وَذَرْنِي وَالْمُكَذِّبِينَ أُولِي النَّعْمَةِ وَمَهِّلْهُمْ قَلِيلًا

Dan biarkanlah Aku dan para pendusta yang memiliki kenikmatan, dan berilah mereka penangguhan sebentar.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَذَرْنِي وَالْمُكَذِّبِينَ أُولِي النَّعْمَةِ وَمَهِّلْهُمْ قَلِيلًاwa-dzarnii wa-l-mukadzdzibiina ulii n-na'mati wa-mahhilhum qaliilandan biarkanlah Aku dan para pendusta yang memiliki kenikmatan, dan berilah mereka penangguhan sebentar

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. وَذَرْنِيwa-dzarniidan biarkanlah Aku
  2. وَالْمُكَذِّبِينَwa-l-mukadzdzibiinadan orang-orang yang mendustakan
  3. أُولِيuliipemilik
  4. النَّعْمَةِn-na'matikenikmatan
  5. وَمَهِّلْهُمْwa-mahhilhumdan berilah mereka tangguh
  6. قَلِيلًاqaliilansedikit

Inti bacaan

Pendelegasian penanganan penentang kepada otoritas yang lebih tinggi: 'biarkanlah Aku (menghadapi) para pendusta yang memiliki kenikmatan, dan berilah mereka penangguhan sebentar', pelepasan tanggung jawab menghukum kepada Allah, bukan tugas penyampai pesan untuk membalas, hanya menyampaikan dan menyerahkan hasil.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(menghadapi)' tidak dipakai: idiom 'biarkanlah Aku dan X' dipertahankan literal.

Perintah (وَذَرْنِي, wa dzarnii) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan tempatnya ayat ini. Ia berarti biarkanlah Aku, dan yang dimaksud menyerahkan urusan kepada Allah.

Perhatikan bahwa 74:11 memakai idiom yang sama tanpa penyambung di depannya. Dua ayat itu memakai nomor urut yang sama di dua surah yang bersebelahan, dan keduanya membuka ancaman terhadap penentang.

Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah berturut-turut memakai idiom yang sama di ayat kesebelasnya.

Sebutan (وَالْمُكَذِّبِينَ, wal-mukadzdzibiin) juga muncul 1 kali di seluruh mushaf. Ia menunjuk orang-orang yang mendustakan.

Perhatikan bahwa (النَّعْمَةِ, an-ni'mati) dalam bentuk ini pun muncul 1 kali. Ia menunjuk kenikmatan hidup yang berlimpah, dan di sini dilekatkan pada para pendusta itu.

Perintah (وَمَهِّلْهُمْ, wa mahhilhum) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia menyuruh memberi mereka tenggang.

Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dari enam patah ayat ini, empat patah tidak dipakai di ayat lain mana pun.

Perhatikan bahwa penutup (قَلِيلًا, qaliilan) di ayat ini sama dengan penutup 73:2 dan 73:3. Kata yang sama sudah dipakai dua kali untuk mengukur malam, dan di sini ia mengukur tenggang.

Perbedaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa ukuran yang sedikit dipakai untuk ibadah dan untuk penangguhan hukuman.

Perhatikan bahwa yang disebut di sini kenikmatan mereka, bukan kekuasaan atau jumlah mereka. Yang ditonjolkan kelimpahan hidup, bukan kekuatan.

Pilihan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa para pendusta di ayat ini dikenali lewat kemewahannya.

Perhatikan bahwa perintahnya menyuruh mundur, bukan bertindak. Nabi disuruh membiarkan, dan urusannya diambil alih.

Susunan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa sesudah perintah bersabar di 73:10, yang datang bukan perintah membalas melainkan perintah menyerahkan.

Perhatikan bahwa tenggang yang diberikan disebut sedikit. Al-Qur'an tidak menyebut berapa lama sedikit itu.

Ketiadaan ukuran itu berlanjut ke ayat-ayat sesudahnya. Yang menyusul justru gambaran siksa di 73:12 dan 73:13, bukan penjelasan waktunya.

Perhatikan bahwa para pendusta disebut cuma di ayat ini. Sesudahnya yang diuraikan tinggal akibat yang menimpa mereka di 73:12 dan 73:13.

Ketunggalan penyebutan itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa pelakunya disebut sekali, sedangkan hukumannya diuraikan dua ayat berturut-turut.

Tafsiran

Ayat ini menenangkan Nabi bahwa urusan para pendusta ada di tangan Allah. Ayat ini menyuruh Nabi menyerahkan urusan para pendusta kepada Allah dan memberi mereka tenggang sebentar. Empat dari enam patahnya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.

