وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ
Dan karena Tuhanmu, bersabarlah.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْwa-li-rabbika fa-shbirdan karena Tuhanmu, bersabarlah
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَلِرَبِّكَwa-li-rabbikadan kepada Tuhanmu
- فَاصْبِرْfa-shbirmaka bersabarlah
Inti bacaan
Kesabaran yang berorientasi ilahi: 'karena Tuhanmu, bersabarlah', pengarahan motivasi ketahanan yang jelas, kesabaran bukan sekadar menahan diri tanpa arah, melainkan bentuk pengabdian yang disadari sepenuhnya.
Penjelasan pilihan kata
Kata (وَلِرَبِّكَ, wa lirabbika) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti dan demi Tuhanmu.
Kata (فَاصْبِرْ, fashbir) muncul 11 kali di seluruh Al-Qur'an: 11:49, 20:130, 30:60, 40:55, 40:77, 46:35, 50:39, 68:48, 70:5, 74:7, dan 76:24. Ia berarti maka bersabarlah.
Perhatikan bahwa sepuluh pemakaian lainnya tidak menyebut kepada siapa kesabaran itu ditujukan. Yang di sini menyebutnya.
Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu pemakaiannya memakai keterangan tambahan.
Perhatikan bahwa 76:24 memakai perintah yang sama di surah tetangganya. Di sana ia menyangkut menanti putusan.
Dua surah bertetangga memakai perintah yang sama. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu.
Perhatikan bahwa susunan ayat ini kembali seperti 74:3 sampai 74:5. Sasarannya disebut lebih dulu, lalu perintahnya.
Jadi susunan yang sempat terputus di 74:6 kembali di sini. Al-Qur'an tidak menandai pengembalian itu.
Perhatikan bahwa sebutan Tuhanmu dipakai lagi di ayat ini. Pemakaian pertamanya di 74:3.
Dua perintah itu mengapit empat perintah lainnya. Al-Qur'an tidak menandai kurungan itu.
Perhatikan bahwa yang pertama menyuruh mengagungkan dan yang terakhir menyuruh bersabar. Dua sikap itu berbeda jenisnya.
Yang satu menyangkut pengakuan, dan yang lain menyangkut ketahanan. Al-Qur'an tidak menyatakan pembagian itu.
Perhatikan bahwa ayat ini menutup rangkaian enam perintah. Sesudahnya 74:8 berpindah ke gambaran hari kiamat.
Perpindahan itu terjadi tanpa kalimat pengantar. Al-Qur'an langsung berpindah dari memerintah ke menggambarkan.
Perhatikan bahwa enam perintah itu diberikan dalam enam ayat. Seluruhnya tidak sampai lima belas patah.
Kepadatan itu tidak lazim. Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu.
Perhatikan bahwa perintah bersabar diberikan paling akhir. Lima perintah sebelumnya menuntut perbuatan.
Urutan itu masuk akal. Yang menanggung lima tugas memang perlu bertahan.
Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa kesabaran disebut sesudah tugasnya.
Perhatikan bahwa kesabaran di sini diberi arah. Ia ditujukan demi Tuhannya, bukan demi hasilnya.
Pilihan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa arahnya disebut, padahal di sepuluh ayat lain tidak.
Perhatikan bahwa penyebutan arah itu membedakan ayat ini dari sepuluh ayat lainnya. Cuma di sini keterangan itu ditambahkan.
Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu dari sebelas pemakaiannya lebih lengkap.
Perhatikan bahwa perintah ini tidak menyebut terhadap apa harus bersabar. Al-Qur'an tidak menyebut ujiannya.
Kekosongan itu diisi sebagian di 74:11 dan sesudahnya. Di sana digambarkan pihak yang menolak.
Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa gambarannya menyusul empat ayat kemudian.
Perhatikan bahwa rangkaian enam perintah ini berakhir di sini. Surahnya lalu berpindah ke gambaran hari kiamat.
Tafsiran
Ayat ini menutup rangkaian perintah persiapan dengan seruan kesabaran demi Tuhan. Ayat ini menutup rangkaian perintah dengan menyuruh bersabar demi Tuhannya. Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ia berarti dan demi Tuhanmu.
Kata keduanya muncul 11 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 11:49, 20:130, 30:60, 40:55, 40:77, 46:35, 50:39, 68:48, 70:5, 74:7, dan 76:24. Sepuluh pemakaian lainnya tidak menyebut kepada siapa kesabaran itu ditujukan, sedangkan yang di sini menyebutnya.
Ayat 76:24 juga memakai perintah yang sama di surah tetangganya, dan di sana ia menyangkut menanti putusan. Susunan ayat ini juga kembali seperti 74:3 sampai 74:5, sebab sasarannya disebut lebih dulu lalu perintahnya.
