نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا

Seperduanya, atau kurangilah sedikit darinya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًاnishfahu awi nqush minhu qaliilanseperduanya, atau kurangilah sedikit darinya

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. نِصْفَهُnishfahuseparuhnya
  2. أَوِawiatau
  3. انْقُصْnqushkurangilah
  4. مِنْهُminhudarinya
  5. قَلِيلًاqaliilansedikit

Inti bacaan

Opsi durasi yang jelas: '(yaitu) seperduanya, atau kurangilah sedikit darinya', panduan konkret dengan rentang waktu yang dapat disesuaikan, model instruksi ibadah yang memberikan struktur namun tetap fleksibel.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(yaitu)' tidak dipakai.

Ukuran (نِصْفَهُ, nishfahu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini, dan tempatnya ayat ini. Ia berarti seperduanya, dan yang dimaksud seperdua malam.

Perhatikan bahwa 73:20 memakai kata (نِصْفَهُ, nishfahu) yang sama dengan tambahan penyambung di depannya. Bentuk di sana pun muncul 1 kali di seluruh mushaf, jadi dua bentuk sekali pakai dari satu kata berdiri di satu surah.

Al-Qur'an tidak menandai kembar itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa ukuran seperdua disebut di awal surah dan disebut lagi di ayat penutupnya, dengan jarak tujuh belas ayat.

Perintah (انْقُصْ, unqush) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan tempatnya ayat ini. Ia berarti kurangilah.

Perhatikan bahwa ayat ini memuat dua sekali-pakai sekaligus. Dari lima patahnya, dua patah tidak pernah dipakai di ayat lain mana pun di antara 6236 ayat yang ada.

Kepadatan itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa ayat sependek ini membawa dua bentuk yang tidak berulang di tempat lain.

Perhatikan bahwa perintah mengurangi datang tanpa batas bawah. Al-Qur'an tidak menyebut berapa paling sedikit yang boleh tersisa dari seperdua malam itu.

Ketiadaan batas itu bukan kelalaian yang bisa dibuktikan dari teks. Yang tertulis cuma bahwa penguranganya disebut sedikit, dan sedikit itu tidak diangkakan di mana pun.

Perhatikan bahwa kata (قَلِيلًا, qaliilan) yang menutup ayat ini sama dengan penutup 73:2. Dua ayat berurutan ditutup bunyi yang sama, dan bunyi itu kembali lagi di 73:11.

Pengulangan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa tiga ayat di surah ini berakhir dengan kata yang sama persis.

Perhatikan bahwa ayat ini menawarkan pilihan, bukan menetapkan satu angka. Susunannya memakai kata atau, sehingga yang diberikan rentang dan bukan patokan tunggal.

Rentang itu berlanjut ke ayat berikutnya. Di 73:4 pilihannya justru bergerak ke arah sebaliknya, yaitu menambah dari seperdua tadi.

Perhatikan bahwa takarannya diberikan dalam pecahan, bukan dalam satuan waktu. Al-Qur'an menyebut seperdua malam, bukan sekian jam atau sekian rakaat.

Pilihan satuan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa ukurannya mengikuti panjang malam, sehingga takarannya berubah menurut musim dan tempat.

Perhatikan bahwa 73:20 kelak menyatakan hitungan itu tidak akan terkejar. Di sana disebut bahwa mereka tidak akan sanggup menghitungnya, lalu keringanan diberikan.

Hubungan antara ayat ini dan 73:20 tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa takaran pecahan disebut lebih dulu, dan kesulitannya diakui belakangan.

Tafsiran

Ayat ini merinci durasi minimal bangun malam. Ayat ini merinci ukuran malam yang diperintahkan di 73:2, yaitu seperduanya atau kurang sedikit dari itu. Ukuran seperdua dalam bentuk yang dipakai di sini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.

Kata yang sama muncul lagi di 73:20 dengan tambahan penyambung di depannya, dan bentuk di sana pun cuma sekali dipakai. Dua bentuk sekali pakai dari satu kata berdiri di satu surah dengan jarak tujuh belas ayat, dan Al-Qur'an tidak menandai kembar itu.

