يَوْمَ تَرْجُفُ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ وَكَانَتِ الْجِبَالُ كَثِيبًا مَهِيلًا

Pada hari bumi dan gunung-gunung berguncang, dan gunung-gunung menjadi onggokan pasir yang tercurah.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. يَوْمَ تَرْجُفُ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ وَكَانَتِ الْجِبَالُ كَثِيبًا مَهِيلًاyawma tarjufu l-ardhu wa-l-jibaalu wa-kaanati l-jibaalu katsiiban mahiilanpada hari bumi dan gunung-gunung berguncang, dan gunung-gunung menjadi onggokan pasir yang tercurah

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. يَوْمَyawmahari
  2. تَرْجُفُtarjufuberguncang
  3. الْأَرْضُl-ardhubumi
  4. وَالْجِبَالُwa-l-jibaaludan gunung-gunung
  5. وَكَانَتِwa-kaanatidan adalah
  6. الْجِبَالُl-jibaalugunung-gunung
  7. كَثِيبًاkatsiibangundukan pasir
  8. مَهِيلًاmahiilanyang menghambur

Inti bacaan

Skala kehancuran kosmik: 'pada hari bumi dan gunung-gunung berguncang, dan gunung-gunung menjadi onggokan pasir yang tercurah', transformasi drastis struktur paling stabil menjadi rapuh, pengingat akan skala perubahan yang akan terjadi.

Penjelasan pilihan kata

Perbuatan (تَرْجُفُ, tarjufu) tercatat di 2 ayat, yaitu ayat ini dan 79:6. Ia berarti berguncang keras.

Perhatikan bahwa 79:6 memakai (تَرْجُفُ, tarjufu) untuk guncangan yang mengguncang, tanpa menyebut apa yang diguncang. Di sini yang diguncang disebut jelas, yaitu bumi dan gunung-gunung.

Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua ayat memakai satu kata guncangan, dan cuma satu di antaranya menyebut sasarannya.

Pasangan (وَالْجِبَالُ, wal-jibaal) tercatat di 3 ayat, yaitu 22:18, 69:14, dan ayat ini. Di 69:14 bumi dan gunung-gunung diangkat lalu dibenturkan sekali benturan.

Perhatikan bahwa 22:18 memakai pasangan itu dalam suasana yang berlawanan. Di sana gunung-gunung disebut bersujud kepada Allah bersama matahari, bulan, dan bintang.

Sebaran itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu pasangan kata dipakai untuk sujud dan untuk kehancuran.

Sebutan (وَكَانَتِ, wa kaanati) tercatat di 3 ayat, yaitu 19:5, 19:8, dan ayat ini. Di dua ayat surah 19 yang mengikutinya keterangan tentang istri yang mandul.

Perhatikan bahwa di sini yang mengikutinya keterangan tentang gunung yang menjadi pasir. Satu susunan yang sama dipakai untuk keadaan rumah tangga dan untuk keadaan bumi.

Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa ketiga tempatnya menerangkan keadaan yang sudah berubah.

Sebutan (كَثِيبًا, katsiiban) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan (مَهِيلًا, mahiilan) juga muncul 1 kali. Keduanya melukiskan onggokan pasir yang tercurah.

Perhatikan bahwa dua kata itu, yaitu (كَثِيبًا, katsiiban) dan pasangannya, berdiri berdampingan di ujung ayat. Gambaran akhirnya karena itu dilukiskan dengan dua kata yang tidak dipakai di ayat lain mana pun.

Kepadatan itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa penutup gambaran hari kiamat di surah ini memakai kata yang tidak berulang.

Perhatikan bahwa gunung disebut dua kali dalam satu ayat. Yang pertama menyebutnya berguncang, yang kedua menyebutnya sudah menjadi pasir.

Pengulangan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu ayat memuat dua tahap sekaligus, yaitu guncangannya dan hasil akhirnya.

Perhatikan bahwa ayat ini delapan patah. Ia sama panjangnya dengan 73:6, padahal yang satu berisi alasan ibadah dan yang lain gambaran kiamat.

Kesamaan itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa panjang yang sama dipakai untuk dua isi yang jauh berbeda.

Perhatikan bahwa hari yang dimaksud tidak diberi nama di ayat ini. Yang disebut cuma tandanya, yaitu bumi dan gunung yang berguncang.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan kehancuran bumi dan gunung pada Hari Kiamat. Ayat ini menyebut hari ketika bumi dan gunung-gunung berguncang, lalu gunung-gunung menjadi onggokan pasir yang tercurah. Kata guncangan yang dipakai tercatat di 2 ayat, yaitu ayat ini dan 79:6.

