وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ

Dan janganlah engkau memberi untuk memperoleh lebih banyak,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُwa-laa tamnun tastaktsirudan janganlah engkau memberi untuk memperoleh lebih banyak

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَلَاwa-laadan janganlah
  2. تَمْنُنْtamnunengkau memberi
  3. تَسْتَكْثِرُtastaktsiruengkau meminta lebih banyak

Inti bacaan

Prinsip ketulusan dalam memberi: 'janganlah engkau memberi untuk memperoleh (balasan) lebih banyak', larangan terhadap motif transaksional dalam kebaikan, kedermawanan yang murni tanpa mengharapkan keuntungan berlipat sebagai balasan.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(balasan)' tidak dipakai.

Kata (تَمْنُنْ, tamnun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti memberi sambil mengungkit.

Kata (تَسْتَكْثِرُ, tastaktsir) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti menganggapnya banyak.

Jadi ini ayat keempat berturut-turut yang memuat dua sebutan sekali pakai. Al-Qur'an tidak menandai rentetan itu.

Perhatikan bahwa empat ayat beruntun menyimpan delapan patah yang tidak muncul lagi. Rentetan sepanjang itu tidak ada bandingnya di surah ini.

Al-Qur'an tidak menandai rentetan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa delapan patah berturut-turut tidak punya pembanding.

Perhatikan bahwa ayat ini tiga patah, bukan dua. Ia lebih panjang daripada tiga ayat sebelumnya.

Perbedaan itu memutus keseragaman iramanya. Al-Qur'an tidak menandai pemutusan itu.

Perhatikan bahwa susunan ayat ini juga berbeda. Perintahnya disebut lebih dulu, bukan sasarannya.

Tiga ayat sebelumnya memakai susunan sebaliknya. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu.

Perhatikan bahwa larangan di sini menyangkut niat, bukan perbuatan. Yang dilarang memberi dengan maksud tertentu.

Pilihan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang dipersoalkan maksud di baliknya.

Perhatikan bahwa memberi sendiri tidak dilarang. Yang dilarang mengungkitnya.

Perbedaan itu halus tetapi berakibat. Perbuatan yang sama bisa jadi baik atau rusak menurut maksudnya.

Al-Qur'an tidak menyatakan hal itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa larangannya menyasar cara, bukan perbuatan.

Perhatikan bahwa ini larangan kedua di rangkaian enam perintah. Yang pertama di 74:5.

Dua larangan itu berdiri berurutan. Al-Qur'an tidak menandai pengelompokan itu.

Perhatikan bahwa ayat ini satu-satunya di rangkaian enam yang memakai larangan terang. Yang di 74:5 berupa suruhan meninggalkan.

Perbedaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa cara melarangnya tidak sama.

Perhatikan bahwa ayat ini juga satu-satunya yang tidak memakai penghubung penanda akibat. Lima ayat lainnya memakainya.

Perbedaan itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu baris keluar dari susunan kelimanya.

Perhatikan bahwa dua perbedaan itu jatuh di ayat yang sama. Panjangnya juga berbeda dari tiga ayat sebelumnya.

Tiga perbedaan sekaligus di satu baris tidak lazim. Al-Qur'an tidak menandai penumpukan itu.

Perhatikan bahwa larangan ini menyangkut hubungan dengan orang lain. Tiga perintah sebelumnya menyangkut dirinya sendiri.

Perpindahan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa sasarannya keluar lagi.

Perhatikan bahwa yang dilarang bukan menerima banyak, melainkan menganggapnya banyak. Yang dipersoalkan penilaian dirinya sendiri.

Pilihan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa larangannya menyasar cara memandang.

Perhatikan bahwa ini perintah kelima dari enam. Satu perintah lagi menyusul di 74:7.

Tafsiran

Ayat ini melarang memberi dengan motif mengharap imbalan yang lebih besar. Ayat ini memberikan perintah kelima, yaitu larangan memberi sambil mengungkit. Kedua patah utamanya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sehingga ini ayat keempat berturut-turut yang memuat dua sebutan sekali pakai.

Empat ayat beruntun menyimpan delapan kata yang tidak muncul lagi di mana pun. Rentetan sepanjang itu tidak ada bandingnya di surah ini.

Ayat ini juga tiga patah dan bukan dua, sehingga lebih panjang daripada tiga ayat sebelumnya. Susunannya juga berbeda, sebab perintahnya disebut lebih dulu dan bukan sasarannya.

