السَّمَاءُ مُنْفَطِرٌ بِهِ ۚ كَانَ وَعْدُهُ مَفْعُولًا
Langit terbelah padanya, janji-Nya pasti terlaksana.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- السَّمَاءُ مُنْفَطِرٌ بِهِ ۚ كَانَ وَعْدُهُ مَفْعُولًاas-samaa'u munfathirun bihi kaana wa'duhu maf'uulanlangit terbelah padanya, janji-Nya pasti terlaksana
Terjemahan per kata (6 kata)
- السَّمَاءُas-samaa'ulangit
- مُنْفَطِرٌmunfathirunyang terbelah
- بِهِbihipadanya
- كَانَkaanaadalah
- وَعْدُهُwa'duhujanji-Nya
- مَفْعُولًاmaf'uulanyang terlaksana
Inti bacaan
Kepastian yang tak terelakkan: 'langit terbelah padanya; janji-Nya pasti terlaksana', penegasan bahwa peristiwa yang dijanjikan bukan kemungkinan, melainkan kepastian mutlak yang akan terwujud.
Penjelasan pilihan kata
Sebutan (مُنْفَطِرٌ, munfathirun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan tempatnya ayat ini. Ia berarti terbelah atau retak.
Perhatikan bahwa (السَّمَاءُ, as-samaa-u) dalam bentuk ini tercatat di 15 ayat, di antaranya 55:37, 69:16, dan 82:1. Di ayat ini ia disandingkan dengan kata terbelah yang tidak berulang.
Al-Qur'an tidak menandai gabungan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa sebutan yang lazim dipasangkan dengan sebutan yang tidak pernah dipakai lagi.
Kata (وَعْدُهُ, wa'duhu) tercatat di 2 ayat, yaitu 19:61 dan ayat ini. Di 19:61 janji yang dimaksud taman Adn bagi hamba-hamba-Nya, sedangkan di sini janji tentang hari kiamat.
Perhatikan bahwa dua janji itu berlawanan isinya. Yang satu berupa ganjaran, yang lain berupa hari yang membelah langit.
Perbedaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan dipakai untuk janji baik dan untuk janji yang menakutkan.
Kata (مَفْعُولًا, maf'uulan) tercatat di 6 ayat, yaitu 4:47, 8:42, 8:44, 17:5, 33:37, dan ayat ini. Ia berarti pasti terlaksana.
Perhatikan bahwa lima pemakaian lainnya menyangkut ketetapan yang sudah berjalan. Di 8:42 dan 8:44 yang dimaksud urusan perang yang sudah diputuskan, dan di 33:37 perkara yang sudah selesai.
Sebaran itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa di lima tempat lain kata itu menutup peristiwa yang sudah terjadi, sedangkan di sini menutup peristiwa yang belum.
Perhatikan bahwa ayat ini tidak menyebut siapa yang berjanji. Yang tertulis cuma janji-Nya, dan pemiliknya baru jelas dari ayat-ayat sekitarnya.
Ketiadaan nama itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa nama Allah tidak muncul sama sekali sampai ayat penutup surah ini.
Perhatikan bahwa ayat ini enam patah, sama seperti 73:11 dan 73:16. Ia juga ayat terakhir yang melukiskan hari kiamat di surah ini.
Letak itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa sesudahnya surah ini berpindah ke peringatan dan ke aturan ibadah.
Perhatikan bahwa langit disebut sesudah bumi dan gunung. Di 73:14 yang berguncang bumi dan gunung, dan di sini yang terbelah langit.
Urutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa gambarannya bergerak dari bawah ke atas dengan jarak empat ayat.
Perhatikan bahwa ayat ini memuat dua kalimat pendek yang berdiri sendiri. Yang pertama melukiskan langit, yang kedua menegaskan kepastian janji.
Gabungan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa gambaran dan penegasan diletakkan berdampingan dalam satu ayat enam patah.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan kepastian terlaksananya janji Allah tentang Hari Kiamat. Ayat ini menyebut langit yang terbelah pada hari itu, dan menegaskan bahwa janji-Nya pasti terlaksana. Kata yang berarti terbelah muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Sebutan langit dalam bentuk yang dipakai di sini tercatat di 15 ayat, di antaranya 55:37, 69:16, dan 82:1. Sebutan yang lazim itu dipasangkan dengan kata yang tidak pernah dipakai lagi di ayat mana pun.
