فَإِذَا نُقِرَ فِي النَّاقُورِ

Maka apabila sangkakala ditiup,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَإِذَا نُقِرَ فِي النَّاقُورِfa-idzaa nuqira fii n-naaquurimaka apabila sangkakala ditiup

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَإِذَاfa-idzaamaka apabila
  2. نُقِرَnuqiraditiup
  3. فِيfiidi
  4. النَّاقُورِn-naaquurisangkakala

Inti bacaan

Momen transisi kosmik: 'apabila sangkakala ditiup', penanda peristiwa yang mengawali rangkaian konsekuensi besar, titik balik yang memisahkan era kehidupan dunia dari pertanggungjawaban.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (فَإِذَا نُقِرَ, fa idzaa nuqira) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia membuka gambaran hari kiamat.

Kata (النَّاقُورِ, an-naaquur) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia menamai sangkakala yang ditiup.

Jadi ayat ini memuat dua sebutan yang tidak berulang. Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu.

Perhatikan bahwa surah lain memakai sebutan yang berbeda untuk alat yang sama. Di 78:18 dan 39:68 dipakai sebutan lain.

Perbedaan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa surah ini memilih sebutan yang tidak dipakai di tempat lain.

Perhatikan bahwa ayat ini memulai bagian kedua surahnya. Tujuh ayat sebelumnya seluruhnya berisi perintah.

Perpindahan itu terjadi tanpa kalimat pengantar. Al-Qur'an langsung berpindah ke gambaran.

Perhatikan bahwa susunan bersyarat dipakai di sini. Kesimpulannya datang di 74:9.

Dua ayat karena itu membentuk satu kalimat. Al-Qur'an memisahkannya menjadi dua baris.

Perhatikan bahwa yang meniup tidak disebut. Susunan pasifnya menyembunyikan pelakunya.

Cara itu dipakai berulang di surah ini. Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu.

Perhatikan bahwa ayat ini empat patah. Ia lebih panjang daripada tujuh ayat sebelumnya.

Perbedaan itu menandai pergantian bagiannya. Al-Qur'an tidak menyatakan penandaan itu.

Perhatikan bahwa gambaran ini menjawab perintah memberi peringatan di 74:2. Yang harus diperingatkan akhirnya disebut.

Jarak antara perintah dan isinya enam ayat. Al-Qur'an tidak menandai jarak itu.

Perhatikan bahwa yang disebut bunyi, bukan pemandangan. Tanda pertamanya masuk lewat telinga.

Pilihan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa gambarannya dibuka dengan suara.

Perhatikan bahwa bunyi itu tidak digambarkan seperti apa. Al-Qur'an cuma menyebut alatnya.

Perhatikan bahwa gambaran ini datang sesudah enam perintah. Yang diperintah baru diberi tahu apa yang menantinya.

Urutan itu tidak lazim. Alasan biasanya diberikan sebelum perintahnya.

Al-Qur'an tidak menerangkan urutan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa alasannya menyusul, bukan mendahului.

Perhatikan bahwa penanda waktu yang dipakai berarti apabila, bukan seandainya. Kejadiannya diperlakukan sebagai pasti.

Perbedaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa penandanya menyangkut waktu.

Perhatikan bahwa tiupan itu disebut sekali saja di surah ini. Surah lain menyebutnya dua kali.

Perbedaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa surah ini memakainya sekali.

Perhatikan bahwa yang mendengar bunyi itu tidak disebut. Al-Qur'an tidak menyebut siapa yang terkena.

Kekosongan itu diisi dua baris kemudian. Di 74:10 pihaknya disebut.

Perhatikan bahwa bagian ini cuma tiga ayat panjangnya. Ia bagian terpendek di surah ini.

Kependekan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa gambarannya lewat cepat.

Tafsiran

Ayat ini membuka gambaran Hari Kiamat dengan ditiupnya sangkakala. Ayat ini membuka gambaran hari kiamat dengan tiupan sangkakala. Rangkaian dua kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata terakhirnya juga muncul 1 kali.

Jadi ayat ini memuat dua sebutan yang tidak berulang di mana pun. Surah lain memakai sebutan yang berbeda untuk alat yang sama, sebab di 78:18 dan 39:68 dipakai sebutan lain.

Ayat ini juga memulai bagian kedua surahnya, sebab tujuh ayat sebelumnya seluruhnya berisi perintah. Perpindahan itu terjadi tanpa kalimat pengantar.