Di 79:6 kata itu dipakai untuk guncangan yang mengguncang tanpa menyebut sasarannya, sedangkan di sini sasarannya disebut jelas. Pasangan bumi dan gunung-gunung sendiri tercatat di 3 ayat, yaitu 22:18, 69:14, dan ayat ini.

Di 69:14 bumi dan gunung-gunung diangkat lalu dibenturkan sekali benturan, sedangkan di 22:18 gunung-gunung justru disebut bersujud kepada Allah bersama matahari, bulan, dan bintang. Satu pasangan kata karena itu dipakai untuk sujud dan untuk kehancuran.

Susunan yang menerangkan perubahan keadaan tercatat di 3 ayat, yaitu 19:5, 19:8, dan ayat ini. Di dua ayat surah 19 yang mengikutinya keterangan tentang istri yang mandul, sedangkan di sini keterangan tentang gunung yang menjadi pasir.

Dua kata penutup ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh mushaf. Gambaran akhirnya karena itu dilukiskan dengan kata yang tidak dipakai di ayat lain mana pun.

Gunung disebut dua kali dalam satu ayat, yaitu ketika berguncang dan ketika sudah menjadi pasir. Ayat ini delapan patah, sama panjangnya dengan 73:6 yang berisi alasan ibadah.

Renungan dan Hikmah

  • Pasangan bumi dan gunung-gunung dipakai Allah di 3 ayat, yaitu 22:18, 69:14, dan 73:14. Di 22:18 gunung-gunung disebut bersujud bersama matahari, bulan, dan bintang, sedangkan di 69:14 keduanya diangkat lalu dibenturkan sekali benturan. Di ayat ini keduanya berguncang sampai gunungnya menjadi pasir. Satu pasangan kata karena itu menaungi sujud dan kehancuran sekaligus, dan Al-Qur'an tidak menandai perbedaan tersebut. Ayat 69:14 dan ayat ini sama-sama melukiskan hari kiamat, sedangkan 22:18 melukiskan keadaan yang berlangsung sekarang.
  • Kata guncangan di ayat ini cuma dipakai Allah di dua tempat, yaitu di sini dan di 79:6. Di 79:6 yang disebut cuma guncangan yang mengguncang, tanpa menyebut apa yang diguncang, sedangkan di sini sasarannya disebut jelas berupa bumi dan gunung-gunung. Dua ayat itu terpisah enam surah di dalam mushaf. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan cara menyebut itu, dan yang bisa dibaca cuma kedua tempatnya. Ayat 79:6 cuma tiga patah, sedangkan ayat ini delapan.
  • Susunan yang menerangkan perubahan keadaan di ayat ini cuma tercatat di 3 ayat, yaitu 19:5, 19:8, dan 73:14. Di dua ayat surah 19 yang mengikutinya keterangan tentang istri Zakariya yang mandul, sedangkan di sini keterangan tentang gunung yang menjadi pasir. Satu susunan yang sama karena itu dipakai Allah untuk keadaan satu rumah tangga dan untuk keadaan seluruh bumi. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu, dan yang bisa dibaca cuma ketiga tempatnya. Dua ayat surah 19 itu berjarak tiga baris.
  • Dua kata yang menutup ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Keduanya berdiri berdampingan di ujung ayat dan bersama-sama melukiskan onggokan pasir yang tercurah. Gambaran akhir hari kiamat di surah ini karena itu dilukiskan Allah dengan kata yang tidak berulang di ayat lain mana pun. Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya berhenti di sini. Ayat ini memuat dua dari 40 kata sekali pakai surah ini.
  • Gunung disebut Allah dua kali dalam satu ayat, yaitu ketika berguncang dan ketika sudah menjadi pasir. Satu baris karena itu memuat dua tahap sekaligus, yakni prosesnya dan hasil akhirnya. Tidak ada kalimat penyambung yang menerangkan berapa lama jarak antara keduanya, dan 73:18 kelak menyebut langit yang terbelah pada hari yang sama. Apa yang masih tersisa dari sebuah puncak batu sesudah ia berubah jadi onggokan pasir?
  • Ayat ini delapan patah, sama panjangnya dengan 73:6 yang berisi alasan bangun malam. Satu ayat menerangkan mutu waktu ibadah, sedangkan satu lagi melukiskan hancurnya bumi dan gunung. Panjang kalimat di surah ini memang tidak mengikuti besarnya isi, sebab 73:12 yang cuma empat patah sudah memuat ancaman belenggu dan api. Allah tidak menandai perbandingan itu, dan yang bisa dibaca cuma jumlah patah di tiap ayatnya. Dua ayat delapan patah itu berjarak delapan baris.