Kata yang berarti janji-Nya tercatat di 2 ayat, yaitu 19:61 dan ayat ini. Di 19:61 janji yang dimaksud taman Adn bagi hamba-hamba-Nya, sedangkan di sini janji tentang hari yang membelah langit, sehingga satu sebutan dipakai untuk dua isi yang berlawanan.
Kata yang berarti pasti terlaksana tercatat di 6 ayat, yaitu 4:47, 8:42, 8:44, 17:5, 33:37, dan ayat ini. Di lima tempat lain ia menutup peristiwa yang sudah berjalan, sedangkan di sini menutup peristiwa yang belum terjadi.
Ayat ini tidak menyebut siapa yang berjanji, dan nama Allah memang tidak muncul sama sekali di surah ini sampai ayat penutupnya. Yang tertulis cuma janji-Nya.
Ayat ini enam patah dan menjadi yang terakhir melukiskan hari kiamat di surah ini. Langit juga disebut sesudah bumi dan gunung yang berguncang di 73:14, sehingga gambarannya bergerak dari bawah ke atas.
Renungan dan Hikmah
- Kata yang berarti janji-Nya cuma dipakai Allah di dua tempat, yaitu 19:61 dan 73:18. Di 19:61 yang dijanjikan taman Adn bagi hamba-hamba-Nya, sedangkan di sini yang dijanjikan hari yang membelah langit. Dua janji itu berlawanan isinya, sebab yang satu berupa ganjaran dan yang lain berupa kehancuran. Al-Qur'an tidak menyatakan perbedaan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya memakai sebutan yang sama. Ayat 19:61 dan ayat ini terpisah 54 surah di dalam mushaf, jadi keduanya berjauhan letaknya.
- Kata yang berarti pasti terlaksana dipakai Allah di 6 ayat, yaitu 4:47, 8:42, 8:44, 17:5, 33:37, dan 73:18. Di 8:42 dan 8:44 yang dimaksud urusan perang yang sudah diputuskan, dan di 33:37 perkara yang sudah selesai. Di ayat ini kata yang sama menutup peristiwa yang belum terjadi sama sekali. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan waktu itu, dan yang bisa dibaca cuma keenam tempatnya. Lima di antaranya berdiri di surah 4, surah 8, surah 17, dan surah 33, dan dua di antaranya berurutan di 8:42 serta 8:44.
- Sebutan langit di ayat ini tercatat di 15 ayat di seluruh mushaf, di antaranya 55:37, 69:16, dan 82:1. Kata yang menerangkannya justru cuma muncul sekali, sehingga sebutan yang lazim dipasangkan Allah dengan sebutan yang tidak pernah dipakai lagi. Gabungan seperti itu membuat gambarannya terasa akrab sekaligus asing. Al-Qur'an tidak menandai gabungan tersebut, dan yang bisa dibaca cuma sebaran keduanya. Ayat 82:1 memakai sebutan langit yang sama untuk gambaran yang serupa, yaitu langit yang terbelah.
- Di 73:14 yang berguncang bumi dan gunung, dan di ayat ini yang terbelah langit. Gambaran hari kiamat di surah ini karena itu bergerak dari bawah ke atas dengan jarak empat ayat. Di antara keduanya berdiri kisah Fir'aun dan pertanyaan tentang hari yang menjadikan anak-anak beruban. Allah tidak menandai urutan itu, dan yang bisa dibaca cuma letak kedua gambarannya. Dua ayat itu berjumlah 14 patah dan berjarak empat baris di dalam surah ini.
- Ayat ini menyebut janji-Nya tanpa menyebut siapa yang berjanji. Nama Allah memang tidak muncul sama sekali di sembilan belas ayat pertama surah ini, dan baru muncul di ayat penutup. Pembacanya harus menyambungkan sendiri dari sebutan Tuhanmu yang dipakai di 73:8 dan 73:9, dan nama Allah baru muncul di 73:20 sebanyak tujuh kali. Apa yang membuat sebuah janji tetap terasa pasti meski nama pemiliknya tidak disebut?
- Ayat ini enam patah dan menjadi yang terakhir melukiskan hari kiamat di surah ini. Sesudahnya Allah berpindah ke peringatan di 73:19 dan ke aturan ibadah di 73:20. Gambaran kiamat di surah ini karena itu terbagi di 73:14, 73:17, dan ayat ini, dengan kisah Fir'aun yang berdiri di antaranya. Al-Qur'an tidak menandai susunan itu, dan yang bisa dibaca cuma letak ketiga ayatnya. Ketiganya berjumlah 22 patah di dalam surah ini, atau hampir seperlima badan surahnya.