Sebutan Tuhanmu juga dipakai lagi di ayat ini sesudah 74:3, sehingga dua perintah itu mengapit empat perintah lainnya. Yang pertama menyuruh mengagungkan dan yang terakhir menyuruh bersabar.
Ayat ini juga menutup rangkaian enam perintah, sebab 74:8 berpindah ke gambaran hari kiamat tanpa kalimat pengantar. Enam perintah itu diberikan dalam enam ayat yang seluruhnya tidak sampai lima belas patah. Perintah bersabar juga diberikan paling akhir, sesudah lima perintah yang menuntut perbuatan, dan kesabaran di sini diberi arah karena ia ditujukan demi Tuhannya. Penyebutan arah itu membedakan ayat ini dari sepuluh ayat lainnya yang memakai perintah sama tanpa keterangan. Perintah ini juga tidak menyebut terhadap apa harus bersabar, dan gambarannya baru menyusul di 74:11.
Renungan dan Hikmah
- Kata keduanya dipakai Allah di 11:49, 20:130, 30:60, 40:55, 40:77, 46:35, 50:39, 68:48, 70:5, 74:7, dan 76:24. Sepuluh pemakaian lainnya tidak menyebut kepada siapa kesabaran itu ditujukan, dan cuma yang di sini menyebutnya. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu, dan keterangan tambahan seperti itu jarang muncul tanpa maksud. Sebuah perintah yang dipakai sebelas kali dan cuma sekali diberi arah menandai bahwa arah itu memang penting di sini. Sepuluh pemakaian lainnya membiarkan bagian itu sepenuhnya kosong. Satu dari sebelas diberi arah, dan sepuluh tidak.
- Ayat 76:24 memakai perintah yang sama di surah tetangganya, dan di sana Allah menyangkutkannya dengan menanti putusan. Dua surah bertetangga memakai perintah yang sama untuk keadaan yang serupa. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu, dan ia cuma terlihat kalau keduanya dibaca beriringan. Dua surah bertetangga memakai perintah bersabar di bagian yang sama-sama menuntut. Yang satu menyuruh menanti putusan, sedangkan yang lain menyuruh bertahan atas tugas yang diberikan. Dua surah bertetangga memakai perintah yang sama.
- Susunan ayat ini kembali seperti 74:3 sampai 74:5, sebab sasarannya disebut Allah lebih dulu lalu perintahnya. Susunan yang sempat terputus di 74:6 kembali tepat di baris terakhir rangkaiannya. Al-Qur'an tidak menandai pengembalian itu, dan iramanya menutup sebagaimana ia dibuka. Susunan yang sempat terputus di baris keenam kembali di baris ketujuh. Rangkaiannya karena itu ditutup dengan bunyi yang sama persis seperti ketika ia dibuka. Bunyinya kembali seperti semula tepat di baris terakhir.
- Sebutan Tuhanmu dipakai Allah lagi di ayat ini sesudah 74:3, sehingga dua perintah itu mengapit empat perintah lainnya. Yang pertama menyuruh mengagungkan dan yang terakhir menyuruh bersabar. Dua sikap itu berbeda jenisnya, sebab yang satu menyangkut pengakuan dan yang lain menyangkut ketahanan. Mengagungkan dan bersabar mengapit empat perintah di antaranya. Yang pertama menyangkut pengakuan, sedangkan yang terakhir menyangkut ketahanan menjalankan semuanya. Pengakuan membuka rangkaiannya, dan ketahanan menutupnya.
- Ayat ini menutup rangkaian enam perintah, dan sesudahnya Allah berpindah ke gambaran hari kiamat di 74:8. Perpindahan itu terjadi tanpa satu kalimat pengantar pun. Yang baru saja menerima enam perintah tiba-tiba dibawa melihat hari yang jauh. Berpindah dari enam perintah ke gambaran hari kiamat terjadi tanpa satu jembatan. Pembacanya dibawa dari tugas hari ini langsung ke hari yang belum datang. Hari ini dan hari nanti bersentuhan tanpa jeda.
- Enam perintah diberikan Allah dalam enam ayat yang seluruhnya tidak sampai lima belas patah. Kepadatan seperti itu tidak lazim di surah mana pun. Kalau seluruh tugas seumur hidup dimuat dalam lima belas patah kata, apa yang sebenarnya sedang dianggap sudah cukup jelas? Lima belas patah memuat seluruh tugas yang akan dijalani seumur hidup. Kalau sepadat itu keterangan yang diberikan, apa yang sebenarnya dianggap sudah cukup diketahui penerimanya? Lima belas patah memuat seluruh tugas seumur hidup.