ثُمَّ يَطْمَعُ أَنْ أَزِيدَ

Kemudian ia ingin sekali agar Aku menambahnya.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. ثُمَّ يَطْمَعُ أَنْ أَزِيدَtsumma yathma'u an aziidakemudian ia ingin sekali agar Aku menambahnya

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. ثُمَّtsummakemudian
  2. يَطْمَعُyathma'uberharap
  3. أَنْanbahwa
  4. أَزِيدَaziidaditambah

Inti bacaan

Ketamakan yang tak terpuaskan: 'kemudian ia ingin sekali agar Aku menambahnya', pengungkapan bahwa kelimpahan yang sudah besar sekalipun tidak memuaskan hasrat, pola ketamakan yang terus menuntut lebih tanpa batas.

Penjelasan pilihan kata

Kata (يَطْمَعُ, yathma'u) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an: 7:46, 70:38, dan 74:15. Ia berarti berharap atau menginginkan.

Kata (أَزِيدَ, aziida) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 14:7 dan 74:15. Ia berarti Aku menambah.

Perhatikan bahwa di 14:7 sebutan itu dipakai dalam janji kepada yang bersyukur. Di sini ia dipakai untuk yang berharap tanpa bersyukur.

Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan dipakai untuk janji dan untuk keluhan.

Perhatikan bahwa 70:38 juga memakai sebutan berharap untuk orang yang tidak berhak. Susunannya serupa dengan ayat ini.

Kesamaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua ayat memakai sebutan yang sama untuk sikap yang sama.

Perhatikan bahwa sebutan penyambung di awal ayat menandai urutan. Harapannya datang sesudah tiga pemberian.

Susunan itu menaruh keluhannya sesudah kebaikannya. Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu.

Perhatikan bahwa ayat ini memutus daftar pemberian. Tiga baris sebelumnya seluruhnya berupa pemberian.

Perubahan nada itu tajam. Al-Qur'an tidak memberi kalimat pengantar.

Perhatikan bahwa yang dipersoalkan harapannya, bukan perbuatannya. Yang dicatat apa yang ia inginkan.

Pilihan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa tuduhannya menyangkut keinginan.

Perhatikan bahwa yang diharapkan tambahan, bukan yang lain. Ia tidak minta hal baru, melainkan lebih banyak.

Perbedaan itu halus tetapi berakibat. Yang minta tambah mengakui sudah menerima.

Al-Qur'an tidak menyatakan hal itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa harapannya menyangkut penambahan.

Perhatikan bahwa ayat ini tiga patah. Ia sepanjang 74:12 yang membuka daftarnya.

Perhatikan bahwa yang berharap disebut dengan susunan yang sedang berlangsung. Harapannya belum berhenti.

Susunan itu berbeda dari tiga baris sebelumnya. Di sana perbuatannya sudah selesai.

Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa waktunya berganti di baris keempat.

Perhatikan bahwa harapan itu ditujukan kepada yang sudah memberi. Ia meminta lagi kepada pihak yang sama.

Susunan itu menajamkan gambarannya. Al-Qur'an tidak menerangkan penajaman itu.

Perhatikan bahwa 7:46 memakai sebutan berharap untuk penghuni tempat di antara dua golongan. Susunannya berbeda dari ayat ini.

Perbedaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa tiga pemakaiannya berdiri di tiga keadaan.

Perhatikan bahwa ayat ini tidak menyebut apakah harapannya diucapkan. Al-Qur'an tidak menyebut ia meminta.

Kekosongan itu dibiarkan terbuka. Yang bisa dibaca cuma keinginannya sendiri.

Perhatikan bahwa keinginan yang tidak diucapkan pun tercatat. Susunan itu memperluas cakupan perhitungannya.

Al-Qur'an tidak menyatakan perluasan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang dicatat harapannya.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan ketamakan tokoh tersebut meski telah diberi berlimpah. Ayat ini memutus daftar pemberian dengan menyebut harapan orang itu. Kata keduanya muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 7:46, 70:38, dan 74:15.

Kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 14:7 dan 74:15. Di 14:7 sebutan itu dipakai dalam janji kepada yang bersyukur, sedangkan di sini ia dipakai untuk yang berharap tanpa bersyukur.

