ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا
Biarkanlah Aku dan orang yang Aku ciptakan sendirian,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًاdzarnii wa-man khalaqtu wahiidanbiarkanlah Aku dan orang yang Aku ciptakan sendirian
Terjemahan per kata (4 kata)
- ذَرْنِيdzarniibiarkanlah Aku
- وَمَنْwa-mandan orang yang
- خَلَقْتُkhalaqtuAku menciptakan
- وَحِيدًاwahiidanseorang diri
Inti bacaan
Pelepasan tanggung jawab penghukuman kepada otoritas tertinggi: 'biarkanlah Aku (menghadapi) orang yang Aku ciptakan sendirian', pengalihan urusan pembalasan dari penyampai pesan kepada pencipta langsung, pembagian peran yang jelas antara menyampaikan dan menghakimi.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(menghadapi)' tidak dipakai: idiom 'biarkanlah Aku dan X' dipertahankan literal, acuan sama dengan 73:11.
Kata (ذَرْنِي, dzarnii) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 21:89, 68:44, 73:11, dan 74:11. Ia berarti biarkanlah Aku.
Perhatikan bahwa 73:11 ada di surah yang berjarak satu dari surah ini. Dua surah berdekatan memakai sebutan yang sama.
Al-Qur'an tidak menandai kedekatan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua dari empat pemakaiannya berada di dua surah berdekatan.
Perhatikan bahwa di 21:89 sebutan itu dipakai dalam doa, bukan ancaman. Tiga pemakaian lainnya berupa ancaman.
Perbedaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan dipakai untuk memohon dan untuk mengancam.
Kata (خَلَقْتُ, khalaqtu) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 19:9, 38:75, 51:56, dan 74:11. Ia berarti Aku telah menciptakan.
Kata (وَحِيدًا, wahiidan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti seorang diri.
Perhatikan bahwa susunan orang pertama tunggal dipakai di ayat ini. Bagian sebelumnya tidak memakainya.
Pergantian itu terjadi tanpa aba-aba. Al-Qur'an tidak memberi kalimat pengantar.
Perhatikan bahwa susunan tunggal itu berlanjut sampai 74:17. Tujuh ayat berturut-turut memakainya.
Keseragaman itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa cara menyebut diri berganti selama tujuh ayat.
Perhatikan bahwa yang disebut satu orang, bukan kelompok. Bagian sebelumnya menyebut pihak yang menolak secara jamak.
Penyempitan itu tajam. Al-Qur'an tidak menandai penyempitan itu.
Perhatikan bahwa orang itu tidak diberi nama. Yang disebut cuma keadaannya waktu diciptakan.
Ketiadaan nama itu berlaku di seluruh surah ini. Al-Qur'an tidak menyebut satu nama pun di lima puluh enam ayatnya.
Perhatikan bahwa sifat seorang diri itu bisa dibaca dua arah. Ia bisa berarti diciptakan sendirian, dan bisa berarti tanpa harta.
Perhatikan bahwa perintah membiarkan itu ditujukan kepada seseorang. Yang disapa orang yang sama dengan yang menerima enam perintah.
Pergantian pokok itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa sasaran sapaannya tidak berubah.
Perhatikan bahwa yang diminta bukan berbuat, melainkan berhenti mengurus. Perintahnya berupa penyerahan.
Susunan itu tidak lazim untuk sebuah perintah. Al-Qur'an tidak menerangkan susunan itu.
Perhatikan bahwa 68:44 memakai sebutan itu dengan cara yang sama. Di sana pun urusannya diserahkan.
Dua surah memakai susunan yang sama. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu.
Perhatikan bahwa 73:11 juga memakainya untuk pihak yang mendustakan. Susunannya serupa dengan ayat ini.
Kesamaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah berdekatan memakai bahan yang sama.
Perhatikan bahwa yang disebut penciptaan, bukan pemberian. Pemberiannya baru disebut di tiga ayat berikutnya.
Urutan itu menaruh asal-usul lebih dulu. Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu.
Perhatikan bahwa gambaran seorang diri itu menyiapkan daftar sesudahnya. Yang tadinya kosong lalu diisi.
Tafsiran
Ayat ini membuka kisah seseorang yang diciptakan sendirian, lalu diberi kekayaan berlimpah namun mengingkari tanda-tanda Allah. Ayat ini berpindah dari yang umum ke satu orang tertentu. Kata pertamanya muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 21:89, 68:44, 73:11, dan 74:11.
Perhatikan bahwa 73:11 ada di surah yang berjarak satu dari surah ini, sehingga dua surah berdekatan memakai sebutan yang sama. Di 21:89 sebutan itu dipakai dalam doa dan bukan ancaman, sedangkan tiga pemakaian lainnya berupa ancaman.
