عَلَى الْكَافِرِينَ غَيْرُ يَسِيرٍ
Bagi orang-orang kafir, tidak mudah.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- عَلَى الْكَافِرِينَ غَيْرُ يَسِيرٍ'alaa l-kaafiriina ghayru yasiirinbagi orang-orang kafir, tidak mudah
Terjemahan per kata (4 kata)
- عَلَى'alaaatas
- الْكَافِرِينَl-kaafiriinaorang-orang yang kufur
- غَيْرُghayrutidak
- يَسِيرٍyasiirinyang mudah
Inti bacaan
Kesulitan yang spesifik bagi penolak: 'bagi orang-orang kafir, tidak mudah', pembedaan tegas bahwa tingkat kesulitan hari itu tidak seragam, bergantung pada pilihan hidup yang telah diambil sebelumnya.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (عَلَى الْكَافِرِينَ, 'alal kaafiriin) muncul 10 kali di seluruh Al-Qur'an: 2:89, 5:54, 7:50, 16:27, 19:83, 25:26, 36:70, 39:71, 69:50, dan 74:10. Ia menyebut pihak yang menolak.
Rangkaian (غَيْرُ يَسِيرٍ, ghairu yasiir) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti tidak mudah.
Kata (يَسِيرٍ, yasiir) sendiri juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti mudah.
Perhatikan bahwa ayat ini memakai peniadaan, bukan penegasan. Yang disebut bukan sukar, melainkan tidak mudah.
Susunan itu memperhalus bunyinya sekaligus memperkeras maksudnya. Al-Qur'an tidak menerangkan susunan itu.
Perhatikan bahwa dua ayat berurutan memakai dua cara yang berlawanan. Yang di 74:9 menegaskan, dan yang di sini meniadakan.
Perbedaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sifat disebut dua kali dengan dua cara.
Perhatikan bahwa sifat mudah dan sifat sukar dipakai di dua baris bersebelahan. Keduanya sama-sama cuma sekali dipakai di seluruh Al-Qur'an.
Kesamaan itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua sifat berlawanan sama-sama jarang.
Perhatikan bahwa ayat ini menyebut siapa yang menanggungnya. Dua ayat sebelumnya tidak menyebutnya.
Susunan itu mempersempit sasarannya di baris terakhir. Al-Qur'an tidak menandai penyempitan itu.
Perhatikan bahwa penyebutan sasaran itu menyisakan pertanyaan. Al-Qur'an tidak menyebut bagaimana bagi yang lain.
Kekosongan itu dibiarkan terbuka. Yang bisa dibaca cuma keterangan bagi satu pihak.
Perhatikan bahwa ayat ini menutup gambaran hari kiamat. Sesudahnya 74:11 berpindah ke satu orang tertentu.
Perpindahan itu terjadi tanpa kalimat pengantar. Al-Qur'an langsung berpindah dari yang umum ke yang khusus.
Perhatikan bahwa tiga ayat gambaran itu seluruhnya tidak menyebut api atau taman. Yang disebut cuma sifat harinya.
Perhatikan bahwa sepuluh pemakaian rangkaian itu tersebar di sepuluh surah. Tidak ada surah yang memakainya dua kali.
Penyebaran itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa tiap surah memakainya sekali saja.
Perhatikan bahwa yang disebut pihak yang menolak, bukan pihak yang berdosa. Sebutan yang dipakai menyangkut penolakan.
Pilihan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa sasarannya dikenali dari sikapnya.
Perhatikan bahwa ayat ini memakai susunan yang meniadakan kemudahan. Ia tidak menegaskan kesulitan.
Cara itu menyisakan ruang bagi pembacanya untuk membayangkan. Al-Qur'an tidak menerangkan cara itu.
Perhatikan bahwa dua sifat yang berlawanan dipakai di dua baris bersebelahan. Sukar di 74:9 dan mudah di 74:10.
Susunan itu memasang keduanya berhadapan. Al-Qur'an tidak menandai pemasangan itu.
Perhatikan bahwa keduanya berasal dari bunyi dasar yang berbeda. Keduanya juga sama-sama cuma sekali dipakai.
Kesamaan kejarangan itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua sifat itu sama-sama tanpa pemakaian kedua.
Perhatikan bahwa bagian ini berakhir di sini. Tiga baris cukup untuk seluruh gambarannya.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa kesulitan hari itu dirasakan terutama oleh orang yang kufur. Ayat ini menutup gambaran hari kiamat dengan menyebut siapa yang menanggungnya. Rangkaian dua kata pertamanya muncul 10 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 2:89, 5:54, 7:50, 16:27, 19:83, 25:26, 36:70, 39:71, 69:50, dan 74:10.
Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata terakhirnya sendiri juga 1 kali. Ayat ini juga memakai peniadaan dan bukan penegasan, sebab yang disebut bukan sukar melainkan tidak mudah.