Susunan bersyarat juga dipakai di sini, dan kesimpulannya datang di 74:9, sehingga dua ayat membentuk satu kalimat. Yang meniup juga tidak disebut, sebab susunan pasifnya menyembunyikan pelakunya.

Ayat ini juga empat patah dan lebih panjang daripada tujuh ayat sebelumnya. Gambaran ini juga menjawab perintah memberi peringatan di 74:2, dengan jarak enam ayat di antaranya. Gambaran ini juga datang sesudah enam perintah, sehingga yang diperintah baru diberi tahu apa yang menantinya, dan urutan itu tidak lazim sebab alasan biasanya mendahului perintahnya. Penanda waktu yang dipakai juga berarti apabila dan bukan seandainya, sehingga kejadiannya diperlakukan sebagai pasti. Tiupan itu juga disebut sekali saja di surah ini, padahal surah lain menyebutnya dua kali.

Renungan dan Hikmah

  • Rangkaian dua kata pertamanya dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata terakhirnya juga 1 kali. Surah lain memakai sebutan yang berbeda untuk alat yang sama, sebab di 78:18 dan 39:68 dipakai sebutan lain. Surah ini memilih sebutan yang tidak dipakai di tempat lain mana pun. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu, dan pembacanya bertemu kata yang tak punya gema. Sebuah alat sepenting itu diberi nama yang tidak dipakai lagi di mana pun. Pembacanya tidak bisa memeriksanya lewat ayat lain, dan harus menerimanya dari letaknya sendiri. Tak ada gema yang bisa dipakai memeriksanya.
  • Ayat ini memulai bagian kedua surahnya, sebab tujuh ayat sebelumnya seluruhnya berisi perintah dari Allah. Perpindahan itu terjadi tanpa satu kalimat pengantar pun. Ayat ini juga empat patah dan lebih panjang daripada tujuh ayat sebelumnya, sehingga panjang barisnya sendiri yang menandai pergantiannya. Al-Qur'an tidak menyatakan penandaan itu. Panjang baris yang berubah adalah satu-satunya penanda batas bagian di surah ini. Tidak ada judul, dan tidak ada kalimat pengantar. Judul dan pengantar sama sekali tidak dipakai.
  • Susunan bersyarat dipakai Allah di sini, dan kesimpulannya baru datang di 74:9. Dua ayat karena itu membentuk satu kalimat yang dipisah menjadi dua baris. Pembaca yang berhenti di baris pertama akan menggantung tanpa akibat. Susunan seperti itu menahan pembacanya satu baris penuh. Menahan akibat selama satu baris membuat pembacanya bertahan tanpa tahu arahnya. Di baris sependek empat patah, jeda itu tetap terasa. Empat patah pun cukup untuk membuat pembaca menunggu.
  • Yang meniup tidak disebut Allah, sebab susunan pasifnya menyembunyikan pelakunya. Cara itu dipakai berulang di sepanjang surah ini. Al-Qur'an tidak menandai keberulangan itu, dan kejadiannya digambarkan seolah berjalan sendiri. Tidak ada nama yang bisa diajak menawar di dalamnya. Kejadian yang digambarkan tanpa pelaku terasa seperti berjalan dengan sendirinya. Tidak ada pihak yang bisa dimintai keterangan atau diajak menawar. Kejadiannya berjalan seperti hukum alam yang sudah dipasang.
  • Gambaran ini menjawab perintah memberi peringatan yang diberikan Allah di 74:2. Yang harus diperingatkan akhirnya disebut sesudah enam ayat berlalu. Al-Qur'an tidak menandai jarak itu, dan pembacanya harus menyambungkan sendiri perintah di baris kedua dengan isinya di baris kedelapan. Perintah di baris kedua baru terisi di baris kedelapan. Enam baris berlalu sebelum pembacanya tahu apa yang harus diperingatkan. Enam baris memisahkan perintah dari isinya.
  • Yang disebut Allah bunyi, bukan pemandangan, sehingga tanda pertamanya masuk lewat telinga. Bunyi itu pun tidak digambarkan seperti apa, dan yang disebut cuma alatnya. Kalau gambaran hari terbesar dibuka dengan satu suara yang tak dilukiskan, apa yang sedang diandalkan untuk mengisi bayangan pembacanya? Suara yang tidak dilukiskan meninggalkan pekerjaan kepada telinga pembacanya. Yang tidak dijelaskan biasanya lebih lama tinggal daripada yang dirinci. Telinga pembacanya yang diminta bekerja lebih dulu.