إِنَّ لَكَ فِي النَّهَارِ سَبْحًا طَوِيلًا
Sesungguhnya pada siang hari engkau mempunyai kesibukan yang panjang.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّ لَكَ فِي النَّهَارِ سَبْحًا طَوِيلًاinna laka fii n-nahaari sabhan thawiilansesungguhnya pada siang hari engkau mempunyai kesibukan yang panjang
Terjemahan per kata (6 kata)
- إِنَّinnasesungguhnya
- لَكَlakabagimu
- فِيfiipada
- النَّهَارِn-nahaarisiang
- سَبْحًاsabhanberenang
- طَوِيلًاthawiilanyang panjang
Inti bacaan
Pengakuan realitas kesibukan siang: 'sesungguhnya pada siang hari engkau mempunyai kesibukan yang panjang', validasi bahwa aktivitas duniawi tetap diperlukan dan diakui, malam dipilih untuk ibadah mendalam justru karena siang sudah dipenuhi tanggung jawab lain.
Penjelasan pilihan kata
Sebutan (سَبْحًا, sabhan) tercatat di 2 ayat, yaitu ayat ini dan 79:3. Ia berasal dari gambaran berenang atau meluncur di air.
Perhatikan bahwa di 79:3 gambaran itu dipakai untuk yang beredar dengan mudah di langit. Di sini ia dipakai untuk kesibukan manusia di siang hari.
Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan keduanya. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu gambaran gerak dipakai untuk benda langit dan untuk urusan sehari-hari.
Kata (طَوِيلًا, thawiilan) juga tercatat di 2 ayat, yaitu ayat ini dan 76:26. Di 76:26 yang disebut panjang adalah malam untuk bertasbih, sedangkan di sini yang panjang justru kesibukan siang.
Perhatikan bahwa dua pemakaian itu berlawanan arah. Yang satu memanjangkan waktu ibadah, yang lain memanjangkan waktu kerja.
Perbedaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa (طَوِيلًا, thawiilan) dipakai untuk malam yang dipakai beribadah dan untuk siang yang dipakai bekerja.
Perhatikan bahwa sebutan (النَّهَارِ, an-nahaari) di ayat ini menunjuk siang. Malam sudah disebut di 73:2 dan 73:6, jadi ayat ini melengkapi pasangannya.
Al-Qur'an tidak menandai pelengkapan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa siang dan malam berdiri berdampingan dalam dua ayat berurutan.
Perhatikan bahwa ayat ini memberi alasan kedua, bukan alasan yang sama. Di 73:6 alasannya keunggulan malam, di sini alasannya kepadatan siang.
Dua alasan itu bekerja dari arah yang berbeda. Yang pertama menarik ke malam karena mutunya, yang kedua mendorong dari siang karena penuhnya.
Perhatikan bahwa Al-Qur'an tidak melarang kesibukan siang di ayat ini. Yang disebut cuma bahwa kesibukan itu ada dan panjang.
Sikap terhadap kesibukan itu tidak dinyatakan di sini. Yang bisa dibaca cuma bahwa keberadaannya dipakai sebagai alasan memilih malam.
Perhatikan bahwa ayat ini enam patah. Ia lebih pendek daripada 73:6 yang delapan patah, padahal keduanya sama-sama membawa alasan.
Perbedaan panjang itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa alasan kedua disampaikan lebih ringkas daripada alasan pertama.
Perhatikan bahwa siang di sini disebut milik orang yang disapa. Susunannya menyebut bahwa bagimu ada kesibukan panjang di siang hari.
Kepemilikan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa kesibukan itu dilekatkan pada orangnya, bukan digambarkan sebagai keadaan umum.
Perhatikan bahwa sapaan perorangan itu bertahan sampai ayat ketujuh, termasuk sewaktu (النَّهَارِ, an-nahaari) disebut. Bentuk jamak baru muncul di 73:17 dan di ayat penutup 73:20.
Perpindahan sapaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa surah ini bermula pada satu orang lalu meluas ke banyak orang.
Perhatikan bahwa siang di sini tidak disuruh dikosongkan. Yang diminta justru memakai malam, sedangkan siangnya dibiarkan tetap penuh.
Pembagian itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua waktu diberi dua peran yang berbeda tanpa satu pun dihapus.
Tafsiran
Ayat ini menjelaskan kesibukan siang sebagai alasan lain keutamaan malam. Ayat ini memberi alasan kedua untuk memilih malam, yaitu bahwa siang hari sudah penuh oleh kesibukan yang panjang. Kata yang dipakai untuk kesibukan itu tercatat di 2 ayat, yaitu ayat ini dan 79:3.