Perintah mengurangi di ayat ini juga muncul 1 kali di seluruh mushaf. Dari lima patah ayat ini, dua patah tidak pernah dipakai di ayat lain mana pun, sehingga ayat sependek ini membawa kepadatan yang tidak biasa.

Perintah mengurangi datang tanpa batas bawah yang diangkakan. Yang tertulis cuma bahwa penguranganya sedikit, dan kata sedikit itu juga menutup 73:2 serta 73:11 sehingga tiga ayat di surah ini berakhir dengan bunyi yang sama.

Ayat ini menawarkan rentang, bukan satu angka tetap. Susunannya memakai kata atau, dan rentangnya berlanjut ke 73:4 yang justru membuka pilihan menambah dari titik yang sama.

Takarannya juga diberikan dalam pecahan, bukan dalam satuan waktu, sehingga ukurannya mengikuti panjang malam setempat. Di 73:20 Allah kemudian menyatakan bahwa hitungan itu tidak akan terkejar, lalu memberi keringanan.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat sependek lima patah ini membawa dua bentuk yang masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ukuran seperdua dan perintah mengurangi sama-sama tidak dipakai Allah di ayat lain mana pun. Artinya dua dari lima patahnya tidak berulang di 6236 ayat yang lain, sehingga hampir separuh isi ayat ini berdiri sendiri. Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa perintah ibadah paling awal memakai kata-kata yang tidak diulang di tempat lain. Ayat 73:4 sesudahnya juga membawa dua bentuk semacam itu.
  • Ukuran seperdua disebut Allah di 73:3 dan disebut lagi di 73:20, yaitu di awal perintah dan di ayat penutup surah ini. Bentuk di kedua tempat itu berbeda tipis, sebab yang di penutup memakai penyambung di depannya, dan masing-masing muncul 1 kali di seluruh mushaf. Jarak antara keduanya tujuh belas ayat, dan di antaranya berdiri gambaran azab serta kisah Fir'aun. Al-Qur'an tidak menandai kembalinya ukuran itu di penutup surahnya. Ayat 73:20 memuat 78 patah, sedangkan ayat ini cuma lima.
  • Perintah mengurangi di ayat ini tidak disertai batas paling sedikit. Allah menyebut penguranganya dengan kata sedikit, dan kata itu tidak diangkakan di mana pun dalam surah ini maupun di ayat penutupnya. Pembacanya diberi rentang, bukan satu takaran tetap yang bisa dihitung dengan jam. Ketiadaan angka itu berlanjut sampai akhir surah, sebab 73:20 pun cuma menyebut apa yang mudah. Berapa banyak yang harus tersisa supaya perintah ini masih terpenuhi?
  • Ayat ini membuka pilihan mengurangi, dan 73:4 membuka pilihan menambah. Dua baris berurutan bergerak ke dua arah yang berlawanan dari titik yang sama, yaitu seperdua malam. Allah memberi rentang di kedua sisi tanpa mengunci satu angka, sehingga yang tersisa bukan patokan melainkan wilayah. Al-Qur'an tidak menerangkan susunan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa takarannya lentur ke bawah dan ke atas dalam dua ayat berurutan.
  • Kata yang menutup ayat ini sama dengan yang menutup 73:2, dan kembali lagi di 73:11. Tiga ayat di surah ini berakhir dengan bunyi yang sama, dan kata itu tercatat di 55 ayat di seluruh Al-Qur'an. Dua yang pertama mengukur ibadah yang diperintahkan, sedangkan yang ketiga mengukur tenggang bagi para pendusta yang akan dihukum. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan ketiganya, dan yang bisa dibaca cuma bahwa satu bunyi menutup dua urusan yang jauh berbeda. Surah 73 memuat tiga dari 55 kemunculan itu.
  • Takaran di ayat ini diberikan dalam pecahan malam, bukan dalam jam atau jumlah rakaat. Ukurannya karena itu mengikuti panjang malam setempat, sehingga berubah menurut musim dan tempat tinggal orangnya. Allah tidak menetapkan satu angka yang berlaku sama di mana-mana. Di 73:20 hitungan itu bahkan dinyatakan tidak akan terkejar, lalu keringanan diberikan. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan satuan itu, dan yang tertulis cuma pecahan yang lentur.