رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلًا
Tuhan timur dan barat, tidak ada tuhan kecuali Dia, maka jadikanlah Dia sebagai wakil.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلًاrabbu l-masyriqi wa-l-maghribi laa ilaaha illaa huwa fa-ttakhidzhu wakiilanTuhan timur dan barat, tidak ada tuhan kecuali Dia, maka jadikanlah Dia sebagai wakil
Terjemahan per kata (9 kata)
- رَبُّrabbuTuhan
- الْمَشْرِقِl-masyriqitimur
- وَالْمَغْرِبِwa-l-maghribidan barat
- لَاlaatidak ada
- إِلَٰهَilaahatuhan
- إِلَّاillaakecuali
- هُوَhuwaDia
- فَاتَّخِذْهُfa-ttakhidzhumaka jadikanlah ia
- وَكِيلًاwakiilanpelindung
Inti bacaan
Penegasan tauhid dengan implikasi praktis: 'Tuhan timur dan barat; tidak ada tuhan kecuali Dia; maka jadikanlah Dia sebagai wakil', kesimpulan logis dari keesaan menuju tindakan konkret (menyerahkan urusan kepada-Nya), teologi yang berujung pada sikap hidup praktis.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(Dialah)' tidak dipakai: fragmen apositif lanjutan dari ayat sebelumnya.
Sebutan (الْمَشْرِقِ, al-masyriqi) tercatat di 4 ayat, yaitu 2:177, 2:258, 26:28, dan ayat ini. Pasangannya (وَالْمَغْرِبِ, wal-magribi) tercatat di 3 ayat, yaitu 2:177, 26:28, dan ayat ini.
Perhatikan bahwa 26:28 memakai susunan yang hampir sama dengan ayat ini. Di sana yang mengucapkannya Musa ketika berhadapan dengan Fir'aun, dan yang diucapkan bahwa Tuhannya adalah Tuhan timur dan barat.
Al-Qur'an tidak menandai kemiripan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa gelar yang sama dipakai Musa di depan Fir'aun dan dipakai di surah ini, sedangkan Fir'aun sendiri muncul lagi di 73:15 dan 73:16.
Perintah (فَاتَّخِذْهُ, fattakhidzhu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan tempatnya ayat ini. Ia menyuruh menjadikan Dia sebagai tempat bersandar.
Perhatikan bahwa (وَكِيلًا, wakiilan) tercatat di 13 ayat, di antaranya 4:81, 4:109, dan 17:65. Ia berarti pihak yang kepadanya urusan diserahkan.
Al-Qur'an tidak menandai sebaran itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa penyebutan gelar tersebut tidak jarang, sedangkan perintah mengambilnya di ayat ini tidak berulang.
Perhatikan bahwa ayat ini menyebut tiga hal berturut-turut. Pertama gelar penguasa timur dan barat, lalu penegasan tiada tuhan selain Dia, lalu perintah bersandar.
Susunan itu bergerak dari besar ke pribadi. Yang disebut lebih dulu luasnya kekuasaan, dan yang disebut terakhir sikap satu orang.
Perhatikan bahwa ayat ini sembilan patah. Ia ayat terpanjang di antara sepuluh ayat pertama surah ini.
Panjang itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa ayat yang memuat penegasan tauhid menjadi yang terpanjang di paruh awal surah, dan baru 73:15 yang melampauinya dengan sebelas patah.
Perhatikan bahwa timur dan barat menandai seluruh arah terbit dan terbenam. Penyebutannya melengkapi malam dan siang yang sudah disebut di 73:2, 73:6, dan 73:7.
Pelengkapan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa sesudah waktu disebut lengkap, tempat pun disebut lengkap.
Perhatikan bahwa perintah bersandar datang sesudah perintah menyendiri di 73:8. Yang satu memutus hubungan ke arah lain, yang satu lagi menyambungkan ke satu arah.
Hubungan keduanya tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua perintah itu berdiri berurutan dan bergerak ke arah yang berlawanan.
Perhatikan bahwa penegasan tiada tuhan selain Dia diletakkan di tengah ayat. Ia berdiri di antara gelar dan perintah, bukan di ujung.
Letak itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa penegasannya menjadi penyambung antara keluasan kekuasaan dan sikap yang diperintahkan.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan tauhid dan penyerahan diri penuh kepada Allah. Ayat ini menyebut Tuhan timur dan barat, menegaskan bahwa tiada tuhan selain Dia, lalu menyuruh menjadikan-Nya tempat bersandar. Sebutan timur tercatat di 4 ayat dan pasangannya di 3 ayat, dan keduanya bertemu di 2:177, 26:28, serta ayat ini.
