إِنَّ لَدَيْنَا أَنْكَالًا وَجَحِيمًا
Sesungguhnya di sisi Kami ada belenggu-belenggu dan neraka yang menyala-nyala,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّ لَدَيْنَا أَنْكَالًا وَجَحِيمًاinna ladaynaa ankaalan wa-jahiimansesungguhnya di sisi Kami ada belenggu-belenggu dan neraka yang menyala-nyala
Terjemahan per kata (4 kata)
- إِنَّinnasesungguhnya
- لَدَيْنَاladaynaadi sisi Kami
- أَنْكَالًاankaalanbelenggu-belenggu
- وَجَحِيمًاwa-jahiimandan neraka Jahim
Inti bacaan
Konsekuensi yang telah dipersiapkan: 'sesungguhnya di sisi Kami ada belenggu-belenggu dan Jahim', kepastian bahwa penangguhan bukan berarti pembebasan, melainkan penundaan sementara sebelum konsekuensi yang sudah disiapkan.
Penjelasan pilihan kata
Sebutan (لَدَيْنَا, ladainaa) tercatat di 5 ayat, yaitu 12:54, 36:32, 36:53, 43:4, dan ayat ini. Ia berarti di sisi Kami.
Perhatikan bahwa empat pemakaian lainnya tidak menyangkut siksa. Di 12:54 yang berada di sisi raja adalah Yusuf yang dimuliakan, di 43:4 yang berada di sisi Allah adalah induk Kitab, dan di 36:32 serta 36:53 yang dihadirkan seluruh manusia.
Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa sebutan yang sama dipakai untuk kemuliaan, untuk kitab, dan untuk belenggu.
Sebutan (أَنْكَالًا, ankaalan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan tempatnya ayat ini. Ia menunjuk belenggu yang berat.
Perhatikan bahwa (وَجَحِيمًا, wa jahiiman) dalam bentuk ini juga muncul 1 kali. Ia menunjuk api yang menyala-nyala.
Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dari empat patah ayat ini, dua patah tidak dipakai di ayat lain mana pun.
Perhatikan bahwa ayat ini cuma empat patah. Ia sama pendeknya dengan 73:2, padahal isinya ancaman dan bukan perintah.
Panjang itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa ancaman pertama di surah ini disampaikan sependek perintah pertamanya.
Perhatikan bahwa siksa yang disebut di sini dua macam sekaligus. Yang satu mengikat, yang lain membakar.
Dua macam itu tidak dirinci lebih jauh. Yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya disebut berdampingan tanpa keterangan tambahan.
Perhatikan bahwa ancamannya datang tepat sesudah perintah memberi tenggang di 73:11. Tenggang dan siksa berdiri di dua baris yang berurutan.
Susunan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa penangguhan disebut lebih dulu, dan yang menanti di ujung penangguhan disebut sesudahnya.
Perhatikan bahwa yang menyimpan siksa itu disebut sebagai pihak pertama. Susunannya menyebut bahwa di sisi Kami ada belenggu, bukan bahwa mereka akan menemukan belenggu.
Cara menyebut itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa siksanya digambarkan sudah tersedia, bukan baru akan dibuat.
Perhatikan bahwa ayat ini dibuka dengan penegas, sama seperti 73:5, 73:6, 73:7, 73:15, 73:19, dan 73:20. Tujuh dari dua puluh ayat surah ini dibuka dengan cara yang sama.
Sebaran itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa lebih dari sepertiga ayat surah ini memulai kalimatnya dengan penegasan.
Perhatikan bahwa penegas itu dipakai untuk perintah dan untuk ancaman sekaligus. Di 73:6 ia membuka alasan ibadah, sedangkan di sini ia membuka daftar siksa.
Perbedaan isi itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu cara membuka dipakai untuk dua urusan yang berlawanan.
Tafsiran
Ayat ini mengancam siksaan bagi para pendusta. Ayat ini menyebut apa yang tersedia di sisi Allah bagi para pendusta, yaitu belenggu yang berat dan api yang menyala. Sebutan di sisi Kami tercatat di 5 ayat, yaitu 12:54, 36:32, 36:53, 43:4, dan ayat ini.
Empat pemakaian lainnya tidak menyangkut siksa. Di 12:54 yang berada di sisi raja adalah Yusuf yang dimuliakan, di 43:4 yang berada di sisi Allah adalah induk Kitab, sedangkan di 36:32 dan 36:53 yang dihadirkan seluruh manusia.