Dua ayat berurutan karena itu memakai dua cara yang berlawanan, sebab yang di 74:9 menegaskan sedangkan yang di sini meniadakan. Sifat mudah dan sifat sukar juga dipakai di dua baris bersebelahan, dan keduanya sama-sama cuma sekali dipakai.
Ayat ini juga menyebut siapa yang menanggungnya, padahal dua ayat sebelumnya tidak menyebutnya. Penyebutan sasaran itu juga menyisakan pertanyaan, sebab Al-Qur'an tidak menyebut bagaimana bagi yang lain.
Ayat ini juga menutup gambaran hari kiamat, sebab 74:11 berpindah ke satu orang tertentu tanpa kalimat pengantar. Sepuluh pemakaian rangkaian itu juga tersebar di sepuluh surah, dan tidak ada surah yang memakainya dua kali. Yang disebut juga pihak yang menolak dan bukan pihak yang berdosa, sehingga sasarannya dikenali dari sikapnya. Dua sifat yang berlawanan juga dipakai di dua baris bersebelahan, yaitu sukar di 74:9 dan mudah di 74:10, dan keduanya sama-sama cuma sekali dipakai.
Renungan dan Hikmah
- Rangkaian dua kata terakhirnya dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ia berarti tidak mudah. Ayat ini memakai peniadaan dan bukan penegasan, sebab yang disebut bukan sukar melainkan tidak mudah. Susunan itu memperhalus bunyinya sekaligus memperkeras maksudnya. Al-Qur'an tidak menerangkan susunan itu dengan satu kalimat pun. Meniadakan kemudahan menyisakan ruang bagi pembacanya untuk membayangkan sendiri. Menegaskan kesulitan akan menutup ruang itu dengan satu kata. Ruang bayangan itu justru yang membuatnya bekerja.
- Dua ayat berurutan memakai dua cara yang berlawanan, sebab Allah menegaskan di 74:9 dan meniadakan di sini. Satu sifat disebut dua kali dengan dua cara yang berbeda. Al-Qur'an tidak menyatakan perbedaan itu, dan pengulangan seperti itu jarang terjadi dalam jarak satu baris. Satu sifat yang disebut dua kali dengan dua cara berbeda jarang muncul dalam jarak satu baris. Yang kedua tidak menambah keterangan, melainkan mengubah nadanya. Nadanya berubah tanpa satu keterangan ditambahkan.
- Sifat mudah dan sifat sukar dipakai Allah di dua baris bersebelahan, dan keduanya sama-sama cuma sekali dipakai di seluruh Al-Qur'an. Dua sifat yang berlawanan itu sama-sama tidak punya pemakaian kedua. Al-Qur'an tidak menandai kesamaan itu, dan ia baru terlihat kalau keduanya dicari sendiri. Dua sifat berlawanan yang sama-sama cuma sekali dipakai berdiri di dua baris bersebelahan. Kejarangan itu berlaku bagi keduanya tanpa kecuali. Keduanya sama-sama tak punya pemakaian kedua.
- Ayat ini menyebut siapa yang menanggungnya, padahal dua ayat sebelumnya tidak menyebutnya. Allah mempersempit sasarannya tepat di baris terakhir gambaran itu. Al-Qur'an tidak menandai penyempitan itu, dan pembacanya sempat mengira sifat harinya berlaku bagi semua orang. Menyebut sasarannya di baris terakhir membuat dua baris sebelumnya terasa berlaku bagi semua. Pembacanya baru dilepaskan di kalimat penutup. Dua baris awal menggantung tanpa penunjuk golongan.
- Penyebutan sasaran itu menyisakan pertanyaan, sebab Allah tidak menyebut bagaimana keadaan bagi yang lain. Kekosongan itu dibiarkan terbuka, dan yang bisa dibaca cuma keterangan bagi satu pihak. Rangkaian dua kata pertamanya dipakai di sepuluh ayat, antara lain 2:89, 7:50, 36:70, dan 69:50. Sepuluh surah memakai rangkaian itu masing-masing sekali, antara lain 2:89, 7:50, 36:70, dan 69:50. Tidak ada satu surah pun yang memakainya dua kali. Sebarannya rata, satu per surah, tanpa pengecualian.
- Tiga ayat gambaran itu seluruhnya tidak menyebut api atau taman, sebab yang disebut Allah cuma sifat harinya. Sesudahnya surahnya berpindah dari yang umum ke satu orang tertentu tanpa jembatan. Kalau seluruh gambaran hari terbesar cuma berisi satu bunyi dan satu sifat, apa yang sebenarnya dianggap paling perlu diketahui? Tiga baris gambaran itu tidak menyebut api, taman, atau timbangan. Yang disebut cuma satu bunyi dan dua sifat. Api, taman, dan timbangan sama sekali tidak muncul.