Di 26:28 susunan yang hampir sama diucapkan Musa ketika berhadapan dengan Fir'aun. Gelar itu dipakai di depan penguasa yang mengaku besar, dan Fir'aun sendiri muncul lagi di 73:15 dan 73:16, sehingga dua bagian surah ini bertemu lewat satu nama.
Perintah bersandar di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Gelar yang dipakainya tercatat di 13 ayat, di antaranya 4:81, 4:109, dan 17:65, jadi gelarnya tidak jarang sedangkan perintah mengambilnya tidak berulang.
Ayat ini menyebut tiga hal berturut-turut, yaitu luasnya kekuasaan, penegasan tauhid, lalu perintah bersandar. Susunannya bergerak dari yang paling besar ke sikap satu orang, dan penegasan tauhidnya diletakkan di tengah sebagai penyambung.
Timur dan barat menandai seluruh arah terbit dan terbenam, sehingga tempat disebut lengkap sesudah waktu disebut lengkap di 73:2, 73:6, dan 73:7.
Ayat ini sembilan patah dan menjadi yang terpanjang di antara sepuluh ayat pertama surah ini, sedangkan 73:15 kelak melampauinya dengan sebelas patah. Perintah bersandar di sini juga datang tepat sesudah perintah menyendiri di 73:8.
Renungan dan Hikmah
- Gelar Tuhan timur dan barat dipakai Musa di depan Fir'aun di 26:28, dan gelar yang sama dipakai Allah di ayat ini. Dua sebutan penyusunnya cuma bertemu di tiga ayat, yaitu 2:177, 26:28, dan 73:9. Nama Fir'aun sendiri muncul lagi di surah ini pada 73:15 dan 73:16, sehingga dua bagian surah bertemu lewat satu nama. Al-Qur'an tidak menandai pertemuan itu, dan yang bisa dibaca cuma sebaran ketiga ayatnya. Jarak antara 73:9 dan 73:15 enam baris, dan nama Fir'aun muncul di ujung jarak itu.
- Perintah menjadikan Allah sebagai tempat bersandar di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Gelar yang dipakainya justru tercatat di 13 ayat, di antaranya 4:81, 4:109, dan 17:65, jadi gelarnya lazim sedangkan perintah mengambilnya tidak berulang. Perintah itu ditujukan kepada satu orang, bukan kepada golongan. Al-Qur'an tidak menerangkan pemilihan bentuk itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa pemakaiannya berhenti di ayat ini. Ayat 4:81 dan 17:65 memakai gelar itu tanpa perintah mengambilnya.
- Ayat ini menyebut tiga hal berturut-turut, yaitu luasnya kekuasaan Allah, penegasan bahwa tiada tuhan selain Dia, lalu perintah bersandar kepada-Nya. Susunannya bergerak dari yang paling besar ke sikap satu orang, tanpa satu pun kalimat penyambung di antaranya. Penegasan tauhidnya diletakkan di tengah, bukan di ujung, sehingga ia menjadi jembatan antara keduanya. Al-Qur'an tidak menerangkan letak itu, dan yang bisa dibaca cuma urutannya. Sembilan patah ayat ini memuat tiga langkah sekaligus.
- Malam disebut Allah di 73:2 dan 73:6, siang disebut di 73:7, lalu timur dan barat disebut di ayat ini. Waktu disebut lengkap lebih dulu, dan sesudahnya tempat pun disebut lengkap dari arah terbit sampai arah terbenam. Empat ayat berurutan karena itu menutup dua sumbu sekaligus. Al-Qur'an tidak menandai susunan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya disebut berdekatan. Empat ayat itu berjumlah 29 patah.
- Perintah di 73:8 menyuruh memutus diri dari yang lain, dan perintah di ayat ini menyuruh menyambungkan diri kepada Allah saja. Dua perintah itu berdiri berurutan dan bergerak ke arah yang berlawanan, yaitu melepas dan mengikat. Keduanya juga sama-sama memakai bentuk yang tidak berulang di mushaf, dan dua perintah itu berdiri di dua baris yang berurutan. Mengapa perintah melepas harus datang lebih dulu daripada perintah bersandar?
- Ayat ini sembilan patah dan menjadi yang terpanjang di antara sepuluh ayat pertama surah ini. Isi yang dibawanya juga paling luas, sebab di dalamnya berdiri gelar kekuasaan, penegasan tauhid, dan perintah bersandar sekaligus. Ayat 73:15 kelak melampauinya dengan sebelas patah, dan ayat penutup di 73:20 melampauinya jauh dengan 78 patah. Allah tidak menandai perbandingan itu, dan yang bisa dibaca cuma jumlah patah di tiap ayatnya. Sepuluh ayat pertama surah ini berjumlah 59 patah.