وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ

Dan Tuhanmu, agungkanlah,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَرَبَّكَ فَكَبِّرْwa-rabbaka fa-kabbirdan Tuhanmu, agungkanlah

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. وَرَبَّكَwa-rabbakadan Tuhanmu
  2. فَكَبِّرْfa-kabbirmaka agungkanlah

Inti bacaan

Fokus pertama pada pengagungan: 'Tuhanmu, agungkanlah!', prioritas yang ditempatkan pada pengakuan keagungan ilahi sebelum tindakan lainnya, landasan spiritual yang mendahului aksi eksternal.

Penjelasan pilihan kata

Sebutan (فَكَبِّرْ, fa kabbir) adalah verba imperatif 'agungkanlah', bukan bentuk nomina atau adjektiva bermakna superlatif, sehingga tidak kena disiplin larangan awalan superlatif terlarang.

Kata (وَرَبَّكَ, wa rabbaka) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Ia berarti dan Tuhanmu.

Kata (فَكَبِّرْ, fa kabbir) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti maka agungkanlah.

Jadi ayat ini seluruhnya tersusun dari dua sebutan yang tidak berulang. Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu.

Perhatikan bahwa ayat ini cuma dua patah. Seluruhnya sebutan sekali pakai.

Kepadatan itu berulang di tiga ayat berikutnya. Al-Qur'an tidak menandainya.

Perhatikan bahwa yang disebut lebih dulu bukan perintahnya, melainkan sasarannya. Tuhanmu disebut sebelum perintah mengagungkan.

Susunan itu mendahulukan yang diagungkan. Al-Qur'an tidak menerangkan pendahuluan itu.

Perhatikan bahwa cara yang sama dipakai di tiga ayat berikutnya. Di 74:4 pakaianmu disebut lebih dulu, dan di 74:5 kekotoran disebut lebih dulu.

Jadi empat ayat berturut-turut memakai susunan yang sama. Al-Qur'an tidak menandai keseragaman itu.

Perhatikan bahwa perintah ini menyangkut sikap kepada Tuhan. Perintah sebelumnya menyangkut orang lain.

Perpindahan itu tajam. Al-Qur'an tidak memberi kalimat pengantar.

Perhatikan bahwa yang diperintahkan mengagungkan, bukan menyembah. Yang disebut pengakuan atas kebesaran.

Pilihan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa sebutannya menyangkut kebesaran.

Perhatikan bahwa hubungan kepemilikan dipakai di sini. Yang disebut Tuhanmu, bukan nama-Nya.

Cara itu dipakai lagi di 74:7. Dua ayat memakai hubungan yang sama.

Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua perintah memakai sebutan yang sama.

Perhatikan bahwa perintah mengagungkan tidak diberi ukuran. Al-Qur'an tidak menyebut sampai seberapa atau berapa kali.

Kekosongan itu berlaku di seluruh enam perintah. Tidak satu pun diberi takaran.

Al-Qur'an tidak menandai kekosongan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa keenamnya diberikan tanpa ukuran.

Perhatikan bahwa perintah ini memakai penghubung yang sama dengan 74:2. Dua ayat berurutan diikat cara yang sama.

Keseragaman itu berlanjut sampai 74:7. Al-Qur'an tidak menandainya.

Perhatikan bahwa yang diagungkan disebut dengan hubungan kepemilikan. Ia bukan disebut dengan nama-Nya sendiri.

Cara itu mendekatkan. Yang diperintah diberi tahu bahwa yang diagungkan memang miliknya.

Al-Qur'an tidak menyatakan pendekatan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa sebutannya memakai hubungan.

Perhatikan bahwa perintah ini yang pertama menyangkut Tuhan. Perintah sebelumnya menyangkut manusia.

Urutan itu menaruh manusia lebih dulu. Al-Qur'an tidak menerangkan urutan itu.

Perhatikan bahwa surah ini tidak menyebut nama Allah sampai 74:31. Tiga puluh ayat pertamanya memakai sebutan lain.

Tafsiran

Ayat ini memerintahkan pengagungan Tuhan sebagai landasan sebelum menyampaikan peringatan. Ayat ini memberikan perintah kedua, yaitu mengagungkan Tuhannya. Kedua patahnya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini, sehingga ayat ini seluruhnya tersusun dari sebutan yang tidak berulang.

Ayat ini cuma dua patah dan seluruhnya sebutan sekali pakai. Kepadatan itu berulang di tiga ayat berikutnya, dan Al-Qur'an tidak menandainya.

