وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ
Dan perbuatan keji, tinggalkanlah,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْwa-r-rujza fa-hjurdan perbuatan keji, tinggalkanlah
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَالرُّجْزَwa-r-rujzadan kekotoran
- فَاهْجُرْfa-hjurmaka tinggalkanlah
Inti bacaan
Instruksi pembersihan perilaku: 'tinggalkanlah perbuatan keji', perintah tegas menjauhi kekotoran moral, kelanjutan dari persiapan diri (pakaian bersih) menuju kebersihan perilaku secara menyeluruh.
Penjelasan pilihan kata
Kata (وَالرُّجْزَ, war-rujza) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia menamai kekotoran atau azab.
Kata (فَاهْجُرْ, fahjur) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti maka tinggalkanlah.
Jadi ini ayat ketiga berturut-turut yang seluruhnya tersusun dari sebutan sekali pakai. Al-Qur'an tidak menandai rentetan itu.
Perhatikan bahwa tiga ayat beruntun menyimpan enam patah yang tidak muncul lagi. Kepadatan itu tidak ada bandingnya di bagian mana pun surah ini.
Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa enam patah berturut-turut tidak punya pembanding.
Perhatikan bahwa perintah ini berupa larangan, bukan suruhan. Yang diminta meninggalkan, bukan mengerjakan.
Perpindahan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa arah perintahnya berbalik di baris kelima.
Perhatikan bahwa tiga perintah sebelumnya menyuruh berbuat. Yang ini menyuruh berhenti.
Susunan itu melengkapi. Yang dikerjakan dan yang ditinggalkan sama-sama disebut.
Al-Qur'an tidak menyatakan pelengkapan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya berdiri di rangkaian yang sama.
Perhatikan bahwa yang disebut tidak dirinci. Al-Qur'an tidak menyebut kekotoran macam apa.
Kekosongan itu dibiarkan terbuka. Yang bisa dibaca cuma sebutannya sendiri.
Perhatikan bahwa sebutan itu bisa dibaca dua arah. Ia bisa berarti kekotoran, dan bisa berarti azab.
Kegandaan itu tidak diselesaikan Al-Qur'an. Kedua pembacaan dibiarkan berdiri.
Perhatikan bahwa perintah meninggalkan itu memakai susunan yang menuntut jarak. Ia bukan sekadar berhenti, melainkan menjauh.
Susunan itu memperkuat larangannya. Al-Qur'an tidak menerangkan penguatan itu.
Perhatikan bahwa ini perintah keempat dari enam. Dua perintah lagi menyusul di 74:6 dan 74:7.
Perhatikan bahwa perintah ini memakai susunan yang sama dengan 74:3 dan 74:4. Sasarannya disebut lebih dulu.
Tiga ayat berurutan memakai susunan itu. Al-Qur'an tidak menandai keseragaman itu.
Perhatikan bahwa yang disebut kali ini bukan miliknya. Dua ayat sebelumnya memakai hubungan kepemilikan.
Perbedaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa sasarannya kini sesuatu di luar dirinya.
Perhatikan bahwa perintah meninggalkan itu tidak menyebut penggantinya. Al-Qur'an tidak menyebut apa yang harus dikerjakan sebagai gantinya.
Kekosongan itu dibiarkan terbuka. Yang bisa dibaca cuma larangannya sendiri.
Perhatikan bahwa larangan ini berdiri di tengah empat suruhan. Dua sebelumnya dan satu sesudahnya berupa suruhan.
Letak itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa arahnya berbalik sebentar lalu kembali.
Perhatikan bahwa sebutan yang dipakai bisa menunjuk berhala. Ia bisa juga menunjuk perbuatan kotor.
Kegandaan itu tidak diselesaikan Al-Qur'an. Kedua pembacaan dibiarkan berdiri sampai akhir surahnya.
Perhatikan bahwa tidak satu pun dari enam perintah itu menyebut hukuman kalau dilanggar. Ancaman baru muncul di 74:8.
Tafsiran
Ayat ini memerintahkan menjauhi segala bentuk kekejian sebagai syarat kelayakan menyampaikan peringatan. Ayat ini memberikan perintah keempat, yaitu meninggalkan kekotoran. Kedua patahnya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sehingga ini ayat ketiga berturut-turut yang seluruhnya tersusun dari sebutan sekali pakai.
Tiga ayat beruntun menyimpan enam kata yang tidak muncul lagi di mana pun. Kepadatan itu tidak ada bandingnya di bagian mana pun surah ini.
Perintah ini juga berupa larangan dan bukan suruhan, sebab yang diminta meninggalkan dan bukan mengerjakan. Tiga perintah sebelumnya menyuruh berbuat, sedangkan yang ini menyuruh berhenti.
