بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ

Wahai orang yang berselimut,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُyaa ayyuhaa l-muddatstsiruwahai orang yang berselimut

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. يَاyaawahai
  2. أَيُّهَاayyuhaasekalian
  3. الْمُدَّثِّرُl-muddatstsiruorang yang berselimut

Inti bacaan

Pembukaan Al-Muddaththir dengan sapaan serupa: 'wahai orang yang berselimut', panggilan yang mirip dengan pembukaan surah sebelumnya, meski menggunakan kata berbeda dalam bahasa Arab, menandai fase awal kenabian yang penuh transisi dan penyesuaian.

Penjelasan pilihan kata

Sapaan ini mirip surah sebelumnya (73:1) namun akar kata berbeda: 'muzzammil' (berselimut kain) vs (الْمُدَّثِّرُ, al-muddatstsir), yang berarti berselimut jubah atau mantel.

Kata (الْمُدَّثِّرُ, al-muddatstsir) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia menyebut orang yang berselimut.

Rangkaian (يَا أَيُّهَا, yaa ayyuhaa) muncul 142 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 2:21, 3:100, 4:1, dan 33:56. Ia membuka sebuah panggilan.

Perhatikan bahwa dari 142 pemakaiannya, hampir seluruhnya memanggil orang beriman atau manusia. Yang di sini memanggil satu orang dengan sifat keadaannya.

Al-Qur'an tidak menandai kekhususan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa panggilannya memakai sifat, bukan nama.

Perhatikan bahwa yang dipakai memanggil bukan gelar kehormatan. Yang dipakai keadaan tubuhnya saat itu.

Pilihan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa panggilannya memakai hal yang paling sederhana.

Perhatikan bahwa surah ini dinamai dengan sebutan itu. Nama dan ayat pertamanya bertemu di satu tempat.

Cara itu dipakai juga di surah tetangganya. Di 75:1 pun namanya muncul di ayat pertama.

Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah bertetangga dinamai dari baris pertamanya.

Perhatikan bahwa ayat ini cuma dua patah. Ia salah satu yang terpendek di surahnya.

Kependekan itu berlaku hampir di seluruh bagian depan surah ini. Tujuh ayat pertamanya masing-masing dua sampai tiga patah.

Al-Qur'an tidak menandai kependekan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa perintahnya diberikan dalam potongan yang sangat singkat.

Perhatikan bahwa panggilan ini tidak diikuti keterangan. Perintahnya langsung datang di 74:2.

Susunan itu tidak menyisakan jeda. Al-Qur'an tidak menandai ketergesaan itu.

Perhatikan bahwa keadaan berselimut biasanya menandai istirahat. Yang dipanggil sedang tidak bekerja.

Pertentangan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa panggilannya datang pada keadaan itu.

Perhatikan bahwa surah 73 memakai panggilan yang serupa susunannya. Di sana pun yang dipanggil orang yang berselimut.

Dua surah bertetangga membuka dengan cara yang sama. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu.

Perhatikan bahwa surah ini dan surah 73 sama-sama membuka dengan panggilan. Keduanya memakai sifat orang yang berselimut.

Kesamaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah berurutan memakai cara yang sama.

Perhatikan bahwa dua sifat itu memakai bunyi dasar yang berbeda. Yang satu dari akar yang berarti membungkus, dan yang lain dari akar yang berarti menyelimuti.

Perbedaan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua sebutan berbeda dipakai untuk gambaran yang mirip.

Perhatikan bahwa dua-duanya cuma dipakai sekali di seluruh Al-Qur'an. Tidak ada pemakaian lain untuk keduanya.

Kesamaan itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah bertetangga memakai dua sebutan yang sama-sama sekali pakai.

Perhatikan bahwa panggilan ini memakai susunan yang paling panjang di antara panggilan Al-Qur'an. Ia memakai dua patah pembuka sebelum sasarannya.

Susunan itu memperlambat sapaannya. Al-Qur'an tidak menandai perlambatan itu.

Perhatikan bahwa yang disapa satu orang, bukan kelompok. Susunan tunggal dipakai di seluruh tujuh ayat pertama.

Keseragaman itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa sasarannya tidak berubah sampai perintahnya habis.

Tafsiran

Ayat ini membuka surah dengan sapaan kepada Nabi yang tengah berselimut, mengantarkan perintah bangkit menyampaikan peringatan. Ayat ini membuka surah dengan memanggil orang yang berselimut. Kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ia menyebut orang yang berselimut.

Rangkaian dua kata pertamanya muncul 142 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 2:21, 3:100, 4:1, dan 33:56. Dari 142 pemakaiannya hampir seluruhnya memanggil orang beriman atau manusia, sedangkan yang di sini memanggil satu orang dengan sifat keadaannya.