Idiom pembukanya dipakai lagi di 74:11 tanpa penyambung di depannya. Dua ayat itu memakai nomor urut yang sama di dua surah yang bersebelahan, dan keduanya membuka ancaman terhadap penentang, sedangkan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran tersebut.

Para pendusta di ayat ini dikenali lewat kelimpahan hidupnya, bukan lewat kekuasaan atau jumlahnya. Sebutan yang dipakai untuk kenikmatan itu juga muncul 1 kali di seluruh mushaf.

Penutup ayat ini sama dengan penutup 73:2 dan 73:3. Kata yang sama sudah dipakai dua kali untuk mengukur malam, dan di sini ia mengukur tenggang bagi para pendusta.

Perintah di ayat ini menyuruh mundur, bukan bertindak. Sesudah perintah bersabar di 73:10, yang datang bukan perintah membalas melainkan perintah menyerahkan.

Tenggang yang diberikan disebut sedikit tanpa ukuran waktu. Yang menyusul justru gambaran siksa di 73:12 dan 73:13, bukan penjelasan berapa lama tenggang itu berlaku. Para pendusta sendiri disebut cuma di ayat ini, sedangkan dua ayat sesudahnya tinggal menguraikan akibatnya.

Renungan dan Hikmah

  • Idiom yang membuka ayat ini dipakai lagi Allah di 74:11, yaitu di ayat kesebelas surah berikutnya. Bentuk di 73:11 memakai penyambung di depannya sedangkan bentuk di 74:11 tidak, dan keduanya sama-sama membuka ancaman terhadap penentang. Dua surah itu juga sama-sama dibuka dengan sapaan kepada orang yang berselimut. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa dua ayat bernomor sama memakai idiom yang sama. Nama kedua surah itu pun sama-sama diambil dari kata pertamanya, dan keduanya sama-sama berisi perintah bangun malam.
  • Dari enam patah ayat ini, empat patah masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Perintah menyerahkan, sebutan para pendusta, sebutan kenikmatan, dan perintah memberi tenggang semuanya tidak dipakai Allah di ayat lain mana pun. Artinya dua pertiga isi ayat ini tidak berulang di 6236 ayat yang lain. Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu, dan yang bisa dibaca cuma sebaran keempat patahnya. Surah ini memuat 40 kata sekali pakai, dan empat di antaranya berdiri di ayat ini.
  • Para pendusta di ayat ini dikenali Allah lewat kelimpahan hidupnya, bukan lewat kekuasaan atau jumlahnya. Sebutan yang dipakai untuk kenikmatan itu muncul 1 kali di seluruh mushaf, dan di sini ia dilekatkan pada mereka. Yang ditonjolkan kemewahan, bukan kekuatan atau senjata. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa penandanya berupa kenikmatan yang berlimpah. Ayat 73:12 dan 73:13 kemudian menyebut apa yang menanti mereka, yaitu empat macam siksa berturut-turut.
  • Perintah di ayat ini menyuruh Nabi mundur dan menyerahkan urusan kepada Allah. Sesudah perintah bersabar di 73:10, yang datang bukan perintah membalas melainkan perintah membiarkan. Dua baris berurutan karena itu sama-sama menahan tangan, bukan menggerakkannya, dan perintah serupa muncul lagi di 74:11 dengan susunan yang hampir sama. Mengapa jawaban atas pendustaan justru berupa perintah untuk tidak bertindak?
  • Kata yang menutup ayat ini sudah dipakai Allah di 73:2 dan 73:3 untuk mengukur malam. Di dua tempat pertama ia mengurangi porsi ibadah, sedangkan di sini ia memperpendek tenggang bagi para pendusta. Satu ukuran yang sama karena itu dipakai untuk hal yang diberikan dan untuk hal yang ditahan. Al-Qur'an tidak menyatakan perbedaan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa ketiganya memakai kata yang sama. Ketiganya berdiri di 73:2, 73:3, dan 73:11.
  • Tenggang yang diberikan Allah di ayat ini disebut sedikit tanpa satu pun ukuran waktu. Ketiadaan angka itu berlanjut ke ayat-ayat sesudahnya, sebab yang menyusul justru gambaran siksa di 73:12 dan 73:13. Pola yang sama sudah terlihat pada takaran malam di 73:2 sampai 73:4, yang juga tidak diangkakan. Al-Qur'an tidak menerangkan ketiadaan ukuran itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa surah ini menolak menyebut angka waktu. Pecahan malam baru muncul lagi di 73:20.