dipakai untuk dua ukuran yang berbeda.
Perintah di ayat ini tidak menyebut jumlah jam. Yang disebut cuma malam secara utuh, lalu dikurangi dengan satu kata. Rinciannya baru datang di 73:3 berupa seperdua dan diperlonggar lagi di 73:20 menjadi apa yang mudah.
Ayat ini empat patah, satu patah lebih panjang daripada 73:1. Pengecualiannya juga diletakkan di ujung, sehingga yang terdengar lebih dulu adalah keseluruhan malam dan keringanannya menyusul kemudian.
Malam dipilih sebagai waktunya, dan alasannya baru diberikan di 73:6 serta 73:7. Perintahnya turun lebih dulu, sedangkan sebabnya menyusul beberapa ayat kemudian.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyuruh bangun sepanjang malam, lalu mengurangi perintah itu di ujung kalimat yang sama. Urutannya tidak dibalik, sehingga yang terdengar lebih dulu adalah malam yang utuh dan keringanannya menyusul di belakang. Beban penuh disebut dulu, baru kelonggarannya diberikan. Al-Qur'an tidak menerangkan susunan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa pengecualiannya diletakkan di ujung. Apa yang berubah pada seseorang kalau ia mendengar tuntutan penuh lebih dulu?
- Malam disebut Allah di 73:2 dan disebut lagi di 73:20, yaitu di ayat kedua dan di ayat penutup surah ini. Jarak antara keduanya delapan belas ayat, dan di antaranya berdiri perintah membaca, perintah bersabar, gambaran hari kiamat, serta kisah Fir'aun yang mendurhakai utusan. Sebutan malam itu sendiri tercatat di 25 ayat di seluruh Al-Qur'an, jadi pemakaiannya tidak jarang. Al-Qur'an tidak menandai kembalinya sebutan itu di penutup surah. Ayat 73:20 sendiri memuat sebutan malam dua kali dalam satu baris.
- Satu kata penutup yang sama dipakai Allah untuk mengukur ibadah dan untuk mengukur penangguhan. Di 73:2 dan 73:3 ia mengurangi porsi malam yang harus dipakai berdiri, sedangkan di 73:11 ia memperpendek tenggang bagi para pendusta yang hidup bergelimang kenikmatan. Kata itu tercatat di 55 ayat di seluruh mushaf, dan tiga di antaranya berada di surah ini. Yang diukur berbeda, tetapi bunyi penutupnya sama persis di ketiga tempat itu. Ayat 73:11 berdiri delapan baris sesudah 73:3.
- Perintah di ayat ini tidak menyebut satu pun angka jam. Yang disebut Allah cuma malam secara utuh, lalu dikurangi dengan satu kata yang tidak diangkakan di mana pun. Ukuran yang lebih rinci baru datang di 73:3 berupa seperdua, dan diperlonggar lagi di 73:20 menjadi apa yang mudah bagi pembacanya. Al-Qur'an tidak menerangkan urutan pelonggaran itu, dan yang tertulis cuma tiga takaran yang makin lentur dari awal ke akhir surah.
- Bentuk perintah yang membuka ayat ini cuma berdiri di sini dan tidak di ayat lain mana pun. Perintah berdiri sendiri bukan hal yang jarang dalam mushaf, sebab 74:2 memakai kata yang sama dengan ujung yang berbeda. Allah memakai kata yang tidak diulang untuk perintah ibadah paling awal kepada Nabi. Al-Qur'an tidak menerangkan pemilihan bentuk itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa pemakaiannya berhenti di satu tempat. Surah ini memuat 40 kata yang cuma sekali dipakai di seluruh mushaf, dan sebarannya paling rapat di 73:11 sampai 73:13.
- Tiga ayat pertama surah ini bertambah panjang satu patah demi satu patah, yaitu tiga, empat, lalu lima. Kenaikan itu berjalan bersamaan dengan bertambah rincinya perintah, dari sapaan, lalu bangun malam, lalu ukuran seperdua yang boleh dikurangi. Allah tidak menandai pola itu di dalam ayatnya sendiri. Yang bisa dibaca cuma bahwa panjang kalimat dan kerincian perintahnya bergerak searah di awal surah ini.