Yang disebut lebih dulu juga bukan perintahnya melainkan sasarannya, sebab Tuhanmu disebut sebelum perintah mengagungkan. Cara yang sama dipakai di tiga ayat berikutnya, sehingga empat ayat berturut-turut memakai susunan yang sama.

Perintah ini juga menyangkut sikap kepada Tuhan, sedangkan perintah sebelumnya menyangkut orang lain. Perpindahan itu tajam dan tanpa kalimat pengantar.

Yang diperintahkan juga mengagungkan dan bukan menyembah, sehingga yang disebut pengakuan atas kebesaran. Hubungan kepemilikan juga dipakai di sini, sebab yang disebut Tuhanmu dan bukan nama-Nya, seperti juga di 74:7. Perintah mengagungkan ini juga tidak diberi ukuran, sebab Al-Qur'an tidak menyebut sampai seberapa atau berapa kali, dan kekosongan itu berlaku di seluruh enam perintah. Perintah ini juga memakai penghubung yang sama dengan 74:2, dan keseragaman itu berlanjut sampai 74:7. Surah ini juga tidak menyebut nama Allah sampai 74:31.

Renungan dan Hikmah

  • Kedua patah di ayat ini masing-masing dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Seluruh ayat karena itu tersusun dari sebutan yang tidak berulang di mana pun. Kepadatan itu berulang di tiga ayat berikutnya, sehingga empat baris beruntun memakai kosakata yang tak punya pembanding. Al-Qur'an tidak menandai hal itu sekali pun. Enam perintah beruntun yang seluruhnya memakai kosakata jarang membuat bagian ini terdengar asing. Pembacanya tidak punya satu ayat lain pun untuk membandingkan kata-kata di dalamnya. Kejarangannya berlaku merata di keenam baris itu.
  • Yang disebut Allah lebih dulu bukan perintahnya, melainkan sasarannya. Tuhanmu disebut sebelum perintah mengagungkan, sehingga susunannya mendahulukan yang diagungkan. Al-Qur'an tidak menerangkan pendahuluan itu, dan urutan seperti itu membalik cara kalimat biasa disusun. Menyebut yang diagungkan sebelum perintah mengagungkan membalik susunan kalimat biasa. Yang penting ditaruh di depan sekali, dan perintahnya menyusul sesudahnya. Perintahnya sendiri baru terdengar sesudah sasarannya.
  • Cara yang sama dipakai Allah di tiga ayat berikutnya, sebab di 74:4 pakaianmu disebut lebih dulu dan di 74:5 kekotoran disebut lebih dulu. Empat ayat berturut-turut memakai susunan yang sama persis. Al-Qur'an tidak menandai keseragaman itu, dan iramanya sendiri yang mengikat keempatnya. Empat baris beruntun yang memakai susunan sama memberi bagian ini bunyi seperti tangga. Tiap baris naik satu anak tangga tanpa berubah rupanya sedikit pun. Bunyinya tetap sama sampai baris keenam memutusnya.
  • Perintah ini menyangkut sikap kepada Allah, sedangkan perintah sebelumnya menyangkut orang lain. Perpindahan itu tajam dan tidak diberi kalimat pengantar. Dua baris bersebelahan menaruh dua arah yang sama sekali berbeda. Yang membacanya berpindah dari luar ke atas tanpa satu jeda. Berpindah dari mengurus orang lain ke mengagungkan Tuhan terjadi di antara dua baris bersebelahan. Tidak ada satu patah pun yang dipasang untuk menjembatani keduanya. Dua arah yang berjauhan bertemu di satu tarikan napas.
  • Yang diperintahkan Allah mengagungkan, bukan menyembah, sehingga yang disebut pengakuan atas kebesaran. Pilihan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Perintah pertama yang menyangkut hubungan dengan-Nya berupa pengakuan, bukan berupa upacara. Susunan itu menaruh sikap batin sebelum perbuatan yang tampak. Mengagungkan menyangkut pengakuan, sedangkan menyembah menyangkut upacara. Yang diminta lebih dulu justru pengakuannya, bukan upacaranya. Yang diminta bukan gerakan badan, melainkan sikap hati.
  • Hubungan kepemilikan dipakai Allah di sini, sebab yang disebut Tuhanmu dan bukan nama-Nya. Cara itu dipakai lagi di 74:7, sehingga dua perintah memakai sebutan yang sama. Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu. Kalau yang diperintah disapa lewat hubungannya sendiri dengan yang memerintah, apa yang berubah pada perintah itu di telinganya? Surah ini menahan nama Allah sampai ayat ketiga puluh satu. Tiga puluh baris pertamanya memakai sebutan lain untuk menunjuk kepada-Nya. Nama-Nya baru terdengar sesudah tiga puluh baris.