وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا
Dan sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh hati.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًاwa-dzkuri sma rabbika wa-tabattal ilayhi tabtiilandan sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh hati
Terjemahan per kata (6 kata)
- وَاذْكُرِwa-dzkuridan sebutlah
- اسْمَsmanama
- رَبِّكَrabbikaTuhanmu
- وَتَبَتَّلْwa-tabattaldan beribadahlah sepenuhnya
- إِلَيْهِilayhikepada-Nya
- تَبْتِيلًاtabtiilandengan sepenuhnya
Inti bacaan
Instruksi ibadah dengan totalitas: 'sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh hati', penekanan pada kualitas penuh perhatian dalam ibadah, bukan sekadar formalitas mekanis tanpa kehadiran batin.
Penjelasan pilihan kata
Perintah (وَاذْكُرِ, wadzkuri) tercatat di 2 ayat, yaitu ayat ini dan 76:25. Ia menyuruh menyebut atau mengingat.
Perhatikan bahwa dua ayat itu membuka dengan susunan yang hampir sama. Di 76:25 perintahnya menyebut nama Tuhan pada waktu pagi dan petang, sedangkan di sini perintahnya diteruskan dengan menyendiri untuk-Nya.
Al-Qur'an tidak menandai kemiripan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah yang terpisah tiga nomor memakai pembuka perintah yang serupa, lalu bercabang ke arah yang berbeda.
Kata (اسْمَ, isma) tercatat di 9 ayat, di antaranya 5:4, 6:138, dan 22:28. Yang disebut di sini nama Tuhan, bukan zat-Nya secara langsung.
Perhatikan bahwa perintah (وَتَبَتَّلْ, wa tabattal) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti memutus diri dari yang lain dan menghadap sepenuhnya kepada Allah.
Penguatnya (تَبْتِيلًا, tabtiilan) juga muncul 1 kali di seluruh mushaf. Jadi ayat ini memuat dua bentuk sekali pakai dari satu bunyi dasar yang sama.
Al-Qur'an tidak menandai penggandaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa perintah menyendiri diucapkan dua kali berturut-turut dalam satu ayat, dengan dua bentuk yang tidak dipakai di ayat lain mana pun.
Perhatikan bahwa susunan penguat semacam itu juga dipakai di 73:4. Di sana perintah membaca dikuatkan dengan bunyi yang sama, dan penguatnya pun cuma dipakai di dua ayat.
Kesamaan susunan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua perintah di surah ini sama-sama dikuatkan dengan cara mengulang bunyi dasarnya.
Perhatikan bahwa ayat ini berpindah dari waktu ke sikap. Ayat-ayat sebelumnya mengatur kapan, sedangkan ayat ini mengatur ke mana hati diarahkan.
Perpindahan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa sesudah takaran malam dan alasannya, yang diatur berikutnya arah hati.
Perhatikan bahwa yang disuruh disebut nama Tuhanmu, bukan nama tertentu. Al-Qur'an tidak menyebutkan nama mana yang dimaksud di ayat ini.
Ketiadaan penyebutan itu tidak diterangkan. Yang bisa dibaca cuma bahwa perintahnya menyebut hubungan, yaitu Tuhan yang memelihara orang yang disapa.
Perhatikan bahwa ayat ini enam patah, sama seperti 73:4 dan 73:7. Tiga ayat dengan panjang yang sama berdiri berselang-seling di paruh pertama surah.
Al-Qur'an tidak menandai keseragaman itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa panjang ayat di surah ini bergerak naik turun, bukan menaik terus.
Perhatikan bahwa delapan ayat pertama surah ini berjumlah 43 patah. Rata-ratanya cuma lima sampai enam patah per ayat.
Ukuran itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa ayat-ayat pembuka surah ini pendek-pendek, sedangkan penutupnya sangat panjang.
Tafsiran
Ayat ini menyerukan zikir dan ibadah penuh kepada Allah. Ayat ini berpindah dari mengatur waktu ke mengatur arah hati, yaitu menyebut nama Tuhan dan menyendiri sepenuhnya untuk-Nya. Perintah pembukanya tercatat di 2 ayat, yaitu ayat ini dan 76:25.
Di 76:25 perintah yang sama diteruskan dengan waktu pagi dan petang, sedangkan di sini diteruskan dengan perintah menyendiri. Dua surah yang terpisah tiga nomor memakai pembuka yang serupa lalu bercabang, dan Al-Qur'an tidak menandai kemiripan itu.