Larangan di sini juga menyangkut niat dan bukan perbuatan, sebab yang dilarang memberi dengan maksud tertentu. Memberi sendiri tidak dilarang, dan yang dilarang mengungkitnya.

Ini juga larangan kedua di rangkaian enam perintah, sesudah yang pertama di 74:5. Dua larangan itu berdiri berurutan. Ayat ini juga satu-satunya di rangkaian enam yang memakai larangan terang, dan juga satu-satunya yang tidak memakai penghubung penanda akibat. Tiga perbedaan sekaligus jatuh di baris yang sama, sebab panjangnya pun berbeda dari tiga ayat sebelumnya. Larangan ini juga menyangkut hubungan dengan orang lain, dan yang dilarang bukan menerima banyak melainkan menganggapnya banyak.

Renungan dan Hikmah

  • Kedua patah utamanya masing-masing dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ini ayat keempat berturut-turut yang memuat dua sebutan sekali pakai, sesudah 74:3, 74:4, dan 74:5. Empat ayat beruntun menyimpan delapan kata yang tidak muncul lagi, dan rentetan sepanjang itu tidak ada bandingnya di surah ini. Delapan patah beruntun tanpa satu pembanding adalah rentetan terpanjang di surah ini. Empat baris berturut-turut dibangun seluruhnya dari kosakata yang berdiri sendiri-sendiri. Rentetan itu berhenti tepat di baris ketujuh.
  • Ayat ini tiga patah dan bukan dua, sehingga lebih panjang daripada tiga ayat sebelumnya. Perbedaan itu memutus keseragaman iramanya tepat di baris keenam. Susunannya juga berbeda, sebab Allah menyebut perintahnya lebih dulu dan bukan sasarannya. Al-Qur'an tidak menandai pemutusan itu. Tiga perbedaan yang menumpuk di satu baris menandai bahwa baris itu memang dibuat menonjol. Panjangnya, susunannya, dan cara melarangnya sama-sama keluar dari pola sekitarnya. Tiga penyimpangan sekaligus jarang jatuh di satu tempat.
  • Larangan di sini menyangkut niat dan bukan perbuatan, sebab yang dilarang Allah memberi dengan maksud tertentu. Pilihan itu tidak diterangkan Al-Qur'an dengan satu kalimat pun. Yang dipersoalkan maksud di balik perbuatannya, bukan perbuatannya sendiri. Menyasar niat berarti menyasar sesuatu yang tidak bisa diperiksa orang lain. Larangan seperti itu cuma bisa dijalankan dan diperiksa oleh orangnya sendiri. Tak seorang pun bisa memeriksanya dari luar.
  • Memberi sendiri tidak dilarang Allah, dan yang dilarang mengungkitnya. Perbedaan itu halus tetapi berakibat, sebab perbuatan yang sama bisa jadi baik atau rusak menurut maksudnya. Al-Qur'an tidak menyatakan hal itu, dan larangannya menyasar cara dan bukan perbuatan. Perbuatan yang sama bisa bernilai atau kehilangan nilainya menurut maksudnya. Larangan ini menaruh seluruh bobotnya pada maksud yang ada di baliknya. Nilainya berpindah seluruhnya ke maksud di baliknya.
  • Ini larangan kedua di rangkaian enam perintah, sesudah yang pertama diberikan Allah di 74:5. Dua larangan itu berdiri berurutan di tengah rangkaian suruhan. Al-Qur'an tidak menandai pengelompokan itu, dan keduanya cuma dikenali dari arah perintahnya. Dua larangan berdiri berdampingan di tengah empat suruhan. Letaknya membelah rangkaian enam itu menjadi dua bagian yang hampir seimbang. Empat suruhan terbelah dua oleh sepasang larangan.
  • Yang dilarang Allah bukan menghitung pemberian, melainkan menganggapnya banyak sampai merasa berhak diingat. Orang yang memberi lalu mengungkit sebenarnya sedang menarik kembali pemberiannya. Kalau nilai sebuah pemberian bisa hilang oleh satu sikap saja, apa yang sebenarnya sedang diberikan orang itu? Menganggap pemberian banyak adalah cara halus untuk menagih balasan. Yang dilarang di sini justru tagihan yang tidak pernah diucapkan keras-keras. Tagihan tanpa suara tetap tagihan namanya.