أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

Atau lebihkanlah atasnya, dan bacalah Al-Qur'an dengan tartil.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًاaw zid 'alayhi wa-rattili l-qur'aana tartiilanatau lebihkanlah atasnya, dan bacalah Al-Qur'an dengan tartil

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. أَوْawatau
  2. زِدْzidtambahkanlah
  3. عَلَيْهِ'alayhiatasnya
  4. وَرَتِّلِwa-rattilidan bacalah dengan tartil
  5. الْقُرْآنَl-qur'aanaAl-Qur'an
  6. تَرْتِيلًاtartiilandengan tartil

Inti bacaan

Kualitas bacaan yang ditekankan: 'atau lebihkanlah atasnya; dan bacalah Al-Qur'an dengan tartil', penekanan pada cara membaca (perlahan, teratur) bukan hanya durasi, kualitas perenungan lebih diutamakan daripada sekadar kuantitas waktu.

Penjelasan pilihan kata

Perintah (زِدْ, zid) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan tempatnya ayat ini. Ia berarti tambahkanlah, dan yang ditambah porsi malam.

Perhatikan bahwa perintah (وَرَتِّلِ, wa rattili) juga muncul 1 kali di seluruh mushaf. Ia menyuruh membaca dengan pelan dan tertata, dan tidak dipakai di ayat lain mana pun.

Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa ayat enam patah ini membawa dua bentuk yang tidak berulang, sama seperti 73:3 sebelumnya.

Kata (تَرْتِيلًا, tartiilan) tercatat di 2 ayat, yaitu 25:32 dan ayat ini. Di 25:32 yang membaca dengan tertata adalah Allah sendiri ketika menurunkan wahyu, sedangkan di sini yang diperintah membaca begitu adalah Nabi.

Perhatikan bahwa dua pemakaian itu berbeda pelakunya. Yang satu menerangkan cara Al-Qur'an diturunkan, yang lain menerangkan cara Al-Qur'an dibaca kembali oleh manusia.

Hubungan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa cara turunnya dan cara membacanya disebut dengan satu kata yang sama.

Perhatikan bahwa ayat ini menutup rangkaian takaran malam. Sesudah seperdua, kurang, dan tambah, ukuran malam tidak dibahas lagi sampai 73:20.

Perpindahan itu terjadi di dalam satu ayat. Separuh pertamanya masih mengurus jumlah malam, separuh keduanya sudah mengurus mutu bacaan.

Perhatikan bahwa sebutan (الْقُرْآنَ, al-qur-aan) dalam bentuk ini tercatat di 22 ayat, di antaranya 4:82, 12:3, dan 15:91. Ini penyebutan pertamanya di surah ini.

Al-Qur'an tidak menandai penyebutan pertama itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa namanya muncul di ayat keempat, lalu muncul lagi di ayat penutup surah ini.

Perhatikan bahwa perintahnya menyangkut cara, bukan jumlah bacaan. Tidak ada angka halaman, jumlah surah, atau jumlah ayat yang disebut di sini.

Ketiadaan angka itu berlanjut sampai akhir surah. Di 73:20 pun yang disebut cuma apa yang mudah, tanpa satu pun takaran bacaan yang diangkakan.

Perhatikan bahwa yang diperintahkan di sini melambatkan, bukan mempercepat. Bacaan yang tertata menuntut waktu lebih panjang daripada bacaan yang buru-buru.

Hubungan antara melambatkan bacaan dan memanjangkan malam tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua perintah itu berdiri di dalam satu ayat yang sama.

Perhatikan bahwa pilihan menambah disebut sesudah pilihan mengurangi. Urutannya naik, padahal ayat sebelumnya baru saja memberi kelonggaran ke bawah.

Susunan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa kelonggaran dan tuntutan lebih diletakkan berdampingan dalam dua baris berurutan.

Tafsiran

Ayat ini menambahkan perintah membaca Al-Qur'an dengan tartil. Ayat ini menutup rangkaian takaran malam dengan pilihan menambah, lalu berpindah ke perintah membaca Al-Qur'an dengan tertata. Dua perintah di dalamnya masing-masing muncul 1 kali di seluruh mushaf.

Kata yang menerangkan cara membaca itu tercatat di 2 ayat, yaitu 25:32 dan ayat ini. Di 25:32 yang membaca dengan tertata adalah Allah sendiri ketika menurunkan wahyu, sedangkan di sini yang diperintah membaca begitu adalah Nabi, sehingga satu kata dipakai untuk dua pelaku yang berbeda.