Perintah menyendiri di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan penguatnya juga muncul 1 kali. Ayat ini karena itu memuat dua bentuk sekali pakai dari satu bunyi dasar yang sama, dan keduanya berdiri berturut-turut dalam satu baris.
Susunan penguat semacam itu juga dipakai di 73:4 untuk perintah membaca. Dua perintah di surah ini sama-sama dikuatkan dengan cara mengulang bunyi dasarnya, dan Al-Qur'an tidak menyatakan kesamaan tersebut.
Yang disuruh disebut adalah nama Tuhanmu, bukan nama tertentu yang disebutkan. Kata nama itu sendiri tercatat di 9 ayat, di antaranya 5:4, 6:138, dan 22:28.
Ayat ini enam patah, sama seperti 73:4 dan 73:7. Panjang ayat di surah ini bergerak naik turun, bukan menaik terus dari awal ke akhir, dan delapan ayat pertamanya berjumlah 43 patah.
Renungan dan Hikmah
- Perintah pembuka ayat ini cuma dipakai Allah di dua tempat, yaitu di sini dan di 76:25. Susunan tiga patah pertamanya sama persis di kedua ayat, lalu keduanya bercabang, sebab 76:25 menyebut waktu pagi dan petang sedangkan 73:8 menyebut perintah menyendiri. Dua surah itu terpisah tiga nomor di dalam mushaf. Al-Qur'an tidak menandai kemiripan tersebut, dan yang bisa dibaca cuma bahwa dua perintah bermula sama lalu berpisah. Surah 73 dan surah 76 juga sama-sama menyebut malam yang panjang untuk beribadah.
- Ayat ini memuat dua bentuk yang masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan keduanya berasal dari satu bunyi dasar yang sama. Allah menyuruh menyendiri, lalu menguatkan perintah itu dengan mengulang bunyinya dalam satu baris yang sama. Tidak ada ayat lain di 6236 ayat yang memakai bentuk mana pun dari keduanya. Al-Qur'an tidak menandai penggandaan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa perintah paling batin di surah ini memakai kata yang tidak berulang. Ayat 73:8 memuat enam patah, dan dua di antaranya tidak berulang.
- Susunan penguat di ayat ini sama dengan yang dipakai Allah di 73:4 untuk perintah membaca. Di kedua tempat perintahnya diulang bunyi dasarnya supaya lebih tegas, dan di kedua tempat penguatnya juga jarang dipakai di mushaf. Dua perintah itu berjarak empat ayat di dalam surah yang sama. Al-Qur'an tidak menyatakan kesamaan cara itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa dua perintah dikuatkan dengan pola yang serupa. Perintah ketiga dengan pola sama menyusul di 73:10.
- Ayat-ayat sebelumnya mengatur kapan harus bangun dan berapa lama, sedangkan ayat ini mengatur ke mana hati diarahkan. Allah berpindah dari takaran waktu ke sikap batin tanpa kalimat penyambung. Perpindahan serupa sudah terjadi di 73:4 ketika ukuran malam berganti menjadi mutu bacaan. Al-Qur'an tidak menerangkan urutan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa surah ini bergerak dari luar ke dalam. Perpindahan berikutnya datang di 73:10 ketika yang diatur sikap kepada manusia.
- Yang disuruh disebut di ayat ini adalah nama Tuhanmu, dan Allah tidak menyebutkan nama mana yang dimaksud. Kata nama itu sendiri tercatat di 9 ayat di seluruh mushaf, di antaranya 5:4, 6:138, dan 22:28. Yang ditonjolkan justru hubungan, yaitu Tuhan yang memelihara orang yang disapa, dan sebutan Tuhanmu sendiri tercatat di 111 ayat di seluruh mushaf. Nama apa yang harus disebut kalau ayatnya sendiri tidak menyebutkannya?
- Ayat ini enam patah, sama seperti 73:4 dan 73:7. Tiga ayat berpanjang sama berdiri berselang-seling di paruh pertama surah, sedangkan 73:6 di antaranya delapan patah. Panjang ayat di surah ini karena itu bergerak naik turun, bukan menaik terus dari awal ke akhir. Allah tidak menandai pola itu di dalam teksnya, dan yang bisa dibaca cuma jumlah patah di tiap ayatnya. Delapan ayat pertama surah ini berjumlah 43 patah.