Yang disebut juga tidak dirinci, sebab Al-Qur'an tidak menyebut kekotoran macam apa. Sebutan itu juga bisa dibaca dua arah, yaitu kekotoran atau azab.
Perintah meninggalkan itu juga memakai susunan yang menuntut jarak, sebab ia bukan sekadar berhenti melainkan menjauh. Ini juga perintah keempat dari enam, sebab dua lagi menyusul di 74:6 dan 74:7. Perintah ini juga memakai susunan yang sama dengan 74:3 dan 74:4, sebab sasarannya disebut lebih dulu, tetapi yang disebut kali ini bukan miliknya. Perintah meninggalkan itu juga tidak menyebut penggantinya, dan larangan ini berdiri di tengah empat suruhan. Sebutan yang dipakai juga bisa menunjuk berhala atau perbuatan kotor, dan Al-Qur'an tidak memilih salah satunya.
Renungan dan Hikmah
- Kedua patah di ayat ini masing-masing dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ini ayat ketiga berturut-turut yang seluruhnya tersusun dari sebutan sekali pakai, sesudah 74:3 dan 74:4. Tiga ayat beruntun menyimpan enam kata yang tidak muncul lagi di mana pun, dan kepadatan itu tidak ada bandingnya di bagian mana pun surah ini. Enam patah beruntun yang tak satu pun punya pembanding membuat bagian ini nyaris tak bisa diperiksa silang. Maknanya harus diterima dari letaknya sendiri di dalam rangkaian itu. Tak ada tempat lain untuk memeriksanya di seluruh mushaf.
- Perintah ini berupa larangan, bukan suruhan, sebab yang diminta Allah meninggalkan dan bukan mengerjakan. Tiga perintah sebelumnya menyuruh berbuat, sedangkan yang ini menyuruh berhenti. Arah perintahnya berbalik tepat di baris kelima, dan Al-Qur'an tidak menyatakan pembalikan itu. Menyuruh berhenti di tengah rangkaian menyuruh berbuat mengubah iramanya sejenak. Arahnya berbalik selama satu baris saja lalu kembali seperti semula. Pembacanya merasakan sentakan kecil di tengah rangkaian itu.
- Susunan ini melengkapi rangkaiannya, sebab Allah menyebut yang dikerjakan dan yang ditinggalkan sama-sama. Tidak ada celah yang tersisa di antara keduanya. Al-Qur'an tidak menyatakan pelengkapan itu, dan keduanya cuma berdiri di rangkaian yang sama tanpa keterangan. Menyebut yang dikerjakan tanpa menyebut yang ditinggalkan akan meninggalkan celah. Rangkaian ini menutup celah itu tepat ketika sampai di baris kelima. Celah antara berbuat dan menahan diri tertutup di situ.
- Yang disebut Allah tidak dirinci, sebab Al-Qur'an tidak menyebut kekotoran macam apa yang dimaksud. Kekosongan itu dibiarkan terbuka, dan yang bisa dibaca cuma sebutannya sendiri. Sebutan itu juga bisa dibaca sebagai kekotoran atau sebagai azab, dan kedua pembacaan dibiarkan berdiri. Sebutan yang bisa menunjuk berhala sekaligus perbuatan kotor menampung dua jenis pelanggaran. Yang lahir dan yang batin sama-sama masuk ke dalam cakupannya. Berhala dan perbuatan kotor sama-sama tercakup olehnya.
- Perintah meninggalkan yang dipakai Allah memakai susunan yang menuntut jarak. Ia bukan sekadar berhenti mengerjakan, melainkan menjauh dari tempatnya. Susunan itu memperkuat larangannya, dan Al-Qur'an tidak menerangkan penguatan itu. Menyuruh menjauh lebih keras daripada menyuruh berhenti. Yang pertama menuntut jarak, sedangkan yang kedua cukup dengan tidak lagi mengerjakannya. Menjauh menuntut langkah, dan berhenti cukup dengan diam.
- Ini perintah keempat dari enam yang diberikan Allah beruntun, dan dua lagi menyusul di 74:6 dan 74:7. Tak satu pun dari keenamnya disertai alasan. Kalau enam perintah datang beruntun tanpa satu keterangan pun, apa yang sebenarnya diandalkan supaya ia dikerjakan? Enam perintah berlalu tanpa satu ancaman pun menyertainya. Ancaman baru muncul di baris kedelapan, tepat sesudah seluruh perintahnya selesai diberikan. Delapan baris berlalu sebelum ancaman pertama terdengar.