Perpindahan pokok bahasan terjadi di dalam satu ayat. Separuh pertamanya masih mengurus jumlah malam, sedangkan separuh keduanya sudah mengurus mutu bacaan. Sesudah ayat ini ukuran malam tidak dibahas lagi sampai 73:20.

Nama Al-Qur'an dalam bentuk yang dipakai di sini tercatat di 22 ayat, di antaranya 4:82, 12:3, dan 15:91. Ini penyebutan pertamanya di surah ini, dan namanya muncul lagi di ayat penutup dengan jarak enam belas ayat.

Perintah di ayat ini menyangkut cara, bukan jumlah. Tidak ada angka bacaan yang disebut, dan ketiadaan angka itu berlanjut sampai 73:20 yang cuma menyebut apa yang mudah.

Yang diperintahkan juga melambatkan, bukan mempercepat, sebab bacaan yang tertata menuntut waktu lebih panjang. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan antara melambatkan bacaan dan memanjangkan malam, dan yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya berdiri di satu ayat.

Renungan dan Hikmah

  • Kata yang sama dipakai Allah untuk cara Al-Qur'an diturunkan dan untuk cara Al-Qur'an dibaca. Di 25:32 pelakunya Allah sendiri, sedangkan di ayat ini pelakunya Nabi yang diperintah membaca. Kata itu cuma tercatat di dua ayat tersebut di seluruh mushaf, jadi pemakaiannya berhenti di sana. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan keduanya, dan yang bisa dibaca cuma bahwa cara turun dan cara baca memakai satu istilah yang sama persis. Dua ayat itu terpisah 48 surah di dalam mushaf.
  • Separuh pertama ayat ini masih mengurus jumlah malam, sedangkan separuh keduanya sudah mengurus mutu bacaan. Perpindahan itu terjadi tanpa jeda ayat dan tanpa kalimat penyambung, dan sesudahnya ukuran malam tidak dibahas lagi sampai 73:20. Allah menutup soal takaran dengan izin menambah, lalu langsung berpindah ke cara membaca. Al-Qur'an tidak menerangkan perpindahan itu di dalam ayatnya sendiri, dan yang tertulis cuma dua urusan yang bersambung dalam satu baris. Ayat 73:4 berdiri sebagai batas antara dua pokok di surah ini.
  • Ayat enam patah ini membawa dua perintah yang masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ayat sebelumnya di 73:3 juga membawa dua bentuk sekali pakai, sehingga dua ayat berurutan sama-sama padat dengan kata yang tidak berulang. Allah memakai kata-kata yang tidak diulang untuk perintah paling awal kepada Nabi, baik yang mengatur waktu maupun yang mengatur bacaan. Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu, dan yang bisa dibaca cuma sebarannya. Empat dari 40 kata sekali pakai di surah ini berdiri di 73:3 dan 73:4.
  • Perintah membaca di ayat ini menyangkut cara, bukan jumlah. Allah tidak menyebut berapa banyak yang harus dibaca, dan ketiadaan angka itu berlanjut sampai ayat penutup yang cuma menyebut apa yang mudah. Yang diatur mutu bacaannya, sedangkan banyaknya dibiarkan terbuka sejak awal surah sampai akhirnya. Apa artinya sebuah perintah yang mengatur cara tetapi menolak menyebut jumlah?
  • Nama Al-Qur'an muncul pertama kali di surah ini pada ayat keempat, dan bentuk yang dipakai tercatat di 22 ayat di seluruh mushaf, di antaranya 4:82, 12:3, dan 15:91. Namanya muncul lagi di ayat penutup surah ini dengan jarak enam belas ayat. Di antara dua penyebutan itu berdiri ayat-ayat tentang malam, kesabaran, azab, dan kisah Fir'aun yang mendurhakai utusan. Allah tidak menandai jarak itu di dalam teksnya. Ayat 73:20 menyebut namanya lagi dengan bentuk yang sedikit berbeda.
  • Yang diperintahkan di ayat ini melambatkan bacaan, bukan mempercepatnya. Bacaan yang tertata menuntut waktu lebih panjang daripada bacaan yang buru-buru, sehingga perintah ini menambah beban malam yang baru saja diatur di paruh pertama ayat yang sama. Allah meletakkan dua tuntutan itu berdampingan dalam satu baris. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan keduanya, dan yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya berdiri di satu ayat yang sama.