Dua sebutan siksa di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh mushaf. Dari empat patah ayat ini, dua patah karena itu tidak dipakai di ayat lain mana pun.
Ayat ini cuma empat patah dan sama pendeknya dengan 73:2, padahal isinya ancaman dan bukan perintah. Siksa yang disebut juga dua macam sekaligus, yaitu yang mengikat dan yang membakar.
Ancamannya datang tepat sesudah perintah memberi tenggang di 73:11. Tenggang dan siksa berdiri di dua baris berurutan, dan Al-Qur'an tidak menerangkan susunan itu.
Susunan ayat ini juga menyebut bahwa di sisi Kami ada belenggu, bukan bahwa mereka akan menemukan belenggu. Siksanya digambarkan sudah tersedia, bukan baru akan dibuat. Ayat ini pun dibuka dengan penegas, sama seperti enam ayat lain di surah ini, sehingga tujuh dari dua puluh ayatnya memulai kalimat dengan cara yang sama.
Renungan dan Hikmah
- Sebutan di sisi Kami dipakai Allah di 5 ayat, yaitu 12:54, 36:32, 36:53, 43:4, dan 73:12. Di 12:54 yang berada di sisi raja adalah Yusuf yang dimuliakan, dan di 43:4 yang berada di sisi Allah adalah induk Kitab yang tinggi kedudukannya. Di ayat ini yang berada di sisi-Nya justru belenggu dan api. Satu sebutan yang sama karena itu menaungi kemuliaan dan hukuman sekaligus, dan Al-Qur'an tidak menandai perbedaan tersebut. Empat ayat lain itu berdiri di surah 12, surah 36, dan surah 43, jadi tiga surah yang jauh dari surah ini.
- Dari empat patah ayat ini, dua patah masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Sebutan belenggu dan sebutan api yang dipakai Allah di sini tidak dipakai di ayat lain mana pun. Ayat sebelumnya di 73:11 juga membawa empat kata sekali pakai, sehingga dua ayat berurutan sama-sama padat. Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu, dan yang bisa dibaca cuma sebaran keduanya. Enam kata sekali pakai karena itu berdiri di dua baris yang berurutan, yaitu 73:11 dan 73:12.
- Siksa yang disebut Allah di ayat ini dua macam sekaligus, yaitu yang mengikat dan yang membakar. Keduanya diletakkan berdampingan tanpa keterangan tambahan dan tanpa urutan waktu. Ayat berikutnya di 73:13 menambah dua macam lagi, yaitu makanan yang menyumbat dan azab yang pedih. Al-Qur'an tidak merinci hubungan keempatnya, dan yang bisa dibaca cuma bahwa daftarnya bertambah baris demi baris. Keempatnya disebut sebelum waktunya diberitahukan.
- Perintah memberi tenggang di 73:11 langsung disusul ancaman di ayat ini. Tenggang dan siksa berdiri di dua baris yang berurutan tanpa satu pun kalimat penyambung. Yang ditangguhkan bukan hukumannya, melainkan waktu jatuhnya. Al-Qur'an tidak menerangkan susunan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa penangguhan disebut lebih dulu dan isinya disebut sesudahnya. Jarak antara perintah bersabar di 73:10 dan ancaman ini dua baris.
- Susunan ayat ini menyebut bahwa di sisi Kami ada belenggu, bukan bahwa mereka akan menemukan belenggu. Siksanya digambarkan Allah sudah tersedia, bukan baru akan dibuat ketika saatnya tiba. Cara menyebut seperti itu menaruh keberadaannya di masa kini, sedangkan pertemuannya di masa depan, dan sebutan yang sama dipakai di 43:4 untuk induk Kitab yang tinggi kedudukannya. Apa bedanya bagi pembaca antara siksa yang sudah tersedia dan siksa yang baru akan dibuat?
- Ayat ini cuma empat patah dan sama pendeknya dengan 73:2 yang berisi perintah bangun malam. Ancaman pertama di surah ini karena itu disampaikan Allah sependek perintah pertamanya. Panjang kalimat di surah ini memang tidak mengikuti berat isinya, sebab 73:9 yang sembilan patah justru berisi penegasan tauhid. Al-Qur'an tidak menandai perbandingan itu, dan yang bisa dibaca cuma jumlah patah di tiap ayatnya. Dua ayat empat patah itu berdiri di 73:2 dan 73:12.