Yang dipakai memanggil juga bukan gelar kehormatan melainkan keadaan tubuhnya saat itu. Surah ini juga dinamai dengan kata itu, sehingga nama dan ayat pertamanya bertemu di satu tempat, sama seperti 75:1 di surah tetangganya.

Ayat ini juga cuma dua patah dan salah satu yang terpendek di surahnya. Tujuh ayat pertamanya masing-masing dua sampai tiga patah.

Panggilan ini juga tidak diikuti keterangan, sebab perintahnya langsung datang di 74:2. Keadaan berselimut juga biasanya menandai istirahat, sehingga yang dipanggil sedang tidak bekerja. Surah ini dan surah 73 juga sama-sama membuka dengan panggilan yang memakai sifat orang yang berselimut, meski dua sifat itu memakai bunyi dasar yang berbeda. Dua-duanya juga cuma dipakai sekali di seluruh Al-Qur'an, sehingga dua surah bertetangga memakai dua sebutan yang sama-sama sekali pakai. Yang disapa juga satu orang dan bukan kelompok, dan susunan tunggal itu dipakai di seluruh tujuh ayat pertama.

Renungan dan Hikmah

  • Kata keduanya dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ia menyebut orang yang berselimut. Rangkaian pembukanya dipakai 142 kali, antara lain 2:21, 3:100, 4:1, dan 33:56, dan hampir seluruhnya memanggil orang beriman atau manusia. Yang di sini memanggil satu orang lewat keadaan tubuhnya, bukan lewat nama atau gelar. Al-Qur'an tidak menandai kekhususan itu dengan satu kalimat pun. Panggilan yang memakai keadaan membuat sapaannya terasa dekat dan mendesak sekaligus. Yang dipanggil dikenali dari apa yang sedang ia kerjakan, dan bukan dari kedudukan atau namanya.
  • Surah ini dinamai Allah dengan kata yang muncul di ayat pertamanya, sehingga nama dan pembukanya bertemu di satu tempat. Cara itu dipakai juga di surah tetangganya, sebab 75:1 pun memuat nama surahnya. Dua surah bertetangga dinamai dari baris pertamanya masing-masing. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu, dan ia cuma terlihat kalau keduanya dibaca berurutan. Dua sebutan itu memakai bunyi dasar yang berbeda meski gambarannya mirip. Keduanya sama-sama cuma dipakai sekali di seluruh mushaf, dan tak satu pun punya pemakaian kedua.
  • Ayat ini cuma dua patah dan salah satu yang terpendek di surahnya. Kependekan itu berlaku hampir di seluruh bagian depan, sebab tujuh ayat pertamanya masing-masing dua sampai tiga patah. Allah memberikan perintahnya dalam potongan yang sangat singkat. Al-Qur'an tidak menandai kependekan itu, dan iramanya sendiri yang menyampaikan ketergesaannya. Baris yang sangat pendek memaksa pembacanya berhenti berkali-kali. Tujuh perhentian dalam tujuh baris memberi bagian pembuka ini irama seperti ketukan yang tetap.
  • Panggilan ini tidak diikuti keterangan apa pun, sebab Allah langsung memberikan perintahnya di 74:2. Susunan itu tidak menyisakan jeda antara dipanggil dan disuruh. Al-Qur'an tidak menandai ketergesaan itu, dan yang dipanggil tidak diberi waktu untuk bersiap. Satu baris memisahkan namanya dari tugasnya. Panggilan biasanya diikuti keterangan sebelum perintahnya. Di sini keterangan itu sama sekali tidak ada, dan perintahnya langsung menyusul di baris berikutnya.
  • Keadaan berselimut biasanya menandai istirahat, sehingga yang dipanggil Allah sedang tidak bekerja. Pertentangan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an dengan satu kalimat pun. Panggilannya datang tepat pada keadaan yang paling jauh dari kesiapan. Yang membacanya melihat seseorang dibangunkan dari tempat berbaringnya. Orang yang berselimut sedang tidak siap menerima tugas apa pun. Panggilan yang datang pada saat seperti itu menandai bahwa kesiapan sama sekali bukan syaratnya.
  • Surah 73 memakai panggilan yang serupa susunannya, sebab di sana pun yang dipanggil orang yang berselimut. Dua surah bertetangga membuka dengan cara yang sama, dan Allah tidak menandai kesejajaran itu. Kalau dua surah berurutan sama-sama membuka dengan orang yang sedang berselimut, apa yang sedang dikatakan tentang keadaan orang yang dipanggil? Dua surah berurutan sama-sama membuka dengan orang yang sedang berbaring. Keduanya lalu memberi perintah yang menuntut orangnya bangkit dari tempat berbaring itu.