Kata ketiganya muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 19:9, 38:75, 51:56, dan 74:11, sedangkan kata terakhirnya muncul 1 kali. Susunan orang pertama tunggal juga dipakai di ayat ini, padahal bagian sebelumnya tidak memakainya.
Susunan tunggal itu juga berlanjut sampai 74:17, sehingga tujuh ayat berturut-turut memakainya. Yang disebut juga satu orang dan bukan kelompok, padahal bagian sebelumnya menyebut pihak yang menolak secara jamak.
Orang itu juga tidak diberi nama, sebab yang disebut cuma keadaannya waktu diciptakan. Sifat seorang diri itu juga bisa dibaca sebagai diciptakan sendirian atau tanpa harta. Perintah membiarkan itu juga ditujukan kepada seseorang, dan yang disapa orang yang sama dengan yang menerima enam perintah. Yang diminta juga bukan berbuat melainkan berhenti mengurus, sehingga perintahnya berupa penyerahan. Ayat 68:44 memakai sebutan itu dengan cara yang sama, dan 73:11 juga memakainya untuk pihak yang mendustakan.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertamanya dipakai Allah cuma di 21:89, 68:44, 73:11, dan 74:11. Ayat 73:11 ada di surah yang berjarak satu dari surah ini, sehingga dua dari empat pemakaiannya berada di dua surah berdekatan. Al-Qur'an tidak menandai kedekatan itu dengan satu kalimat pun. Pembaca yang membacanya berurutan akan mendengar gemanya. Sebuah perintah yang meminta berhenti mengurus adalah kebalikan dari enam perintah sebelumnya. Yang tadi disuruh bekerja kini disuruh menyerahkan satu urusan. Satu urusan diserahkan di tengah enam tugas.
- Di 21:89 sebutan itu dipakai dalam doa dan bukan ancaman, sedangkan tiga pemakaian lainnya berupa ancaman. Satu sebutan dipakai untuk memohon dan untuk mengancam. Al-Qur'an tidak menyatakan perbedaan itu, dan yang menentukan arahnya cuma siapa yang mengucapkannya. Empat pemakaian yang dua di antaranya di surah berdekatan menandai satu cara berbicara yang khas wilayah itu. Ayat 68:44 dan 73:11 sama-sama memakainya untuk menyerahkan urusan. Dua surah berdekatan memakai cara yang sama.
- Susunan orang pertama tunggal dipakai Allah di ayat ini, padahal bagian sebelumnya tidak memakainya. Susunan itu berlanjut sampai 74:17, sehingga tujuh ayat berturut-turut memakainya. Al-Qur'an tidak menyatakan keseragaman itu, dan cara menyebut diri berganti selama tujuh baris lalu kembali. Tujuh baris berturut-turut memakai susunan orang pertama tunggal. Susunan itu tidak dipakai di baris mana pun sebelumnya di surah ini. Tujuh baris memakainya lalu ia menghilang lagi.
- Yang disebut Allah satu orang, bukan kelompok, padahal bagian sebelumnya menyebut pihak yang menolak secara jamak. Penyempitan itu tajam dan terjadi di antara dua baris bersebelahan. Al-Qur'an tidak menandai penyempitan itu, dan pembacanya tiba-tiba dibawa dari kerumunan ke satu wajah. Berpindah dari kerumunan yang menolak ke satu orang membuat gambarannya tiba-tiba menajam. Yang tadinya golongan kini punya riwayat sendiri. Kerumunan menyusut jadi satu wajah dalam satu baris.
- Orang itu tidak diberi Allah nama, sebab yang disebut cuma keadaannya waktu diciptakan. Ketiadaan nama itu berlaku di seluruh surah ini, sebab lima puluh enam ayatnya tidak memuat satu nama pun. Gambarannya karena itu bisa dikenakan kepada siapa saja yang keadaannya sama. Ketiadaan nama di lima puluh enam baris membuat gambarannya bisa dikenakan kepada siapa saja. Tidak ada seorang pun yang bisa merasa aman karena namanya tidak disebut. Gambarannya bisa dikenakan kepada siapa saja yang cocok keadaannya.
- Sifat seorang diri yang dipakai Allah bisa dibaca dua arah, yaitu diciptakan sendirian atau diciptakan tanpa harta. Kegandaan itu tidak diselesaikan Al-Qur'an, dan kedua pembacaan dibiarkan terbuka. Kalau kekayaan yang disebut sesudahnya memang tidak ia bawa sejak awal, atas dasar apa ia merasa memilikinya? Penciptaan disebut lebih dulu daripada pemberian, sehingga asal-usulnya ditaruh di depan. Yang kosong lebih dulu, lalu diisi tiga baris kemudian. Asal-usulnya ditaruh di depan sebelum daftar pemberiannya.