Di 79:3 gambaran yang sama dipakai untuk yang beredar dengan mudah di langit, sedangkan di sini untuk urusan manusia di siang hari. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan keduanya, dan yang bisa dibaca cuma bahwa satu gambaran gerak dipakai untuk dua wilayah yang jauh berbeda.
Kata yang berarti panjang juga tercatat di 2 ayat, yaitu ayat ini dan 76:26. Di 76:26 yang disebut panjang adalah malam untuk bertasbih, sedangkan di sini yang panjang justru kesibukan siang, sehingga satu kata dipakai untuk dua arah yang berlawanan.
Siang disebut di ayat ini sesudah malam disebut di 73:2 dan 73:6. Dua waktu itu berdiri berdampingan dalam ayat-ayat berurutan, dan Al-Qur'an tidak menandai pelengkapan tersebut.
Alasan di ayat ini bekerja dari arah yang berbeda dengan alasan di 73:6. Yang pertama menarik ke malam karena mutunya, sedangkan yang kedua mendorong dari siang karena padatnya.
Ayat ini enam patah dan lebih pendek daripada 73:6 yang delapan patah. Kesibukan siang juga dilekatkan pada orang yang disapa, bukan digambarkan sebagai keadaan umum.
Renungan dan Hikmah
- Satu gambaran gerak yang sama dipakai Allah untuk benda yang beredar di langit di 79:3 dan untuk kesibukan manusia di siang hari di ayat ini. Kata itu cuma tercatat di dua ayat tersebut di seluruh Al-Qur'an, jadi pemakaiannya berhenti di sana. Yang bergerak di dua tempat itu berbeda jauh, sebab yang satu benda langit dan yang lain urusan sehari-hari. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan keduanya, dan yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya dilukiskan seperti meluncur di air. Surah 79 dan surah 73 terpisah enam nomor di dalam mushaf.
- Kata yang berarti panjang di ayat ini cuma dipakai Allah di dua tempat, yaitu di sini dan di 76:26. Di 76:26 yang panjang adalah malam yang dipakai bertasbih, sedangkan di sini yang panjang adalah kesibukan siang yang menyita waktu. Dua pemakaian itu berlawanan arah, sebab yang satu memanjangkan ibadah dan yang lain memanjangkan pekerjaan. Al-Qur'an tidak menyatakan perbedaan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa satu ukuran dipakai untuk dua isi yang bertolak belakang. Ayat 76:26 dan ayat ini terpisah tiga surah.
- Alasan di 73:6 menarik ke malam karena mutunya, sedangkan alasan di ayat ini mendorong dari siang karena padatnya. Allah memberi dua sebab yang bekerja dari arah berlawanan untuk satu perintah yang sama. Keduanya berdiri di dua ayat berurutan tanpa kalimat penyambung. Al-Qur'an tidak menerangkan susunan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa satu perintah dijaga dari dua sisi sekaligus. Dua ayat itu berjumlah 14 patah, dan keduanya berdiri berurutan tanpa jeda.
- Ayat ini tidak melarang kesibukan siang, dan tidak pula mencelanya. Yang disebut Allah cuma bahwa kesibukan itu ada dan panjang, lalu keberadaannya dipakai sebagai alasan memilih malam. Sikap terhadap kesibukan itu tidak dinyatakan di ayat mana pun dalam surah ini, dan 73:20 justru menyebut orang yang berjalan di bumi mencari karunia Allah. Apa artinya sebuah alasan yang mengakui kesibukan tanpa menyuruh menghentikannya?
- Susunan ayat ini menyebut bahwa bagimu ada kesibukan panjang di siang hari. Kesibukan itu dilekatkan Allah pada orang yang disapa, bukan digambarkan sebagai keadaan umum yang berlaku bagi semua orang. Cara menyapa seperti itu sejalan dengan pembuka surah di 73:1 yang juga menyebut keadaan satu orang. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa sapaannya tetap perorangan sampai ayat ketujuh. Bentuk jamak baru muncul di 73:17 dan 73:20.
- Malam disebut Allah di 73:2 dan 73:6, lalu siang disebut di ayat ini, sehingga dua waktu itu berdiri berdampingan dalam ayat-ayat berurutan. Pasangan yang sama muncul lagi di 73:20 ketika Allah disebut menetapkan ukuran malam dan siang. Jarak antara pasangan pertama dan pasangan kedua tiga belas ayat. Al-Qur'an tidak menandai kembalinya pasangan itu di ayat penutup surah. Jarak antara 73:7 dan 73:20 tiga belas baris.