Ayat 70:38 juga memakai sebutan berharap untuk orang yang tidak berhak dengan susunan yang serupa. Sebutan penyambung di awal ayat juga menandai urutan, sebab harapannya datang sesudah tiga pemberian.

Ayat ini juga memutus daftar pemberian, sebab tiga baris sebelumnya seluruhnya berupa pemberian. Perubahan nada itu tajam dan tanpa kalimat pengantar.

Yang dipersoalkan juga harapannya dan bukan perbuatannya, sebab yang dicatat apa yang ia inginkan. Yang diharapkan juga tambahan dan bukan yang lain. Yang berharap juga disebut dengan susunan yang sedang berlangsung, sehingga harapannya belum berhenti, berbeda dari tiga baris sebelumnya yang perbuatannya sudah selesai. Harapan itu juga ditujukan kepada yang sudah memberi, sehingga ia meminta lagi kepada pihak yang sama. Ayat ini juga tidak menyebut apakah harapannya diucapkan, sebab Al-Qur'an tidak menyebut ia meminta.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya dipakai Allah cuma di 14:7 dan 74:15. Di 14:7 sebutan itu dipakai dalam janji kepada yang bersyukur, sedangkan di sini untuk yang berharap tanpa bersyukur. Satu sebutan dipakai untuk janji dan untuk keluhan, dan yang membedakannya cuma sikap orang yang menerimanya. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua ayat itu. Bersyukur dan berharap bisa berdiri bersama, dan bisa juga berdiri sendiri. Di 14:7 keduanya bersama, dan di sini yang kedua berdiri tanpa yang pertama. Ayat 14:7 memuat keduanya sekaligus, sedangkan 74:15 cuma memuat satu di antaranya.
  • Kata keduanya dipakai Allah cuma di 7:46, 70:38, dan 74:15. Ayat 70:38 juga memakainya untuk orang yang berharap tanpa hak, dengan susunan yang serupa. Dua ayat memakai sebutan yang sama untuk sikap yang sama. Al-Qur'an tidak menyatakan kesamaan itu dengan satu kalimat pun. Tiga pemakaian yang seluruhnya menyangkut harapan tanpa dasar menandai satu wilayah pemakaian yang sempit. Sebutan itu jarang dipakai untuk harapan yang berhak. Wilayah pemakaiannya sempit, dan nadanya seragam di ketiga tempat itu.
  • Sebutan penyambung di awal ayat menandai urutan, sebab harapannya datang sesudah tiga pemberian yang disebut Allah. Susunan itu menaruh keluhannya tepat sesudah kebaikannya. Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu, dan pembacanya baru menyadarinya ketika nadanya berubah. Waktu kata kerjanya berganti tepat di baris keempat. Tiga baris sebelumnya sudah selesai, dan yang ini masih berjalan. Iramanya ikut berubah bersama waktu kata kerjanya.
  • Ayat ini memutus daftar pemberian, sebab tiga baris sebelumnya seluruhnya berupa pemberian dari Allah. Perubahan nada itu tajam dan tidak diberi kalimat pengantar. Pembacanya yang sedang membaca senarai tiba-tiba mendapati keluhan di baris keempat. Membaca senarai pemberian lalu bertemu keluhan di baris keempat membuat pembacanya berhenti. Nadanya berubah tanpa satu penanda diberikan. Tiga baris pemberian berhenti mendadak di ayat kelima belas.
  • Yang dipersoalkan Allah harapannya, bukan perbuatannya, sebab yang dicatat apa yang ia inginkan. Pilihan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Tuduhannya menyangkut keinginan, dan keinginan tidak bisa dilihat siapa pun dari luar. Keinginan yang tidak pernah diucapkan pun ikut tercatat di sini. Perhitungannya karena itu mencakup apa yang tidak bisa didengar siapa pun. Telinga orang lain tidak pernah mendengarnya walau sekali.
  • Yang diharapkan Allah sebutkan tambahan, bukan hal yang lain sama sekali. Yang minta tambah sebenarnya sedang mengakui bahwa ia sudah menerima. Kalau pengakuan itu sudah terkandung di dalam permintaannya, apa yang membuat permintaan itu tetap dipersoalkan? Meminta lagi kepada pihak yang sudah memberi tiga kali menandai bahwa pemberian sebelumnya tidak dihitung. Yang sudah diterima hilang dari ingatannya. Tiga pemberian di baris sebelumnya lenyap dari hitungannya sendiri.